Membina Rumah Tangga Sakinah Bag. 10

 KAJIAN HARI SELASA

MENUJU RUMAH TANGGA SAKINAH

 

UQUDULLIJEIN

(Untaian Kalung Perak)

KARYA: SYAIKH NAWAWI AL BANTANI AL JAWI

Penterjemah: Ngir Nini Aknah. Mlorah Rejoso Nganjuk Jawa Timur. Siswi Kelas IIITsanawiyyah Madrasah Salafiyyah Al Fattah Pule

 

Bagian 10: Menjelaskan KEWAJIBAN SUAMI TERHADAP ISTRI

 

Allah SWT berfirman:

 

الرجال قوامون على النساء بما فضل الله بعضهم على بعض وبما أنفقوا من أموالهم فالصالحات قانتات حافظات للغيب بما حفظ الله واللا تى تخافون نشوزهن فعظوهن واهجروهن في المضاجع واضربوهن فإن أطعنكم فلا تبغوا عليهن سبيلا

 

“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian harta mereka. Wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah dan suaminya yang memelihara diri ketika suami tidak berada di rumah, oleh karena Allah telah memelihara mereka. Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah dari tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaati kamu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya”. (QS. 4: 34)

 

Yang dimaksud kaum laki-laki sebagai pemimpin kaum wanita adalah suami memiliki kekuasaan untuk mendidik istri. Allah melebihkan laki-laki atas wanita karena kaum laki-laki (suami) memberikan harta kepada kaum wanita (istri) dalam pernikahan, seperti mas kawin dan nafkah.

 

Para ulama tafsir mengatakan bahwa keutamaan laki-laki atas kaum perempuan dapat dilihat dari dua segi, yaitu dari segi “hakiki” dan “syar’i”.

 

Pertama, dari segi hakiki atau kenyataannya, mereka melebihi perempuan antara lain dalam kecerdasan, kesanggupan melakukan pekerjaan berat dengan tabah, kekuatan fisik, kemampuan menulis, keterampilan menunggang kuda, banyak yang menjadi ulama dan pemimpin, pergi berperang, mengumandangkan adzan, membaca khutbah, melakukan salat Jum’at, melakukan i’tikaf, menjadi saksi dalam had, qishas, nikah dan sebagainya, memperoleh warisan dan ashobah lebih banyak, menanggung beban diyat, menjadi wali dalam nikah, mempunyai hak untuk menjatuhkan talak dan melakukan ruju’, mempunyai hak untuk berpoligami dan memegang garis keturunan (nasab).

 

Kedua, dari segi syar’i yaitu melaksanakan dan memenuhi haknya sesuai dengan ketentuan syara’, seperti memberikan mahar dan nafkah kepada istri. Demikianlah sebagaimana disebutkan dalam kitab az-Zawajir, karya Ibn Hajar.

 

Wanita-wanita yang shalihah dalam ayat tersebut adalah mereka yang taat kepada suami. Mereka melaksanakan kewajiban ketika suami tidak berada di rumah, menjaga kehormatan, serta memelihara rahasia dan harta suami sesuai ketentuan Allah, karena Allah telah menjaga dan memberikan pertolongan kepada mereka.

 

Bersambung ke bagian 11… Insya Alloh

 

Wallohua’lam bisshowab

Administrator

 Gubug Pule, 6 Agustus 2013 M

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *