Tidur Ibadah, Ibadah Tidur

Ibadah merupakan ritualitas keagamaan yang teraplikasi dalam pengakuan seorang hamba kepada Sang Kholiq. Pengakuan ini lebih bersifat kepatuhan untuk melaksanakan titah dan larangan Nya. Mendeskripsikan titah Tuhan dalam bentuk amaliyah(perbuatan), berarti kepatuhan seorang hamba untuk menaplikasikan perbuatan yang bernilai ibadah. Melaksanakan larangan juga akan bernilai ibadah; dengan kata lain; seorang hamba yang melaksanakan larangan Tuhan mempunyai nilai kepatuhan plus ibadah. Dengan demikian, Intruksi Allah yang berbentuk perintah dan larangan dengan mikanisme yang berbeda, mempunyai kolerasi yang subtantif yaitu nilai kepatuhan(ibadah).

Embrio pendorong ibadah bisa berbentuk perintah yang wajib disosialisasikan (al-Amru al-Jazim), atau bisa berbentuk perintah yang implementasinya tidak mendesak(al-Amru Gairul Jazim) dengan kata lain sunnat. Sedangkan larangan yang bisa bernilai ibadah, diusung dari larangan yang wajib dipatuhi(an-Nahyu al-Jazim), atau dari bentuk larangan yang berkekuatan hukum makruh(an-Nahyu Gairul Jazim). Dari  icon di atas muncul sebuah pertanyaan, apakah seperti tidur yang notabeni bukan dari embrio perintah atau larangan(mubah), juga bisa bernilai ibadah? Secara singkat jawabannya adalah”bisa”. Agar jawaban  ini mendapat legalisir Syara’, kami akan mencoba memotret sedikitnya dua faktor “tidur ibadah” yang menjadi konsepsi Islam.

1. kapasitas orang yang tidur

Syahdan, ketika Rosulullah masuk Masjid untuk beribadah, beliau melihat Syaitan mondar- mandir di pintu Masjid. Sembari mendekati rosulullah bertanya pada Syaitan, “Kenapa mondar-mandir seperti “orang bingung”?. Syaitan menjawab: “Wahai Nabi Allah, sebenarnya saya akan menggoda orang yang solat itu”, kata Syaitan sambil menunjuk orang yang sedang sholat di dalam Masjid. “Tapi, mengingat di sampingnya ada orang ‘Alim sedang tidur, saya urungkan niat itu, saya khawatir dia bangun dan membenarkan sholatnya, sehingga sia-sialah usaha saya”, ujar syaitan sambil pamit meninggalkan Nabi. Dari dialok interaktif tersebut kemudian Rosulullah bersabda “Tidurnya orang Alim lebih baik (lebih bernilai Ibadah) daripada ibadahnya orang bodoh”.

Deskripsi Hadist di atas memberikan asumsi bahwa kapasitas keilmuan seseorang dipertaruhkan untuk mencapai predikat “tidur ibadah”. Hal ini cukup beralasan, mengingat orang ‘Alim orientasi perbuatannya “lebih bernilai ibadah”. Setidaknya perbuatan yang dilakukan  tidak lepas landas dari rel agama. Oleh karna itu, Rosulullah bersabda seperti di atas.

2. tujuan tidur

Secara medis, tidur merupakan salah satu penunjang kesehatan. Setiap orang  sehari semalam dianjurkan minimal tidur delapan jam. Hasil riset kedokteran membuktikan bahwa dengan  tidur yang cukup (delapan jam), peredaran darah, urat syaraf, dan pikiran akan terprogram dengan proporsional. Sebaliknya orang yang kurang tidur akan berakibat daya pikir, peredaran darah, dan urat sarafnya akan bergeser dari titik kulminasinya, sehingga kalau hal ini terus menerus terjadi, dikawatirkan akan mengganggu kesehatan dan daya tahan tubuh.

Islam memotret kesehatan sebagai kebutuhan yang signifikan yang harus dilestarikan. Terbukti Islam mencover kebutuhan manusia dalam konsep doruri (kebutuhan yang urgen dan primer), haji (kebutuhan yang urgen), dan tahsini (kebutuhan yang sekunder). Nilai kesehatan akan semakin terasa ketika kita dalam keadaan sakit. Penyakit yang kita derita akan mengakibatkan aktifitas kita tidak bisa direalisasikan secara maksimal. Dalam situasi semacam ini Ulama’ menganjurkan untuk mencari terapi penyembuhan Mengingat signifikansi nilai kesehatan yang begitu besar, maka Islam menganjurkan manusia untuk menjaga kesehatan yang salah satu faktornya adalah tidur yang cukup. Eksistensi kesehatan dalam aktifitas ibadah misalnya, akan terasa fungsinya manakala kesehatan kita dalam performanya.

Sebenarnya tidur  secara subtantif bukan ibadah, tetapi hanya sekedar wasilah (pengantar) ibadah, sehingga manakala tidur itu diniati untuk menjaga kesehatan agar kuat melaksanakan rutinitas ibadah, maka disinilah muncul rumus hukum “tidur ibadah”. Jadi, tidur adalah faktor penunjang kesehatan, kesehatan merupakan sarana untuk ibadah. Dengan demikian bisa dibuat rumor “tidur ibadah, ibadah tidur”.

[Diambilkan dari makalah “Tidur Ibadah, Ibadah Tidur oleh Mahfudz Syaerozi Ma’shum ]

Wallahu ‘Alam bis Sowaab.

M. Lu’lu’ilmaknun

Pule 19 Februari 2013

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.