PENGENALAN ILMU HADIST bagian tiga

III. Pengenalan Macam Hadist.

1. Hadist Shohih adalah hadist yang muttasil (bersambung) sanadnya (jalur periwayatan), tidak bertentangan dengan hadist yang diriwayatkan mayoritas ahli hadist (Syadz), selamat dari cacat (‘Illat).) melalui perawi yang terpercaya (‘Adil) dan mempunyai tingkat akurasi hapalan/ tulisan yang tinggi (dlobith).

Hadist Shohih adalah hadist yang disepakati ahli hadist benar-benar bersambung dengan Nabi SAW, kalau tidak di sepakati dinamakan Hadist mursal. Hadist mursal menurut Imam Malik termasuk shohih, sedangkan menurut Imam Syafi’i tidak shohih, karena tidak bersambung dengan Nabi (Ittishol/muttashil).

Maka hadist shohih, adalah hadist yang mempunyai 5 kriteria:

1. Ittisholussanad (Sanad bersambung).

2. Tidak Syadz.

3. Tidak adanya ‘Illat.

4. Periwayat punya sifat ‘Adil.

5. Periwayat punya sifat Dlobith shodron (hafalan) atau kitaban (tulisan)

Contoh hadist Shohih:

صحيح البخارى – (ج 1 / ص 130)

وَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ ، وَإِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ » رواه البخاري

Artinya: Nabi SAW. bersabda: “Barangsiapa yang Alloh kehendaki mendapatkan kebaikan, Maka Alloh akan menjadikaanya mengerti ilmu agama, Ilmu hanya bisa di peroleh dengan belajar”

Penting!

Tingkatan derajad hadist shohih menurut ulama Hadist:

1. Hadist yang di sepakati Imam Bukhori dan Imam Muslim.

2. Hadist yang di riwayatkan Imam Bukhori.

3. Hadist yang diriwayatkan Imam Muslim.

4. Hadist yang sesuai sarat Imam Bukhori dan Imam Muslim.

5. Hadist yang sesuai sarat Imam Bukhori.

6. Hadist yang sesuai sarat Imam Muslim.

7. Hadist yang diriwayatkan selain Imam Bukhori dan Imam Muslim, Yakni para Imam yang selalu mempergunakan hadist shohih.

Catatan: Yang di kehendaki dengan sarat Imam Bukhori dan Imam Muslim, yakni hadist yang mempunyai periwayat sesuai kriteria dari Imam Bukhori dan Imam muslim, meliputi: Dlobith, ‘Adalah, tidak syadz, tidak diinkari dan tidak pelupa. (lihat: Muqoddimah fi Ushulil Hadist Juz I hal: 87).

 

2. Hadist Hasan adalah Hadist yang muttasil sanadnya (jalur periwayatan), dan periwayat diketahui/masyhur namun dibawah derajat shohih, yakni tinjauan masyhur periwayat hadist hasan dengan melihat  sifat ‘adil selamat dari sifat syadz, ‘Illat dan dlobith Hanya saja perawinya mempunyai tingkat akurasi hapalan/ tulisan sebawah perawi hadist Shohih.

Maka hadist hasan adalah hadist yang mempunyai 5 kriteria:

1. Ittisholussanad (Sanad bersambung).

2. Tidak Syadz.

3. Tidak adanya ‘Illat.

4. Periwayat punya sifat ‘Adil.

5. Periwayat punya sifat Dlobith shodron (hafalan) atau kitaban (tulisan) namun dibawah perawi hadist shohih.

Contoh hadist Hasan:

رواه الترمذي عن أبي أمامة صدي بن عجلان t قال: قال رسول الله e يخطب في حجة الوداع فقال: “اتقوا الله وصلوا خمسكم وصوموا شهركم وأدوا زكاة أموالكم وأطيعوا أمراءكم وتدخلوا جنة ربكم”

Artinya: Imam Turmudzi meriwayatkan hadist dari sahabat Abi Umamah Shodiy bin ‘Ijlan RA., beliau berkata: “Rosululloh SAW. pada waktu khutbah haji Wada’(perpisahan) bersabda”: “Takutlah kepada Alloh, Sholatlah lima waktumu, berpuasalah di bulanmu (Ramadhan), keluarkanlah zakatmu dari hartamu, taatlah pada pemimpinmu dan masuklah surga Tuhanmu”.

Catatan:

Dikarenakan dalam satu matan/lafadz hadist terkadang ada banyak jalur periwayat, mis:

Hadist:

قال رسول الله e: “لولا أن أشق على أمتي لأمرتهم بالسواك عند كل صلاة”.

Artinya: Rosululloh SAW. bersabda: “Apabila aku tidak menganggap berat pada umatku, maka niscaya akan kuperintahkan (untuk melakukan) siwakan setiap akan melakukan sholat”.

Jalur pertama dari periwayat  A-B-C-D-E-Nabi SAW.

Jalur kedua dari periwayat F-G-H-I-J-Nabi SAW. namun periwayat yang ber-inisial F agak lemah hafalannya.

Maka kalau memandang jalur A-B-C-D-E-Nabi SAW., hadist ini dikatakan Shohih Li Dzatihi (Shohih dengan sendirinya).

Dan Apabila memandang jalur F-G-H-I-J-Nabi SAW., hadist ini dikatakan Hasan atau bisa juga di katakan Shohih lighoirihi (Shohih dengan memandang jalur lain/ A-B-C-D-E-Nabi SAW.), atau sering di istilahkan hasanshohih.

3. Hadist Dlo’if adalah hadist yang tidak memenuhi kriteria hadist hasan, dengan gambaran tidak terkumpul semua sarat hadist hasan apalagi hadist shohih.

Pepiling:

– Seperti yang telah diketahui, sesungguhnya hadist dlo’if mempunyai tingkatan tentang kelemahan, dengan memandang sangat lemah atau tidaknya periwayat dan memandang sedikit banyak sarat hadist hasan yang terkumpul.

– Oleh karena itu boleh meriwayatkan (mengamalkan) hadist dlo’if selain Maudlu’, -tanpa menjelaskan sisi lemah hadist dlo’if tersebut- untuk mauidzoh (nasehat), Fadloilul A’mal (Keutamaan Ibadah) dan lainnya, yakni hal-hal yang tidak ada kaitan dengan Akidah dan Hukum.

Contoh Hadist Dlo’if pertama:

ما روي عن أبي هريرة t قال: قال رسول الله e: “لا وضوء لمن لم يذكر اسم الله عليه”، أخرجه أحمد وأبو داود وابن ماجه بإسناد ضعيف.

Artinya: Hadist yang diriwayatkan dari sahabat Abi Huroiroh RA., beliau berkata: “Rosululloh SAW. Bersabda”: “Tidak ada wudlu bagi orang yang tidak menyebut nama Alloh (membaca Bismillahirrohmanirrohim)”. HR. Imam Ahmad, Imam Abu Dawud dan Imam Ibnu Majah dengan Sanad Dlo’if.

Keterangan hadist ini:

Karena hadist riwayat Sahabat Abu Huroiroh ini tergolong dlo’if, maka ulama Syafi’iyyah tidak mengamalkan hadist tersebut, terbukti hukum membaca bismillah sebelum wudlu tidaklah wajib (seperti tersirat dari teks hadist diatas), akan tetapi sunat. Seperti keterangan dibawah ini:

المجموع – (ج 1 / ص 342)

قال المصنف رحمه الله ويستحب أن يسمى الله تعالي على الوضوء لما روى أبو هريرة رضى الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال من توضأ وذكر اسم الله تعالى عليه كان طهورا لجميع بدنه فان نسى التسمية في أولها وذكرها في اثنائها أتي بها حتى لا يخلو الوضوء من اسم الله عزوجل وان تركها عمدا اجزأه لما روى أبو هريرة رضى الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال من توضأ ولم يذكر اسم الله عليه كان طهورا لما مر عليه الماء.

Artinya: Imam Mushonnif -Semoga Alloh memberi rohmat kepadanya- berkata: di sunnahkan membaca bismillah waktu wudlu, karena hadist yang diriwayatkan sahabat Abi Huroiroh RA. sesungguhnya Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa berwudlu dan menyebut Nama Alloh (baca:bismillah), maka seluruh badannya suci. Apabila ia lupa membaca bismillah pada permulaan wudlu dan ingat di pertengahan wudlu, maka bacalah bismillah di pertengahan wudlu, sehingga wudlu tidak sepi dari Nama Alloh”. Dan apabila sengaja tidak membaca bismillah maka wudlunya tetap sah, karena hadist riwayat Sahabat Abi Huroiroh RA. sesungguhnya Nabi SAW. bersabda: “Barangsiapa yang berwudlu dan tidak menyebut Nama Alloh maka (tetap) suci, karena air yang mengalir di atasnya (anggotanya)”.

– Tidak boleh meriwayatkan (mengamalkan) hadist Dlo’if untuk menjelaskan Sifat-sifat Alloh SWT. (Akidah) dan hukum halal-haram.

 

Contoh Hadist Dloif kedua:

Imam Jalaluddin AsSuyuthi mencontohkan hadist dlo’if sebagai berikut:

الفتاوي الفقهية الكبرى الجزء الثاني ص: 54

رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ {أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم لَمْ يَصُمْ بَعْدَ رَمَضَانَ إلَّا رَجَبَ وَشَعْبَانَ} ثُمَّ قَالَ إسْنَادُهُ ضَعِيفٌ ا هـ وقد تقرر أن الحديث الضعيف والمرسل والمنقطع والمعضل, والموقوف يعمل بها في فضائل الأعمال إجماعا ولا شك أن صوم رجب من فضائل الأعمال فيكتفى فيه بالأحاديث الضعيفة ونحوها ولا ينكر ذلك إلا جاهل مغرور.

Artinya: Diriwayatkan dari Sahabat Abi Huroiroh: “Sesungguhnya Nabi SAW. tidak melakukan puasa setelah romadlon kecuali rojab dan sya’ban” (Imam Hakim) berkata: Hadist ini sanadnya dlo’if. Dan sesungguhnya Para Ulama telah menetapkan bahwa hadist Dlo’if, Mursal, Munqothi’, Mua’dlol dan Mauquf  bisa diamalkan pada Fadho ilil A’mal (berdalilkan) atas  dasar IJMA’ (kesepakatan ulama). Dan tidak ada keraguan sama sekali bahwa sesungguhnya puasa bulan rojab sebagian dari keutamaan amal (Fadho ilil A’mal) maka cukuplah dengan menggunakan hadist-hadist dlo’if dan sejenisnya serta hal tersebut tidak di inkari kecuali oleh orang bodoh yang tertipu (hatinya).

 

4. Hadist Marfu’ Adalah hadist yang langsung di sandarkan kepada Nabi SAW. (tanpa menyebutkan sanad).

Dengan kriteria penyandaran:

– baik yang menyandarkan sahabat atau tidak walaupun dari orang masa kini,

– baik bersambung sanadnya atau tidak.

– dan penyandaran kepada Nabi SAW. baik berupa ucapan, pekerjaan, sifat, persetujuan (taqrîr).

Contoh penyandaran ucapan:

قال النبي e كذا

Artinya: “Nabi SAW. bersabda seperti ini”

Contoh penyandaran pekerjaan:

فعل النبي e كذا، أو رأيته يفعل كذا

Artinya: “Nabi SAW. melakukan hal ini” atau “Aku melihat baginda Nabi SAW. melakukan hal ini”.

Contoh penyandaran sifat:

كان النبي e أبيض اللون

Artinya: “Nabi SAW. berkulit putih”.

Contoh penyandaran persetujuan:

أكل الضب على مائدة النبي e

Artinya: “Aku makan hewan Dlobt (biawak) di perjamuan Nabi SAW.” (dan Nabi tidak melarang/hadist ini menunjukkan halalnya Dlobt)

فعلت بحضرة النبي e كذا ويذكر عدم إنكاره لذلك

Artinya: “Aku melakukan hal ini di hadapan Nabi” dan periwayat menuturkan tiadanya larangan dari Nabi SAW. tentang hal tersebut.

sedangkan apabila penyandaran kepada sahabat, maka di katakan Mauquf. Dan apabila penyandaran kepada tabi’in (sebawah sahabat), maka di katakan Maqthu’ dan tidak bisa di buat dasar hukum.

5. Hadist Maudlu’ adalah Hadist buatan pendusta yang disandarkan pada Nabi SAW.

Pada hakikatnya hadist maudlu adalah hadist buatan (palsu), terkadang pembuat mengambil dari ungkapan orang lain dan menjadikannya hadist, dan terkadang pembuat mengambil dari ungkapan diri sendiri kemudian menjadikannya hadist (Syarah Muslim Lil Imam Nawawi Juz I hal: 56)

Hadist maudlu’ adalah hadist paling hina, sehingga para ulama mengatakan: berdosa besar bagi pembuat hadist maudlu’. Bahkan Imam Al Juwaini mengatakan kafir pada orang yang sengaja membuat hadist maudlu’.

Hadist maudlu’ di ketahui dengan beberapa cara:

– Pengakuan pembuat.

– Tanda-tanda, dan hal ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang punya keahlian tinggi tentang hadist.

– Dengan penelitian yang sempurna.

Contoh hadist Maudlu’:

جمع الجوامع أو الجامع الكبير للسيوطي 12302 (ج 1 / ص: 12196)

(خمس يفطرن الصائم وينقضن الوضوء الكذب والغِيبة والنميمة والنظر بالشهوة واليمين الكاذبة ) (الديلمى عن أنس)

أخرجه الديلمى (2/197 ، رقم 2979) ، قال ابن أبى حاتم فى العلل (1/258 ، رقم 766) سمعت أبى يقول : هذا حديث كذب وميسرة بن عبد ربه كان يفتعل الحديث . وقال الزيلعى فى نصب الراية (2/483) : رواه ابن الجوزى فى الموضوعات وقال : هذا حديث موضوع . والحديث موضوع كما قال الحافظ أحمد الغمارى فى المغير (ص 44) .

Artinya: “Lima perkara yang bisa membatalkan orang puasa dan wudlu, 1. Bohong. 2. Kasak-kusuk. 3. Mengadu. 4. Melihat dengan bernafsu. 5. Sumpah bohong”.

Hadist ini menurut Imam Ibnu Al Jauzi Adalah hadist palsu.

 

Bersambung…..

Ke PENGENALAN ILMU HADIST bagian empat (Tamat)

 

DIAMBILKAN DARI KITAB ARBAIN AL FATTAH

Sie Pendidikan PP. AL FATTAH

21 Februari 2013

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *