PENGENALAN ILMU HADIST bagian dua

II. Pengenalan Ilmu Hadist dan Tinjauan Hadist.

a. Ilmu hadist terbagi menjadi dua bagian:

1. Ilmu Hadist Diroyah: Ilmu tentang dasar-dasar untuk mengetahui keadaan sanad dan matan, meliputi: shohih, hasan, dlo’if, tinggi dan rendah, cara mengarahkan hadist, mendatangkan hadist, mengetahui sifat-sifat periwayat, dan lain sebagainya.

Catatan: Ilmu Hadist diroyah disebut juga dengan nama: Ilmu Hadist, Mustholah Hadist, Ulumul Hadist dan Ushulul Hadist (Lihat: Nudwatu Ulumil Hadist Juz 5 hal: 2).

Sasarannya adalah    : periwayat dan yang diriwayatkan/matan hadist.

Pencipta                        : Imam Abu Muhammad Ar Romiharmuziy.

Faidah                           : Mengetahui hadist yang diterima dan di tolak.

2. Ilmu Hadist Riwayat: Ilmu yang mencakup riwayat yang di sandarkan pada Nabi SAW. Meliputi: Sabda, perbuatan dan persetujuan Nabi SAW.

Sasarannya adalah    : Keadaan Nabi SAW. Meliputi: Sabda, perbuatan dan persetujuan Nabi SAW.

Pencipta                        : Imam Ibnu Syihab Az Zuhri. Dengan perintah Raja Umar Bin Abdul Azis setelah melihat banyak orang yang hafal hadist meninggal.

Faidah                           : Menjaga kekeliruan waktu mencuplik/mengucapkan hadist.

 

b. Dalam Hadist ada beberapa tinjauan:

1. Hadist di lihat dari tertib Kualitas.

– Hadist Shohih        : Hadist yang muttasil (bersambung) sanadnya (jalur periwayatan), tidak bertentangan dengan hadist yang diriwayatkan mayoritas ahli hadist (Syadz), selamat dari cacat (‘Illat).) melalui perawi yang terpercaya (‘Adil) dan mempunyai tingkat akurasi hapalan/ tulisan yang tinggi (dlobith).

– Hadist Hasan         : Hadist yang muttasil sanadnya (jalur periwayatan), dan periwayat diketahui/masyhur namun dibawah derajat shohih, yakni tinjauan masyhur periwayat hadist hasan dengan melihat  sifat ‘adil selamat dari sifat syadz, ‘Illat dan dlobith Hanya saja perawinya mempunyai tingkat akurasi hapalan/ tulisan sebawah perawi hadist Shohih.

– Hadist Dlo’if           : Hadist yang tidak memenuhi kriteria hadist hasan, dengan gambaran tidak terkumpul semua sarat hadist hasan apalagi hadist shohih.

Penting!!                   : Asal pembagian hadist Cuma tiga (Shohih, Hasan dan Dlo’if) sedangkan pembagian yang lainnya masuk dalam pembagian tiga hadist ini. (Lihat: Muqoddimah Ushulul Hadist Juz I hal 58).

2. Hadist di lihat dari jumlah periwayat.

– Hadist Ghorib        : Hadist yang diriwayakan dari satu imam, walaupun setelahnya ada 100 orang yang meriwayatkan. Dan hadist ghorib juga bisa disebut hadist Fardu (Lihat: Muqoddimah Ushulul Hadist Juz I hal 74).

– Hadist Aziz             : Hadist yang di riwayatkan dari dua Imam, walaupun setelahnya ada 100 0rang yang meriwayatkan.

– Hadist Masyhur   : Hadist yang di riwayatkan lebih dari tiga Imam, walaupun setelahnya ada 100 0rang yang meriwayatkan.

3. Hadist di lihat banyak atau tidaknya periwayat.

– Hadist Mutawatir   : Hadist yang diriwayatkan oleh sejumlah besar periwayat yang menurut adat kebiasaan mustahil mereka bersepakat untuk berdusta. (Lihat: Muqoddimah Ushulul Hadist Juz I hal 74).

Syarat-syarat hadist mutawatir:

1. Jumlah periwayat harus orang banyak.

2. Jumlah periwayat harus mencapai pada suatu ketentuan yang tidak memungkinkan sepakat berdusta.

3. Jumlah periwayat yang banyak harus di temukan secara utuh pada setiap tingkatan sanad mulai awal hingga akhir.

4. Sanad terakhir hadist haruslah (minimal) Hasan.

– Hadist Ahad           : Hadist yang tidak memenuhi kriteria hadist mutawatir. (Lihat pembagian dalam Ibanatul Ahkam Juz I hal: 13)

 

Bersambung…..

Ke PENGENALAN ILMU HADIST bagian tiga

 

DIAMBILKAN DARI KITAB ARBAIN AL FATTAH

Sie Pendidikan PP. AL FATTAH

21 Februari 2013

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *