Menuju Rumah Tanggah Sakinah Bagian 11

KAJIAN HARI SELASA

MENUJU RUMAH TANGGA SAKINAH

 

UQUDULLIJEIN

(Untaian Kalung Perak)

KARYA: SYAIKH NAWAWI AL BANTANI AL JAWI

Penterjemah: Ngir Nini Aknah. Mlorah Rejoso Nganjuk Jawa Timur. Siswi Kelas IIITsanawiyyah Madrasah Salafiyyah Al Fattah Pule

 

Bagian 10:

menjelaskan kewajiban suami menasehati terhadap istri

 

Abu Hurayrah ra. berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda :

 

خير النساء امرأة إذا نظرت اليها سرتك و إن أمرتها أطاعتك و إن غبت عنها حفظتك في مالك و نفسها.

 

“Sebaik-baik wanita adalah wanita yang jika kamu memandangnya, ia menyenangkan kamu, apabila kamu memerintahkannya maka ia taat kepadamu dan apabila kamu tinggal pergi maka ia menjaga hartamu  dan dirinya”.

 

Wanita-wanita yang kamu khawatirkan sikap nusyuznya, maka nasehatilah mereka. Maksudnya, nusyuz ialah wanita-wanita yang diduga meninggalkan kewajiban suami istri karena kebenciannya kepada suami, seperti meninggalkan rumah tanpa izin suami dan menentang suami dengan sombong. Oleh karena itu nasihatilah mereka dengan menakut-nakuti akan adanya siksaan Allah SWT. Memberikan nasihat disini hukumnya sunnah, seperti seorang suami berkata kepada istri.

 

“Takutlah kamu kepada Allah atas hak yang wajib kamu penuhi kepadaku dan takutlah kamu akan siksaan Allah”.

 

Suami hendaknya juga menjelaskan kepada istri bahwa perbuatan nusyuz itu dapat menggugurkan nafkah dan giliran. Nasihat itu tidak boleh disertai dengan mendiamkan diri (dengan pisah ranjang) dan memukul istri. Karena barangkali istri dapat mengungkapkan alasannya atau bertaubat meskipun tidak menjelaskan alasan mengapa ia berbuat demikian. Dalam ini, suami disunnahkan mengingatkan istri tentang hadits yang meriwayatkan bahwa Nabi Muhamad SAW bersabda:

 

إذا باتت المرأة هاجرة فراش زوجها لعنتها الملائكة حتى تصبح

“Jika seorang istri menghabiskan malam dengan meninggalkan tempat tidur suaminya, maka para malaikat mengutuknya sampai pagi”.

 

أيما امرأة باتت و زوجها راض عنها دخلت الجنة

“Wanita-wanita yang mengabiskan malam dalam keridhaan suaminya maka ia masuk surga”.

 

Demikian disebutkan dalam Syarh Nihayah ‘ala al-Ghayah (Fath al-Qarib:77).

 

“Dan pisahlah dari tempat tidur mereka” maksudnya adalah para suami meninggalkan para istri dan tempat tidurnya bukan menghindari bicara dan memukul. Sebab memisahkan diri dari tempat tidur memberi dampak yang jelas dalam mendidik para wanita.

 

Kalimat “dan pukullah mereka”, maksudnya adalah wanita-wanita yang nusyuz itu boleh dipukul dengan pukulan yang tidak membahayakan tubuh. Hal itu dilakukan kalau memang membawa faidah. Jika tidak, maka tidak perlu mengadakan pemukulan. Jika akan memukul maka tidak boleh sampai memukul muka dan anggota tubuh yang dapat menjadikan kerusakan tubuh, melainkan memukul sebagai teguran (ta’zir) saja. Bahkan lebih baik suami memaafkan. Berbeda dengan orang tua kepada anaknya yang masih kecil itu justru membawa kemaslahatan untuk mendidik anak. Sedangkan pukulan suami terhadap istri, kemaslahatannya untuk diri sendiri.

 

Menurut Imam Râfi’i ayat ini dapat dipahami bahwa nasihat dapat diberikan kapanpun, tanpa harus melihat istri benar-benar nusyuz, dan pisah ranjang dapat dilakukan apabila istri benar-benar melakukan kesalahan, tanpa ia harus melakukannya berulang kali. Sementara pemukulan boleh dilakukan apabila istri sudah seringkali melakukan nusyuz.

 

Akan tetapi menurut Imam Nawawi, istri itu boleh dipukul, jika memang memberikan faidah, walaupun nusyuznya tidak berulangkali.

 

Menurut An-Nawawi, makna dari redaksi takhafuna dalam ayat  واللاتي تخافون نشوزهنadalah ta’lamûna (kamu mengetahui) yakni kamu melihat nusyuz istri itu. Tidak termasuk nusyuz istri yang menjawab panggilan suaminya dengan perkataan yang kasar setelah bicara yang halus, atau istri yang membuang muka dan cemberut. Jika hal itu terdapat tanda-tanda nusyuz maka suami hendaknya menasehati. Janganlah meninggalkannya dan jangan memukulnya.

 

“Jika mereka mentaatimu maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk memukulnya”, maksudnya, kalau istri telah mentaati kamu sesuai dengan yang kamu kehendaki dari mereka, maka janganlah mencari-cari alasan untuk memukul, seperti mencoba mengungkit-ngungkit kesalahan istri (sehingga istri marah. Pen.) dan akhirnya kamu memukul istri hingga terjadi permusuhan lagi. Sebaiknya, kesalahan yang telah lalu dianggap tidak pernah ada, sama halnya dengan orang yang telah bertaubat dari dosa dianggap orang yang tidak berdosa.

 

Disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW :

 

من صبر على خلق زوجته أعطاه الله تعالى ما أعطى أيوب عليه والسلام من الأجر و الثواب و من صبرت على خلق زوجها أعطاها الله أجر من قتل في سبيل الله تعالى و من ظلمت زوجها و كلفته ما لا يطيقه وآنته لعنتها ملائكة الرحمة و ملائكة العذاب و من صبرت على أنتة زوجها أعطاه الله تعالى ثواب آسيه و مريم بنت عمران.

 

“Siapa yang sabar menghadapi budi pekerti istrinya, maka Allah akan memberikan pahala seperti pahala yang diberikan kepada Nabi Ayyub as.; siapa yang sabar menghadapi budi pekerti suaminya, maka Allah akan memberikan pahala seperti pahala orang yang terbunuh di jalan Allah; siapa yang menganiaya suami dan membebani (menuntut) suami dengan hal yang tidak mampu dikerjakan serta mencela suaminya, maka istri yang demikian akan dikutuk oleh malaikat pembawa rahmat dan azab; siapa yang sabar disakiti suaminya maka Allah akan memberikan pahala kepada istri seperti pahala Siti Asiyah dan Maryam putri ‘Imran”.

 

Demikian disebutkan dalam kitab al-Jawahir karya as-Samarqandi.

 

Rasulullah Saw bersabda :

 

أيما امرأة ماتت وزوجها عنها راض دخلت الجنة

“Seorang istri yang meninggal sedangkan suaminya ridha kepadanya, maka ia masuk surga”.

 

Hadits ini sama seperti hadits ketiga sebelum ini.

Rasulullah Saw bersabda :

 

إذا صلت المرأة خمسها وصامت شهرها وحفظت فرجها وأطاعت زوجها قيل لها :ادخلي الجنة من أي أبواب الجنة شئت

 

“Apabila seorang istri salat lima waktu, berpuasa Ramadhan, menjaga kemaluannya dan mentaati suaminya, maka dikatakan kepadanya :”Masuklah kedalam surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki”.

 

Ada seorang wanita datang kepada Nabi Saw seraya berkata: ‘Wahai Rasulullah! Saya utusan kaum wanita datang menghadap engkau untuk menanyakan tentang peranan wanita dalam berjihad. Allah telah menetapkan kewajiban berjihad bagi kaum laki-laki. Kalau mereka luka dan terbunuh mereka memperoleh pahala yang besar dan hidup di sisi Tuhan dalam limpahan rizki. Sedangkan kami kaum wanita tetap melayani mereka. Lalu apa yang kami dapatkan dari itu semua? Nabi bersabda :

 

أبلغي من لقيت من النساء أن طاعة الزوخ واعترفا بحقه يعدل ذلك وقليل منكن من يفعله

 

“Sampaikan salamku ini pada kaum wanita yang kamu jumpai bahwa kepatuhan kepada suami dan menunaikan haknya adalah sebanding dengan pahala jihad. Akan tetapi sedikit wanita yang mau melakukannya”.

Bersambung ke bagian 12… Insya Alloh

 

Wallohua’lam bisshowab

Administrator

 Gubug Pule, 20 Agustus 2013 M

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *