Mas Yai Dan Santri Galau

“Anu Mas Yai…. Sebenarnya waktu liburan kemaren, fikiran saya menggunung, ibarat gunung berapi akan muntab! Sebab banyaknya ide-ide yang menggumpal dalam otak!” kata Santri Galau. Namun kemudian diselai helaan nafas panjang, “Tapi,,, ketika akan mengetik status. Fikiran yg membuncah itu, tiba-tiba lenyap! Sebab ternyata di beranda dipenuhi dengan status keren-keren! Ilmunya begitu luar biasa! Saya bingung Mas Yai. Saya merasa kerdil dihadapan mereka-mereka yg begitu mumpuni, Ahhhh,,,,” desahnya panjang.

“Lalu?!” saut Mas Yai damai, sambil makan pisang ulin.

“Yaa saya tetep nekat posting status seperti yg Njenengan wejangkan dulu; agar mengisi waktu liburan dengan baik, kalautoh kamu suka main fesbuk, isi statusmu dengan kitab2 yg telah kau pelajari”.

“Dan kamu buat status tentang kitab, gitu?!” respon Mas Yai dengan tetap makan pisang ulin ketiganya.

“Glek!! Hihi… Tidak…”.

“Lha terus?!”.

“Yaa saya ngawur saja dengan status yg blass gak ada isi kitabnya. Seperti: Ahhh tidur lagiii, Ahhhhh,,,,. Atau, ‘Mari Makaaaaaannnnn….’, kadang-kadang, ‘Duh jelitanya si dia, akankah aku yg hina ini akan diliriknya, seperti pungguk merindukan bulan’. Lha gimana Mas Yai?! Lawong yg posting kebaikan sudah berjibun dan alim-alim. Saya ini apaaahh?! Alfiyah saja ditarget 150 bait masih mbuleeettt…”.

Tiba-tiba, Mas Yai beranjak dari tempat duduknya. Lalu berjalan ke depan pintu rumahnya. Kemudian berpaling sambil melambaikan tangannya:

“Gall… Sini….”.

Tergopoh-gopoh Santri Galau berdiri mendekati gurunya. Lalu sang guru menggamit tangannya:

“Idih… Apaan sih Mas Yai ini?!”.

“Hush cerewet! Ikuti langkahku…!”.

Mak cling! Tiba-tiba mereka berada di tanah tandus dan panas terik serta kanan kiri seperti pegunungan namun berupa batu, iya pegunungan batu!

Santri Galau yang clingak-clinguk bingung, bertanya tergagap:

“In nii… Did dim mmaa nnnaaa Mas Yyyyaa iiii?!”.

“Mekkah! Lereng gunung Gua Tsur!”.

“Heeeeeee!!! Emmm Mekkaaahhhh?!”.

“Hayo kita naek!”.

“Injih,,, injiiihhh,,,,”.

Santri Galau dengan keheranan luar biasa, berjalan tertunduk, sesekali memandang sosok orang yg didepannya. “Masak ini Mas Yai yg kukenal?! Yang slengekan itu?! Yang biasanya mletaki aku?!” batinnya berkecamuk antara percaya dan tidak, “Indonesia Mekkah?! mak cling?! Gak pake pesawat atau kendaraan lainnya?! Masak ini Mas Yai?!”.

Keheranannya memudar ketika jalanan yang masih berupa pahatan tangga batu itu semakin panjang dan tidak sampai-sampai. Ia mulai mengeluh ketika mendongak keatas, jalanan begitu panjang, banyak orang yang naik bersamaan dengan mereka berdua. Dan mereka bersambung-sambung panjang sekali sampai puncaknya tidak kelihatan!.

“Haduuuhhhh,,,, capek Mas Yaii…. Istirahat dulu yaaa….” Keluhnya melawan keheranannya.

Dengan senyum seperti biasanya, Mas Yai menengok Santri antiknya itu, “Iya sudah,,, Istirahat sebentar di bawah batu besar itu ya…” Sambil menyerahkan sebotol Aqua yang entah kapan Mas Yai membawanya.

“Injih,,, injih,,,, glek glek glek,,,”. Kemudian Santri Galau hanya diam mematung, sesekali curi pandang pada gurunya yg tampak seperti biasanya, senyam-senyum.

“Hayo Gall,,, Naek lagi… Masih jauh…”.

“Injihhh,,,,”

Keduanya lalu melanjutkan perjalanan naek gunung berbatu itu. Santri Galau yang selalu melihat keatas ingin tahu kapan akhir perjalanan itu payah luar biasa. Berkali-kali ia minta berhenti, dan entah berapa botol Aqua di lahapnya. Dan anehnya Mas Yai tetep saja punya stok air. Sedang Mas Yai tetap kelihatan bugar, sebab Beliau kalau berjalan menunduk seakan melihat kedua kakinya. Beda dengan Santri Galau yang melihat keatas saja!.

Diantara kepayahan yg luar biasa, mendadak santri Galau berteriak kegirangan.
Ternyata di antah berantah itu ada warung! Dan yang lebih menyenangkannya, disitu ada banyak makanan ringan, mulai mie instan dan lainnya, bahkan ada kopinya juga!.

Ditengah nyamuk-nyamuknya melahap jajanan yang sudah dibayar Mas Yai. Ia iseng bertanya pada pemilik warung yang arab tulen!.
Mas Yai yang meliriknya menahan tawa. Sebab Santri Galau yang tidak faham bahasa arab, terlebih yang suuqiyah; pasaran, begitu pede bertanya-tanya dengan bahasa Tarzan! Main tunjuk sana-sini dengan kode-kode tangan yang menggelikan. Sesekali Mas Yai mendengarnya berteriak kaget, “Apa?! Astaghfirullah….”. Dan disauti kalem oleh penjaga warung itu, “Sabru Ya Jawaaa,,, Shabruuuuu….”.

Setelah selesai bercakap-cakap ia mendekati Mas Yai.

“Waduh,,, ternyata masih jauh perjalanan ke Gua Tsur Mas Yaii… Katanya ini masih setengah perjalanan! Saya nggak kuat Mas Yai… Saya nggak kuaaattt huuu huu hhuuuu….”.

“He.. He… He…. Kamu kuat Gall… Yakin saja…”.

“Tapi… Tapi…”.

“Sudaaahh,,, Ayo berangkat lagi”.

Dengan ogah-ogahan dia beranjak dari tempat duduknya. Namun, sebelum berangkat Mas Yai berpaling padanya dan berkata:

“Kalau jalan, jangan mendongak terus. Nunduk! Lihat tangga di depan kakimu atau kamu bisa lihat kakimu saja. Insya Allah kamu akan cepat sampai dan tidak begitu lelah…”.

“Injih,,” jawabnya singkat.

Dan benar! Selama perjalanan yg ditempuh, kedua manusia yang berjalan menunduk itu, tidak pernah satu kalipun berhenti! Padahal jarak yang ditempuh sama jauhnya antara lereng gunung dan warung lesehan itu. Hingga tanpa sadar Santri Galau terantuk batu yang merupakan pondasi dari sebuah warung!.

“Loh?! Ada warung lagi?!” batin Santri Galau kaget. Lalu dia mendongak, dan bibirnya bergetar lirih karena melihat goa kecil dengan tulisan seadanya di pintu goa, “Subhanallah,,, Allahu Akbar…. Gua Tsur?!”.

Mas Yai yang mendengar bisik lirihnya, tersenyum simpul dan berkata:

“Hayo,,, cepet masuk, mumpung sepi…”.

Lalu keduanya masuk dan berdoa lama sekali, sesekali Santri Galau mengguguk bahagia, karena bisa sampai di tempat ini dan terkenang betapa beratnya dulu Baginda Nabi Shalallahu Alayhi Wasallama menempuh perjalanan sampai disini dengan medan yang begitu berat! Belum lagi kejaran kaum musyrikin pencari nyawa mulianya!.

“Alhamdulillaaaahhhh,,,,” sambil berbisik ke Santri Galau, “Kita keluar yuk…”.

Setelah keluar, Mas Yai mengajak Santri Galau marung dulu di warung depan Gua Tsur. Keduanya berdiam diri sambil menikmati semilir angin yang seakan menghibur perjalanan mereka. Dengan menyodorkan uang sepuluh reyal yang entah darimana Mas Yai mendapatkannya, Beliau menyuruh Santri Galau membeli tasbih buwesar-besar. “Untuk kenang-kenanganmu Gall” katanya.

Lalu, sambil menggamit tangan Santri Galau, “Sudah cukup… Mari Gall…”.

Santri Galau yang tidak begitu faham apa yg dimaksud gurunya, hanya diam mengangguk.

Dan kemudiannnn…. Seperti ada angin sepoi yang membuatnya nyaman. Sedetik diantara sadar dan tidak… Mak Zeeessses Cling!!.

Tiba-tiba kedua manusia itu kembali lagi kedepan nDalem mungil Mas Yai.

“Waaa!!! Kok sudah disini lagi?!” kaget Santri Galau. Mas Yai hanya senyam-senyum dan menggelandang Santri Galau yang menenteng tasbih raksasa duduk di ruang tamu.

“Kamu sudah faham?!” tanya Mas Yai kalem.

Sambil manggut-manggut, dipungkasi mringis kuda, “Bee luuummm Mas Yai heeeee….”.

“Gustiiii,,, nyuwun ngapuro….” gedeg-gedeg Mas Yai melihat murid terkasihnya ini, lalu dengan sabar Beliau mulai menerangkan:

“Kamu tidak berani buat status fesbuk sebab silau dengan kealiman orang-orang di fesbuk kan?!”.

“Hum.. hum… Injih”.

“Kamu ingat tidak perjalanan kita di Gua Tsur tadi?!”.

Santri Galau mengangguk sambil memijiti kakinya yg masih krenyeng-krenyeng.

“Ketika kamu berjalan sambil mendongak keatas dan melihat banyak orang serta begitu tingginya hingga belum nyampai-nyampai. Kamu berasa mudah lelah kan?! (Anggukan Santri Galau membenarkan dawuh gurunya). Tapi ketika setelah dari warung tengah jalan, kamu kusuruh berjalan menunduk, bukankah kita cepat sampai di Gua Tsur dan dan tidak begitu ada rasa lelah bukan?!”.

“Injih Mas Yai…”.

“Nah, begitulah kalau kamu yang sekarang ini terlalu memandang orang yg punya kealiman diatasmu! Kamu akan bingung, keki, tidak percaya diri! Padahal dulu kan pernah kukatakan; jangan mudah merasa heran! Mereka itu juga manusia biasa yang sama-sama makan nasi seperti kita, lagian kamu kan nggak tahu, mereka itu beneran pinter atau main copas sana-sini kan?! Lawong untuk mengetahui kecerdasan asli seseorang itu perlu waktu lama. Lha kalau kamu sudah merasa putus asa dan menyerah, kamu akan punya hati kecil, mau buat status tidak berani. Iya, kalau hanya tidak berani tapi tetep mau belajar untuk mengejar ketertinggalanmu. Tapi kalau kamu sudah nyerah dan berhenti belajar kan bahaya?! Padahal secara umur dan tempat, kamu masih sangat mungkin mengejar ketertinggalanmu.

Namun, kalau kamu fokus pada dirimu sendiri, melihat kekuranganmu, terus belajar, dan menjadikan pembuatan status sebagai salah satu uji coba sebatas mana keilmuanmu, dan kalau nanti ada yang salah, tinggal melakukan pembenahan. Maka, tanpa sadar, Insya Allah dengan cepat kamu akan sejajar dengan mereka! Sudah terbukti itu.

Tapi ingat Gall,,,, selain uji coba sebatas mana kelimuanmu, harus kamu utamakan belajar ikhlas Lillahi Ta’ala, tanamkan dalam hatimu semoga bisa mengamalkannya, walaupun menurut Imam Hasan Bashri termasuk mengamalkan ilmu adalah dengan mengajarkannya yang kalau dalam dunia maya kita kenal dengan istilah memberikan khabar pada para netizen”.

Melihat Santri Galau yang memandangnya seakan tanpa kedip seperti terkagum-kagum penuh ta’dlim, Mas Yai menggodanya lagi.

“Woi! Faham gak?!”.

Jenggirat! “Waik! Injih Mas Yaiiiii,, Injiiiihhhhhh,,, xixi”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.