Mencari Jejak Pencipta Tombo Ati

Syair tombo ati atau obat hati sudah menjelma menjadi tembang pop religi yang akrab di telinga kita. Orang yang berjasa mempopulerkannya tentu saja Emha Ainun Najib dan Opick. Tapi siapakah sesungguhnya pencipta tembang tombo ati?

 Tembang tombo ati sesungguhnya telah mengakar menjadi tembang rakyat. Ia senantiasa lestari dan diwariskan secara turun-temurun. Di surau-surau, tembang yang sarat makna itu juga biasa dilantunkan diantara adzan dan iqamah. Selain karena nadanya enak didengar dan mudah diingat, untaian liriknya juga mudah dipahami dan menyentuh di hati.

Tembang ini semakin populer sejak era akhir 1990-an. Ini terjadi setelah Emha Ainun Najib membawa tombo ati masuk ke dapur rekaman pada tahun 1999 dan kasetnya laris dijual di pasar. Melalui album berjudul Jaman Edan Cak Nun, sapaan akrabnya, memadukan tembang berbahasa Jawa ini dengan alunan shalawat dengan iringan perpaduan music tradisional dan modern.

Beberapa tahun kemudian, tembang ini semakin booming ketika penyanyi music religi Opick kembali membawa tombo ati ke dapur rekaman. Bedanya, Opick menyadurnya ke  dalam bahasa Indonesia dan mengiringinya dengan music pop dan melodi indah. Sehingga umat muslim di seluruh nusantaranya memberikan apresiasi. Kontan saja, tembang ini bak selebriti dengan tingkat popularitas yang cukup tinggi.

 

SUMBER INSPIRASI

Sebagai tembang rakyat yang diwariskan secara turun-temurun, tentu saja pencipta tombo ati bukanlah Cak Nun atau Opick. Tapi ia sudah meretas waktu hingga ratusan tahun, bahkan konon ribuan tahun yang lalu.

Untuk menelusuri siapakah pencipta tombo ati, ada beberapa versi yang perlu diungkapkan. Versi pertama, substansi tombo ati pada awalnya dirumuskan oleh oleh Sayid Ibrahim Khauwash dalam kitab At –Tibyan kemudian diperjelas lagi oleh ulama kelahiran Banten yang  kesohor di Jazirah Arab pada sekitar 1880 – an, yaitu Imam Nawawi Al – Banteniy dalam bukunya ‘’ Nasehat Penghuni Dunia’’.

Versi kedua, menyebut bahwa pencetus tombo ati adalah salah satu seorang wali songo yang berdakwah di pesisir pantai utara Pulau Jawa. Dialah Raden Maulana Makdum Ibrahim atau yang populer dengan gelar  Sunan Bonang. Dia adalah Putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila yang kini makamnya diyakini berada di Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Sunan Bonang dikenal dengan strategi dakwah yang mengajarkan Islam bergaya tasawuf dengan paduan seni. Ia menguasai ilmu fiqih, usuluddin, tasawuf, seni, sastra, dan arsitektur. Karena itulah Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk atau tembang tamsil. Salah satunya adalah tombo ati.

Karya Sunan Bonang berupa puisi, prosa dan tembang cukup banyak. Diantaranya sebagaimana disebut B Schrieke (1913), Purbatjaraka (1938), Pigeaud (1967), Drewes (1954, 1968 dan 1978) Ialah Suluk wijil, Suluk Kholifah, Suluk Regok, Suluk Bentur, Suluk Wasiyat, Suluk Ing Aewuh,s uluk Pipiringan, Suluk Jebeng dan lain – lain. Satu – satunya karangan prosanya yang dijumpai ialah Wejangan Seh Bari.  Risalah tasawufnya yang ditulis dalam bentuk dialog antara guru tasawuf dan muridnya ini telah di transkripsi, mula – mula oleh Schrieke dalam buku Het Boek van Bonang (1913) disertai pembahasan dan terjemahan dalam bahasa Belanda, kemudian disunting lagi oleh Drewes dan disertai terjemahan dalam bahasa Inggris yakni The Admonition of Seh Bari (1969).

Sedangkan Suluk Wijil ditranskripsi Purbatjaraka dengan pembahasaan ringkas dalam  tulisannya ‘’Soeloek Woedjil’’ : De Geheime leer van Soenan Bonang ‘’ ( Majalah Djawa no .3 -5,1938). Karya – karyanya itu tampak dipengaruhi kitab As – Shidiq karya Abu sa’id Al – Khayr ( wafat pada 899 ). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut.

Hal ini sebagaimana dilakukan oleh para ulama ahli tasawuf semisal Ibnu Arabi, Fariduddin  Attar, Jalaluddin Rumi serta Hamzah Fansuri.

Versi ketiga menyebutkan bahwa nasehat bijak itu diucapkan oleh seorang ulama   ahli ibadah, penceramah, dan tabib rohani di kota Naisabur, Iran. Nama ulama dan ahli ibadah tersebut adalah Yahya bin Mu’adz bin Ja’far ar – Razi atau biasa dipanggil dengan sebutan Abu Zakaria Ar – Razi.

Yahya bin Mu’adz ar – Razi  dilahirkan dikota Rai, ( sekarang bernama Teheran ), pada akhir Abad 2 H atau awal abad 3 H. Beberapa kesaksian tentang siapa Yahya bin Muadz diungkapkan oleh beberapa ulama. Ulama hadist dan sejarawan Islam, Imam Adz-Dzahabi berkata, ’’Yahya bin Muadz Ar- Razi, Abu Zakaria, seorang shufi dan arif  yang terkenal dan seorang pemberi nasehat. Ia adalah orang bijaksana pada zamannya.’’ ( Tarikhul Islam, 19/ 373). Ulama hadits dan sejarawan Islam, Imam Abu Nu’aim Al-Ashbahani berkata, ‘’seorang yang senantiasa memuji dan bersyukur kepada Allah, seorang yang seantiasa qana’ah dan sabar, seorang yang senantiasa berharap dan takut kepada Allah, Yahya bin Muadz, seorang pemberi nasehat dan peringatan.’’ ( Hilyatul Awliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’, 10/ 51).

Untaian-untaian nasehatnya  sangat indah, menggugah dan penuh hikmah. Salah satu nasehatnya tentang’’ lima obat penyakit hati’’. Keterangan ini terdapat dalam kitab Shifatus Shafwah ( 4/92) karya Ibnu Al Jauzi ( 597 H ). Ulama besar Madzhab Hanbali ini menulis biografi Yahya Bin Muadz Ar Razi dan mengungkapkan teks asli untaian hikmah itu :

دواء القلب خمسة اشياء, قراءة القران بالتفكر, وخلاء البطن وقيام الليل, والتضرع عند السحر  ومجالسة الصالحين

‘’Obat  penyakit hati itu ada lima perkara; membaca Al-Qur’an dengan merenungkan maknanya, berpuasa, shalat malam, meminta ampunan Allah di waktu sahur dan berteman dengan orang-orang shalih’’

Adanya tiga versi yang berbeda itu bisa dibilang sebagai sebuah kewajaran. Sebab, tradisi keilmuan di dunia Islam umumnya menggunakan sanad yang sambung- menyambung sebagaimana dalam periwayatan hadits. Karena itu, sangat mudah dipahami jika karya ulama yang satu dengan ulama yang lain cenderung memiliki kemiripan. M. Asyfiq Fazza az-Zuhal

2 thoughts on “Mencari Jejak Pencipta Tombo Ati

    zulfa

    (Maret 31, 2013 - 18:45)

    Mantaabbbb tulisannya…LANJUTKAAANNN !! Mas Zuhal..menulis dan menulis…

    azmi

    (Maret 31, 2013 - 18:52)

    Satu kata “toek” Mas zukhil….. SEMFURNA…. xexe….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *