ULAMA BESAR ISLAM MAYORITAS BUKAN ORANG ARAB (‘AJAM)

بسم الله الرحمن الحيم

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى أل سيدنا محمد

Baroo’atul Istihlal….

Imam Al ‘allamah Ibnu Kholdun menjelaskan, kenapa para cendekia muslim kebanyakan bukan orang arab, malah orang Iraq, Persia (Iran), Bukhoro (Rusia), Al Jaawah (Indonesia) dan lain sebagainya, dengan beberapa poin, diantaranya:

1. Belum di butuhkannya penciptaan fan ilmu pada masa Nabi Muhammad SAW. dan Sahabat.

2. Majunya peradaban orang ‘ajam di banding orang arab.

3. Daulah pertama Arab mementingkan Kerajaan dan politik di bandingkan Ilmu

 

(1) SESUNGGUHNYA PARA CENDEKIAWAN ISLAM KEBANYAKAN BUKAN ORANG ARAB

Oleh: Sejarawan Agung Al ‘Allamah Syaikh Ibnu Kholdun

SUATU HAL YANG AJAIB, bahwa para cendekiawan dalam agama islam kebanyakan adalah bukan orang arab, baik dari ilmu syariat ataupun ilmu logika hanya sedikit sekali dari kalangan arab. Walaupun sebagian ulama tersebut mempunyai nasab arab namun tetap dikatakan ‘ajamiy (bukan orang arab) karena bahasa, pendidik dan Masyayikhnya (guru/ulama) bukanlah orang arab. Padahal Agama Islam berasal dari arab dan pembawa syari’atnya-pun dari bangsa arab.

Penyebabnya adalah sesungguhnya dalam permulaan munculnya agama islam tidak ada ilmu dan tidak adanya penciptaan Ilmu, karena adanya kesederhanaan dan kebaduwiyan, Adapun hukum-hukum syariat yang mencakup perantah dan larangan Alloh SWT. Pada waktu itu hanya di hafalkan oleh para sahabat, dan benar-benar mengetahui dasar pengambilan hukum tersebut dari Al Qur’an dan as Sunnah dengan langsung bertanya pada shobibus Syari’at, beliau Sayyidina Muhammad SAW. Dan para sahabat Nabi.

Sedangkan kaum arab pada waktu itu, hanyalah kaum arab yang tidak mengetahui metode pendidikan, mengarang, pembukuan dan belum adanya dorongan untuk melakukannya serta belum adanya kebutuhan. Hal tersebut berlaku selama zaman sahabat dan tabi’in dan merekalah yang dikatakan orang-orang istimewa sebab membawa pemahaman Nabi SAW. Dan mereka (pada waktu mempunyai masalah:pent) langsung bertanya pada al Qurroo’ yakni orang-orang yang membaca (baca: faham isi kandungan) Al Qur’an. Para sahabat ataupun tabiin (generasi setelah sahabat:pent) bukanlah orang-orang yang ummiy (tidak bisa membaca) karena sifat ummiy adalah sifat umum yang dimiliki kebanyakan sahabat waktu itu sebab mereka adalah orang arab asli, maka bagi orang-orang yang memahami al Qur’an (Khammaalatil Qur’an) waktu itu dikatakan al Qurro’ karena hal tersebut. Mereka adalah orang-orang yang membaca pada Kitabulloh dan as Sunnah al ma’tsuroh (yang datang dari Alloh/Hadist Qudsi:pent), karena mereka tidak mengetahui hukum-hukum syariat kecuali dari kitabulloh, as Sunnah al ma’tsuroh dan hadist yang kebanyakan datangnya untuk menafsiri dan menjelaskan Kitabulloh ataupun as Sunnah al ma’tsuroh

Nabi Muhammad SAW. bersabda: “Aku meninggalkan dua hal pada kalian semua, barangsiapa memegang dua hal tersebut maka tidak akan tersesat: Kitabulloh dan Sunnahku”, setelah adanya hadist ini, mulai dari kepemimpinan Kholifah Ar Rosyid (Khalifah Ar Roosyiid Umar Bin Abdul Aziz) sampai setelahnya barulah dibutuhkan peletakan dasar ilmu tafsir Al Qur’an dan penguatan Hadist karena khawatir tersia-siakannya hadist. Kemudian dibutuhkan ilmu untuk mengetahui sanad-sanad, adil atau tidaknya periwayat untuk membedakan antara sanad yang shahih dan sebawahnya. Setelah itu banyak muncul hukum-hukum yang terjadi dengan dasar al Kitab dan As Sunnah, setelah itu gaya bahasa menjadi rancau/rusak, maka di butuhkanlah kaidah-kaidah gramatika arab (ilmu Nahwu),

Dan Jadilah kesemua ilmu-ilmu syariat tersebut menjadi watak/tolok ukur untuk penggalian hukum, pencetusan hukum, pengambilan contoh pada hukum dan penyamaan hukum (Qiyas). Setelah itu dibutuhkanlah ilmu-ilmu lain, yakni perantara ilmu syariat berupa: mengetahui kaidah-kaidah arab dan kaidah-kaidah penggalian hukum serta Qiyas dari kaidah arab tersebut.

Setelah itu barulah para ulama mempertahankan akidah-akidah keimanan dengan memunculkan dalil-dalil karena banyaknya bid’ah (baca:pembaharuan yang tidak sesuai syariat) dan penyelewengan, maka jadilah ilmu akidah ini menjadi watak/tolok ukur yang dibutuhkan untuk dipelajari, maka masuklah ilmu akidah ini dalam bagian penciptaan Ilmu/Shonaa’I’ (Ilmu baru yang di gagas setelah masa Nabi:pent).

Seperti yang telah kami jelaskan dahulu, bahwa penciptaan ilmu termasuk dari bagian madzhab (baca:metode/kebudayaaan) orang perkotaan/khadloroh, sedangkan masyarakat arab pada waktu itu sangat tertinggal dengan kebudayaan penciptaan ilmu, maka ilmu-ilmu diatas muncul dari masyarakat perkotaan yang notabene masyarakat arab jauh dari kota dan keramaian (pasar:mis), sedangkan masyarakat perkotaan pada masa itu adalah orang ‘ajam (bukan arab) atau orang yang mengetahui seluk-beluk perkotaan dari pejabat dan orang-orang (arab yang pindah ke:pent) kota yang pada waktu itu mengikuti orang ‘ajam di perkotaan, mengikuti metode penciptaan dan pekerjaan orang kota, karena budaya menciptakan ilmu sangat kental pada orang perkotaan semenjak Daulah/kerajaan Persia, maka setelahnya muncullah pencipta Ilmu Nahwu Imam Syibawaih, Imam Al Farisi, setelah keduanya muncullah Imam Az Zujaaj dan kesemuanya adalah orang ‘ajam dalam Nasab-nasab beliau. Hanya saja dalam mempelajari bahasa arab beliau-beliau mencari guru dan berbaur dengan orang arab kemudian merumuskan kaidah-kaidah bahasa arab dan menjadikannya sebuah fan ilmu bagi manusia setelah para ulama tersebut.

Begitu pula ahli hadist yang menghafal dari ahli islam, keseluruhannya adalah ‘ajam, atau minimal mempunyai bahasa selain arab dan guru bukan orang arab, karena di Iraqlah (pertama kali:pent) fan Hadist tersebar. Sedangkan para Ulama Ushul Fiqih-pun kesemuanya adalah orang ‘ajam seperti yang telah di ketahui, begitu pula Ulama Ilmu Kalam/Tauhid dan Kebanyakan Ulama Tafsir. Dan tiadalah yang memulai hafalan ilmu serta membukukannya kecuali orang-orang ‘ajam.

Terbuktilah sabda Nabi SAW: “Andai saja Ilmu tergantung di sisi-sisi langit niscaya ahli farislah yang mendapatkannya.”

Orang arab yang mengetahui tentang perkotaan dan keramaiannya serta meninggalkan perdesaan untuk mengunjungi kota, tersibukkan dengan kepemimpinan dalam Daulah Abbasyiah, dan tidak menggunakan kekuasaan tersebut untuk keilmuan dan mendalaminya (Nadzor), karena mereka adalah ahli Daulah (Ahli pemerintahan) dan pelindungnya, sekaligus menjadi pelopor keduanya, serta kurangnya perhatian tentang budaya ilmu pada waktu itu dan dengan hal-hal yang tergolong penciptaan.

Adapun para pemimpin selamanya memandang rendah (al mihan) penciptaan, mempekerjakan (penciptaan ilmu pada orang ‘ajam:pent), dan hal-hal yang terkait dengan penciptaan ilmu, serta mereka menyerahkan hal tersebut pada orang yang mendalaminya dari orang ‘ajam dan orang-rang yang dilahirkan diluar arab. Dan merekapun tidak sepenuh hati memperhatikannya, padahal itu adalah agama dan ilmunya, namun mereka tidak merendahkan ahli ilmu dengan sangat. (hal ini terus-menerus terjadi:pent) sampai ilmu yang bersumber dari arab menjadi milik orang bukan arab (‘ajam)

Jadilah ilmu-ilmu syariat suatu hal yang aneh bagi keluarga kerajaan, sebab menjauhi ilmu dan tidak menghormati ulama dengan pandangan bahwa ulama jauh/terlepas dari mereka yang lebih menyibukkan diri dengan hal yang tidak bisa dilepaskan dan tidak berguna dalam masalah kerajaan dan politik, seperti yang kami jelaskan dalam fasal tingkatan agama, maka yang aku jelaskan diatas adalah sebab orang ajam yang menjadi ulama syariat, atau kebanyakan orang ajam….

Wallohu Yakhluqu maa bi Syaa-a laa syarika lahu al mulku wa lahu al hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir, wa hasbunallohu wa ni’mal wakiil walkhamdulillah…..

 

وَبِاللهِ التَّوْفِيْقُ لاَ رَبَّ غَيْرَهُ، وَلاَ مَعْبُوْدَ سِوَاهُ، نَسْأَلُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يَجْعَلَنَا وَأَحِبَّتَنَا عِنْدَ الْمَوْتِ نَاطِقِيْنَ بِكَلِمَةِ الشَّهَادَةِ عَالِمِيْنَ بِهَا، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كُلَّمَا ذَكَرَهُ الذَّاكِرُوْنَ، وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِهِ الْغَافِلُوْنَ، وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

وهذا آخر ما يسره الله تعالى من فضله وكرمه.والحمد لله رب العالمين. وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم.

Penterjemah: M. Robert Azmi Al Adzim

Ndalem pule, 22 februari 2013

(1) مقدمة ابن خلدون للعلامة عبدالرحمن بن خلدون المتوفى 808 هجرية ص: 466-467 دار الكتب العلمية

الفصل الثالث و الأربعون : في أن حملة العلم في الإسلام أكثرهم العجم

من الغريب الواقع أن حملة العلم في الملة الإسلامية أكثرهم العجم لا من العلوم الشرعية و لا من العلوم العقلية إلا في القليل النادر و إن كان منهم العربي في نسبته فهو أعجمي في لغته و مرباه و مشيخته مع أن الملة عربية و صاحب شريعتها عربي و السبب في ذلك أن الملة في أولها لم يكن فيها علم و لا صناعة لمقتضى أحوال السذاجة و البداوة و إنما أحكام الشريعة التي هي أوامر الله و نواهيه كان الرجال ينقلونها في صدورهم و قد عرفوا مأخذها من الكتاب و السنة بما تلقوه من صاحب الشرع و أصحابه و القوم يومئذ عرب لم يعرفوا أمر التعليم و التأليف و التدوين و لا دفغوا إليه و لا دعتهم إليه حاجة و جرى الأمر على ذلك زمن الصحابة و التابعين و كانوا يسمون المختصين بحمل ذلك و نقله إلى القراء أي الذين يقرأون الكتاب و ليسوا أميين لأن الأمية يومئذ صفة عامة في الصحابة بما كانوا عربا فقيل لحملة القرآن يومئذ قراء إشارة إلى هذا فهم قراء لكتاب الله و السنة المأثورة عن الله لأنهم لم يعرفوا الأحكام الشرعية إلا منه و من الحديث الذي هو في غالب موارده تفسير له و شرح قال صلى الله عليه و سلم : [ تركت فيكم أمرين لن تضلوا ما تمسكتم بهما : كتاب الله و سنتي ] فلما بعد النقل من لدن دولة الرشيد فما بعد احتيج إلى وضع التفاسير القرآنية و تقييد الحديث مخافة ضياعه ثم احتيج إلى معرفة الأسانيد و تعديل الناقلين للتمييز بين الصحيح مم الأسانيد و ما دونه ثم كثر استخراج أحكام الواقعات من الكتاب و السنة و فسد مع ذلك اللسان فاحتيج إلى وضع القوانين النحوية و صارت العلوم الشرعية كلها ملكات في الاستنباطات و الاستخراج و التنظير و القياس و احتاجت إلى علوم أخرى و هي الوسائل لها من معرفة قوانين العربية و قوانين ذلك الاستنباط و القياس و الذب عن العقائد الإيمانية بالأدلة لكثرة البدع و الإلحاد فصارت هذه العلوم كلها علوما ذات ملكات محتاجة إلى التعليم فاندرجت في جملة الصنائع و قد كنا قدمنا أن الصنائع من منتحل الحضر و أن العرب أبعد الناس عنها فصارت العلوم لذلك حضرية و بعد عنها العرب و عن سوقها و الحضر لذلك العهد هم العجم أو من هم في معناهم من الموالي و أهل الحواضر الذين هم يومئذ تبع للعجم في الحضارة و أحوالها من الصنائع و الحرف لأنهم أقوم على ذلك للحضارة الراسخة فيهم منذ دولة الفرس فكان صاحب صناعة النحو سيبويه و الفارسي من بعده و الزجاج من بعدهما و كلهم عجم في أنسابهم و إنما ربوا في اللسان العربي فاكتسبوه بالمربى و مخالطة العرب و صيروه قوانين و فنا لمن بعدهم و كذا حملة الحديث الذين حفظوة عن أهل الإسلام أكثرهم عجم أو مستعجمون باللغة و المربى لاتساع الفن بالعراق و كان علماء أصول الفقه كلهم عجما كما عرف و كذا حملة علم الكلام و كذا أكثر المفسرين و لم يقم بحفظ العلم و تدوينه إلا الأعاجم و ظهر مصداق قوله صلى الله عليه و سلم : [ لو تعلق العلم بأكناف السماء لناله قوم من أهل فارس ] و أما العرب الذين أدركوا هذه الحضارة و سوقها و خرجوا إليها عن البداوة فشغلتهم الرئاسة في الدولة العباسية و ما دفعوا إليه من القيام بالملك عن القيام بالعلم و النظر فيه فإنهم كانوا أهل الدولة و حاميتها و أولي سياستها مع ما يلحقهم من الأنفة عن انتحال العلم حينئذ بما صار من جملة الصنائع و الرؤساء أبدا يستنكفون عن الصنائع و المهن و ما يجر إليها و دفعوا ذلك إلى من قام به من العجم والمولدين و ما زالوا يرون لهم حق القيام به فإنه دينهم و علومهم و لا يحتقرون حملتها كل الاحتقار حتى إذا خرج الأمر من العرب جملة و صار للعجم صارت العلوم الشرعية غريبة النسبة عند أهل الملك بما هم عليه من البعد عن نسبتها و امتهن حملتها بما يرون أنهم بعداء عنهم مشتغلين بما لا يغني و لا يجدي عنهم في الملك و السياسة كما ذكرناه في نقل المراتب الدينية فهذا الذي قررناه هو السبب في أن حملة الشريعة أو عامتهم من العجم و أما العلوم العقلية أيضا فلم تظهر في الملة إلا بعد أن تميز حملة العلم و مؤلفوه و استقر العلم كله صناعة فاختصت بالعجم و تركتها العرب و انصرفوا عن انتحالها فلم يحملها إلا المعربون من العجم شأن الصنائع كما قلناه أولا فلم يزل ذلك في الأمصار الإسلامية ما دامت الحضارة في العجم و بلادهم من العراق و خراسان و ما وراء النهر فلما خربت تلك الأمصار و ذهبت منها الحضارة التي هي سر الله في حصول العلم و الصنائع ذهب العلم من العجم جملة لما شملهم من البداوة و اختص العلم بالأمصار الموفورة الحضارة و لا أوفر اليوم في الحضارة من مصر فهي أم العالم و إيوان الإسلام و ينبوع العلم و الصنائع و بقي بعض الحضارة في ما وراء النهر لما هناك من الحضارة بالدولة التي فيها فلهم بذلك حصة من العلوم و الصنائع لا تنكر و قد دلنا على ذلك كلام بعض علمائهم من تآليف وصلت إلينا إلى هذه البلاد و هو سعد الدين التفتازاني و أما غيره من العجم فلم نر لهم من بعد الإمام ابن الخطيب و نصير الدين الطوسي كلاما يعول على نهايته في الإصابة فاعتير ذلك و تأمله تر عجبا في أحوال الخليقة و الله يخلق ما بشاء لا شريك له الملك و له الحمد و هو على كل شيء قدير و حسبنا الله و نعم الوكيل و الحمد لله

2 thoughts on “ULAMA BESAR ISLAM MAYORITAS BUKAN ORANG ARAB (‘AJAM)

    lasykar

    (Februari 23, 2013 - 18:33)

    Benar sekali….. Teringat waktu tahun 2004 mondok posoan di al Mukarrom Mbah Yai Maimoen Zubeir Sarang, Beliau berkata: “Wong arab bento-bento, tapi wong arab mulyo-mulyane bongso. Angel wong arab pinter, mergae sombong, Lawong Aku wong arab jeh…”
    Artinya: “Orang arab itu bodoh-bodoh, tapi (kita tidak boleh menghinanya, kerena) orang arab adalah bangsa yang paling mulia. Sulit bagi orang arab untuk pintar, karena sombong. (mereka sering berkata) lihatlah akulah orang arab”.

    azmi

    (Februari 25, 2013 - 01:51)

    Hehehehe manteb

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.