SANTRI

Dulu, tahun enampuluhan. Waktu Haflah Akhirussannah (perayaan lulusan akhir tahun) PP. lirboyo Kediri. Panitia haflah mengundang alMarhum alMaghfurlah KH. Wahab Hasbulloh dari Jombang sebagai Muballigh utama.

Setelah acara di mulai. Sampailah pada acara sambutan atas nama pengasuh PP. Lirboyo, yang dalam hal ini di sampaikan oleh alMarhum alMaghfurlah KH. Mahrus Ali. Dengan gaya khas beliau yang menggebu-gebu dan berapi-api. Beliau mendorong kesemangatan santri tamatan waktu itu, untuk menjadi kyai semuanya!!!. Beliau berdalih: Dengan banyaknya desa, kecamatan dan kabupaten di Indonesia ini maka, tamatan yang beberapa ratus ini dinilai masih kurang. Oleh karenanya, beliau mewanti-wanti pada santri tamatan untuk benar-benar mengamalkan ilmunya, memperjuangkan agama Islam dengan cara menjadi Kyai. Karena Indonesia kekurangan Kyai!!. Tepuk tangan menggema di tengah pidato dan Akhir pidato beliau.

Setelah pidato menggetarkan KH. Mahrus Ali usai. Tibalah pada acara inti yang akan disampaikan oleh “muballigh” asal Jombang KH. Wahab Hasbulloh. Setelah beliau sampai di atas Podium setelah mengucapkan Sholawat dan salam. Beliau hanya Dawuh beberapa kata yang membuat seluruh penonton terdiam, Hening!!. yang kira-kira bunyinya begini, “Apa yang di katakan Kyai Mahrus Mustahil!!!, menurut saya, Santri harus ada yang jadi Petani, Masinis, Tentara, Pedagang, Pegawai negri dan lain-lain, agar bisa menyebarkan Islam dalam segala lini. Cukup Sekian Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabaraakaatuh”.

Setelah turun dari panggung. Dengan tergopoh-gopoh, langsung KH. Mahrus Ali menyambut beliau. Merangkulnya dan menciumi pipinya.

———
Wallahu a’lam
Di Kisahkan oleh KH. Sa’dulloh Zein (KH. Tahrir) Tawang Kp. Baru Nganjuk kepada Admin web AlFattah Pule. Beliau, KH. Sa’dulloh Zein adalah Alumnus Mustahiq Lirboyo Tahun ’70 an.
Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *