MENUJU RUMAH TANGGA SAKINAH BAG. 3

KAJIAN HARI SELASA

UQUDULLIJEIN

(Untaian Kalung Perak)

KARYA: SYAIKH NAWAWI AL BANTANI AL JAWI

Penterjemah: Ngir Nini Aknah. Mlorah Rejoso Nganjuk Jawa Timur. Siswi Kelas III Tsanawiyyah Madrasah Salafiyyah Al Fattah Pule

Bagian 3

Hukum Melihat Lawan Jenis, Melihat Wanita Dengan Tujuan Di Nikah,

Melihat Wanita Waktu Persaksian, Transaksi, Medis Dan Belajar., Kewajiban Istri, Berlaku Baik Pada Istri, Aturan “Main Kasar” Dengan Istri.

 

(HUKUM MELIHAT LAWAN JENIS)

و في ما وقع فيه الي علي ا لغايةلا بي شجاع

(Dan) dalam (perkara yang berhubungan dengan melihat), maksudnya: melihat perkara (yang di Larang), maksudnya: di larang oleh Al Qur’an dan Al Hadist.

Haram Bagi Laki-Laki, meskipun buntung dakar, laki-laki yang tidak mempunyai dua telor/pelir, laki-laki impoten dan banci. Melihat wanita lain yang di sahwati sampai pada bagian wajah dan telapak tangannya, baik telapak tangan luar/Dalam. Hal ini telah di tetapkan/di fatwakan.

Akan Tetapi Banyak Ulama yang mengatakan bahwa halal melihat wajah dan telapak tangan seorang wanita.

Sedangkan hukum melihat seorang laki-laki terhadap istri dan budaknya dalam keadaan hidup di perbolehkan meskipun bersamaan dengan adanya penghalang “kesenangan” sementara/mudah hilang seperti haid dan gadai.

Akan tetapi makruh melihat farji, meskipun farji sendiri tanpa adanya hajat,

Berbeda dengan penghalang “kesenangan” yang mudah hilang adalah yang tidak mudah hilang/lambat seperti iddah seorang istri yang wati subhat. Maka haram hukumnya melihat pada bagian antara pusar sampai lutut bukan lainnya. seperti muhrim adalah budak dan orang yang di nikahkan.

(MELIHAT WANITA DENGAN TUJUAN DI NIKAH)

Melihat wanita dengan tujuan untuk dinikah boleh, Namun Hanya Pada Bagian Wajah Dan Telapak Tangan Saja. Hukum ini bagi wanita yang merdeka. Sedangkan bagi budak, diperbolehkan melihat pada bagian selain pusar dan lutut.

(MELIHAT WANITA WAKTU PERSAKSIAN, TRANSAKSI, MEDIS DAN BELAJAR)

Boleh melihat wajah seorang wanita dengan tujuan persaksian dan transaksi jual beli. Bagi budak di perbolehkan melihat perkara selain aurotnya ketika akan di beli yakni yang temasuk bagian luar badannya.

Diperbolehkan Melihat Wanita Dengan Tujuan Mengobati Pada Tempat Yang Di Butuhkan, Meskipun Itu Farji/Kelamin dengan syarat hadirnya seorang yang dapat mencegah (haramnya) hukum berdua-duaan/kholwah (dengan selain mahrom), baik mahrom atau lain sebagainya. dan juga dengan syarat sudah tidak ada penyembuh/dokter yang sejenis/adanya hanya ada laki-laki saja.

Dan Juga Di Perbolehkan Melihat Pada Seorang Wanita Dikarenakan Belajar Pada Perkara Yang Di Wajibkan untuk wanita seperti yang telah di katakan oleh Syaikh As Subki dan lainnya.

Hukum boleh tersebut, apabila tidak ada mahrom atau perempuan yang bisa mengajarinya.

Hukum di perbolehkan mengajar wanita tidak dengan muhrim dan pengajar wanita di kiyaskan dengan mengobati.

Dan alasannya karena sulitnya mengajar dari balik/belakang penutup.

Tidak boleh melihat wanita di karenakan belajar yang sunah berbeda dengan amrod/lelaki cantik, maka di perbolehkan melihatnya dengan tujuan belajar sunah seperti yang telah disebutkan dalam syarah kitab nihayah karangan Syeh Al-Mishry dan kitab Ghoyah Wa Taqrib karangan Syeikh Abu Suja’

(KEWAJIBAN ISTRI)

الفصل الاولى الى كمن لا دنب له

(Fasal yang pertama) dalam menerangkan (hak-hak seorang istri) yang wajib terhadap suami.

(Allah SWT berfirman) dalam surat an-nisa’(dan perlakukanlah istri-istri kalian dengan baik) maksudnya dengan adil dalam menginap (giliran), nafaqoh, berbuat baik dalam berkata.

(Dan Allah berfirman:) dalam surat al baqoroh (bagi istri) atas suami (ada hak yang sesuai) bagi mereka (yang wajib bagi istri) dari hak-hak dalam perkara wajib dan hak menuntutnya, namun tidak pada satu jenis (dengan baik) maksudnya: perkara yang di nilai baik oleh syariat. seperti berperilaku baik dan meninggalkan bahaya dari suami dan bahaya dari istri.

sahabat ibnu abas ra berkata: “makna dari lafad مثل الذي itu sesungguhnya aku menyukai berhias untuk istriku seperti halnya istriku suka berhias untukku, karena ayat ini” (laki-laki punya keunggulan derajat dari wanita) maksudnya: keutamaan dalam hak berupa kewajiban taat istri kepada suami karena perkara yang di berikan oleh suami kepada istri. Seperti: mahar. Dan karena nafaqoh suami untuk kebaikan istri.

(BERLAKU BAIK PADA ISTRI)

Diriwayatkan dari nabiمحمّد.SAW.:

Sesungguhnya nabi bersabda di dalam haji wada’ yakni haji haji terakhir beliau nabi dan bertepatan dengan hari jum’at (setelah memuji Allah) yang maha luhur (dan menyanjung Allah kemudian beliau member nasihat) kepada orang-orang yang hadir (ingatlah) maksudnya: ingatlah kalian semua wahai kaumku pada perkara yang telah di tetapkan pada kalian semua (Berlaku Baiklah Kalian Pada Perempuan) huruf باء  berfaidah ta’diyah maksudnya: terimalah wasiatku ini dan lakukanlah wasiat ini. kasihanilah kaum wanita Serta Perbaikilah Perlakuan Kalian Pada Wanita, karena sesungguhnya menasehati terhadap wanita itu adalah perkara yang lebih penting/dianjurkan. Karena Wanita Itu Lebih Lemah Dan Lebih Membutuhkan Pada Orang Yang Dapat Menguatkan Dan Memimpin Urusannya.

Di baca nasobnya lafad خيرا  karena ada 2 wajah,

salah satu dari wajah itu adalah: خيرا menjadi maful lafadاستوصوا  karena maknanya: “berbuat baiklah kalian semua kepada perempuan”

Wajah yang ke dua  maknanya: “terimalah wasiatku dan datangilah perkara yang baik”. Lafad خيرا Itu di nasobkan oleh fiil yang di buang seperti firman Allah: “dan janganlah kalian mengatakan bahwa Allah itu tiga dan hentikanlah, karena itu adalah perkara yang baik menurut kalian”. Maksudnya: hentikanlah dengan mengatakan Allah tiga dan datangilah perkara yang baik (karena seseungguhnya istrimu itu tawanan) maksudnya beberapa sandera (bagi kalian semua) lafad فعوان dengan nun yang dibaca kasroh itu jama’ dari lafad عا نية Merupakan sighot muntahal jumu’.

Wanita dikatakan sebagai tawanan, karena seorang wanita itu ditahan seperti wanita tawanan/yang di tawan oleh suaminya.

Dan dalam dalam lafad فاءنهنّ عوار dengan ro’menjadi jama’ dari lafad عارية karena, sesungguhnya seorang laki-laki menikahi seorang wanita karena menjadi amanah dari Allah (dan tidak ada) yakni keadaan (yang bisa meluluhkan wanita satupun selain kebaikan) maksudnya: kebaikan (kecuali jika mereka melakukan kejelekan) artinya marah/nuzus yang nyata, yakni yang jelas terlihat kemarahannya apabila mereka/wanita melakukannya dengan menampakan nuzusnya (maka tinggalkan mereka dari tempat tidur) maksudnya: Menyingkirlah dari tempat tidur dan meninggalkan tempat tidur. Yakni: tidak tidur bersamanya. Dan ketentuan meninggalkannya tidak ada batasannya. Karena hal tersebut dibutuhkan untuk kebaikannya. Maka Apabila Istri Tidak Kunjung Membaik, Hukum Hajru/Meninggalkan Tetap Berlaku, Walaupun Sampai Bertahun- Tahun. Dan apabila dia kembali dengan kebaikannya/ dia kembali berbuat baik, maka tidak ada HAJRU. Menurut sebagian ulama’ batasan HAJRU adalah sebulan.

(ATURAN “MAIN KASAR” DENGAN ISTRI)

(dan pukulah istri kalian dengan pukulan yang tidak menyakitkan) maksudnya pukulan yang tidak sampai memecahkan tulangnya dan tidak sampai membuatnya cacat pada anggota tubuh. Maksudnya: pukulan yang tidak keras. Ketentuan Itu Jika Dia Tidak Kembali Berbuat Baik Setelah Ditinggal/Hajru.

(apabila seorang istri mencela) pada perkara yang dikehendaki (maka jangan lah kalian mencari) artinya: jangan mencari (jalan pada wanita) maksudnya: jalan untuk memukulnya secara dzolim dan jadikanlah kesalahan yang ada pada istri kalian seperti tidak ada. Layaknya orang yang bertobat dari dosanya seperti tidak ada dosa baginya.

 

Bersambung ke bagian 4 Insya Allah….

Wallohu a’lam

Administrator Al Fattah Com

Gubug Sederhana Pule, Selasa 21 Mei 2013

 

6 thoughts on “MENUJU RUMAH TANGGA SAKINAH BAG. 3

    ummu hani

    (Mei 22, 2013 - 00:58)

    articlenya sangat membina.

    adzim

    (Mei 22, 2013 - 13:32)

    Yups, bekal calon pasutri

    ummu hani

    (Mei 23, 2013 - 00:54)

    teruja menimba sambungan selanjutnya….,
    selamat muncul bahagian seterusnya….!

      lasykar

      (Mei 25, 2013 - 07:53)

      silahkan mbak ummu hani, Insya Allah akan kami update terus semampu kami. narju du’aakum….

    santri alfattah

    (Mei 24, 2013 - 12:19)

    Doakan aja mbak muga2 situs, admin, dan yg menterjemah bisa eksis dan istiqomah….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.