Pendidikan Berbasis Pesantren

 

Pendidikan merupakan hal yang penting dalam kehidupan dan merupakan bagian tidak terpisahkan dari masyarakat. Pendidikan merupakan dasar pembetntukan karakter bagi seorang anak. Pendidikan bisa dilaksanakan dimana saja, di rumah, di sekolah, dan di masyarakat. Pendidikan pertama seorang anak adalah di rumah, yaitu di lingkungan keluarga, oleh karena itu keluarga menjadi tonggak utama dalam membentuk karakter anak. Selain di lingkungan keluarga, seorang anak juga mendapatkan pendidikan di sekolah yang merupakan tempat untuk menuntut ilmu pengetahuan.

Sekolah merupakan lembaga resmi sebagai sarana untuk menyampaikan ilmu pengetahuan kepada anak. Di sekolah anak belajar berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibimbing oleh guru. Sekolah juga memiliki peran penting dalam pembentukan karakter anak. Ilmu pengetahuan yang disampaikan oleh guru harus diimbangi dengan penanaman akhlak terpuji agar tidak sia-sia, sebab penguasaan ilmu pengetahuan saja tanpa diimbangi akhlak terpuji akan membuat ilmu itu tidak bermanfaat.

Bangsa Indonesia saat ini sedang mengalami krisis moral. Hal ini disebabkan pemahaman masyarakat tentang pendidikan masih kurang, karena masyarakat cenderung memandang keberhasilan seorang siswa dari nilai raport saja. Seorang anak dianggap berhasil jika dia lulus ujian dengan nilai tinggi, padahal nilai tinggi tidak menjamin akhlak seorang anak itu baik. Beban belajar serta penambahan jam belajar membuat siswa kurang bisa bersosialisasi dengan lingkungan masyarakat sehingga siswa menjadi kurang peka terhadap lingkungan. Hal ini membuat siswa menjadi apatis terhadap lingkungan dan membuat siswa memiliki sikap yang egois.

Karakter anak yang tidak terbentuk dengan baik juga akan menjauhkan anak dari akhlak terpuji, mereka cenderung mudah terpengaruh oleh budaya asing yang tidak sesuai dengan karakter bangsa dan merusak akhlak mereka. Untuk itu dibutuhkan sebuah lembaga pendidikan yang bisa menyampaikan ilmu pengetahuan dan teknolgi pada anak sekaligus membentuk akhlak terpuji seorang anak. Pendidikan formal saja tidak cukup untuk membentuk karakter anak, karena pendidikan formal cenderung lebih mengutamakan pemahaman ilmu pengetahuan dan teknologi seorang anak.

Pesantren merupakan tempat belajar ilmu agama bagi umat islam. Di pesantren seorang anak akan belajar dan mendalami ilmu agama dari ustadz dan ustadzah. Selain mendalami ilmu agama, di lingkungan pesantren seorang anak atau biasa disebut santri juga belajar hidup mandiri dan disiplin. Kemandirian dan kedisiplinan adalah hal penting sebagai dasar pembentukan karakter seorang anak, sehingga menghasilkan generasi yang berakhlak terpuji. Sikap mandiri, disiplin dan tanggungjawab ditanamkan di lingkungan pesantren, sehingga di harapkan ketika terjun di masyarakat mereka bisa menjadi generasi yang jujur, pandai bersosialisasi dan peka terhadap lingkungan.

Pendidikan berbasis pesantren menjadi pilihan utama bagi orang tua yang menginginkan anaknya memiliki akhlak terpuji serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Krisis moral yang dialami oleh generasi Indonesia membuat orang tua memilih pendidikan berbasis pesantren untuk membentengi anak-anak mereka dari kerusakan moral. Melalui pendidikan berbasis pesantren, mereka berharap putra putri mereka tidak hanya sekedar menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi jug memiliki akhlak terpuji dan terhindar dari kerusakan moral.

SMP Islam Al Fattah adalah salah satu pendidikan berbasis pesantren yang berada di wilayah Kabupaten Nganjuk. Di lembaga ini, para santri mendapatkan pendidikan secara formal serta pendidikan agama dan akhlak. Pendidikan formal disampaikan melalui kegiatan sekolah di SMP Islam Al Fattah di bawah naungan Dinas Pendidikan Kabupaten Nganjuk, sedangkan pendidikan agama dan akhlak disampaikan melalui pesantren Al Fattah. Pendidikan formal dilaksanakan pagi hari mulai pukul 07.00 hingga pukul 12.40, sedangkan pendidikan pesantren dilaksanakan pukul 15.00 hingga pukul 22.00.

Kegiatan pendidikan berbasis pesantren ini bertujuan untuk mencetak generasi yang cerdas dan berakhlak terpuji. Di lembaga AL Fattah siswa diajarkan kemandirian, kedisiplinan dan tanggungjawab. Kemandirian santri dibentuk dari hal yang paling sederhana yaitu mencuci baju sendiri, mereka yang di rumah tidak pernah mencuci baju, di sini mereka harus mencuci baju sendiri. Hal ini dapat membentuk kemandirian siswa, sehingga siswa tidak tergantung pada orang tua atau orang lain. Sedangkan kedisiplinan dibentuk dari kegiatan sekolah dan pesantren yang harus dilakukan tepat waktu, misalnya bangun pagi untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah kemudian masuk sekolah pukul 07.00, dan jika terlambat maka akan mendapatkan hukuman. Sikap tanggung jawab dibentuk dari pembiasaan belajar pada pagi hari setelah sholat subuh serta keaktifan siswa dalam mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah yang diberikan guru, jika tidak mengerjakan pekerjaan rumah maka siswa akan dihukum, hal ini membuat siswa bertanggungjawab untuk mengerjakan tugas.

Selain pembelajaran, SMP Islam Al Fattah juga melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler untuk mengajarkan keterampilan pada siswa serta menjadi wadah menyalurkan kreatifitas siswa. Kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan diantaranya adalah pramuka, dan sepak bola. Pramuka mengajarkan kedisiplinan, cinta alam, dan peduli pada sesama. Melalui pramuka diharapkan alumni SMP Islam Al Fattah menjadi generasi yang kreatif, bertanggungjawab dan peduli terhadap lingkungan. Kegiatan sepak bola menjadi wadah bagi santri untuk menyalurkan bakat dan kemampuan mereka. Melalui kegiatan sepak bola, para santri bisa memupuk rasa persaudaraan dan kekompakan.

Melalui pendidikan berbasis pesantren di Lembaga Al Fattah ini diharapkan bisa mencetak generasi yang cerdas, tangguh dan berakhlak terpuji. Lembaga AL Fattah juga bisa menjadi pilihan bagi orang tua yang menginginkan putra putri mereka menjadi generasi yang cerdas dan berakhlak terpuji. Krisis moral yang dialami oleh generasi Indonesia mendorong SMP Islam Al Fattah untuk lebih meningkatkan kualitas dalam membentuk karakter anak agar tidak terjerumus pada kerusakan moral.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *