Rahasia Keistimewaan Bulan Rojab

Keutamaan

BULAN RAJAB

Kata rajab1 diambil dari bentuk masdar at-tarjiib yang berarti at-ta’dhiim (keagungan atau kemuliaan). Rajab da-pat dikatakan Bula sebagai Al-Ashab (pencurahan), karena pada bulanjtu Allah akan mencurahkan rahmatNya kepada orang- orang yang bertaubat dan mencatat segala amal.kebaikan mereka sebagai amal shalih serta melipat ganda-kan pahala bagi orang-orang yang mau beramal pada bu­lan itu. Disebut juga dengan Al-Asham (yang tuli), karena dalam bulan itu tidak didengar suara peperangan. Bulan ini benar-benar dilingkupi oleh nuansa kedamaian.

 

  1. Bulan Kedamaian

Sebagaimana telah diriwayatkan oleh Asy-Syaikh ra. : “Sesungguhnya alasan kami menamakan bulan Rajab de­ngan sebutan Al-Ashamm karena pada bulan itu sama sekali tidak terdengar suara dentingan pedang yang saling berbenturan di medan perang. “Keterangan ini juga telah di sebutkan dalam sebuah hadits Rasul yang sanadnya ber-kualitas dha’if.

 

Sebagaimana hadits yang telah diriwayatkan oleh Abu Abdillah Al-Hafizh yang bersumber dari Aisyah ra, dia ber-kata : “Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya bulan Rajab adalah bulan Allah. Bulan itu disebut juga dengan bulan Al-Ashamm. Dulu orang-orang Jahiliyah jika sudah mulai memasuki bulan Rajab,. maka mereka mengistirahat-kan secara total pedang mereka. Sehingga masyarakat akan sedikit merasa aman dan jalan-jalan yang biasa dila-lui akan terhindar dari gangguan yang mengancam. Mere­ka tidak akan merasa takut antara yang satu dengan yang lain sampai bulan itu benar-benar berlalu”.

 

Dari riwayat tersebut diatas dapat diketahui mengenai keutamaan bulan rajab yang telah dilakukan orang-orang sejak zaman jahiliyah. Mereka sengaja meninggalkan akti-vitas maupun pekerjaan sehari-hari mereka demi menyam-but bulan rajab itu sendiri. Bahkan ketika mereka meng-adakan peperangan, mereka akan menghentikan sejenak peperangan tersebut sampai bulan Rajab berlalu.^ Mereka memperakukan bulan Rajab secara khusus dan menghor-mati bulan tersebut dengan nuansa yang penuh dengan kedamaian.

 

Sebagaimana As-Syaikh rahimahullaahu ta’ala berka-ta: “Orang-orang Jahiliyah dahulu juga mengagungkan bu-lan-bulan haram ini. Lebih-lebih ketika pada bulan Rajab. Mereka sama sekali tidak mengadakan peperangan pada bulan tersebut”.

 

Dari sebuah riwayat yang dikabarkan oleh Abu Hasan Ali bin Muhammad bin Abdullah .bin Bisyr yang bersumber dari Abu Raja Al-Uthari berkata : “Pada masa Jahiliyah, jika sudah memasuki bulan Rajab maka kami akan berkata : “Telah datang waktu untuk mengistirahatkan batu yang di gunakan untuk mengasah senjata tajam. Kami tidak akan membiarkan ada besi anak panah dan besi tombak melain-kan akan kami sisihkan terlebih dahulu (pada bulan rajab ini)”.

 

Riwayat senada juga disampaikan oleh Abu Sa’id Muhammad bin Musa yang bersumber dari Bayan, dia ber­kata : “Aku telah mendengar Qais bin Abu Hazim berbicara tentang bulan Rajab sebagai berikut : “Pada masa Jahili­yah kami menjulukinya sebagai bulan Al-Ashamm (artinya: sebuah bulan yang sunyi dan sepi dari suara dentingan pe­dang). Karena begitu mulia dan agungnya bulan tersebut bagi kami semua”.

 

 

 

 

1-Dinamakan Rajab karena berasal dari akar kata ra-ja-ba yang berarti ‘azh-zha~Tna(artinya:mengagungkan).Sebab kebiasaaan orang-orang Arab Jahiliyah adalah menghormati dan mengagungkan bulan ini dengan cara meninggalkan peperangan.Kalau disebutkan kata Raja baani (artinya:dua Rajab) .maka yang dimaksud adalah bulan Rajab dan bulan berikutnya.yakni bulan Sya’ban.Lihat kelerangannya di dalam Lisaanul’Arab pada entri ra-ja-ba.

 

Dari riwayat tersebut dapat diketahui, sejak zaman jahiliyah pun orang-orang jahiliyah sudah menganggap bahwa bulan Rajab merupakan-Jxilan suci yang patut di hormati. Mereka akan menlnggalkari aktivitas sehari-hari mereka demi menyambut datang bulan rajab. Bahkan pada saat perang sekalipun, mereka akan menghentikan pepe­rangan sejenak sampai pulan rajab berlalu. Mereka ingin menyambut bulan rajab dengan penuh keheriingan dan ke­damaian. Mereka sangat menghormati dan memuliakan bulan tersebut, sebagaimana yang telah kami jelaskan di atas sebelumnya.

 

Nabi saw bersabda : “Rajab adalah bulan Allah, Sya’-ban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan umatku. Ahli isyarat berkata : “Lafal Rajab terdiri dari tiga huruf, yaitu ra’, ,jim dan ba’.

Ra’ berarti rahmatullaah (rahmat Allah),

Jim berarti jurmul ‘abdi wa jinayatuhu (dosa dan pe-langgaran hamba)

Ba’  berarti birrullaah (kebaikan Allah), dalam hal ini Allah berfirman : “Aku menjadikan dosa

hamba-Ku diantara rahmat dan kebaikan-Ku.”

 

  1. Sungai Rajab

Menurut sebuah riwayat, bahwasanya Rajab merupa-kan nama sebuah sungai yang airnya lebih putih dari pada susu, lebih manis daripada madu dan lebih dingin daripada es. Air sungai ini hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang berpuasa pada bulan rajab.

Sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Abu Al-Hu-sain bin Bisyran yang bersumber dari Anas bin Malik, ia berkata : “Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya dida-lam surga terdapat sebuah sungai yang diberi nama Rajab. Air sungai itu lebih putih dari pada air susu dan lebih manis dari pada madu. Barangsiapa pernah berpuasa sehari saja pada bulan Rajab, maka Allah akan memberinya minum dari air sungai tersebut”.

 

  1. Kemuliaan Malam Rajab

Menurut riwayat dari Muhammad bin Abdullah Al Ha-fizh yang bersumber dari Anas, ia menerima keterangan dari Rasulullah saw. bahwa beliau telah bersabda : “Di da­lam bulan Rajab itu ada sebuah malam yang menyebab-kan pelaku ibadah pada (malam) itu dicatat dengan kebai­kan selama 100 tahun. Malam itu adalah tiga hari sebelum bulan Rajab berlalu (dalam hal ini tanggal dua puluh tujuh Rajab). Barangsiapa mengerjakan shalat pada malam itu sebanyak dua belas raka’at, maka Allah akan mengabul-kan doanya. Namun hendaknya dia membaca Fatihatul Kitab dan sebuah surat Al-Qur’an disetiap raka’atnya. Se-lain itu dia hendaknya mengerjakan duduk tasyahud pada setiap dua raka’at untuk kemudian melakukan salam. Ke-mudian setelah itu hendaknya dia membaca “ Subhanallahwalhamdulillaah Wa Laa llaaha lllallaahu Wallaahu Akbar sebanyaklOO kali, membaca istighfar kepada Allah seba­nyak 100 kali, membaca shalawat kepada Nabi saw seba­nyak 100 kali, berdoa apa saja untuk kepehtingan dirinya yang bersifat dunia maupun akhirat. Sedangkan pada pagi harinya dia mengerjakan puasa, niscaya Allah akan me-ngabulkan doanya kecuali jika dia memanjatkan doa terse­but untuk hal yang maksiat”.

 

Asy-Syaikh ra berkata : “Kualitas sanad hadits yang sebelumnya tidak jauh berbeda dengan kualitas sanad ha­dits ini. Sebenarnya telah diriwayatkan beberapa hadits tentang do’a yang dikabulkan pada bulan-bulan haram. Se­dangkan bulan Rajab adalah termasuk salah satu dari bu­lan-bulan haram tersebut. Sanad hadits diatas berkualitas hasan.

Asyhurul hurum (bulan-bulan yang mulia) itu ada em-pat bulan; Malaikat-malaikat pilihan, ada empat; Seutama-utama kitab-kitab yang diturunkan ada empat, anggota wu-dhu ada empat; Tasbih yang paling utama ada empat kali-mat: Subhaanalaah wal hamdulillaah wa laa ilaaha^illallahu wallaahu akbar; dasar hitungan juga ada empat, satuan, puluhan, ratusan dan ribuan; Waktu-waktu ini/juga ada em­pat, musim semi, musim panas, musim rontok dan musim dingin;Tabiat ada empat, yaitu panas, dingin, kering dan basah; Unsur pokok yang dominan dalam badan ada em­pat empedu, limpa, darah.dan lendir; Khulafaur Rasyidin ada empat, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali ra.

Ad-Dailami meriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa Aisyah berkata, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Allah benar-benar melimpahkan kebaikan dalam empat malam,.yaitu malam hari Raya Adha, malam hari Raya Fitri, malam Nisfih Sya’ban dan malam pertama bulan Ra­jab. “Ad-Dailami juga meriwayatkan dengan sanadnya dari Abi Umamah dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda:

“Lima malam, padanya doa tidak akan ditolak, yaitu malam pertama dari bulan Rajab, malam Nisfu Sya’ban, malam Jum’at dan dua malam dari dua hari raya (hari Raya Adha dan hari Raya Fitri)”.

 

 

 

  1. Keutamaan Puasa Di Bulan Rajab

Abu Hurairah ra, berkata: sesungguhnya Nabi Muham­mad saw bersabda : “Barang siapa yang berpuasa pada hari ke 27 dari bulan Rajab, maka dia akan dicatat seperti puasa 40 bulan”. Rajab adalah hari pertama kali Jibril turun kepada Nabi Muhammad saw. membawa risalah dan di bulan Rajab pula Nabi saw. diisyara’kan.

Nabi saw. Bersabda : “Perhatikan, sesungguhnya bu­lan Rajab adalah bulan Allah Al-Asham. Barangsiapa yang berpuasa sehari dari bulan Rajab dengan penuh keimanan dan mencari ridha Allah, maka wajib baginya mendapat keridhaan Allah yang besar”.

 

Telah diceritakan dalam suatu riwayat lain yang disam-paikan oleh Abu Abdillah Al Hafizh rahimahullahu ta’ala, dia berkata, aku diberitahu oleh Abu Nashr Rasyiq bin Abdillah Ar-Rumi yang dinukil dari kitab aslinya ketika sedang. berada di Thabaran,2 kami diberitahu oleh Al-Husain bin Idris Al-Anshari, ia mengambil keterangan yang bersumber dari Salman Al-Farisi, dia berkata : “Rasulullah saw pernah bersabda : “Di dalam bulan Rajab itu ada se-buah hari dan sebuah malam. Barang siapa berpuasa pa-da hari itu dan mengerjakan shalat pada malam itu juga, maka dia dianggap seperti telah berpuasa dan shalat ma­lam selama setahun penuh.

 

Hari yang dimaksud tepatnya tiga hari sebelum bulan rajab habis (yaitu tanggal 27 Rajab). Pada hari itulah Mu­hammad saw telah diutus”. Hadits ini juga diriwayatkan de­ngan sanad yang berasal dari jalur perawi lain.

 

Telah Diriwayatkan : “Apabila datang sepertiga malam hari Jum’at pertama di bulan Rajab, tidaklah menetap se-orang malaikat pun kecuali dia akan memintakan ampun untuk orang-orang yang berpuasa di bulan Rajab.

 

Anas ra. Berkata : Sesungguhnya Rasulullah saw. Ber­sabda : “Barang siapa yang berpuasa tiga hari dari bulan haram, maka akan dicatat baginya pahala ibadahnya se­lama 900 tahun”.

Anas ra. Berkata: “Aku mempuasakan kedua telingaku kalau sekiranya aku tidak mendengarnya dari Rasulullah.

 

Mengenai keutumaan bulan rajab juga telah disampai-kan oleh Abu Amr Muhammad bin Abdullah Al-Adib yang bersumber dari Abu Bakrah, dari Nabi saw, beliau bersab­da : “Sesungguhnya zaman itu terus berputar sebagaima-na pada hari Allah menciptakan langit dan bumi\Satu ta­hun itu terdiri dari 12 bulan. Empat diantaranya adatah bu-lan-bulan haram. Yang tiga adalah bulan yang berturut-tu-rut, yakni Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah dan Muharram. Sedang-kan yang satu lagi adalah bulan Rajab yang disebut juga bulan Mudhar, yang terletak antara dua bulan Jumadil (JCk. madil Ula dan Jumadil Akhir) dan bulan Sya’ban”.

 

  1. Keutamaan Beramal Di Bulan Rajab

 

Sehubungan dengan keutamaan bulan Rajab, ada sa­lah satu contoh peristiwa yang menggambarkan keuta­maan bagi seseorang yang memperbanyak amalan ibadah pada bulan Rajab. Sesungguhnya ada seorang perempuan di Baitul Maqdis dimana setiap bulan Rajab dia membaca “Qui huwallaahu ahad’ sebanyak 12.000 kali. Dia memakai kain bulu (wool) pada bulan Rajab. Dia sakit dan berwasiat pada anak laki-lakinya, supaya pakaian wool yang dipakai itu dikubur bersamanya.

 

Ketika perempuan itu meninggal, dia dibungkus de­ngan kain yang mahal. Lalu anak tersebut bermimpi me-lihat perempuan itu berkata pada anaknya : “Aku tidak se-nang terhadapmu, karena kamu tidak mengerjakan wasiat-ku. Dia terbangtm dalam keadaan terkejut dan mengambil . bulunya untuk dikubur bersama ibunya. Maka segera ia menggali kubur ibunya, tetapi dia tidak menemukannya di-sana. Dia bingung lalu mendengar sebuah panggilan Rab-bani : “Tidakkah Anda mengetahui, sesungguhnya orang yang berbakti pada kami dalam bulan Rajab dia tidak akan kami biarkan sendirian?”.

 

” Thabaran adalah salah satu dari dua kota yang ada di Thus.Sebab di Thus ada dua kota yang paling besar,yakni Thabaran dan Nauqan.dari kota Thabaran ini telah muncul beberapa ulama kenamaan.Di antara mereka ada yang dinisbatkan kepada kota Thus dengan julukan Ath-Thusi,namun ada juga yang dinisbatkan kepada kota Thabaran de­ngan julukan Ath-Thabrani.Lihat dalam kitab Mu’jamul Buldaan (IV/3).

Kisah tersebut menjelaskan mengenai gambaran orang yang senantiasa berbuat kebajikan di bulan Rajab. Berdasarkan cerita tersebut dapat diketahui bahwa jasad wanita yang senantiasa berbuat kebajikan tersebut telah di tempatkan oleh Allah di tempat yang mulia. Sehingga anaknya tidak menemukan jasad ibunya di dalam kubur-nya. (Wallahu A’lam bi showab)

Adapun hadist tentang keutamaan bulan rajab juga di sampaikan oleh Ali bin Muhammad bin Abdullah bin Bisy-ran yang bersumber dari Abdul Aziz bin Sa’id, dari ayah-nya, dia berkata, Rasulullah saw. telah bersabda : “Barang­siapa berpuasa sehari saja pada bulan Rajab, maka akan di tutupkan untuknya tujuh buah pintu neraka Jahanam. Barangsiapa berpuasa delapan hah pada bulan Rajab, ma­ka akan dibukakan delapan buah pintu surga untuknya. Barang siapa berpuasa sepuluh hari pada bulan Rajab, maka Allah akan senantiasa memberi (mengabulkan) per-mintaannya. Barangsiapa berpuasa lima belas hari pada bulan Rajab, maka akan ada seorang penyeru dari langit : “Dosa-dosanya yang lalu telah diampuni.

Oleh karena itu mulailah beramal dengan lembaran baru. Sebab keburukan-keburukanmu telah diganti dengan kebaikan”. Barang siapa menambah jumlah hari puasanya pada bulan Rajab, maka Allah juga akan menambah anu-gerahnya kepada orang tersebut. Pada bulan Rajab itulah dahulu Nun as. telah diselamatkan didalam perahunya. Se­hingga Nabi Nuh as berpuasa pada bulan itu dan memerin-tahkan orang-orang yang bersamanya untuk ikut berpuasa Rajab. Akhirnya perahu itu pun mengarungi [banjir ban-dang] selama enam bulan lebih beberapa hari, tepatnya jutuh pada tanggal 10 bulan Muharram”.

 

  1. Rajab Bulan Allah (Syahrullah)

Dalam suatu riwayat yang lain yang dikabarkan oleh Abu Abdillah Al-Hafizh yang bersumber dari Anas bin Ma­lik, dia berkata : “Rasulullah bersabda : “Pilihan terbaik Allah diantara beberapa bulan jatuh pada bulan Rajab. Dia adalah syahrullah (bulan Allah). Barangsiapa mengagung­kan bulan Rajab, berarti dia telah mengagungkan urusan Allah. Barangsiapa mengagungkan urusan Allah, maka Allah akan memasukkan orang itu ke dalam surga An-Na’im dan mewajibkan orang itu mendapatkan ridha-Nya yang paling besar. Sedangkan Sya’ban adalah bulanku (bulannya Nabi Muhammad saw). Barangsiapa meng­agungkan urusanku, berarti aku akan menjadi harta sim-panan [yang akan memberikan pertolongan] untuknya pa­da hari kiamat. Adapun Ramadhan adalah bulannya umat-ku. Barang siapa mengagungkan bulan Ramadhan, meng­agungkan kesucian (kemuliaan)nya, tidak mengotorinya [dengan perbuatan maksiat dan keji], berpuasa padasiang harinya, mengerjakan shalat pada malam harinya dan rhe-melihara anggota tubuhnya dari perbuatan tidak terpuji, maka dia akan keluar dari bulan Ramadhan dalam keadaan tidak memiiiki dosa yang bisa dituntut oleh Allah”. Namun ada yang menyebutkan bahwa hadits ini berstatus munkar.

 

Adapun riwayat yang disampaikan oleh Abu Bakar Abdullah bin Muhammad As-Sukri, kami diberi kabar oleh Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad bin Ibrahim Ad-Dailabi, dia berkata : kami diberitahu oleh Muhammad bin AN Zaid Ah-Sha’igh, yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa Rasu-lullah saw. telah melarang seseorang untuk berpuasa se-bulan penuh pada bulan Rajab.

Merupakan sebuah kabar gembira bagi orang-orang yang senatiasa mengerjakan puasa pada bulan Rajab. Ka-rena Allah telah menyediakan surga yang diperuntukkan khusus bagi mereka.

Sebagaimana terdapat dalam sebuah riwayat yang telah disampaikan oleh Muhammad bin Abdullah Al Hafizh dan Abdurrahman bin Abu Hamid Al-Muqei’, keduanya ber­kata, kami diberitahu oleh Abu Al Abbas Muhammad bin Ya’qub Al-Ashamm yang bersumber dari Amir bin Syubul, dia berkata, aku telah mendengar Abu Qilabah berkata : “Di dalam surga itu terdapat sebuah istana yang diperun­tukkan khusus bagi orang-orang yang berpuasa pada bu­lan Rajab”.

Asy-Syaikh ra berkata : “Abu Qilabah itu termasuk salah seorang generasi tabi’in yang senior. Dia tidak mung-kin berkata seperti itu kecuali setelah mendengar informasi tersebut dari orang yang sebelumnya”.

Mengingat begitu besar keutamaan yang telah dijan-. jikan oleh Allah bagi siapa saja yang memperbanyak ama-lan baik puasa maupun ibadah lainnya pada bulan Rajab, maka sudah selayaknya kita senantiasa berlomba-lomba untuk meng’hiasai bulan Rajab dengan memperbanyak amal kebajikan. Agar kita kelak bisa mencicipi air sungai. seperti yang telah dijanjikan oleh Allah dimana warnanya lebih putih dari susu, rasanya lebih manis dari madu dan lebih dingin dari es.

Disamping itu, Allah akan senantiasa mengabulkan se-tiap do’a yang telah kita panjatkan baik untuk urusan dunia maupun urusan akhirat. Dan yang lebih penting lagi, Allah akan menyediakan surga serta pahala yang berlipat ganda untuk setiap amal kebajikan yang kita lakukan pada bulan ini. Namun kita juga perlu berhati-hati untuk selalu menjau-hi perbuatan maksiat dan dosa, karena sesungguhnya do­sa yang kita lakukan pada bulan ini siksanya jauh lebih be­sar dan dahsyat. Semoga Alllah senantiasa membimbing kita agar tidak sampai terjebak dalam perbuatan dosa dan senantiasa berada dalam jalan kebaikan. Amiin…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *