PENTINGNYA BAHTSUL MASAAIL

Beda Kyai Dulu Sama Sekarang

Di Kisahkan oleh KH. BAGHOWI, Rois Syuriah NU Nganjuk,

Waktu pertama kali program KB ada (era 70-80 an). Para kiai di daerah-daerah langsung cepat merespon, dengan di adakannya pertemuan dan musyawarah Bahtsul Masaa-il. Tak terkecuali para Ulama di daerah Prambon Nganjuk. Setelah mengadakan Bahtsul Masaail yang lama dan melelahkan, Para Kiai Daerah Prambon mencapai titik kesimpulan, bahwa Program KB boleh dengan menyamakan hukum ‘Azlu (Mencopot alat vital sebelum Klimaks/mengeluarkan sperma di luar vagina) yang banyak terdapat dalam kitab Kuning. Namun, setelah acara selesai, timbul kebimbangan di hati para kiai. Apakah memang begitu hukumnya atau malah meleset dari sasaran?. Setelah berembug sesaat, akhirnya di sepakati untuk menanyakan ke kiai sepuh Lirboyo. Yang waktu Itu beliau Almukarrom KH. Marzuqi Dahlan dan KH. Mahrus Ali.

Selang beberapa hari. Rombongan kiai tersebut sampai di Lirboyo. Yang pertama dituju adalah kediaman KH. Marzuqi. Setelah di persilahkan. Pimpinan Rombongan langsung mengutarakan maksud kedatangan mereka:

“Maksud kedatangan kami dan rombongan; menanyakan bolehkah hukum ber-KB yai?”

“Boleh”, Jawab beliau tanpa pikir panjang.

“Kalau hukumnya di samakan dengan kasus ‘Azlu. Bisa apa tidak yai”.

“Bisa”, lagi-lagi jawaban spontanitas yang mereka peroleh.

Pimpinan Rombongan tercekat, bingung. Ia menengok kanan-kiri, kalau-kalau ada yang bisa dimintai bantuan. Tapi semua orang, menunduk khusyuk. Akhirnya, karena merasa tidak ada yang di tanyakan lagi. Ia minta berkah Do’a dan mohon pamit.

Setelah sampai di luar kediaman KH. Marzuqi. Sesuai rencana. Rombongan langsung menuju kediaman KH. Mahrus Ali yang jaraknya hanya 500 meteran dari kediaman KH. Marzuqi Dahlan. Setelah sampai dan di persilahkan. Kembali pimpinan rombongan menanyakan tentang hukum KB. Namun jawaban KH. Mahrus sama cepat dan sama tidak pikir panjang seperti KH. Marzuqi, “Boleh”. Rombongan mulai terheran-heran. Kok bisa kedua Kyai sepuh itu menjawab cepat tanpa pikir panjang. Padahal waktu membahas dalam Forum Bahtsul Masaa-il di perlukan waktu tidak kurang dari tiga Jam menemukan jawaban ini. Setelah agak reda keheranan pimpinan rombongan dan kawan-kawan. Ia memberanikan diri mengajukan pertanyaan kedua:

“Mmm… Mohon maaf yai. Kalau hukumnya di samakan dengan kasus ‘Azlu. Bisa apa tidak?”

“Lha tadi kan sudah di jawab sama Yai Marzuqi?. Ya itu jawaban saya”.

Pimpinan rombongan dan kawan-kawan melongo. Kok bisa?. Kapan ketemuan?. Padahal perasaan, tadi dari kediaman KH. Marzuqi, rombongan langsung ke kediaman KH. Mahrus Ali tidak berhenti apalagi mampir-mampir (Seperti kita ketahui pada zaman itu. Listrik saja jarang. Apalagi telefon. Terlebih SMS).

Dan Ternyata. Jawaban kedua kyai sepuh tersebut. Sama dengan Hasil Muktamar NU yang di lakukan setelahnya.

******

“Maka dari pada itu. Kita bisa lihat perbedaan Kyai dulu dan sekarang. Baynassamaa’ wa Sumber minyak/antara langit dan Sumber minyak (bumi). Dimana ilmu beliau-beliau begitu menancapnya. Sehingga menjawab permasalahan yang sulit saja, seperti membalik telapak tangan. Belum lagi Ilmu Bathiniyyah beliau-beliau. Coba bandingkan dengan kebanyakan “kyai” sekarang. Yang mana keakuratan ilmu, sangat tergantung dengan melihat referensi kitab. Atau malah mbah Gogel!. Maka, Bahtsul Masaail, Musyawarah dan lainnya perlu kita giatkan. Ibarat satu lidi tiada berguna kecuali berpasangan dengan lainnya. Pemikiran-pemikiran banyak orang yang di gabungkan dalam mencetuskan Hasil Bahtsul Masaa-il jauh lebih akurat. Di bandingkan satu orang yang berfikir”. Pungkas KH. Baghowi.

——-

Di Sadur dari Sambutan KH. Baghowi dalam acara BAHTSUL MASAAIL LBM NU NGANJUK di PP DARUL MUTA’ALLIMIN Manggarejo, Mancon, Wilangan, Nganjuk Ahad Pon, 06 Oktober 2013 M.

Admin FB AlFattah

Semoga Bermanfaat

Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.