Penyaksian Jenazah Bagian Dua (Tamat)

Lanjutan Bagian Satu….

KESIMPULAN BAB INI:

I Dasar Penyaksian Jenazah.

II Hukum Penyaksian Jenazah dan hal yang terkait dengan prosesi.

III Kemakruhan Yang Terjadi Pada Waktu Prosesi Merawat Jenazah.

I Dasar Penyaksian Jenazah.

Dua Hadist riwayat Imam Bukhori diatas.

II Hukum Penyaksian Jenazah dan hal yang terkait dengan prosesi.

  1. Sunnah Memberikan penyaksian pada Jenazah.
  2. Sunnah untuk mendoakan dan memuji jenazah kalau jenazah pantas dipuji dan sunnah mengucapkan:سُبْحَانَ الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ atau سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ
  3. Sunnah Muakkad mengiring Jenazah bagi Laki-laki.
  4. Sunnah berdiri bagi orang yang tidak mengiring jenazah, apabila ada iring-iringan jenazah.
  5. Do’a Sahabat Ibnu Sayidina Umar tatkala melihat jenazah:
  6. هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ زِدْنَا إيمَانًا وَتَسْلِيمًا
  7. “Ini adalah janji Alloh dan Rosululloh pada kita, Maha benar Alloh dan Rosululloh, Yaa Alloh Tambahkan Iman dan keselamatan kami”.(Lihat: Dalilil Falihin dan Khasiyah Al Jamal di penyaksian jenazah bagian satu).
  8. Perbedaan Ulama tentang keutamaan mengiring didepan jenazah atau dibelakang jenazah:
  • Lebih Utama dibelakang jenazah: Sahabat Ali bin Abi Tholib, Imam Awza’I dan Imam Abu Hanifah.
  • Lebih utama di depan jenazah: Mayoritas Sahabat, Tabiin, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Mayoritas Ulama.
  • Sama Saja: Imam Atsauri dan Golongan Ulama. (Lihat: Syarah Muslim Imam Nawawi di penyaksian jenazah bagian satu)

III Kemakruhan Yang Terjadi Pada Waktu Prosesi Merawat Jenazah.

  1. Mengakhirkan Sholat dan mengubur jenazah karena berharap bertambahnya jamaah, kecuali menanti kerabat.
  2. Duduk sebelum peletakan Jenazah dikuburan.
  3. Menaiki kendaraan pada waktu mengiring Jenazah.
  4. Mengeraskan suara pada waktu mengiring jenazah, baik berupa dzikir, bacaan al Qur’an, ungkapann kesedihan atau bergurau. Karena anjuran Syariat adalah diam sambil merenungi kematian dan hal yang berkaitan dengan kematian. Namun waktu mengiring jenazah ataupun waktu takziah (Ngelayat:jawa) sambil menunggu jenazah di berangkatkan, Imam Zayyadi dan Imam Nawawi al Bantani tidak memakruhkan pembacaan dzikir dan al Qur’an dengan beberapa alasan:
  • menghindari pembicaraan duniawi, daripada membicarakan urusan dunia alangkah lebih baiknya dzikir dan membaca Qur’an.
  • memberitahukan khalayak umum tentang orang yang meninggal (syiar), yang akhirnya akan datang banyak orang untuk ta’ziyah dan menjadi saksi kebaikan mayit (seperti hadist diatas).
  • Anjuran diam oleh salafussholih (seperti dalam Al Fiqhul Islami di penyaksian jenazah bagian satu) sangat mungkin dilakukan pada masa lampau, namun pada zaman sekarang alangkah sulitnya hal tersebut, karena kebanyakan orang awam justru membicarakan urusan duniawi, menggosip, bergurau dan lain sebagainya, oleh karena itu lebih baik di isi dengan dzikir dan Qur’an (Lihat: Bughyatul Mustarsyidin dan Nihayatuzzain di penyaksian jenazah bagian satu).

5. Mengiring jenazah dengan Api atau membawa dupa/kemenyan dll. kecuali ada hajat seperti untuk mengusir bau busuk mayit (lihat: Nihayatuzzain di penyaksian jenazah bagian satu).

6. Mengiring Jenazah bagi perempuan. (Lihat: Al Jamal dan Fiqhul Islami di penyaksian jenazah bagian satu)

7. Dan lain-lain yang di sebutkan dalam kitab-kitab yang luas pembahasannya.

Catatan: Hukum Makruh disini tidak sampai dalam taraf haram, seperti pengertian makruh dalam Al Fiqhul Islami, yakni:

الفقه الإسلامي الجزء الأول ص: 51

والمكروه عند غير الحنفية نوع واحد: وهو ماطلب الشرع تركه لا على وجه الحتم والإلزام، وحكمه: أنه يمدح ويثاب تاركه، ولا يذم ولا يعاقب فاعله.

Artinya: “Makruh menurut selain Ulama madzhab hanafiyyah (yakni makruh menurut Ulama madzhab Syafii’i, Maliki, Hambali) mempunyai satu pengertian: Perbuatan yang ada tuntutan (dari) syariat untuk meninggalkannya, tapi bukan merupakan kewajiban dan keharusan (untuk meninggalkan), sedangkan hukum makruh: Orang yang meninggalkan (perbuatan tersebut) di puji dan di beri pahala, dan orang yang melakukan tidak dicaci dan di siksa.”

Walkhasil:

Semua prosesi yang terjadi di Masyarakat, Mulai penyaksian pemberangkatan, mengiring jenazah sampai penguburan mempunyai dasar yang sangat kuat baik dari beliau Nabi SAW,, Sahabat dan Ulama As Sholihin.

WAllohu A’lam BisShowab…

DIAMBILKAN DARI KITAB ARBAIN AL FATTAH

Sie Pendidikan PP. AL FATTAH

Kamis, 7 Maret 2013

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *