Menuju Rumah Tanggah Sakinah Bagian 12

KAJIAN HARI SELASA

MENUJU RUMAH TANGGA SAKINAH

UQUDULLIJEIN
(Untaian Kalung Perak)

KARYA: SYAIKH NAWAWI AL BANTANI AL JAWI

Penterjemah: Ngir Nini Aknah. Mlorah Rejoso Nganjuk Jawa Timur. Siswi Kelas III Tsanawiyyah Madrasah Salafiyyah Al Fattah Pule

Bagian 12:

menjelaskan keutamaan suami istri

 

Diriwayatkan bahwa Allah SWT melihat ahli surga seraya berfirman “Mohonlah kamu semua kepadaKu apa saja yang kalian butuhkan?” Mereka menjawab, “Bagaimana kami meminta, sementara kami sedang bersenang-senang di surga di mana pun kami mau”.

 

Ketika mereka merasa perlu meminta sesuatu, mereka lalu berdo’a: “Wahai Tuhan kami semoga engkau berkenan mengembalikan ruh kami ke dalam tubuh kami di dunia, agar kami dibunuh orang kafir dalam mentaati segala perintahMu!”. Demikian itu karena mereka kenikmatan ahli surga, yang berupa buah-buahan di surga.

 

Ibn Abbas ra. meriwayatkan bahwa Nabi Muhamad Saw bersabda :

 

أرواح الشهداء في أجواف طيور خضر ترد أنهار الجنة و تأكل من ثمارها و تأوي الى قناديل معلقة في ظل العرش

 

“Ruh-ruh para syuhada berada di rongga burung-burung hijau yang mendatangi sungai-sungai di surga, memakan buah-buahan surga dan hinggap di lampu-lampu yang digantungkan pada naungan ‘Arsy”.

 

Allah ta’ala berfirman dalam surat an-Nisa:

 

للرجال نصيب مما اكتسبوا و للنساء مما اكتسبن

 

“Bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita ada bagian dari apa yanng mereka usahakan”. (QS. An-Nisa: 32)

 

Maksudnya, laki-laki memperoleh pahala jihad yang dilakukannya dan wanita pun punya hak memperoleh pahala dari apa yang diperbuatnya yaitu menjaga kemaluan serta taat kepada Allah dan suami.

 

Jadi laki-laki dan wanita dalam urusan pahala di akhirat memperoleh hak yang sama. Hal ini karena pahala satu kebaikan dilipatkan sepuluh kali. Sementara kelebihan laki-laki mengalahkan wanita hanya di dunia. Demikian menurut asy-Syirbini dalam tafsirnya.

 

‘Ali ra. berkata : “Sejelek-jelek kelakuan laki-laki yang merupakan sebaik-baik kelakuan wanita adalah bakhil, tidak mau memberikan kelebihan hartanya bagi peminta-minta, mengagumi diri sendiri dan penakut dan kecil hati. Sebab apabila wanita bakhil berarti ia menjaga hartanya dan harta suaminya. Wanita yang mengagumi diri sendiri (sombong) pada umumnya tidak mau berbicara dengan setiap laki-laki dengan kata-kata halus yang dapat menimbulkan fitnah. Adapun wanita penakut merasa khawatir, sehingga tidak berani keluar rumahnya dan menjauh dari tempat yang menimbulkan kecurigaan suaminya. Nabi Dawud as. berkata :

 

“Wanita yang berperangai buruk teradap suaminya seperti beban berat bagi orang tua yang lanjut usia, dan wanita yang berperangai baik seperti mahkota bertahta emas, setiap kali suami memandangnya, ia (suami) akan merasa senang”.

 

Para wanita sebaiknya mengetahui kalau dirinya seperti budak yang di nikahi tuannya dan tawanan yang lemah tak berdaya dalam kekuasaan seseorang. Maka wanita tidak boleh membelanjakan harta suami untuk apa saja kecuali dengan izinnya. Bahkan mayoritas ulama mengatakan bahwa istri itu tidak boleh membelanjakan hartanya sendiri kecuali dengan izin suaminya. Istri dilarang membelanjakan hartanya karena dianggap seperti orang yang banyak hutang.

 

Istri wajib merasa malu terhadap suami, tidak boleh menentang, harus menundukkan muka dan pandangannya di hadapan suami, taat kepada sumi ketika dipertintah apa saja selain maksiat, diam ketika suami berbicara, berdiri ketika suami datang dan pergi, menampakkan cintanya terhadap suami apabila suami mendekatinya, menampakkan kegembiraan ketika suami melihatnya, menyenangkan suami ketika akan tidur, mengenakan harum-haruman, membiasakan merawat mulut dari bau yang tidak menyenangkan dengan misik dan harum-haruman, membersihkan pakaian, membiasakan berhias diri di hadapan suami dan tidak boleh berhias bila ditinggal suami

 

Al-Ashmu’î berkata, “Di suatu pelosok desa, saya melihat seorang wanita mengenakan baju kurung merah, dan tangannya yang memakai pacar memegang tasbih. Tanyaku, “Alangkah jauhnya ini dari itu (bersolek dan berdzikir, Pent). Maka wanita itu berkata dengan syair ber-bahar thawîl :

 

ولله مني جانب لااضيعه # وللهو مني والبطالة جانب

 

Untuk Allah, aku punya waktu dan aku tidak menyia-nyiakan # Untuk bermain-main dan bersenang-senang akupun punya waktu.

 

Maka saya tahu bahwa ia adalah wanita salihah yang bersuami dan berhias karena suaminya.

Istri hendaknya tidak berkhiyanat di tempat tidur ketika suami sedang pergi. Istri tidak boleh menyelewengkan harta suami.

Rasulullah saw bersabda :

 

لا يحل لها أن تطعم من بيته الا بإذنه الا الرطب من الطعام الذى يخاف فساده, فإن أطعمت عن رضاه كان لها مثل أجره, وإن أطعمت بغير إذنه كان له الأجر, وعليها الوزر.

 

“Istri tidak boleh memberi makan orang lain dirumah suaminya tanpa izinnya, kecuali makanan-makanan basah yang dikhawatirkan basi. Jika ia memberikan makanan seizin suaminya, maka ia memperoleh pahala seperti pahala suaminya dan jika ia memberi makanan tanpa seizin suaminya, maka suaminya mendapatkan pahala sedangkan istri mendapatkan dosa”.

Bersambung ke bagian 13… Insya Alloh

 

Wallohua’lam bisshowab

Administrator

 Gubug Pule, 27 Agustus 2013 M

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.