Mengenal Sifat Ma’ani

  1. Sifat Qudrat: Allah Mahha Kuasa mustahil baginya bersifat ‘Ajzu yang artinya lemah. Sifat ini merupakan aplikasi dari sifat Wujud dan selalu menetap pad Dzat Allah. Dengan sifat ini Allah akan mewujudkan dan meniadakan segala sesuatu yang bersifat Jaiz wujudnya.

Titik sasaran ( ta’alluq )sifat ini ada dua macam yaitu:

  • TA’ALLUQ SHULUHI QODIM yakni : Kepatutan Alloh di zaman Azali untuk menciptakan atau tidak, semua makhluk yang akan ada. Meskipun pada saat itu belum ada makhluk yang tercipta, namun kisaran sifat Qudrat tetap ada walaupun hanya terbatas pada kepatutannya akan menjadikan semua yang ada di dunia ini dengan segala bentuk, sifat, macam, warna ataupun yang lainnya sesuai dengan kehendak-Nya. Atau justru pada itu Dia tidak berkehendak menciptakan apa-apa.

 

  • TA’ALLUQ TANJIZI yakni : Pelestarian Alloh terhadap semua hal yang  telah dikehendaki-Nya di zaman Azali. Dengan kata lain, ta’aluq ini adalah realisasi dari ta’alluq shuluhi. Jadi apa-pun yang sudah atau belum terjadi di dunia ini merupakan keniscayaan yang tidak bisa dihindari, karena semuanya telah terpotret secara rapi sejak zaman Azali. Karenanya wajar jika ada sebuah kata bijak yang menyatakan : Di kehidupan ini, anda hanya butuh persiapan mental yang memadahi menanti apa yang akan terjadi. Karena semuanya sudah tidak bisa dihindari.

Dengan demikian,maka segala sesuatu yang selain Allah, baik dari golongan manusia, jin, maaikat, setan, langit, bumi, hewan, tumbuh-tumbuhan, perkara, Dzat, sifat, perkara yang ditemukan melalui mata maupun panca indera, semua merupakan perkara yang baru wujudnya dan diwujudkan oleh Allah dengan Kekuasaan-Nya dari tidak keberadaan-nya. Sebab, Allah wujud di zaman Azali (dahulu) yang tidak ada seorangpun menyertai-Nya.

Allah mewujudkan semua mahluk untuk menampakkan kekuasaan-Nya dan berada dalam kehendak-Nya . Ukuran apapun tidak akan keluar dari kekuasaan Allah dan perjalanan setiap perkara tidak akan terlepas dari pengawasanNya.

Dari keterangan di atas dapat kita pahami, jika titik sasaran sifat Qudrat hanyalah pada hal-hal  yang Jaiz semata. Tidak pada hal-hal yang bersifat Wajib atau Mustahil sebab sebagaimana di atas, dengan sifat ini Alloh mewujudkan atau meniadakan sesuatu yang sifatnya Jaiz. Maka tidak akan ada gunanya jika sifat ini kemudian dikaitkan dengan hal yang besifat wajib. Karena tanpa sifat ini pun hal tersebut sudah dipastikan ada dan mustahil tidak ada. Demikian pula hal yang bersifat Mustahil, ketidak mungkinan adanya tentu sudah tidak sejalan keberadaan sifat Qudrat yang punya sasaran mewujudkan atau mentiadakan sebagaimana di atas. Ketidak terikatan sifat Qudrat ini dengan perkara Wajib atau Mustahil bukan berarti sebuah reduksi atas kemutlakan sifat tersebut. Karena seandainya ia ada keterikatan dengan keduanya, niscaya bisa diartikan Alloh mampu mentiadakan diri-Nya sendiri atau mampu menciptakan seorang putra bagi-Nya dan sebagainya dari semua hal yang tidak pantas jika di sandarkan terhadap ke Maha Sucian-Nya.

Adapun lawan dari sifat qudrat adalah lemah. Dan dalil (ketetapan) sifat qudrat yang ajib bagi Allah adlah wujud alam sesesta ini. Penjelasan dalil tersbut ialah :apabila Allah mempnyai sifat qudrat ,niscaya Allah lemah.Dan apabila Allah lemah,maka tak akan terwujud sesuatu. Dengan kata lain ,semua dari mahluk ini tidak akan ada. Sedangkan tidak wujudnya sesuatu dari semua mahluk adalah Muhal(tidak mungkin) karena jelas bertentangan dengan perasaan dan kenyataan yang ada didepan mata kita. Dan jika di pandang dari segi bahwa Allah wajib mempunyai sifat Qudrat, maka Mustahil Dia mempunyai sifat yang berlawanan dengan sifat Qudrat ini

2.  Sifat Irodat artinya Maha Berkehendak. Dengan sifat ini, sejak zaman azali Allah telah  menentukan semua perkara yang mungkin (jaiz), dalam arti adakalanya Allah mewujudkan atau meniadakan. Lawan dari sifat Iradat adalah sifat Karahah yang artinya terpaksa.

Menurut faham Ahli Sunnah wal Jamaah sifat Iradat tidaklah identik dengan Perintahnya. Memang Alloh yang menghedaki terjadinya semua perkara, baik ataupun buruknya. Akan tetapi Dia tidak pernah memerintahkan kecuali pada kebajikan. Walaupun semua yang ada di dunia ini telah dikehendaki-Nya sejak zaman Azali dan mustahil akan terjadi sesuatu di luar kehendak tersebut, akan tetapi tidak dibenarkan bagi seseorang yang akan melakukan kemaksiatan beralasan, bahwa apa yang akan dilakukan adalah proyeksi kehendak-Nya di zaman Azali. Sebab pada saat ia akan melangkah, Alloh membuka kesadarannya jika ia tengah berada di simpang jalan kebenaran dan kesesatan. Kesadarannya memilih salah satu diantara keduanya itulah yang memberi implikasi pada dirinya kelak.

Titik sasaran sifat ini sama dengan sifat Qudrat yakni hanya pada perkara-perkara yang Mungkin (jaiz). Hanya saja kalau keterkaitan sifat Qudrat pada perkara yang Mungkin adalah mewujudkan atau meniadakannya. Sementara kalau sifat Iradat adalah yang menentukannya.

Termasuk hal yang mungkin adalah perkara baik dan buruk. Oleh sebab itu, tidak ada suatu kebaikan atau keburukan terjadi pada mahluk(seluruhnya) kecuali dengan iradat (kehendak ) Allah SWT. Karena tidak mungkin akan terjadi sesuatu pada mahkluk ini diluar kehendak-Nya.

Berbeda dengan pendapat Mu’tazilah yang mengatakan, bahwa sifat Iradat Allah tidak berkaitan sama sekali dengan semua keburukan yang terjadi. Jika memang demikian adanya, sementara banyak keburukan-keburukan yang terjadi nyata di depan mata, bukankah hal itu bisa dikatakan “ terjadi di luar kehendaknya “. Dan pada tatanan ini, bukankah Dia berada pada posisi yang lemah karena tidak mampu membendung terjadinya sesuatu di sekitar wilayah kekuasaannya.

Adapun dalil ketetapan sifat Iradat bagi Allah adalah wujudnya alam semesta ini. Apabila Allah tidak mempunyai sifat Iradat, sudah pasti Allah dalam keadaan terpaksa melihat kenyataan ini. Dan bila Allah terpaksa (tidak mempunyai sifat iradat) lalu bagaimana eksistensi sifat Qudrat yang telah disandangnya ?.

3.  Sifat Ilmu artinya Maha Mengetahui. Dengan sifat ini, Allah mengetahui hal-hal yang wajib, mungkin (jaiz) dan yang mustahil wujudnya dengan segala rincian yang terliput oleh Nya

Oleh karena itu, Allah SWT secara rinci pula mengetahui sesuatu dan tidak terbatas, seperti kesempurnaan sifat-Nya mengatur nafas seluruh penghuni dunia ini. Adapun ta’alluqnya (titik sasaran) sifat ilmu hanya satu, yaitu hubungan dengan pelaksanaannya yang  terdahulu. Dengan demikian, Allah SWT mengetahui semua hal yang meliputi apa saja yang berada dimuka bumi, sampai diatas langit,. Dan sekecil apapun dari yang melata dimuka bumi dan langit, tidak akan terlepas dari pengetauanNya. Bahkan Allah mengetahui seekor semut kecil hitam yang merayap diatas batu,(hitam)dalam kegelapan malam dengan sifat ilmuNya. Allah senantiasa bersifat Ilmu sejak dahulu dan kekal adanya (tampa permulaan).

Sedangkan lawan dari sifat ilmu adalah sifat Bodoh. Perlu dimengerti, bahwa ta’alluqnya sifat Iradat itu seiring dengan sifat Ilmu. Sehingga apa-pun yang dikehendaki senantiasa berada dalam pantauan sifat Ilmunya.

Adapun dalil ketetapan sifat ilmu yang wajib bagi Allah adalah wujud alam semesta dengan segala keajaibannya. Syeaikh Sayid Husein Afandi di dalam kitab Husun-nya menyatakan : Siapa pun yang mau berfikir tentang keajaiban angkasa raya, flora dan fauna, segala macam kandungan bumi, lautan dan keindahan isinya, maka tidak akan menyangkal jika pencita semua ini pastilah memiliki sifat Ilmu. Sebab kalau kita tidak mungkin akan mengatakan bodoh terhadap seseorang telah mampu menciptakan Jam dengan ukuran detik dan menit secara tepat, apalagi Alloh yang telah menciptakan semua komposisi alam secara tepat.

4.  Sifat Hayat artinya Maha Hidup. Sifat ini yang membenarkan, jika Allah mempunyai sifat Ilmu, Qudrat, Iradat, Sama’,Bashar dan Kalam. Hidup disini terdapat pada Dzat-Nya dan tidak disertai ruh (seperti makluk). Lawan dari sifat ini adalah Maut (mati). Adapun dalil atas ketetapan bahwa Allah ajib mempunyai sifat Hayat adalah wujud serta proses perjalanan alam semesta ini. Jelasnya, apabila Allah tidak mempunyai sifat Hayat, maka pasti Allah bersifit Maut Dan jika Allah mempunyai sifat tersebut, maka jelas Allah tidak akan kuasa, menghendaki dan mengetahui. Sedangkan ketidak adaannya sifat-sifat tersebut bagi Allah, jelas tidak mungkin sebagaimana telah dijelaskan di atas.

5. Sifat Sama’dan Bashar, artinya Maha Mendengar dan Melihat. Mustahil baginya mempunyai sifat Tuli dan Buta. sebab hal ini merupakan cacat yang jelas tidak akan mungkin berada di sekitar Dzat yang Maha Sempurna.

Kedua sifat ini adalah sifat yang dahulu dan yang menetap pada Dzat Allah sebagaimana sifat-sifat yang telah di jelaskan di atas. Dengan kedua sifat ini, maka akan menjadi jelas (terbuka) semua perkara yang wujud, baik berupa Dzat,  suara, warna dan lain sebagainya.

Adapun ta’alluq sifat Sama’ dan Bashar dengan perkara yang didengar dan dilihat adalah bersifat terbuka. Oleh karena itu, wajib bagi kita meyakini bahwa perkara yang didengar bukanlah merupakan penemuan yang dicapai dengan penglihatan. Demikian  pula penemuan yang dicapai melalui pendengaran atau penglihatan bukanlah merupakan suatu penemuan yang dicapai dengan ilmu.

Jadi, setiap penemuan (yang tiga tersebut ) mempunyai hakekat sendiri-sendiri, yang mana pengertiannya wajib diserahkan kepada Allah SWT.  Penemuan tersebut, tidak seperti apa yang kita rasakan dimana penglihatan(sebab melihat)dapat memberi suatu kejelasan diatas ilmu. Seluruh sifat Allah itu utuh adanya, sempurna, tidak mungkin ada kesamaran, tambahan dan lain lain.

Oleh karena itu, tidak akan pernah ada kesamaran bagi-Nya  dari segala yang wujud, sekalipun sangat halus dan lembut. Pendengaran-Nya tudak mengenal batas dan pengelihatan-Nya pun tidak mengenal kegelapan.

Pendengaran Allah tidaklah mengunakan lubang atau daun telinga. Begitu pula Allah melihat, tidak melalui biji mata. Sebagaimana Allah mengerti tanpa mengunakan hati. Karena sifat sifat Allah tidak menyerupai dengan sifat mahluk. Sebagaimana Dza-tNya yang tidak menyerupai dzatnya mahluk.

Dalil al Qur’an yang menjelaskan kedudukan kedua sifat wajib ini adalah :

وهو السميع البصير

“…dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi maha melihat “

والله بصيربما تعملون

“Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Dan sabda Rasullah SAW:

اربعوا علي انفسكم فى الدعاء فاءنكم لاتدعون اصم ولاغائبا,انكم تدعون سميعا قريبا مجيب

 “ Sayangilah diri kalian terhadap do’a, karena sesunguhnya kalian tidak berdo’a kepada Tuhan yang tuli dan tidak ada. Sesungguhnya kalian berdoa kepada yang Maha Mendengar dan Dekat lagi Maha Mengabulkan “.

 Yang dimaksud dengan kata-kata “sayangilah diri kalian” ialah jangan mengeraskan suara didalam berdo’a.

6. Sifat Kalam artinya Maha berbicara. Sifat ini merupakan sifat terdahulu yang ada pada Dzat Allah dan tidak berupa huruf ataupun suara. Juga bersih dari I’rab dan bina’ (menurut istilah ahli nahwu dan sharaf) serta bersih pula dari diam di hati. Misalnya, Allah menyembunyikan kalam didalam Dzat-Nya, di mana Dia sendiri yang berkuasa mengucapkanya. Bersih dari kerusakan yang sangat samar, misalnya; Allah tidak kuasa mengucapkan seperti dalam keadaan tidak bisa berbicara ketika masih kecil dan bersih pula dari sifat-sifat kalam perkara baru.

Sifat kalam Allah hanya satu, tetapi mempunyai beberapa bagian pertimbangan. Oleh karena itu, jika dipandang dari segi kaitannya dengan sholat misalnya, maka dinamakan perintah, jika dipandang dari segi hubungannya dengan perintah meninggalkan zina misalnya, maka dinamakan larangan. Jika dipandang dari segi hubungannya dengan ceritan raja Firaun yang pernah mengerjakan ini dan itu misalnya, maka dinamakan kalam berita. Jika dipandang dari segi hubungannya dengan orang taat yang mendapat surga, maka dinamakan janji. Jika dipandang dari segi hubungannya dengan orang yang berbuat maksiat akan masuk neraka, maka dinamakan ancaman.

Sifat Kalam ini berkaitan erat  dengan semua perkara yang Wajib, Jaiz dan Mustahil. Dan  Kalam Allah tidak menyerupai dengan kalam mahluk. Tidak berupa suara yang timbul karena dibawa angin atau saling bersentuhannya beberapa jisim. Dan tidak pula berbentuk huruf yang dapat terputus putus disebabkan tertutupnya bibir atau gerakan gerakan lidah. Nabi Musa as. sendiri telah mendengar kalam Allah dengan tanpa huruf dan suara. Sebagaimana orang orang mulia bisa melihat Dzat Allah diakhirat yang tidak berbentuk benda tidak pula merupakan sifat baru (seperti mahluk). Dalam konteks sederhana, Mutakallimin biasa mengilustrasikannya dengan bisikan-bisikan yang masih tersimpan di dalam hati. Disana ada ungkapan-ungkapan yang bisa dipahami meskipun tanpa lantaran suara ataupun huruf.

Adapun lawan sifat kalam adalah sifat Bisu. Yang dimaksud dengan bisu adalah tidak adanya kalam yang bersifat Dzat (kalam hati)baik tidak adanya kalam tersebut diakibatkan oleh suatu sebab atau hanya sekedar diam sementara. Diam dalam hal ini juga termasuk dikatagorikan bisu. Meskipun di atas telah dikatakan bahwa Kalam Alloh tidak berupa suara ataupun huruf, namun barangsiapa mengingkari, bahwa di antara kedua sampul Alqur’an (isi atau kandungannya) terdapat kalam Allah, maka dia telah kufur. Kecuali bila ia menghendaki bahwa yang ada diantara keduanya adalah sifat yang menetap pada Dzat Allah serta adanya lafadz lafadz yang kita baca merupakan yang baru ujudnya.

Lagi pula, bila dikatakan bahwa Al Qur’an itu baru, dikawatirkan adanya prasangka bahwa sifat yang menetap pada Dzat Allah itupun baru. Adapun hakikatnya, bahwa yang ditunjukkan melalui lafadz lafadz (yang kita baca) adalah bagian dari bukti akan sifat yang dahulu.

Mengenai dalil tetapnya sifat  kalam bagi Allah adalah firman :

وكلمالله موسى تكليما

“Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung(tanpa perantara)”

 

Artinya, Allah membuka tabir untuk Nabi Musa, lalu memberi pendengaran kepadanya agar beliau bisa menangkap Kalam yang Qodim.

 Di dalam kisahnya, setelah beliau. berdialog langsung dengan Allah, beliau selalu menutup telinganya agar tidak mendengar kalam mahluk lain (manusia). Karena pengaruh nikmat dari Kalam tersebut sepertinya beliau merasa jijik jika mendengar suara makhluk lain. Kebahagiaan yang beliau rasa membuat wajahnya berbinar binar bagai cahaya,  hingga tiada seorang pun yang menatap wajahnya kecuali ia menjadi buta. Karenanya beliau selalu menggunakan tutup muka hingga beliau wafat.

 Wallahu A’lam

M. Lu’luilmaknun

Pule, 19 Februari 2013

2 thoughts on “Mengenal Sifat Ma’ani

    Alumni

    (Februari 19, 2013 - 17:35)

    alhamdulillah… tulung nek menawi wonten wekdal, dipun jelasaken milai awal, tauhid dasar ngantos pembagian ma’ani nopo ma’nawiyyah, pangapuntene taksih radi awam masalah tauhid…. suwun….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.