RELEVANSI DAKWAH SANTRI

RELEVANSI DAKWAH SANTRI

Bismillahirrohmanirrohiem….

Puji syukur kehadirat Alloh SWT, atas segala nikmat dan keindahan…

Sholawat dan salam senantiasa tercurahkan ke junjungan kita, nabi agung Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam….

Amma ba’du….

 

Dalam setiap pertemuan pastilah ada perpisahan dan dalam setiap kesendirian pastilah tiba perjumpaan. Begitu pula dalam setiap jenjang pendidikan, pasti ada istilah “tamat”. Namun bagi saya, kita, kami dan “panjenengan” semua yang “tafaqquh”, mendalami ilmu syariat, memulyakan agama Alloh SWT, arti tamat hanyalah satu, yakni “putih tulang..!”

Nabi bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Artinya: Rosululloh SAW. bersabda: “Mencari ilmu adalah suatu keharusan bagi setiap muslim”.

 

Setelah tamat belajar, bukanlah akhir dari pencarian hakikat ilmu, akan tetapi itu adalah sebuah permulaan untuk mengarungi bahtera keilmuan yang sebenarnya, dengan mengamalkan dan menyebarkan untuk keluarga, sanak-saudara ataupun masyarakat. Alloh Ta’ala berfirman:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Artinya:.”Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” {QS. At Taubah 122}.

Imam Baidlowi dalam tafsirnya menjelaskan penggalan ayat diatas sebagai berikut:

تفسير البيضاوي – (ج 2 / ص 494)

{لّيَتَفَقَّهُواْ فِى الدين} ليتكلفوا الفقاهة فيه ويتجشموا مشاق تحصيلها. {وَلِيُنذِرُواْ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُواْ إِلَيْهِمْ} وليجعلوا غاية سعيهم ومعظم غرضهم من الفقاهة إرشاد القوم وإنذارهم, وتخصيصه بالذكر لأنه أهم وفيه دليل على أن التفقه والتذكير من فروض الكفاية وأنه ينبغي أن يكون غرض المتعلم فيه أن يستقيم ويقيم لا الترفع على الناس والتبسط في البلاد.

Artinya: {untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama}untuk berusaha memperdalam ilmu tentang keagamaan dan bersungguh-sungguh bersusah payah untuk mendapatkan atau memperdalam ilmu agama {dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya} dan menjadikan tujuan utama perjalanan pencarian ilmu untuk menunjukkan serta memperingatkan pada kaumnya (tentang perintah dan larangan Alloh SWT). Adanya pengkhususan ayat diatas karena mencari ilmu adalah sesuatu yang sangat penting, dan ini menunjukkan bahwasanya mempelajari ilmu bersungguh-sungguh serta menyebarkannya adalah fardlu kifayah, dan hendaklah tujuan pencari ilmu adalah berusaha menegakkan agama islam dan menegakkannya (mengamalkannya) Tidak Untuk Mencari Ketenaran Di Mata Manusia, dan (hendaklah pencari ilmu) menyebarkan ilmu di seluruh negaranya (baca: kaumnya).”

Pentingnya pencarian ilmu dan penyebarannya, sangatlah terlihat dalam proses turunnya ayat ini (baca: AsbabunNuzul), seperti keterangan Imam Ibnu Katsir dalam tafsir beliau:

تفسير ابن كثير – (ج 4 / ص 236)

وقال قتادة في هذه الآية: هذا إذا بعث رسول الله صلى الله عليه وسلم الجيوش، أمرهم الله ألا يُعرَوْا (5) نبيَّه صلى الله عليه وسلم، وتقيم طائفة مع رسول الله تتفقه في الدين، وتنطلق طائفة تدعو قومها، وتحذرهم وقائع الله فيمن خلا قبلهم.

(5) في ت: “أن لا يغزوا”، وفي أ: “أن يغزوا”.

Artinya: “Imam Qotadah berkata, tentang ayat ini: “Ayat ini (diturunkan) pada waktu Rosululloh SAW. mengutus (semua) bala-tentara muslim (ke medan perang), (kemudian) Alloh SWT. memerintahkan pada NabiNya SAW agar tidak berperang (semuanya) dan adanya segolongan manusia untuk berada bersama Rosululloh SAW. mendalami masalah agama, dan sebagian golongan berangkat untuk mengajak kepada kaumnya, dan memperingatkan ketetapan-ketetapan Alloh pada orang-orang yang belum mengetahui sebelum golongan/sahabat Rosululloh SAW.””

 

Lihatlah, betapa terpuji dan agungnya mencari ilmu serta menyebarkannya, setaraf jihad yang ada jaminan masuk syurga bagi yang syahid.

 

Dan perlu diketahui ayat diatas adalah ayat yang me-nusakh (baca: menyalin/mengganti) dari ayat yang menjelaskan kewajiban ber-jihad secara keseluruhan, seperti ungkapan Imam Ibnu katsir di bawah ini:

تفسير ابن كثير – (ج 4 / ص 154)

وقوله {مَا كَانَ لأهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُمْ مِنَ الأعْرَابِ أَنْ يَتَخَلَّفُوا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ} [التوبة: 120] إنهن منسوخات بقوله تعالى: {وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ} [التوبة: 122]

Artinya: “dan firman Alloh SWT berupa: {Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (berperang)} [QS. Attaubah 120] itu sesungguhnya di nusakh dengan firman Alloh Ta’ala berupa: {Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang…}[QS. At Taubah 122]”

Dengan di nusakh-nya ayat jihad, bukankah ilmu dan berdakwah sangatlah penting? Robbi fanfa’na bi barkatihim….

 

وهذا أخر الرسالة, والله أعلم بالصواب,وإليه المرجع والمئاب, وبالله التوفيق, وهو حسبنا ونعم الوكيل, ونعم المولى ونعم النصير, ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم, وصلى الله على رسوله سيدنا محمد النبي الأمي وعلى أهل بيته الطيبين الطاهرين, ورضي الله عن الصحابة أجمعين, والحمد لله رب العالمين

Wallohu A’lam bisshowab

 

PP. AL FATTAH PULE TANJUNGANOM 26 Juni 2012

Oleh: Ibnu Nachrowi, disadur dari Mauidzoh hasanah Al Mukarrom KH. Sa’dulloh zein (Mbah Yai Tahrir), waktu acara tasyakuran tamatan 2012.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.