PENGENALAN ILMU HADIST bagian satu

PENGENALAN ILMU HADIST

 

Disarikan dari kitab Syarah Mandzumah Baiquniyyah dan penambahan kitab lain.

بســــم الله الرحمن الرحيم

أبدأ بالحـمـد  مصليا علـى      محـمـد خـير نبي أرسـلا

Bismillahirrohmanirrohim….

Kami memulai pembahasan ini dengan pujian kepada Alloh, seraya mengucapkan sholawat dan salam kepada junjungan kita, Nabi besar, Nabi pilihan yang diutus, Sayyidina Muhammad Shollallohu Alaihi wasallam. Alloh SWT. Berfirman dalam QS. Al Hasyr 7:

وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

Artinya: “apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah”.

 

Dalam pembahasan ini akan diuraikan empat Fasal:

I. Pengenalan Istilah Ilmu Hadist.

II. Pengenalan Ilmu Hadist dan Tinjauan Hadist.

III. Pengenalan Macam Hadist.

IV. Pengenalan Hukum mengamalkan Hadist sesuai status.

 

I. Pengenalan Istilah Ilmu Hadist.

Hadist                        : Segala sesuatu yang disandarkan pada Nabi SAW., baik berupa Sabda, perbuatan, persetujuan atau sifat Nabi SAW. (Minkhatul Mughist hal: 5).

Hadits Qudsi            : Sabda Nabi SAW. dimana Nabi SAW. meriwayatkan dari Alloh SWT. (biasanya hadist yang dimulai dengan kata-kata “Alloh berfirman…”,) (Bujairimi ‘alal Khotib Juz II hal: 406)

Matan                        : Lafadz hadist.

Ar Roowii                 : Orang yang menukil/meriwayatkan hadist.

Isnad                          : Menyandarkan Hadist pada periwayat.

Sanad                         : Silsilah periwayat yang mendatangkan matan.

Al Musnad                : Hadist yang sanad periwayatnya bersambung sampai Nabi SAW.

Ittishol/Al Muttashil  : Hadist dimana setiap periwayat mendengar hadist yang diriwayatkan dari gurunya mulai awal sanad sampai akhir sanad, dengan gambaran sanad berhenti sampai Nabi SAW., sahabat atau tabi’in (sesudah sahabat).

Al Marfu’                  : Hadist yang langsung di sandarkan kepada Nabi SAW. (tanpa menyebutkan sanad). (Lihat: Penjelasan hadist Marfu’ di belakang.)

catatan: Perbedaan Al Musnad, Al Muttashil dan Al Marfu’ adalah:

Al Marfu’                 : Cuma memandang pada matan yang disandarkan pada Nabi SAW..

Al Muttashil           : Cuma memandang Sanad/isnad (pada proses penyandaran yakni mendengarnya periwayat), tanpa memandang matan.

Al Musnad              : Melihat kedua-duanya (Matan dan sanad/isnad).

Maka kesimpulannya: setiap Al Musnad pasti Al Marfu’ dan Al Muttashil, dan tidak bisa dibalik.

Namun ketiganya mempunyai satu persamaan yakni bisa berstatus Shohih, Hasan dan Dloif.

Al Mursal                     : Hadist yang sanadnya tidak ada periwayat dari seorang sahabat. Dengan gambaran, sanad dari tabi’in langsung naik ke Rosululloh SAW.

Muttafaqun Alaih     : Hadist yang di sepakati Imam Bukhori dan Imam Muslim. (Lihat: Bulughul Marom hal: 2).

Kutubussittah             : Enam kitab yang diakui secara luas dalam Islam yakni: 1. Shohih Bukhori. 2. Shohih Muslim. 3. Al Jami’ Turmudzi. 4. Sunan Abi Dawud. 5. Sunan Nasa’i. 6. Sunan Ibnu Majah (menurut sebagian riwayat Al Muwatto’). (lihat: Muqoddimah Fii Ushulil Hadist juz 1 hal: 96)

Al Muhaddist              : Ulama yang mampu menghafal hadist yang penting, baik secara diroyah atau riwayah.

Al Hafidz                       : Ulama yang mampu menghafal 100 ribu hadist.

Al Hujjah                      : Ulama yang mampu menghafal 300 ribu hadist.

Al Hakim                      : Ulama yang mampu menghafal hampir keseluruhan hadist. (Lihat: Ibanatul Ahkam Juz 1 hal: 13).

Syaikhoni                    : Imam Bukhori dan Imam Muslim.

Syadz                            : Menyelisihi atau Bertentangan dengan Mayoritas Ulama Hadist (yang dipercaya jumlah dan hafalannya)

‘Illat                              : Sesuatu yang bisa merusak hadist (cacat), yang menyebabkan hadist yang di riwayatkan tertolak, dengan cara meneliti (riwayat hidup) semua periwayat. mis:  periwayat terkenal sebagai pembohong dsb.

Adil                             : yang di kehendaki adalah adil riwayat, yakni: Muslim, berakal, baligh, terhindar dari sifat fasiq (pernah melakukan dosa besar atau selalu melakukan dosa kecil) dan terjaga harga dirinya.

Dlobith                       : mempunyai tingkat akurasi hapalan yang tinggi (dengan gambaran mampu menampilkan/mengucapkan hadist setiap menghendaki). Dan mempunyai akurasi tulisan yang tinggi (yakni mampu menjaga tulisan yang di dengar dan men tashih atau meneliti kebenaran hadist sebelum meriwayatkan hadist, dan tidak meriwayatkan hadist pada orang yang punya kemungkinan merubah hadist.).

Istilah-Istilah Imam At-Turmudzi dalam Kitabnya:

Shohih Ghorib        : Maksudnya, hadist ini mengumpulkan status shohih dan ghorib (perawi hanya satu jalur).

Hasan Shohih         : Hadist ini diriwayatkan dalam beberapa sanad hingga memenuhi syarat dikatakan shohih dan penambahan status hasan adalah menunjukkan hadist ini tidak ghorib.

Menurut Al-Hafidz Imam Ibnu Hajar hadist tersebut mempunyai dua jalur sanad atau lebih yang berbeda tingkatannya, satu hasan dan jalur sanad yang lain shohih. Namun apabila hanya mempunyai satu jalur sanad maka hal ini mengindikasikan ada perbedaan pendapat di antara para ulama’ tentang statusnya. Satu versi menyatakan hasan dan shohih menurut versi lain .

Hasan Ghorib          : Jika ke-ghoribannya terletak pada sanad sekaligus matannya maka yang dimaksudkan adalah hadist hasan li dzatihi, yakni periwayatannya hanya satu jalur dan tidak ditemukan penguat dari hadist lain.

 Namun jika ke-ghoribannya terletak pada sanadnya saja, berarti hadist itu pertama kalinya diriwayatkan dari beberapa jalur yang masyhur, namun kemudian didatangkan melewati satu jalur yang tidak masyhur.

Hasan Shohih Ghorib: Jika ke-ghoribannya terletak pada sanad saja, maka maksudnya mirip dalam “hasan Shohih” dan maksimal status ini memberikan kesimpulan periwayatannya hanya satu jalur berbeda dari jalur yang masyhur.

Jika ke-ghoribannya terletak pada sanad sekaligus matannya maka fungsi penyebutan hasan adalah menunjukkan adanya hadist lain yang semakna. Dan semisal tidak ada hadist yang semakna, maka maksud redaksi di atas menunjukkan keraguan antara status shohih dan hasan. (Lihat: Taudlikhul Afkar Juz I hal: 116 dan Muqoddimah Fii Ushulil Hadist juz 1 hal: 80)

Bersambung…..

Ke PENGENALAN ILMU HADIST bagian dua

 

DIAMBILKAN DARI KITAB ARBAIN AL FATTAH

Sie Pendidikan PP. AL FATTAH

21 Februari 2013

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *