MENSIKAPI AYAT QUR’AN “SEMPURNANYA ISLAM”.

 

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridloi Islam itu Jadi agama bagi kalian” [QS. Al Maaidah 3]

 

Imam At Thobari menjelaskan Ayat diatas sebagai berikut:

تفسير الطبري – (ج 9 / ص 517)

فقال بعضهم: يعني جل ثناؤه بقوله:”اليوم أكملت لكم دينكم”، اليوم أكملت لكم، أيها المؤمنون، فرائضي عليكم وحدودي، وأمري إياكم ونهيي، وحلالي وحرامي، وتنزيلي من ذلك ما أنزلت منه في كتابي، وتبياني ما بيَّنت لكم منه بوحيي على لسان رسولي، والأدلة التي نصبتُها لكم على جميع ما بكم الحاجة إليه من أمر دينكم، فأتممت لكم جميع ذلك، فلا زيادة فيه بعد هذا اليوم. قالوا: وكان ذلك في يوم عرفة، عام حجَّ النبي صلى الله عليه وسلم حجة الوَدَاع. وقالوا: لم ينزل على النبي صلى الله عليه وسلم بعد هذه الآية شيء من الفرائض، ولا تحليل شيء ولا تحريمه، وأن النبي صلى الله عليه وسلم لم يعش بعد نزول هذه الآية إلا إحدى وثمانين ليلة.

Artinya: “Maka sebagian ulama berkata: yakni yang di kehendaki sebagian ulama -pujian yang agung untuk mereka- dengan firman Alloh [الْيَوْمَأَكْمَلْتُلَكُمْدِينَكُمْ], pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian wahai orang-orang muslim (berupa) kewajiban-kewajibanKu untuk kalian, Hukuman-hukumanku, perintahKu pada kalian, laranganKu, HalalKu, HaramKu, kesemuanya itu AKU turunkan dalam kitabKu, penjelasanKu adalah apa yang Aku jelaskan pada kalian dari kitabKU dengan wahyu atas lisan rosulKu, dan dalil-dalil yang aku peruntukkan bagi kalian atas semua kebutuhan kalian dari (hal yang berkaitan) dengan agama kalian. Maka aku sempurnakan semua itu bagi kalian, janganlah menambahi hal tersebut setelah hari ini.

 

Sebagian ulama berkata: turunnya ayat diatas pada hari ‘Arofah, tahun dimana baginda Nabi SAW. melakukan haji perpisahan.

Sebagian ulama berkata: Setelah turunnya ayat ini tidak turun lagi pada Nabi SAW. ayat-ayat yang menjelaskan kewajiban-kewajiban, halal dan haramnya sesuatu, dan sesungguhnya setelah turunnya ayat ini (jarak) delapan puluh satu malam baginda Nabi SAW. meninggal dunia.

 

Kemudian keterangan  Imam Thobari tentang “dan dalil-dalil yang aku peruntukkan bagi kalian atas semua kebutuhan kalian dari (hal yang berkaitan) dengan agama kalian” sesuai dengan pendapat ulama empat madzhab tentang adanya Qiyas dan Ijma’ yakni pengembangan pemikiran melalui dasar al qur’an dan al hadist seperti uraian Imam Ali Rozi Al Jassosh sebagai berikut:

 

الفصول في الأصول للشيخ علي الرازي الجصاص الحنفي الجزء الرابع ص: 26

فَإِنْ قِيلَ: قَالَ تَعَالَى: { لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ } وَالْقِيَاسُ الشَّرْعِيُّ لَا يُفْضِي إلَى الْعِلْمِ, فَعَلِمْنَا أَنَّهُ لَمْ يُرَدْ بِهِ. قِيلَ لَهُ: هَذَا غَلَطٌ, لِأَنَّ مَنْ يَقُولُ: إنَّ كُلَّ مُجْتَهِدٍ مُصِيبٌ, يَقُولُ: قَدْ عَلِمْت أَنَّ مَا أَدَّانِي إلَيْهِ قِيَاسِي فَهُوَ حُكْمٌ لِلَّهِ تَعَالَى ( عَلَيَّ ), وَأَمَّا مَنْ قَالَ: إنَّ الْحَقَّ فِي وَاحِدٍ, فَإِنَّهُ يَقُولُ: هَذَا عِلْمُ الظَّاهِرِ, كَخَبَرِ الْوَاحِدِ, وَكَالشَّهَادَةِ, وَكَقَوْلِهِ تَعَالَى: { فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ } وَيَدُلُّ عَلَيْهِ أَيْضًا: قوله تعالى: { وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ  شَيْءٍ } قوله تعالى { الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ } وَقَالَ تَعَالَى: { مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ }. فَإِذْ لَمْ نَجِدْ فِيهِ كُلَّ حُكْمٍ مَنْصُوصًا, عَلِمْنَا أَنَّ بَعْضَهُ مَدْلُولٌ عَلَيْهِ, وَمُودَعٌ فِي النَّصِّ, نَصِلُ إلَيْهِ بِاجْتِهَادِ الرَّأْيِ فِي اسْتِخْرَاجِهِ. وَيَدُلُّ عَلَيْهِ قوله تعالى: { لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ } قَدْ حَوَتْ هَذِهِ الْآيَةُ ثَلَاثَةَ مَعَانٍ: أَحَدُهَا: مَا نَزَّلَ اللَّهُ تَعَالَى مَسْطُورًا. وَالْآخَرُ: بَيَانُ الرَّسُولِ صلى الله عليه وسلم لِمَا يَحْتَاجُ مِنْهُ إلَى الْبَيَانِ. وَالثَّالِثُ: التَّفَكُّرُ فِيمَا لَيْسَ بِمَنْصُوصٍ عَلَيْهِ وَحَمْلُهُ عَلَى الْمَنْصُوصِ. قَالَ أَبُو بَكْرٍ: وَاحْتَجَّ إبْرَاهِيمُ بْنُ عُلَيَّةَ, لِإِثْبَاتِ الْقِيَاسِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: { فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ }…

Artinya: “Apabila di tanyakan (Ada pertanyaan): Alloh berfirman:

 “Tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri” [QS. An Nisaa 83]

 

Sedangkan Qiyas Syar’iy tidak sampai taraf ‘ilmu (mengetahui maksud hukum dari Al Qur’an), maka kita mengetahui bahwa Qiyas Syar’iy tidak bisa di datangkan (untuk mengetahui maksud hukum dari Al Qur’an).

 

Maka pertanyaan diatas di jawab: Ini adalah sebuah kekeliruan, karena sesungguhnya orang yang berkata: sesungguhnya setiap Mujtahid mendapat pahala, berkata: telah engkau ketahui bahwa sesungguhnya Qiyas yang aku datangkan adalah hukum Alloh Ta’ala padaku, dan apabila ada yang bertanya: sesungguhnya yang benar Cuma satu, maka mereka berkata: Ini tertentu pada ilmu dlohir, seperti adanya hadist wakhid, persaksian dan seperti Firman Alloh Ta’ala:

 “maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka(perempuan-perempuan yang beriman) (benar-benar) beriman” [QS Al Mumtahanah 10]

 

Dan yang menunjukkan ilmu dlohir juga terdapat pada Firman Alloh: “dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad) Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu” [QS. An Nahl 89]

Pada Firman Alloh: “pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian” [QS. Al Maaidah 3]

 

Dan Alloh (juga) berfirman: “Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab[472]”,

[472] Sebagian mufassirin menafsirkan Al-Kitab itu dengan Lauhul mahfudz dengan arti bahwa nasib semua makhluk itu sudah dituliskan (ditetapkan) dalam Lauhul mahfudz. dan ada pula yang menafsirkannya dengan Al-Quran dengan arti: dalam Al-Quran itu telah ada pokok-pokok agama, norma-norma, hukum-hukum, hikmah-hikmah dan pimpinan untuk kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat, dan kebahagiaan makhluk pada umumnya.[QS. Al An’am 38]

 

Maka apabila kita tidak menemukan dalam al qur’an setiap hukum dengan jelas (tertera dalam al qur’an, seperti detail haid, hukum alkohol, rokok dsb. Pent.), kita bisa mengetahui bahwa sebagian hukum tersebut di ambilkan dalil dari (pemahaman) al qur’an dan di tinggalkan dalam nash al qur’an, yang hanya bisa kita fahami dengan mengasah kemampuan otak/pikiran (ijtihad birro’yi) untuk mecetuskan hukum (dari nash al qur’an). Dan yang menunjukkan hal tersebut adalah firman:

 

“agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka[829] dan supaya mereka memikirkan”,

[829] Yakni: perintah-perintah, larangan-larangan, aturan dan lain-lain yang terdapat dalam Al Quran. [QS. An Nahl 44]

 

Ayat ini mencakup tiga makna:

  1. Apa yang Alloh turunkan telah tertulis.
  2. Adanya penjelasan dari Rosululloh SAW. terkait hal-hal yang perlu untuk di jelaskan.
  3. (boleh) memikirkan/mengasah otak tentang hal yang belum tertera dalam al qur’an dan mengarahkan pada hal yang telah tertera pada al qur’an.

 

Imam Abu Bakar berkata: Imam Ibrohim bin ‘Ulaiyah berpegang teguh konsep penetapan Qiyas dengan Firman Alloh Ta’ala: “Maka ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, Hai orang-orang yang mempunyai wawasan.” [QS. Al Hasyr 2]

 

Diambilkan dari kitab Arba’in Alfattah PP. Al Fattah Pule Tanjunganom Nganjuk

Wallohu a’lam

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.