Pelajaran dari seorang Pak Sur

Kesehatan adalah anugerah yang jujur saja terkadang kita sering lupa mensyukurinya. Berdalih perjuangan sampai titik darah penghabisan, tetapi tanpa sadar kita sudah bertindak tidak adil dengan badan kita sendiri. Sudah berapa kali bekerja sampai sakit? Berkali-kali, jawabnya.

 

Siang tadi saya membaca sebuah informasi bahwa ada seorang anak terbaring sakit karena Leukemia (Kanker Darah) yang dideritanya kira-kira sejak 3 tahun lalu. Firdaus namanya, yang saat ini sedang berjuang untuk bertahan dan melawan sakitnya. Dia anak dari salah seorang kakak kelas SMP saya.

 

Sore tadi berbincang melalui telepon dengan Ibunda Firdaus, walaupun saya belum pernah bertemu sebelumnya, tetapi luar biasa suaranya masih terdengar tegar meski melihat putranya sakit. Terus membujuk sang putra untuk mau makan dan terus bersemangat untuk sembuh. Melewati perjalanan panjang dari Samarinda, hingga di rujuk ke RS Dr. Soetomo Surabaya demi kesehatan putranya.

“ Maaf ya Mbak, Bapak nya Firdaus lagi istirahat, kecapean mondar mandir dari tadi pagi”, pesannya sebelum saya menutup telpon.

 

Ba’da isya, tiba-tiba telpon masuk dari nomor yang sama yang sore tadi saya hubungi. Bpk Sur Safi’i. Sengaja saya diamkan, supaya saya bisa menelponnya.

 

“Non, ini siapa?” pesan singkatnya masuk.

 

Akhirnya saya pun berhasiil mendengarkan banyak cerita melalui telpon dari Pak Sur tentang perjuangannya untuk kesembuhan Firdaus.

 

“ Dulu firdaus sudah pernah di khemoterapi sampai selesai dan dinyatakan sembuh. Tidak ada lagi sel-sel ganas di sumsum tulangnya. Tetapi tiba-tiba kambuh lagi dan dokter di Samarinda menyarankan untuk di rujuk ke RSUD Dr. Soetomo agar mendapatkan pengobatan yang terbaik, karena Tim Dokter dan peralatannya lebih lengkap. Hari itu saya ga ngerti mbak, saya harus cari uang kemana, pontang panting kesana kemari sampai saya ke Pak Walikota. Akhirnya saya dapat bantuan untuk beli tiket dan membawa Firdaus ke Surabaya. Aku berangkat ke Surabaya, uang ditabunganku Cuma tinggal 50 ribu mbak. Apapun tak lakukan demi anakku”, tuturnya kepada saya.

 

Dari kisah perjuangannya, ada satu hal yang membuat saya merinding dan cukup terharu.

“ Aku ingat nasehat Pak Kyai ku mbak, ada hadits yang bilang “setiap penyakit itu ada obatnya, kecuali mati”. Aku dulu satu kelas dengan putra ke dua Pak Kyai ku, anak ku yang nomer dua usianya satu tahun aku beri nama seperti nama putra kedua Kyai ku juga, Hizbulloh. Sampeyan tahu Pondok Al Fattah, itu lho pondoknya Mbah Yai Nahrowi yang sudah Almarhum? Aku dulu ngaji disitu. Aku dulu SMP nya satu kelas dengan Gus Hiz. Mungkin dia sudah tidak ingat aku lagi kalau ketemu”, saya menahan nafas mendengar kalimat demi kalimat Pak Sur.

 

Allahu Akbar, Pak Sur satu almamter dengan saya tidak cuma SMP saja, dan Pak Sur mengingat pelajaran dari Alm. Abah Yai Nachrowi Zainal Aly Mustofa serta mengagumi putranya, sampai-sampai putra kedua Pak Sur diberi nama yang sama dengan putra kedua Alm. Abah Yai Nachrowi. Keyakinannya bahwa putranya akan sembuh, karena Pak Sur mengingat pelajaran dari sang Guru. Berdoa..berdoa dan terus berdoa dengan segenap keyakinannya.

 

“Jangan putus berdoa Pak, Insyaallah semua akan terlewati. Semoga Firdaus diangkat penyakitnya oleh Alloh, Bapak dan keluarga semoga diberikan kesabaran”, pesan ku sebelum menutup telpon.

Hari ini saya mendapat pelajaran tentang keyakinan akan hadirnya pertolongan Alloh SWT asal kita tidak lelah untuk berusaha, berikhtiyar dan, dan tentang bersyukur atas nikmat sehat. Tidak perlu menunggu sakit untuk menghargai tubuh yang dihadiahkan Alloh SWT kepada kita.

 

Saat ini, teman-teman dan senior-senior alumni SMP sedang berusaha bergotong royong untuk mengumpulkan donasi agar bisa membantu meringankan beban Pak Sur dan keluarganya, karena kabarnya rangkaian proses pengobatan bisa memakan waktu lebih dari satu tahun.

 

Saudaraku, siapa tahu Alloh menitipkan pertolonganNYA untuk Pak Sur dan keluarganya melalui kalian.

Bantu dengan doa, dengan apa saja yang bisa kita lakukan untuk Pak Sur dan putranya, Firdaus Safi’i khususnya.

 

No. Rek BNI a/n SUR SAFI’I : 0076716877

 

Di Ambil Dari Catatan Alumni PP. Alfattah Pule. Mbak Zulfa Aulianti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.