USHOLLI,

Antara Kesunnahan dan kewajiban, serta pelafadzan Niat dalam sebuah Ibadah

Bismillahirrohmanirrohiim…..

I. ASAL KEWAJIBAN NIAT

Menurut Imam Imron Al ‘Umroniy Shohibul Bayan Syarh Al Muhadzab (hal 157 juz II darul kutub Ilmiyyah), Niat wajib di dalam sholat menurut kesepakatan madzhab (laa khilafa fii wujuubiha)

Dasar kewajibannya,

– Firman Alloh Dalam QS Al Bayyinah 5:

وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين…

Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama…”

Maksud Ikhlas (muhlisiin/memurnikan) menurut Imam Umroni adalah Niat.

– Sabda Nabi Muhammad SAW.:

إنما الأعمال بالنيات, وإنما لكل امرء مانوى

Artinya: “Segala amalan hanya akan sempurna dengan niat. Setiap orang hanya mendapat apa yang diniatkan”.

 

II. PELETAKAN NIAT DAN PELAFADZAN

– Tempat niat dalam sholat ada di hati, sedangkan melafadzkan niat dengan mulut adalah sebuah kesempurnaan.

– Apabila Cuma melafadzkan niat dengan mulut, namun tidak niat dalam hati, Maka tidak mencukupi (sholatnya tidak sah).

– Apabila Cuma niat di dalam hati, namun tidak melafadzkan niat dengan mulut, maka mencukupi (sholatnya Sah)

– Apabila Niat sebelum Takbir dan meneruskannya sampai awal takbir, bukan lainnya. Apakah ini mencukupi? Ada dua pendapat, seperti yang di ungkapkan Shohibul Furuu:

1. Tidak mencukupi.

2. Mencukupi. (1)

Jadi Kewajiban Niat Dalam Hati di Waktu pelaksanaan Takbir. (11)

 

III. ULAMA MADZAHIB BERBICARA PELAFADZAN NIAT DALAM IBADAH

1. Ulama Syafi’iyyah:

– Imam Nawawi: “Niat yang wajib dalam wudlu adalah niat di dalam hati, dan tidak wajib dengan lisan, tidak cukup apabila hanya lisan saja. Dan apabila mengumpulkan antara hati dan lisan maka lebih kuat dan lebih utama (disunahkan), begitulah pendapat pengikut madzhab syafi’I serta mereka telah bersepakat.” (2)

Kebanyakan Ulama Syafi’iyyah: Keterangan tentang kesunahan pelafadzan niat bisa ditemukan di hampir seluruh kitab karya ulama syafi’iyyah, mulai Fathul Qorib, Fathul Wahab, Fathul Mu’in dan lain sabagainya.

2. Ulama Hanafiyyah:

– Imam Khaskafi Al Hanafi: “Mengumpulkan antara niat dalam hati dan lisan, ini mempunyai derajat yang seimbang, antara ulama yang men-sunnahkan pelafadzan dan antara ulama yang memakruhkannya karena tidak adanya riwayat dari ulama salaf” (3)

– Imam Ibnu Abidin: pada waktu mengomentari Imam Khaskafi berkata:”Inilah jalan yang diambil sang pengarang (Imam Khaskafi) dengan menempatkan pelafadzan niat sebagai suatu yang Mandlub (dianjurkan)bukan Sunnah ataupun Makruh”.(4)

– Imam Utsman Az Zailai al Hanafi: “Adapun sarat (sah Sholat:pent) adalah seseorang mengetahui dengan hatinya, sholat apa yang akan dilaksanakannya, standart paling rendah adalah apabila dia ditanya tentang apa yang dia kerjakan (yakni sholat:pent) maka dia bisa menjawab tanpa berpikir. Adapun melafadzkan niat bukanlah merupakan sarat, akan tetapi suatu hal yang baik, karena bisa mengumpulkan tujuannya (konsentrasi:pent)”. (5)

3. Ulama Hanabilah:

– Imam Mardawi: menjelaskan perkhilafan dalam kitab Inshof beliau: “Faidah: Tidak di sunnahkan melafadzkan niat menurut salah satu dari dua pendapat, dan ini yang di Nash (di pastikan) dari pendapat Imam Ahmad, Imam Taqiyuddin yang mengatakan hal tersebut. Dan beliau berkata: itulah yang benar. PENDAPAT KEDUA: di sunnahkan melafadzkan niat dengan tidak keras, ini adalah pendapat madzhab hambali, Shohibul (pengarang kitab) Furuu’ telah menerangknnya, Imam Ibnu Abidin Mantab dengan hal tersebut, begitu pula Shohibu Talhis, Imam Ibnu Tamim dan Imam Ibnu Zariin.Imam Zarkasyi berkata: hal ini (sunnah melafadzkan niat) adalah sesuatu yang lebih utama menurut kebanyakan Ulama Mutaakhirin/kontenporer” (6)

– Imam Al Bahuti Al Hambali: “Kebanyakan Ulama Mutaakhirin menghukumi sunnah melafadzkan niat secara tidak keras besertaan dalam Hati, untuk mencocokkan lisan dengan hati”. (7)

4. Ulama Malikiyyah:

– Imam Dardiri Al Maliki: “Adapun pelafadzan Musholli dengan hal yang bisa memberikan faidah pada niat, seperti mengucapkan Nawaitu Sholata FardlidDuhri (Aku berniat sholat wajib dluhur), itu adalah hal yang luas, yakni boleh dengan pengertian khilaful aula (menyelisihi hal yang lebih utama), sedangkan yang lebih utama adalah tidak melafadzkannya, karena niat tempatnya adalah hati, dan tidak membutuhkan lisan.” (8)

– Imam Dasuuki Al Maliki: beliau menjelaskan dalam Kitab Khasiah Syarh Kabir: “Akan tetapi hukum khilaful aula tersebut tidak belaku bagi orang yang was-was, karena bagi orang yang was-was di sunnahkan melafadzkan sesuatu yang bisa memberikan faidah pada niat, supaya keraguannya hilang. Seperti keterangan dalam kitab Al Mawaaq.” (9)

 

IV. IKHTITAM

Secara global, masalah ini adalah masuk dalam ranah ijtihadiyyah khilafiyyah maka seyogjanya kita tidak mengingkarinya dengan kapasitas keilmuan yang laksana setitik debu diantara kilauan mutiara, dan janganlah kita terpancang dengan pendapat satu golongan yang mengatakan pelafadzan niat adalah sebuah bid’ah yang diharamkan, karena setiap ulama di atas tetap berpegang pada hujjah yang Hakikatnya bersumber dari Al Qur’an dan Al Hadist.

Sebagai akhir kata, penterjemah hanya berdo’a Yaa Alloh Jadikanlah Islam Ini Rahmatan Alamin Yang sebenar, dengan menjunjung Akhlaqul karimah yang di sinarkan beliau Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wasallam….

M. Robert Azmi Al Adzim

Ndalem Pule 23 Februari 2013

Wallohu ‘alam

 

(1) البيان للعمراني الجزء الثاني ص: 158 دار الكتب العلمية

فأما محلها (أي النية) فالقلب, وتلفظ بلسانه – فقد أتى بالأكمل. وإن تلفظ بلسانه, ولم ينو بقلبه – لم يجزه. وإن نوى بقلبه, ولم يتلفظ بلسانه – أجزأه إلى أن قال… وإن نوى قبل التكبير, واستصحب ذكراها في أول التكبير لا غير – فهل يجزئه؟ فيه وجهان, حكاهما في “الفروع”: أحدههما: لا يجزئه: إلى أن قال… والثاني: يجزئه…

(11) الأم إمامنا ألشافعي رحمه الله الجزء الأول ص: 128

قال الشافعي: والنية لا تقوم مقام التكبير ولا تجزيه النية إلا أن تكون مع التكبير لا تتقدم التكبير ولا تكون بعده فلو قام إلى الصلاة بنية ثم عزبت عليه النية بنسيان أو غيره ثم كبر وصلى لم يجزه هذه الصلاة

(2) المجموع – (ج 1 / ص 316)

(الشرح) النية الواجبة في الوضوء هي النية بالقلب ولا يجب اللفظ باللسان معها: ولا يجزئ وحده وان جمعها فهو آكد وأفضل هكذا قاله الاصحاب واتفقوا عليه

(3) الدر المختار الإمام الحصكفي الحنفي (ج 1 / ص 137)

(والجمع بين نية القلب وفعل اللسان) هذه رتبة وسطى بين من سن التلفظ بالنية ومن كرهه لعدم نقله عن السلف

(4) حاشية رد المحتارالشيخ ابن عابدين (ج 1 / ص 137)

قوله: (هذه) أي الطريقة التي مشى عليها المصنف حيث جعل التلفظ بالنية مندوبا لا سنة ولا مكروها.

(5) تبيين الحقائق شرح كنز الدقائق الإمام عثمان الزيلعي الحنفي (ج 1 / ص 477)

( وَالشَّرْطُ أَنْ يَعْلَمَ بِقَلْبِهِ أَيَّ صَلَاةٍ يُصَلِّي ) وَأَدْنَاهُ أَنْ يَصِيرَ بِحَيْثُ لَوْ سُئِلَ عَنْهَا أَمْكَنَهُ أَنْ يُجِيبَ مِنْ غَيْرِ فِكْرَةٍ ، وَأَمَّا التَّلَفُّظُ بِهَا فَلَيْسَ بِشَرْطٍ وَلَكِنْ يَحْسُنُ لِاجْتِمَاعِ عَزِيمَتِهِ.

(6) الإنصاف الإمام المرداوي الحنبلي (ج 1 / ص 225)

فَائِدَةٌ : لَا يُسْتَحَبُّ التَّلَفُّظُ بِالنِّيَّةِ عَلَى أَحَدِ الْوَجْهَيْنِ ، وَهُوَ الْمَنْصُوصُ عَنْ أَحْمَدَ قَالَهُ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ .

قَالَ : هُوَ الصَّوَابُ ، الْوَجْهُ الثَّانِي : يُسْتَحَبُّ التَّلَفُّظُ بِهَا سِرًّا ، وَهُوَ الْمَذْهَبُ ، قَدَّمَهُ فِي الْفُرُوعِ ، وَجَزَمَ بِهِ ابْنُ عُبَيْدَانَ ، وَالتَّلْخِيصِ ، وَابْنُ تَمِيمٍ ، وَابْنُ رَزِينٍ . قَالَ الزَّرْكَشِيُّ : هُوَ الْأَوْلَى عِنْدَ كَثِيرٍ مِنْ الْمُتَأَخِّرِينَ .

(7) كشاف القناع عن متن الإقناع  الإمام البهوتي الحنبلي (ج 1 / ص 255)

( وَاسْتَحَبَّهُ ) أَيْ التَّلَفُّظَ بِالنِّيَّةِ ( سِرًّا مَعَ الْقَلْبِ كَثِيرٌ مِنْ الْمُتَأَخِّرِينَ ) لِيُوَافِقَ اللِّسَانُ الْقَلْبَ

(8) الشرح الكبير العلامة الشيخ الدردير المالكي رحمه الله تعالى (ج 1 / ص 233)

(ولفظه) أي تلفظ المصلي بما يفيد النية كأن يقول: نويت صلاة فرض الظهر مثلاً “واسع” أي جائز بمعنى خلاف الأولى. والأولى أن لا يتلفظ لأن النية محلها القلب ولا مدخل للسان فيها.

(9) حاشية الدسوقي على الشرح الكبير العلامة الدسوقي المالكي رحمه الله تعالى (ج 2 / ص 367)

( قَوْلُهُ : بِمَعْنًى خِلَافِ الْأَوْلَى ) لَكِنْ يُسْتَثْنَى مِنْهُ الْمُوَسْوِسُ فَإِنَّهُ يُسْتَحَبُّ لَهُ التَّلَفُّظُ بِمَا يُفِيدُ النِّيَّةَ لِيَذْهَبَ عَنْهُ اللُّبْسُ كَمَا فِي الْمَوَّاقِ

7 thoughts on “USHOLLI,

    aswaja club

    (February 23, 2013 - 01:16)

    السلام عليكم
    webnya mantebh banget….
    link back

      azmi

      (February 23, 2013 - 09:33)

      Wa’alaikum salam…. suwun atas kunjungannya mas aswaja club…. iya nanti kami usulkan ke mas admin tentang link panjenengan.

    ucep

    (February 23, 2013 - 06:58)

    Tampilan dan isinya mantab, salam kenal. Nanti sering2 ane main keblog ini.

    lasykar

    (February 23, 2013 - 07:24)

    Kita sudah kenal di hati kok mas ucep dan mas aswaja club…. Makasi.sudi mampir.

    abrori

    (March 15, 2013 - 14:16)

    ..ikut ngaji dg para ustadz di sini..

    adzim

    (March 15, 2013 - 21:11)

    Silahkan mas abrori, pintu kami selalu terbuka…..
    By santri alfattah.

    azmi

    (March 18, 2013 - 00:23)

    Zups, monggo di share sareng sareng….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *