Memakan Bukit(Gunung)

Oleh: Lailatul Fitriyyah (Masnauli, Sirandorung, SUMUT)

Syaikh Abu Laits as-Samarqondi adalah seorang ahli fiqih yang terkenal. Suatu ketika Beliau pernah berkata:

“Ayahku pernah bercerita, Bahwa para Nabi yang bukan Mursalin/Bukan diutus Alayhis-Salaam. Sebagian melihat/menerima wahyu dalam mimpi. Dan sebagian mendengar/menerima wahyu dengan suara.

Pada suatu hari, salah seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi dalam tidurnya, mendengar suara yang memerintahkan dirinya:

“Esok hari, Sesuatu yang pertama kau lihat, maka makanlah. Kedua: Sembunyikanlah. Ketiga: Terimalah. Keempat: Jangan engkau putuskan harapan. Dan yang kelima: Larilah engkau darinya”.

Maka keesokan harinya, Nabi itupun keluar dari rumahnya. Kebetulan yang pertama kali ia lihat (Hadapi) adalah sebuah bukit (gunung) yang besar berwarna hitam. Nabi itupun menjadi bingung.

Kemudian Beliau berkata, “Tuhan memerintahkan aku untuk memakan apa yang pertama kali aku lihat. Tapi yang kuhadapi saat ini adalah sebuah bukit (gunung) yang besar berwarna hitam? sungguh aneh. Tapi, tidak mungkin Tuhanku mengutusku melakukan yang tidak aku mampu” katanya dalam hati. Nabi itupun terus berjalan menuju bukit itu dengan tujuan memakan bukit itu. Ketika hampir mendekati bukit, tiba-tiba gunung itu mengecil, hingga sebesar roti. Dengan sedikit heran, Nabi itu pun mengambil roti tersebut dan dimakannya. Roti itu terasa lezat, nikmat dan manis. Bahkan lebih manis dari pada madu. Maka Nabi itupun mengucapkan syukur Alhamdulillah.

Kemudian Nabi itu pun meneruskan perjalanannya kembali, ia berjumpa dengan mangkuk yang terbuat dari emas. Nabi itupun berkata: “Aku diperintah menyembunyikan”. Maka Nabi pun menggali lubang, dan dipendamnya mangkuk emas itu di dalam tanah. Lalu meninggalkan tempat itu. Namun, berapa langkah kemudian Nabi itu melihat mangkuk emas tadi muncul lagi berada di atas tanah. Maka Nabi pun kembali mengubur benda itu, hingga 2 kali atau tiga kali. Kemudian Nabiitu pun berkata: “Sesungguhnya aku telah melaksanakan apa yang diperintahkan padaku”. Kemudian Nabi itu pun meneruskan perjalanannya.

Ketika Nabi sedang berjalan, dia melihat seekor burung elang mengejar burung kecil. Tiba tiba burung kecil itu berkata: “Wahai Nabi Allah, tolonglah aku”.
Mendengar rintihan burung kecil itu, Nabi pun langsung menolong burung tersebut, menangkapnya dan memasukkannya kedalam lengan bajunya.
Burung elangpun mendatanginya dan berkata: “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya aku lapar dan aku mengejar buruanku ini mulai pagi hari hingga aku ingin memangsanya, maka jangan putuskan harapanku dari rezekiku”.

Kemudian Nabi berkata dalam hatinya: “Sesungguhnya aku diperintahkan untuk menerima yang ketiga, dan aku menerimanya. Dan akupun diperintahkan untuk tidak membuat putus asa yang ke-Empat, sedang yang keempat adalah elang ini. Apa yang mustinya kukerjakan?!”.

Ketika Nabi dalam kebingungan, ia pun mengambil sebilah pisau dan memotong sebagian daging pahanya lalu melemparkannya kepada burung elang tersebut, hingga burung tadi menangkap dan memakan sepotong daging pahanya. Lalu Nabi melepaskan burung kecil itu, dan meneruskan perjalanan.

Kemudian Ia meneruskan perjalanan dan bertemu dengan bangkai yang berbau busuk dan Nabi pun lari dari bangkai tersebut.

Setelah sore hari Nabi pun berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah melaksanakan perintah-Mu. maka jelaskan kepadaku, apa rahasia dari semua ini”. Kemudian Nabipun bermimpi dalam tidurnya. Dijelaskan kepada Nabi:
“- Pertama yang kau makan adalah amarah yang seperti gunung. Akhirnya, ketika sabar dan menahannya akan lebih manis daripada madu.
– Yang kedua adalah orang yang beramal baik. Ketika orang itu menyembunyikannya, maka amal itu kelak akan terlihat juga.
– Yang ketiga apa yang diamanahkan padamu, jangan kau khianati.
– Yang keempat jika ada orang yang meminta bantuanmu, maka bantulah semampumu, meski kaupun juga butuh.
– Yang kelima menggunjing. Maka larilah engkau ( jauhilah) orang-orang yang menggunjing manusia (Karena seperti bangkai yang berbau busuk).
Wallahu A’lam.

Tanbihul Ghofilin hal. 61

WAllahu A’lam bis-Shawaab
Admin Web/FB AlFattah.
Semoga Bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.