menghormati al-Qur’an adalah sebuah keniscayaan

Dalam kitab as-Syifa halaman 28-30 Juz dua Tahqiq dan cetakan Syaikh Abdus-Salam Muhammad Amin, ada pembahasan yang kadang terus terang kita lalai dan mengabaikannya. Yakni, tentang bagaimana menghormati Hadist Baginda Nabi Shallallahu Alayhi Wasallama.

Dalam sisi Fiqh Syafi’iyyah, kita tahu bahwa menghormati al-Qur’an adalah sebuah keniscayaan. Hingga disana menselonjorkan kaki dengan al-Qur’an diatasnya dilarang, apalagi tidur, tengkurap atau malah telentang kaya bacak komik wkwkw. Intinya adablah yang di jaga. Hei, kok Qur’an?! Hadist Nabi saja, yang secara penghormatan lebih kurang dari al-Qur’an dengan tidak usah pakai wudlu segala! Ternyata cara penghormatannya begitu luar biasa. Bukan murni tulisan yang ada dalam Hadist itu yang dipandang. Tapi sosok pembawanya, yakni Baginda Nabi Shallallahu Alayhi Wasallama! Seperti kisah-kisah dibawah ini:

– Syaikh Amr bin Maimun yang selama setahunan membarengi Sahabat Ibnu Mas’ud, melihat ketika sahabat agung itu berkata Qaala Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallama; Baginda Nabi Shallallahu Alayhi Wasallama bersabda, Beliau kelihatan sedih sekali, hingga Syaikh Amr melihat ada keringat yg merembes dari jidatnya (Dalam sebagian riwayat: Wajahnya)

– Ketika ada seseorang akan bertanya hadist kepada Syaikh Ibnul-Musayyab, sedang waktu itu Beliau dalam keadaan santai tiduran miring. Bergegas Beliau Syaikh duduk rapi lalu baru membacakan hadist. Melihat itu, sang lelaki berkata: “Aku senang andai njenengan tidak beranjak dari situ (Bahasa jawanya: Mpun Njenengan ngoten mawon, mboten usah repoat-repoottt)”. Tapi Beliau Syaikh menjawab, “Aku tidak senang, ketika aku menghabarkan hadist Baginda Nabi dalam keadaan tidur miring!.

– Begitupula Imam Malik bin Anas diabaikan permintaan hadistnya kepada Syaikh Abi Khazim, “hanya” gara-gara tidak ada tempat untuk duduk. “Aku tidak suka mengambil (Baca: Menghabarkan) Hadist Baginda Nabi Shallallahu Alayhi Wasallama dalam keadaan berdiri!” Dawuh Syaikh.
Dan Imam Malik bin Anas, tiada pernah sekalipun membacakan hadist Kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu Alayhi Wasallama kecuali dalam keadaan berwudlu! Karena menghormatinya.
Bahkan Syaikh Mus’ab bin Abdullah mengisahkan, kalau Imam Malik bin Anas, ketika membacakan hadist Baginda Nabi Muhammad Shallallahu Alayhi Wasallama tidak hanya berwudlu. Namun, juga memakai dan merapikan pakaiannya, lalu baru menghabarkan hadist tersebut. Ketika ada yang bertanya, “Kenapa kok tiba-tiba Beliau Imam Malik bin Anas bertingkah seperti itu?”. “Oh, sebab Beliau sedang membaca Hadist dari Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallama” jawab Syaikh Mus’ab.

– Ketika Imam Malik bin Anas ditanyai masalah Fiqh, Beliau langsung keluar dari nDalemnya dan menjawabnya langsung. Tapi kalau yang ditanyai adalah tentang Hadist, Beliau langsung mandi, memakai wewangian ples pakai baju baru dan tidak lupa bersisir rapi!, tidak cuma itu; Surban kebesarannya Beliau pakai, lalu duduk di kursi dengan khusu’, baru membacakan hadist!. Bahkan, selama pembacaan hadist dupa wangi dinyalakan. Dan Beliau juga punya kursi khusus untuk pembacaan hadist! Jadi selain untuk membaca hadist, kursi itu tidak digunakan.
“Keanehan” ditanyakan pada pengampu Madzhab ini. Dan dijawab oleh Beliau, “Aku cinta mengagungkan hadist Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallama, aku tiada pernah mengucapkan hadist keculai dalam keadaan suci dan duduk tenang!” yakni, Beliau Imam Malik bin Anas, tidak suka menghabarkan hadist dalam keadaan di jalan, bediri dan tergesa-gesa. “Aku cinta atau senang untuk memahamkan hadist Baginda Nabi Shallallahu Alayhi Wasallama” timpal Beliau.
Kesukaan berwudlu inipun juga dilakukan Imam A’masy. Dan kalau Beliau tidak dalam keadaan suci, kok disitu tidak ada air, Beliau mengalahi dengan bertayammum! Dan memang menurut Imam Dlirar bin Murrah kebanyakan dari para Sahabat dan para Imam terdahulu, tidak suka meriwayatkan hadist dalam keadaan tidak punya wudlu!

– Syaikh Ibnu Sirrin yang waktu itu tertawa terbahak-bahak, mendadak Khusyu’ ketika ada hadist Nabi Shallallahu Alayhi Wasallama di bacakan dihadapannya.

– Bahkan yang lebih ngeri. Ketika membaca hadist, Imam Malik bin Anas disatroni Kalajengking!. Lha Kalajengking nakal itu mengentubnya enam belas kali! Cetat cetit-cetat cetiiiitttt. Tapi Beliau tetep khusu’ membaca hadist!. Syaikh Abdullah bin Mubarak yang melihat kejadian itu –setelah usai pembacaan hadist dan manusia bubar– mendekati Imam Malik, sambil gedeg-gedeg berkata, “Hari ini, aku melihat keajaiban pada dirimu!”. “Betul –apa yang kau lihat–. Kesabaranku ini, karena mengagungkan hadist Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallama!”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *