ULAMA ADALAH PEWARIS PARA NABI

ULAMA ADALAH PEWARIS PARA NABI

الحديث الثالث:

(3) حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِىٍّ الْجَهْضَمِىُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دَاوُدَ عَنْ عَاصِمِ بْنِ رَجَاءِ بْنِ حَيْوَةَ عَنْ دَاوُدَ بْنِ جَمِيلٍ عَنْ كَثِيرِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ أَبِى الدَّرْدَاءِ فِى مَسْجِدِ دِمَشْقَ فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا الدَّرْدَاءِ أَتَيْتُكَ مِنَ الْمَدِينَةِ مَدِينَةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لِحَدِيثٍ بَلَغَنِى أَنَّكَ تُحَدِّثُ بِهِ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم-. قَالَ فَمَا جَاءَ بِكَ تِجَارَةٌ قَالَ لاَ. قَالَ وَلاَ جَاءَ بِكَ غَيْرُهُ قَالَ لاَ. قَالَ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ يَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَاءِ وَالأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانِ فِى الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ ».

Artinya:

Dari sahabat Katsir bin Qois, beliau berkata: “(pada waktu) kami duduk di samping sahabat Abi Darda’ di masjid Dimisqo, datanglah seorang laki-laki, kemudian dia berkata”: “Wahai Abi Darda’ aku datang kepadamu dari madinah kota Rosululloh SAW. karena hadist yang sampai padaku bahwa sesungguhnya engkau menceritakan hadist tersebut dari Nabi SAW”.

sahabat Abi Darda’ berkata: “Apakah engkau datang tidak untuk berdagang?”,

laki-laki tersebut menjawab: ”Tidak”,

Sahabat Abi Darda’ berkata: “Dan apakah engkau tidak punya tujuan selain hadist?”,

laki-laki tersebut menjawab: “Tidak”,

kemudian sahabat Abi Darda’ berkata: “Sesungguhnya aku mendengar Rosululloh SAW. bersabda”: “Barang siapa yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka Alloh akan memudahkan jalannya ke surga, dan sesungguhnya malaikat meletakkan sayap-sayapnya karena ridlo dengan para pencari ilmu, dan sesungguhnya pencari ilmu (mendapatkan) permintaan pengampunan dari makhluk di langit dan bumi sehingga ikan di air, dan sesungguhnya keutamaan orang alim di banding orang yang suka beribadah (tapi tidak alim), seperti keutamaan rembulan di banding bintang-bintang lainnya, sesungguhnya  Ulama adalah pewaris para Nabi, sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan Dinar dan Dirham, para Nabi hanya mewariskan Ilmu, maka barangsiapa yang mencari ilmu, carilah dengan bagian yang sempurna”.

Oleh karena itu Imamuna Al Ghozali menjelaskan sebagian Akhlaq pelajar kepada Ulama sebagai berikut:

إحياء علوم الدين ومعه تخريج الحافظ العراقي – (ج 1 / ص 98)

الوظيفة الثالثة أن لا يتكبر على العلم ولا يتأمر على معلم بل يلقى إليه زمام أمره بالكلية في كل تفصيل ويذعن لنصيحته إذعان المريض الجاهل للطبيب المشفق الحاذق وينبغي أن يتواضع لمعلمه ويطلب الثواب والشرف بخدمته قال الشعبي صلى زيد بن ثابت على جنازة فقربت إليه بغلته ليركبها فجاء ابن عباس فأخذ بركابه فقال زيد خل عنه يا ابن عم رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال ابن عباس هكذا أمرنا أن نفعل بالعلماء والكبراء فقبل زيد بن ثابت يده وقال هكذا أمرنا أن نفعل بأهل بيت نبينا صلى الله عليه وسلم حديث أخذ ابن عباس بركاب زيد بن ثابت وقوله هكذا أمرنا أن نفعل بالعلماء أخرجه الطبراني والحاكم والبيهقي في المدخل إلا أنهم قالوا هكذا نفعل قال الحاكم صحيح الإسناد على شرط مسلم وقال صلى الله عليه وسلم ليس من أخلاق المؤمن التملق إلا في طلب العلم حديث ليس من أخلاق المؤمن الملق إلا في طلب العلم أخرجه ابن عدي من حديث معاذ وأبي أمامة بإسنادين ضعيفين…

Artinya: Ketetapan yang ketiga: pelajar tidak boleh sombong atas ilmu dan tidak boleh memerintah Mu’allim (pengajar/ulama) akan tetapi harus menyerahkan semua kendali jiwanya dan tunduk pada nasihat Mu’allim, seperti tunduknya orang sakit yang bodoh dihadapan dokter yang memperhatikan dan cerdas. Dan seyogyanya pelajar tawadlu pada Mu’allimnya, mencari pahala dan kemuliaan dengan melayani Mu’allim.

Imam Sa’biy berkata: “(waktu) sahabat Zaid bin Tsabit melakukan sholat janazah, beliau mendekatkan kendaraanya (bighol: anak perkawinan kuda dan keledai) untuk di naiki, kemudian datanglah Sahabat Ibnu Abbas dan langsung memegang tali kendali kendaraan sahabat Zaid bin Tsabit (untuk menuntunnya sebagai penghormatan). Sahabat Zaid bin Tsabit berkata: “lepaskanlah wahai anak paman Nabi SAW”. Sahabat Ibnu Abbas menjawab: “Seperti inilah Nabi SAW. memerintahkan kepadaku berbuat bagi ulama dan pembesar agama Islam”, kemudian Sahabat Zaid bin Tsabit mencium tangan Sahabat Ibnu Abbas dan berkata: “Seperti inilah Nabi SAW. memerintahkan kepadaku berbuat pada keluarga Nabi SAW”. (Hadist ini diriwayatkan Imam Thoroni, Imam Hakim dan Imam Baihaqi dalam kitab Al Madkhol. Imam Hakim berkata: hadist ini sanadnya Shohih dari sarat Imam Muslim).

Dan Nabi SAW bersabda: “Merendah secara berlebihan bukanlah Akhlak seorang mukmin, kecuali dalam hal mencari ilmu” hadist ini di keluarkan Imam Ibnu Adiy dari hadist Sahabat Muadz dan Sahabat Abi Umamah keduanya dengan sanad dloif. (Namun boleh digunakan untuk Fadloilul A’mal)”

Begitulah keindahan akhlak para sahabat, walaupun beliau adalah ahli bait, namun begitu memulyakan ulama, begitu pula sebaliknya. Akankah kita yang menjadi umat nabi Muhammad SAW. bisa menjadikan Nabi, para sahabatnya dan para ulama pewaris Nabi sebagai Uswatun Hasanah? Semoga…

 

(3) سنن ابن ماجه 228 (ج 1 / ص 268)

Diambilkan dari kitab Arba’in Alfattah PP. Al Fattah Pule Tanjunganom Nganjuk

Wallohu a’lam

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *