Wanita Dan Pencuri Ayam

Tentang Ujian Kesabaran.

———-

 

Di kisahkan, ada seorang perempuan dari kaum bani Israil yang miskin papa. Harta yang ia punya hanyalah satu ayam.

Suatu hari ia terperanjat. Ayam yang menjadi miliknya satu-satunya hilang. Di curi orang. Namun ia bersabar dan menyerahkan semuanya pada Allah dan tidak mendoakan kejelekan pada si pencuri.

 

Setelah sampai di rumah. Si pencuri dengan tidak sabar segera menyembelih ayam curiannya. Tapi keanehan terjadi. Sewaktu ia mencabuti bulu ayam, mendadak di wajahnya muncul bulu ayam. Mencabut lagi, muncul bulu ayam yang lain. Begitu seterusnya. Dengan bingung ia berusaha menghilangkan bulu ayam yang tumbuh di wajahnya. Namun sia-sia. Di tengah keputus asa-annya ia mendatangi seorang rahib. Dan menceritakan apa yang di alaminya.

 

“Yang bisa mengobati penyakitmu, hanyalah perempuan yang kau curi ayamnya. Mintalah agar dia mendoakaanmu”. Jawab sang rahib.

 

Karena Malu, si pencuri tetap bersama rahib dan mengirim utusan ke wanita tersebut. Untuk memancing reaksinya. Setelah sampai di tujuan sang utusan memulai basa-basinya:

 

“Mana Ayammu?”.

 

“Telah di curi”. Jawab wanita itu.

 

“Pastinya engkau sakit hati atas pencurian itu bukan?”.

 

“Biarlah, itu sudah terjadi. Aku tidak ingin mempermasalahkannya”.

 

Tidak cukup dengan pertanyaan itu. Sang utusan mencoba kesabaran si wanita dengan pertanyaan yang bisa membuat hatinya nelangsa.

 

“Namun, apabila engkau teringat dengan telor yang di hasilkan ayammu, yang bisa membantu keadaanmu. Bukankah kau merasa sedih? Merasa sakit hati?”.

 

“Yaah, begitulah”.

 

Perlahan Rona wajah wanita tersebut memerah. Memendam rasa benci. Kemudian diantara sadar dan tidak, ia mendoakan agar si pencuri celaka.

 

Di lain tempat. Tempat Rahib dan pencuri. Waktu wanita pemilik ayam mendoakan celaka. Keajaiban muncul: Bulu-bulu yang tumbuh di sekitar wajah pencuri rontok semua!

 

Setelah wajah pencuri itu bersih tidak berbulu. Ada seseorang yang bertanya pada sang Rahib.

 

“Bagaimana engkau bisa mengetahui hal ini?”.

 

“Karena, waktu ia hanya meminta tolong kepada Allah. Dan tidak mendoakan celaka si pencuri. Maka, Allah menolongnya. Namun, waktu ia menyesal dan mendoakan celaka si pencuri, Allah tidak menolongnya. Maka, rontoklah bulu-bulu itu”.

 

Oleh karena itu. Seharusnyalah bagi seorang hamba untuk bersabar atas kesulitan musibah yang ia hadapi. Memuji kepada Allah dan mengetahui bahwa sesungguhnya adanya pertolongan bersamaan dengan kesabaran. Dan sesungguhnya di atas kesulitan ada kemudahan. Serta, sungguh, apabila seorang hamba terkena musibah, pastilah akan teriringi dengan kelapangan, kelonggaran dan kebahagiaan yang tersegerakan.

 

——–

Al Musthatraf Fii Kuuli Fanni Mustadzraf Vol 1 Hal: 299. Karya Syaikh Shihabuddin Muhammad bin Ahmad bin Manshur Al Absyihi AbulFath (790-852 H./1388-1448 M.)

Dengan sedikit penambahan dan penyesuaian bahasa.

Semoga bermanfaat.

M. Robert Azmi Al Adzim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.