Penyegaran AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH III

b. Syawadzul A’dlom (Golongan yang Besar/Mayoritas/ulama yang agung).

Istilah Syawadzul A’dlom di gunakan oleh para ulama fiqh waktu mencetuskan hukum Ijma’(kesepakatan ulama) dan orang yang keluar dari Ijma’, namun karena kesamaan pengertian dengan Ahlu Sunnah Waljamaah, maka istilah inipun juga dipergunakan Ulama Tauhid, dengan penjabaran sebagai berikut:

مسند أحمد – (ج 4 / ص 278)

18641- حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ عَبْدِوَيْهِِ ، مَوْلَى بَنِي هَاشِمٍ، حَدَّثَنَا أَبُو وَكِيعٍ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَلَى هَذِهِ الأَعْوَادِ، أَوْ عَلَى هَذَا الْمِنْبَرِ،: مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ، لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ، وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ، لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ. وَالتَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللهِ شُكْرٌ، وَتَرْكُهَا كُفْرٌ، وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ، وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ. قَالَ: فَقَالَ أَبُو أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ: عَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ الأَعْظَمِ؟ قَالَ: فَقَالَ رَجُلٌ: مَا السَّوَادُ الأَعْظَمُ؟ فَقَالَ أَبُو أُمَامَةَ: هَذِهِ الآيَةُ فِي سُورَةِ النُّورِ {فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ}.

Artinya: Dari Sahabat Nu’man bin Basyir, beliau berkata: “Rosululloh SAW. bersabda: -beliau berada di atas kayu atau Mimbar ini- “Barangsiapa yang tidak bersyukur pada hal kecil, maka dia tidak akan bersyukur atas hal besar, menceritakan kenikmatan termasuk syukur, perkumpulan (bersatu) adalah rahmat dan perpecahan adalah Adzab”. Sahabat Nu’man bin Basyir berkata: “Kemudian Sahabat Abu Umamah (meneruskan lafadz Sahabat Nu’man Bin Basyrir dan) berkata”: “Berpeganglah pada golongan yang besar”. Sahabat Nu’man bin Basyir berkata: “Ada lelaki yang bertanya”: “Apakah golongan besar itu?”. “Kemudian Sahabat Abu Umamah berkata”: “Adalah ayat ini, (yang tertera) didalam surat Annur (Ayat 54)”

 {فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ}.

dan jika kamu berpaling Maka Sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu”

 

Iman Qurtubhi dalam Tafsirnya mengatakan عليكم بالسواد الاعظم adalah benar-benar hadist Nabi SAW.

تفسير القرطبي – (ج 14 / ص 56)

وقد قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (عليكم بالسواد الاعظم. ومن فارق الجماعة مات ميتة جاهلية).

Artinya: “Dan benar-benar bersabda Rosululloh SAW. (Berpeganglah pada golongan yang besar, dan Barangsiapa yang berpisah dengan Jamaah maka akan mati dengan keadaan mati Jahiliyyah)”.

 

Oleh Imam Taftazani Syawadzul A’dlom dan Ahlu Sunnah Waljamaah berpengertian sama, sebagai berikut:

التلويح على التوضيح الجزء الثاني ص: 91 الشيخ التفتازني الشافعي

السواد الأعظم عامة المسلمين ممن هو أمة مطلقة, والمراد بالأمة المطلقة أهل السنة والجماعة, وهم الذين طريقتهم طريقة الرسول عليه السلام وأصحابه دون أهل البدع.

Artinya: “Syawadzul A’dlom adalah Mayoritas Muslimin, yakni Umat Islam secara Mutlak. Dan yang dikehendaki Umat Islam secara Mutlak: Ahlu Sunnah Wal Jamaah, mereka adalah orang-orang yang sesuai dengan ajaran Rosululloh SAW. dan para sahabat Nabi SAW. bukan Ahli bid’ah”.

 

Di dalam kitab “Ar-Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah” karya Hadratusy Syeikh Hasyim, pendiri pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur dan sekaligus pendiri organisasi Nahdhatul Ulama (NU), halaman 14-15 cetakan: Maktabah Atturots Al Islamiyyah PP. Tebuireng Jombang menerangkan sebagai berikut:

 

Artinya:

Fasal: Menjelaskan khitthoh (garis-garis dasar) Ulama Salaf As Sholih, dan penjelasan Assawadzul A’dlom pada masa kini, dan penjelasan pentingnya perpegang dengan salah satu dari empat Madzhab.

 

Apabila engkau faham apa yang telah disebutkan (di atas), maka sesungguhnya yang benar adalah bersama pendapat orang-orang yang telah lampau yang berpegang teguh pada garis-garis yang telah dijalani oleh ulama-ulama salaf shaleh. Karena, sesungguhnya, mereka adalah “As-Sawad Al-A’dzam” (Golongan Yang Besar/Mayoritas/golongan ulama yang agung). Mereka selalu berkesesuaian (sepakat) dengan ulama Haramain (ulama Mekkah dan Madinah) yang mulia dan ulama Al-Azhar yang mulia, menjadi panutan, teladan dan pengikut kebenaran. Selain itu, masih banyak ulama-ulama lain yang tidak bisa terhitung jumlahnya. Mereka tersebar di seluruh penjuru dunia, sebagaimana tidak bisa menghitung jumlahnya bintang di langit. Rosululloh SAW bersabda:

“إن الله لا يجمع أمتي على ضلالة, و يد الله على الجماعة, من شذ شذ إلى النار”, رواه الترمذي, زاد ابن ماجه: “فاذا وقع الاختلاف, فعليك بالسواد الأعظم, مع الحق و أهله”, و فى الجامع الصغير: “إن الله تعالى قد أجار أمتي أن تجتمع على ضلالة”.

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan menyesatkan umatku secara keseluruhan. Kekuasaan Allah berada pada Jama’ah (kelompok). Barangsiapa yang keluar (berpisah dari jama’ah), maka ia akan terjerumus ke dalam api neraka. Imam Ibnu Majah menambahkan: “Jika terjadi perbedaan (di antara kalian), maka hendaklah kalian berpegang tegung pada “As-Sawad Al-Adhzam” (Golongan yang besar/Mayoritasulama yang agung), beserta yang benar (hak) dan yang ahlinya. Dan dalam kitab “Al-Jami’us Shagir” diterangkan bahwa sesungguhnya Allah telah menyelamatkan umatku dari kesesatan yang dilakukan secara sepakat (berkumpul untuk melakukan kesesatan”.

Mayoritas ulama yang agung tersebut adalah para ulama pengikut madzhab yang empat, termasuk Imam Bukhari (ahli hadits) adalah pengikut madzhab Syafi’i. Ia mempelajarinya dari Imam Humaidi, Imam Za’faroni, dan Imam Karabisi. Begitu pula, Imam Ibnu Khuzaimah, dan Imam Nasa’i. Imam Junaidi adalah pengikut Imam Ats-Tsauri. Imam Syibli adalah pengikut madzhab Maliki. Imam Mukhasibi pengikut Madzhab Syafi’I, Imam Al Jariri pengikut Madzhab Hanafi, Imam Jailani pengikut Madzhab Hambali, Imam Sadzili pangikut Madzhab Maliki, Maka memperkokoh Mengikuti madzhab tertentu lebih mengumpulkan (mendekatkan) pada hakikat, lebih mendekatkan kepada pengetahuan, dan lebih mendorong kepada kebenaran, serta lebih mudah mendapatkannya. Melalui jalan inilah sikap dan perilaku para ulama salaf shaleh serta para guru terdahulu. Semoga Allah meridoi mereka !

 

Khususnya kami mengajak kepada saudara-saudara kami muslim yang awam, agar mereka benar-benar bertaqwa kepada Allah SWT, dan tidak mati kecuali dalam keadaan muslim, juga agar mendamaikan permusuhan, melakukan silaturrahmi, menjaga hubungan baik dengan tetangga, kerabat dan teman, dan mengetahui hak-hak orangtua, menyayangi orang-orang lemah dan rakyat kecil, menjauhkan perilaku saling angkuh dan saling bermusuhan, memutuskan silaturrahmi, iri hati, memecah belah dan berbeda-beda dalam agama. Kami menghimbau agar mereka selalu bersaudara, saling tolong menolong dalam kebaikan, berpegang teguh pada hukum Allah, bersatu, mengikuti Al-Qur’an dan Al-Hadits, serta selalu mengikuti perilaku para ulama, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Semoga Allah meridhoi mereka !. Beliau-beliaulah yang benar-benar menyetutui kesepakatan ulama, bahwa keluar dari madzhab adalah sesuatu yang terlarang. Umat Islam hendaknya berpaling (menentang) kepada jama’ah (organisasi) yang berbeda dengan para ulama salaf shaleh. Rosululloh SAW bersabda:

من شذ شذ إلى النار,

“Barangsiapa yang keluar (berpisah dari jama’ah), maka ia akan terjerumus ke dalam api neraka”.

Dan hendaknya Umat Muslim senantiasa bersama Jamaah yang sesuai jalan para ulama salaf shaleh, Rosululloh SAW. bersabda:

و أنا أمركم بخمس أمر ني الله بهن: السمع و الطاعة و الجهاد و الهجرة و الجماعة, فان من فارق الجماعة قيد شبر فقد خلع ربقة الاسلام عن عنقه, و قال عمر بن الخطاب رضي الله عنه: عليكم بالجماعة, و اياكم و الفرقة, فان الشيطان مع الواحد, و هو مع الاثنين أبعد, ومن أراد بحبوبة الجنة فليلزم الجماعة.

Artinya: “Aku perintahkan kepada kalian lima perkara sebagaimana Allah perintahkan kepadaku, yaitu: mendengar,mentaati, berjihad, hijrah, dan tetap berada dalam jama’ah (organisasi). Sesungguhnya, orang yang melepaskan diri dari jama’ah sejengkal saja, maka ia telah melepaskan tali Islam dari lehernya”. Dan Sayyidina Umar bin Al-Khattob berkata: ” Tetaplah kalian berada dalam jama’ah ! Dan janganlah kalian berpecah belah ! Karena, setan selalu berada pada orang yang sendirian, dan setan akan lari bilamana dua orang sepakat / bersama. Barangsiapa ingin hidup enak di dalam surga, maka hendaklah selalu berada dalam jama’ah !”

 

Perlu diketahui bahwa ASWAJA (Ahli Sunnah Wal Jama’ah) adalah susunan dari tiga kalimat:

1. أهل yang berarti golongan.

2. السنة secara bahasa mempunyai beberapa arti sebagai berikut:

الْوَجْهُ أَوْ حُرُّهُ    : Bagian wajah sebelah atas.

دائرته أو الصورة أو الجبهة والجبينان: Kening.

السيرة            : Perjalanan.

الطبيعة            : Karakter.

تمر بالمدينية        : Kurma di Madinah.

السنة من الله    : Hukum, perintah dan larangan-Nya.

– Syaikh Az-Zubaidy dalam kitab: “Ittihafu Saadatil Muttaqin” menyatakan:

“والسنة الطريقة المسلوكة”

“Sunnah adalah jalan yang ditempuh”.

 

Ini Senada dengan keterangan Imam Al Ghozali dalam Ihya’ Ulumuddin dalam bab sholat sunnah, sebagai berikut:

إحياء علوم الدين ومعه تخريج الحافظ العراقي الجزء الأول ص: 374

ونعني بالسنن ما نقل عن رسول الله صلى الله عليه وسلم المواظبة عليه كالرواتب عقيب الصلوات وصلاة الضحى والوتر والتهجد وغيرها لأن السنة عبارة عن الطريق المسلوكة.

Artinya: “Kami mendevinisikan beberapa sunah (dalam bab ini) dengan: perbuatan yang diambil dari Rosululloh SAW. dan Nabi terus-menerus melakukannya, seperti Sholat Rowatib setelah sholat Fardlu, Sholat Dluha, Witir, Tahajjud dan lainnya. Karena sunnah adalah ungkapan dari jalan yang ditempuh”.

 

Dan dilengkapi dengan keterangan dalam kitab Mausu’ah Fiqhiyyah, sebagai berikut:

الموسوعة الفقهية الجزء الخامس والعشرون ص: 277

السنة لغة: المنهج والطريقة سواء أكانت محمودة أم مذمومة. ومن ذلك قوله صلى الله عليه وسلم: {مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ , وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ}. ثم غلب استعمال السنة في الطريقة المحمودة المستقيمة.

Artinya: “Sunnah secara bahasa adalah metode dan jalan/cara, baik terpuji atau tidak. Hal tersebut berdasar sabda Nabi SAW. {Barangsiapa berjalan di agama Islam dengan jalan yang baik, maka akan mendapat pahala (sendiri) dan pahala orang yang beramal setelahnya, tanpa sediktpun berkurang pahalanya, dan barangsiapa yang berjalan di agama Islam dengan jalan yang tidak baik, maka akan mendapat dosa (sendiri) dan dosa orang yang beramal setelahnya, tanpa sedikitpun mengurangi dosanya}. Kemudian Sunnah umum di gunakan sebagai istilah dari jalan lurus yang terpuji”.

 

السنة secara Syariat mempunyai arti sebagai berikut:

الفقه الإسلامي الجزء الأول ص: 50

المندوب أو السنة: هو ماطلب الشرع فعله من المكلف طلباً غير لازم، أو مايحمد فاعله، ولا يذم تاركه، مثل توثيق الدين بالكتابة (سند أو غيره)، وحكمه: أنه يثاب فاعله، ولا يعاقب تاركه.

Artinya: “Mandzub atau Sunnah adalah: Perbuatan yang ada tututan tidak wajib dari syara’ bagi mukallaf atau perbuatan yang dipuji dan yang meninggalkan tidak dicaci, seperti memperkokoh agama dengan tulisan. Adapun hukumnya: pelaku mendapat pahala, yang meninggalkan tidak mendapat siksa”.

 

2. الجماعة yang secara bahasa mempunyai banyak arti, diantaranya adalah:

من الجمع         : Kumpulan sesuatu dari tiga lebih

الجماعة           : Kumpulan manusia.

جماعة الشجر     : Kumpulan pohon.

جماعة النبات      : kumpulan tumbuh-tumbuhan.

 

الجماعة dalam pengertian syara’ mempunyai arti:

a. Perkumpulan sejumlah manusia minimal dua orang yakni Imam dan Makmum (untuk melakukan sholat berjamaah).

b. Kebersatuan umat Islam dan tidak adanya perpecahan. Seperti Hadist:

{الجماعة رحمة, والفرقة عذاب}

“Kebersamaan/persatuan adalah rahmat dan perpecahan adalah adzab”.

 

Seperti keterangan dalam Kitab Mausuah Fiqhiyyah dibawah ini:

الموسوعة الفقهية الجزء الخامس عشر ص: 280

الجماعة في اللغة من الجمع: والجمع تأليف المتفرق وضم الشيء بتقريب بعضه من بعض, يقال: جمعته فاجتمع. والجماعة عدد من الناس يجمعهم غرض واحد. وقد استعملوها في غير الناس حتى قالوا: جماعة الشجر وجماعة النبات, وبهذا المعنى تطلق على عدد كل شيء وكثرته. والجماعة, والجميع, والمجمعة, والمجمع كالجمع. وفي اصطلاح الفقهاء تطلق الجماعة على عدد من الناس. يقول الكاساني: “الجماعة مأخوذ من معنى الاجتماع, وأقل ما يتحقق به الاجتماع اثنان” ويقول: “أقل الجماعة اثنان إمام ومأموم”. وتطلق أيضا على فعل الصلاة مجتمعين كما يقولون: “الجماعة سنة مؤكدة, أي فعل الصلاة جمعا بإمام ومأموم”. قد يراد من الجماعة الاتحاد وعدم الفرقة, كما ورد في الحديث: {الجماعة رحمة, والفرقة عذاب}

 

Dilihat dari makna-makna السنة والجماعة yang beragam kita harus tahu bahwa pengartian dari suatu kalimat atau lafadz adalah melihat siapa yang mengutarakan, apabila yang mengutarakan lafadz tersebut adalah ahli bahasa maka diartikan dengan arti bahasa, bila yang mengutarakan ahli syari’at maka maka diartikan dengan makna syara’, bila yang mengutarakan berasal dari selain ahli bahasa dan syari’at maka harus disesuaikan dengan istilah orang yang mengutarakan tersebut.

Maka yang perlu dipahami ialah, bahwa istilah ASWAJA (Ahli Sunnah Wal Jama’ah) bukan bermakna dari bahasa bukan pula dari syara’, namun dari istilah yang dibuat oleh golongan tertentu, yaitu empat golongan:

1. Muhadditsin (ahli ilmu Hadits).

2. Shufiyah (ahli Tasawwuf).

3. Asya’iroh (pengikut Abu Hasan Al-Asy’ary).

4. Maturidiyah (pengikut Abu Manshur Al-Maturidy).

Karena berkeyakinan bahwa mereka sudah tepat dalam mengikuti suri tauladan Rasulullah SAW. dan jalan yang ditempuh para Shahabatnya sehingga menjadi isim ‘alam.

Nama istilah tersebut sampai sekarang masih berlaku untuk orang-orang yang mengikuti golongan tersebut.

 

KESIMPULAN:

1. Ahlu Sunnah Waljamaah dan Syawadzul A’dlom mempunyai satu pengertian,

2. Yakni yang mengikuti Ajaran Rosululloh SAW. dan pengganti Nabi baik sahabat, tabiin dan Ulama yang diakui Dunia seperti Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Abu Hasan Al Asy’ari, Imam Abu Manshur Al Maturidi, Imam empat Madzhab, Imam Nawawi, Imam Khattobi, Imam Baghowi Dan Lainnya, yang Akhirnya mengerucut menjadi golongan yang terbesar di dunia (Syawadzul A’dlom).

 

-KITAB ARBAIN ALFATTAH-

Pule Tanjunganom Nganjuk. Ibnu Nachrowi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *