SYEIKH DUQIE LASEM*

Oleh: M. Robert Azmi Al Adzim**

Hadlorotusy Syaikh KH. Mashduqie bin Sulaiman Al-Lasimy

Secuil sepak terjang sang macan putih.

Rabu, 27 Februari 2013, waktu penulis “nyambangi” madrasah salafiyyah Al Fattah Pule Tanjunganom Nganjuk, tanpa sengaja bertemu dengan K. Mukhtar Luthfi***, adik kandung pendiri PP. Al Fattah Almarhum KH. Nahrowi ZAM. Di tengah obrolan yang mengasyikkan, beliau teringat masa-masa mondok di Al Ishlah Lasem Jawa Tengah, yang diasuh oleh KH. Mashduqie, atau yang lebih terkenal dengan panggilan Syaikh Duqie. Beliau menceritakan kepribadian Syaikh Duqie yang menarik, mulai sisi ketawadluan, kewira’iyyan, ketawakkalan dan kesemangatan sang syaikh dalam mengajar…..

Ketawadlu’an

Suatu ketika, ada santri yang sowan beliau, karena saking hormatnya, santri tersebut ingin mencium tangan Syaikh Duqie bolak-balik (tapak tangan dan luarnya), namun yang mengejutkan beliau langsung menampik, dan berkata: “Awakmu marai ndeder racun nang atiku!!! (apakah engkau ingin menumbuhkan bibit racun di hatiku?).” kemudian beliau berkata: “Masduqie kuwi Sopo? “. Akhirnya santri tersebut mengurungkan niatnya.

Kewira’iyan

Sebuah hal lumrah bagi santri yang pulang kerumah karena kangen dengan kampung halaman, dan merupakan Sunnah Rosul untuk membawa oleh-oleh pada ulama, namun tidak semua oleh-oleh diterima oleh Syaikh Duqie. Beliau sering bertanya pada santri yang membawa oleh-oleh: “iki jajan tekan ngendi?”, “Saking Bapak-Ibu yai.”, “Al hamdulillaah…. “ (Ini oleh-oleh dari mana?, Dari Ayah-Ibu yai…”, beliau berkata: Al Hamdulillah…). Namun apabila santri membawa oleh-oleh bukan dari rumah, “Iki jajan tekan ngendi?, Kok bungkusan koyok jajan toko?.”, “ Kulo tumbas saking toko yai…”, “Haram!!, Awakmu disangoni Bapak-Ibumu dingge sangu mondok, ora dingge nukokke jajan aku.” (Ini Oleh-oleh dari mana?, kok bungkusnya seperti oleh-oleh dari toko?. Saya beli dari toko yai…., beliau langsung menghardik: Haram!! Kamu di kasih uang oleh Ayah-Ibumu untuk uang saku mondok, bukan untuk membelikan oleh-oleh aku.).

Ketawakkalan

Waktu mengaji beliau sering bercerita:“Aku kuwi anake bakul beras, budal mondok adol pitik, tak tukokne rokok, tak dol nang santri termas” (Aku hanyalah anak pedagang beras, pergi mondok dengan menjual ayam, kemudian uangnya aku belikan rokok, dan ku jual ke santri termas). Dalam kesempatan lain, waktu beliau ngaji, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, spontan santri yang mengikuti ngaji, semburat melarikan diri. Dengan tersenyum beliau berkata: “Santriii…santriii… kok wedi karo rohmate pengeran….”(Santriii… santriii… kok takut sama rahmat Alloh SWT.), kemudian beliau dengan tidak tergesa-gesa meninggalkan tempat pengajian dengan berpayungkan sajadah beliau.

Kesemangatan

Pernah suatu ketika Pak Moh, panggilan akrab penulis kepada K. Muhtar Luthfi, karena beliau adalah paman penulis. Mengikuti pengajian tafsir Jalalain yang di hatamkan hanya sebulan Romadlon saja. Di tengah penat yang mendera dan kantuk yang sangat, banyak santri yang tertidur. Tiba-tiba beliau menggebrak meja, “Bruuaaaakkkk…. Setane mlayu, setane mlayu…” (setannya lari, setannya lari…) Diiringi tawa renyah beliau dan santri yang gelagapan bangun tidur. Begitu pula, waktu beliau menyemangati santri agar tidak cepat puas dengan ilmu yang di dapatkannya, “Nahwu-shorofmu kuwi opo? Urung enek sak kuku irengku….”(Ilmu nahwu-shorofmu seberapa sih? Belum ada secuil kuku hitamku)

Ksatria

Pernah dilain waktu penulis bertemu dengan Kakak Pak Moh, KH. Imam Daroini**** yang menceritakan sifat ksatria Syaikh Duqie, waktu Pak Imam mondok di Lasem dan setelahnya ke Lirboyo. Sebagai ulama yang ahli Fiqih, Nahwu-shorof, Tasawwuf dan banyak fan lainnya, sangatlah wajar apabila waktu mengaji, beliau mengoreksi kitab yang di bacanya. Syahdan… Waktu beliau membaca kitab Syirojut Tholibien karangan KH. Ihsan Jampes Kediri, yang sekarang menjadi salah satu mata pelajaran di Universitas Al Azhar Kairo. Syaikh Duqie sering berkata: “Iki Kliru!!” (Ini Salah), sambil langsung mencoret lafadz kitab tersebut dengan pena yang beliau bawa. Kabar ini terdengar oleh Kyai Mat Jipang, Salah seorang ulama Kediri yang sangat terkenal kecerdasannya, sehingga masyarakat sekitar menjulukinya mbah JiPang, kepanjangan dari Ngaji Gampang (Ngaji Mudah, cerdas:red). Mendengar itu, mbah Jipang langsung berangkat ke pondok Lasem, dengan menyamar sebagai orang desa, kemudian beliau bertamu ke Ndalem Syaikh Duqie, sang Syaikh mempersilahkannya, dan terjadilah Adu Argumen yang sangat tajam dan lama. KH. Imam daroini menuturkan: “Debatane Syaikh Duqie karo Mbah Jipang pirang-pirang dino lee…, leren Cuma waktu Sholat lan Istirahat wengi diluk.” (debat antara Syaikh Duqie dan Mbah Jipang terjadi beberapa hari nak…, Istirahat Cuma waktu Sholat dan malam waktu istirahat), dan beliau menyambungnya: “Akhire, Debatane bar, Syaikh Duqie Ngakoni ngilmune Mbah Jipang lan mbenerake Sirojut Tholibiin sing di klerokke.” (Akhirnya, debat usai, Syaikh Duqie mengakui keilmuan Mbah Jipang dan membenarkan Sirojut Thoolibien yang disalahkannya). Pada kesempatan lain, Syaikh Duqie berkata pada santri yang mengaji: “Aku Kalah karo wong Kediri.” (Aku kalah sama orang Kediri). Latar belakang Syaikh Duqie menyalahkan beberapa lafadz kitab tersebut adalah karena ke hati-hatian beliau, terbukti, selang waktu beliau berkata: “Syariat kuwi koyok dalan nang pinggir kali, nek minggir-minggir iso gampang kecemplung, sing aman nang tengah wae.” (Syariat itu ibarat jalan yang berada pinngiran sungai, kalau terlalu ke pinggir akan mudah tergelincir, yang aman berjalan di tengah saja).

Wallohu a’lam

Semoga kita bisa meneladani beliau-beliau Aminn…

Ndalem Pule, Rabo 27 Februari 2013.

 

* Beliau mempunyai nama lengkap Hadlorotusy Syaikh KH. Mashduqie bin Sulaiman Al-Lasimy, lahir pada sekitar tahun 1908 M. di desa Soditan Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang dari pasangan KH. Sulaiman dengan Hj. Nyai Khodijah (Qolmini). Dari jalur ayah nasab beliau bersambung ke Asy-Syaikh As-Sayyid Mutamakkin Kajen Pati yang bersambung ke Asy-Syaikh As-Sayyid Achmad Rohmatulloh (Sunan Ampel) sampai ke Baginda Rosululloh SAW. Beliau mendapat gelar Asy-Syaikh dikarenakan termasuk salah satu Ulama’ Indonesia yang mengajar di Masjidil Harom, pada waktu itu sebutan Syaikh dimiliki oleh 3 orang Ulama’, yaitu Syaikh MashDuqie Al-Lasimy, Syaikh Mahfudz Termas (Kakak kandung Syaikh Dimyati) dan Syaikh Yasin Al-Fadany. Lihat biografi selengkapnya di http://www.sarkub.com/2013/sang-macan-putih-dari-pulau-jawa-syeikh-masDuqiee-bin-sulaiman-al-lasimy/#axzz07viKVxeT

** Penulis adalah pembantu Umum PP. Al Fattah.

*** Beliau adalah Adik ketiga Almarhum KH. Nachrowi ZAM. yang sekarang mengasuh pondok cabang Al Fattah di Kaloran Ngronggot Nganjuk, dengan siswa-siswi mencapai 400 an, menurut data terakhir Pondok Induk Al Fattah Putra-Putri, Ponduk Unit Al Fattah Jadid Kaloran, Madrasah dan TPQ mencapai 1.300 an santri. Selain di Lasem, K. Mukhtar Luthfi Juga pernah mondok di Lirboyo kediri, Watucongol Magelang, Pandeglang Banten dan pondok lainnya.

**** Beliau adalah adik kedua Almarhum KH. Nahrowi ZAM. Yang sekarang mengasuh Pondok Putra PP. Al Fattah bersama Putra Almarhum KH. Nahrowi ZAM., KH. Syamsuddin Al ‘Aliy. Selain menamatkan pendidikan di Lasem KH. Imam Daroini juga menamatkan pendidikan di Lirboyo Kediri. Sedangkan Pondok Putri Al Fattah di asuh Oleh KH. Syamsuddin Al ‘Aliy beserta Ibu Nyai Hj. Laila Nailatul Yusroh. Kesemua element pondok pesantren Al Fattah merujuk pada Nasihat Istri Almarhum KH. Nahrowi ZAM., Almukarromah Ibu Nyai Hj. Tuti’ Adriatin.

5 thoughts on “SYEIKH DUQIE LASEM*

    azmi

    (March 18, 2013 - 00:26)

    Amin amin amin….. muga kecipratan barokah beliau

    azmi

    (March 18, 2013 - 00:28)

    Dan muga alfattah tetep jaya di darat dan udara….

    lasykar

    (March 18, 2013 - 15:19)

    amiiinnn…. yaa mujibas Saailiin….

    Diandri Kusumah Agus

    (February 15, 2016 - 08:58)

    <3 SubhanaALLOH…………

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *