Nelayan Dan Ikan

Kesabaran yang berbuah Manis

——-

 

Alkisah, ada dua orang nelayan. Satu Mukmin dan lainnya Non Muslim. Pagi-pagi buta keduanya berangkat melaut, mencari ikan. Setiap akan melempar jaring si Non Muslim menyebut Nama-nama Tuhannya. Begitu pula nelayan Mukmin, senantiasa menyebut Asma Allah Ta’ala.

Namun, keanehan terjadi. Setiap Non Muslim menebar jaring, ia selalu mendapat Ikan yang banyak dan besar-besar. Sedangkan nelayan mukmin tidak pernah sekalipun jaringnya menyangkut Ikan. Sampai matahari hampir terbenam ia tidak satupun mendapatkan ikan. Sebelum pulang, dengan mengucap bismillah ia menebarkan jaringnya untuk terakhir kali. Berharap mendapat ikan. Dengan hati berdebar-debar ia menarik jaringnya pelan-pelan. Dan Alhamdulillah ia mendapatkan satu ikan yang besar. Dengan mengucap syukur ia memegang ikan tersebut dengan kuat. Namun, ikan itu berontak. Malang tak dapat di tolak. Ikan tersebut tercebur lagi ke laut. Dan ia pulang kerumah tanpa membawa ikan satupun. Berbeda dengan Non Muslim yang pulang membawa ikan sekeranjang penuh.

 

Melihat ini. Malaikat yang di wakilkan menjaga mukmin merasa nelangsa. Namun, waktu ia ke langit dan Allah Ta’ala memperlihatkan betapa Nelayan Mukmin tersebut telah di bangunkan Istana megah di syurga. Ia berkata: “Demi Allah, Apa yang ia peroleh hari ini bukanlah sebuah kesengsaraan kalau jadinya seperti ini”. Setelah itu, Allah memperlihatkan padanya betapa si Non Muslim di bangunkan Rumah siksa di neraka. Ia berkata: “Demi Allah, Apa yang ia peroleh hari ini. Bukanlah sebuah kekayaan kalau Jadinya seperti ini”.

 

———–

Tanbihul Ghoofilin Hal: 92

Dengan sedikit penambahan dan penyesuaian bahasa

M. Robert. PP. Al Fattah Pule Tanjunganom Nganjuk

Semoga Bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *