Sayyidina Umar Al Faruuq -pembeda Haq dan bathil-

Sepenggal kisah Sang Penakluk

 

Diriwayatkan ada seorang laki-laki mendatangi Sayyidina Umar ra, untuk mengadu tentang budi pakerti istrinya. Ia menunggu Sayyidina Umar di depan pintu rumahnya. Secara kebetulan, orang tersebut mendengar istri Sayyidina Umar sedang memarahinya, sedangkan Sayyidina Umar diam tidak menanggapinya.

Lalu orang itu pulang dan dan berkata (dalam hati): “Jika keadaan Amir al-Mukminin seperti ini, lalu bagaimana dengan saya ?.”

Tak lama kemudian Sayyidina Umar keluar dan melihatnya berpaling, lalu Sayyidina Umar memanggilnya: “Apa keperluanmu?”

Ia menjawab: “Wahai Amir al-Mukminin, sebenarnya saya datang untuk mengadukan sikap dan perbuatan istri saya kepada saya, namun saya mendengar hal yang sama pada istri tuan, akhirnya sayapun pulang dan berkata (dalam hati): “Jika keadaan Amir al-Mukminin seperti ini, lalu bagaimana dengan saya ?”.

 Sayyidina Umar berkata kepadanya: “Wahai saudaraku ! Saya tetap sabar (atas perbuatannya), karena itu memang kewajiban saya. Istri sayalah yang memasakkan makanan saya, membuatkan roti untuk saya, mencucikan pakaian, dan menyusui anak saya, sedangkan itu bukanlah merupakan kewajibannya. Di samping itu hati saya merasa tenang (untuk tidak melakukan perbuatan haram).

Karena itulah saya tetap sabar atas perbuatannya itu”.

“Karena itu bersabarlah wahai saudaraku. Ini hanya sebentar”, Jawab Sayyidina Umar.

 DI SUNTING DARI UQUDULLIJAIN

 

Pepiling:

Kisah di atas Juga diriwayatkan oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitab al- Kabâ’ir, (h.179) dan Imam al-Haytami dalam kitab az-Zawâjir, (juz II, h. 80).

Kisah ini menjadi dasar beberapa kalangan (ulamâ) yang melontarkan pendapat, bahwa istri mempunyai kelayakan standar disesuaikan dengan status, jenjang ekonomi sekaligus situasi keluarga. Secara asli, istri harus diperlakukan sebagaimana layaknya, sesuai dengan kelayakan umum dari sebuah daerah. Ketika di sebuah daerah tradisi para wanita ketika menjadi ibu rumah tangga adalah memasak, menyusui, dan mencuci maka diperbolehkan suami memberikan beban tersebut kepada istri. Hal ini mengkiblat atas apa yang dicontohkan oleh para umul mukminin (istri-istri Nabi) serta istri para sahabat Nabi yang senantiasa memasak, membuat kue serta menyediakan berbagai kebutuhan keluarga. Meskipun demikian, suami sebagai kepala rumah tangga harus mampu menjadi pemeran utama dalam menjalankan roda keluarga, sehingga keseimbangan dan harmonisasi dapat terwujud tanpa harus ada yang merasa lebih dibebani (Tafsîr al-Qurthubî juz. III hal. 154).

Kalangan Syafi’iyyah memberikan arahan, dalil-dalil yang mengindikasikan wajibnya istri memasak, mencuci pakaian dan hal lain yang sudah menjadi tradisi dilakukan dalam rangka khidmah, harus diposisikan pada hukum sunat dilakukan. Karena menurut mereka, hal tersebut bukanlah kewajiban istri dalam rumahtangga, hanya saja sunat bagi istri menjalankannya, seperti teladan dari istri-istri Nabi dan para shahabat (Ittihaf al-Sadah al-Muttaqin juz. V h. 403).

Administrator PP. Al Fattah Pule

Pondok Pule, Sabtu. 18 Mei 2013

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.