Majlis Dzikir TAHLIL bagian Satu

باب ما جاء من (1) التهليل وما يتعلق بمجالسة القوم

“Bab menjelaskan Tahlil dan Hal-hal yang berkaitan dengan berkumpulnya manusia”

 

فصل فيما جاء من فضل التسبيح والتكبير والتهليل والتحميد

“Fasal Yang menerangkan sebagian keutamaan Tasbih, Takbir dan Tahmid”

الحديث الحادي والعشرون:

(2) حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِى زِيَادٍ أخبرنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِى بَكْرٍ السَّهْمِىُّ عَنْ حَاتِمِ بْنِ أَبِى صَغِيرَةَ عَنْ أَبِى بَلْجٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا عَلَى الأَرْضِ أَحَدٌ يَقُولُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ. إِلاَّ كُفِّرَتْ عَنْهُ خَطَايَاهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ. وَرَوَى شُعْبَةُ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ أَبِى بَلْجٍ بِهَذَا الإِسْنَادِ نَحْوَهُ وَلَمْ يَرْفَعْهُ, وَأَبُو بَلْجٍ اسْمُهُ يَحْيَى بْنُ أَبِى سُلَيْمٍ وَيُقَالُ ابْنُ سُلَيْمٍ أَيْضًا.

 

Artinya: Dari Sahabat Abdillah bin Umar, beliau berkata: “Rosululloh SAW. Bersabda”: ”Tiada seorang di muka bumi yang mengucapkan

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

kecuali dosanya diampuni, walaupun (banyaknya) seperti busa samudra”.

 

الحديث الثاني والعشرون:

(3) حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ عِيسَى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْفُضَيْلِ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ الْقَعْقَاعِ عَنْ أَبِى زُرْعَةَ بْنِ عَمْرِو بْنِ جَرِيرٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ ». قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ صَحِيحٌ.

 

Artinya: Dari Sahabat Abi Hurairoh RA., beliau berkata: “Rosululloh SAW., bersabda”: ”Dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan amal dan yang di senangi Alloh sang maha pengasih adalah: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

 

فصل فيما جاء من فضل الذكر والصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم عند مفارقة المجلس

“Fasal Yang menerangkan sebagian keutamaan Dzikir dan bacaan Sholawat waktu bubarnya majlis”

الحديث الثالث والعشرون:

(4) ما اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي مَجْلِسٍ فتفرقوا منه ولَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ, وَيُصَلُّوا عَلَى النبي صلى الله عليه وسلم, إلَّا كَانَ مجلسهم تِرَةً عَلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.(حم حب) عن أبي هريرة (صح)

Artinya: Rosululloh SAW., bersabda:”Tiadalah Kaum yang berkumpul di majlis kemudian bubar dan tidak melakukan dzikir kepada Alloh, tidak membaca sholawat kepada nabi, kecuali majlis tersebut menimbulkan penyesalan di hari kiamat”

فصل فيما جاء في القوم الذين يجلسون فيذكرون الله ما لهم من الفضل

“Fasal Yang menerangkan sekumpulan orang yang duduk kemudian berdzikir kepada Alloh, Yakni keutamaan bagi mereka”

الحديث الرابع والعشرون:

(5) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا أخبرنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِىٍّ أخبرنا سُفْيَانُ عَنْ أَبِى إِسْحَاقَ عَنِ الأَغَرِّ أَبِى مُسْلِمٍ أَنَّهُ شَهِدَ عَلَى أَبِى هُرَيْرَةَ وَأَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ «(6) مَا مِنْ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلاَّ حَفَّتْ بِهِمُ الْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ ». هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.

Artinya: Sahabat Abi Hurairoh RA., dan Sahabat Abi Said Al Khudriyyi RA,. bersaksi bahwa Rosululloh SAW. bersabda: ”Tiadalah dari sekumpulan manusia yang melakukan dzikir kepada Alloh, kecuali malaikat mengelilingi mereka, memberikan rahmat, ketenangan hati menyelimuti mereka dan Alloh menuturkan (keberadaan) mereka ke mahluk yang di sampingNYA”

 (1) (2) سنن الترمذى – (ج 5 / ص 171-172) طه فوتر

(2) سنن الترمذى – (ج 5 / ص 174-175) طه فوتر

(4) فيض القدير – (ج 5 / ص 523) دار الكتب العلمية

وفي فيض القدير – (ج 5 / ص 523) أيضا

قوله (ما اجتمع قوم في مجلس فتفرقوا منه ولم يذكروا الله) عقب تفرقهم (و) لم (يصلوا على النبي صلى الله عليه وسلم إلا كان مجلسهم ترة عليهم يوم القيامة) أي حسرة وندامة لأنهم قد ضيعوا رأس مالهم وفرقوا ربحهم وفي هذا الخبر وما قبله أن ذكر الله والصلاة على نبيه سبب لطيب المجلس وأن لا يعود على أهله حسرة يوم القيامة. (حم حب عن أبي هريرة) رمز المصنف لصحته

Dalam hadist ini menurut imam al Munawi menunjukkan bahwa dzikir kepada Alloh, sholawat kepada nabi menjadi sebab “harumnya” sebuah majlis dan pada hari kiamat tiada penyesalan bagi orang yang mengikuti majlis (Faidlul Qodir juz 5 hal: 523).

(5) سنن الترمذي الجزء الخامس ص: 128  طه فوتر

(6) وفي فيض القدير – (ج 5 / ص 630) دار الكتب العلمية

(ما من قوم يذكرون الله) أي يجتمعون لذكره بنحو تسبيح وتحميد وتهليل وتلاوة وعلم شرعي.

Dalam faidlul qodir juz 5 hal 128, Syaikh munawi menjelaskan hadist “tiadalah dari sekumpulan manusia yang melakukan dzikir kepada Alloh” dengan: sekumpulan manusia yang melaksanakan dzikir kepada Alloh dengan membaca tasbih (سبحان الله), tahmid (الحمد لله), tahlil (لا إله إلا الله), membaca alqur’an dan mendiskusikan Ilmu agama.

DIAMBILKAN DARI KITAB ARBAIN AL FATTAH

Bersambung ke Majlis Dzikir TAHLIL bagian Dua

Sie Pendidikan PP. AL FATTAH

Rabu. 6 Maret 2013

7 thoughts on “Majlis Dzikir TAHLIL bagian Satu

    lasykar

    (Maret 6, 2013 - 13:19)

    Praktik Bid’ah Hasanah para Sahabat Setelah Rasulullah Wafat

    Para sahabat sering melakukan perbuatan yang bisa digolongkan ke dalam bid’ah hasanah atau perbuatan baru yang terpuji yang sesuai dengan cakupan sabda Rasulullah SAW:

    مَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ اَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا

    Siapa yang memberikan contoh perbuatan baik dalam Islam maka ia akan mendapatkan pahala orang yang turut mengerjakannya dengan tidak mengurangi dari pahala mereka sedikit pun. (HR Muslim)

    Karena itu, apa yang dilakukan para sahabat memiliki landasan hukum dalam syariat. Di antara bid’ah terpuji itu adalah:

    a. Apa yang dilakukan oleh Sayyidina Umar ibn Khattab ketika mengumpulkan semua umat Islam untuk mendirikan shalat tarawih berjamaah. Tatkala Sayyidina Umar melihat orang-orang itu berkumpul untuk shalat tarawih berjamaah, dia berkata: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”.

    Ibn Rajar al- Asqalani dalam Fathul Bari ketika menjelaskan pernyataan Sayyidina Umar ibn Khattab “Sebaik-baik bid’ah adalah ini” mengatakan:

    “Pada mulanya, bid’ah dipahami sebagai perbuatan yang tidak memiliki contoh sebelumnya. Dalam pengertian syar’i, bid’ah adalah lawan kata dari sunnah. Oleh karena itu, bid’ah itu tercela. Padahal sebenarnya, jika bid’ah itu sesuai dengan syariat maka ia menjadi bid’ah yang terpuji. Sebaliknya, jika bid’ah itu bertentangan dengan syariat, maka ia tercela. Sedangkan jika tidak termasuk ke dalam itu semua, maka hukumnya adalah mubah: boleh-boleh saja dikerjakan. Singkat kata, hukum bid’ah terbagi sesuai dengan lima hukum yang terdapat dalam Islam”.

    b. Pembukuan Al-Qur’an pada masa Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq atas usul Sayyidina Umar ibn Khattab yang kisahnya sangat terkenal.

    Dengan demikian, pendapat orang yang mengatakan bahwa segala perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah adalah haram merupakan pendapat yang keliru. Karena di antara perbuatan-perbuatan tersebut ada yang jelek secara syariat dan dihukumi sebagai perbuatan yang diharamkan atau dibenci (makruh).

    Ada juga yang baik menurut agama dan hukumnya menjadi wajib atau sunat. Jika bukan demikian, niscaya apa yang telah dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar sebagaimana yang telah dituliskan di atas merupakan perbuatan haram. Dengan demikian, kita bisa mengetahui letak kesalahan pendapat tersebut.

    c. Sayyidina Utsman ibn Affan menambah adzan untuk hari Jumat menjadi dua kali. Imam Bukhari meriwatkan kisah tersebut dalam kitab Shahih-nya bahwa penambahan adzan tersebut karena umat Islam semakin banyak. Selain itu, Sayyidina Utsman juga memerintahkan untuk mengumandangkan iqamat di atas az-Zawra’, yaitu sebuah bangunan yang berada di pasar Madinah.

    Jika demikian, apakah bisa dibenarkan kita mengatakan bahwa Sayyidina Utsman ibn Affan yang melakukan hal tersebut atas persetujuan seluruh sahabat sebagai orang yang berbuat bid’ah dan sesat? Apakah para sahabat yang menyetujuinya juga dianggap pelaku bid’ah dan sesat?

    Di antara contoh bid’ah terpuji adalah mendirikan shalat tahajud berjamaah pada setiap malam selama bulan Ramadhan di Mekkah dan Madinah, mengkhatamkan Al-Qur’an dalam shalat tarawih dan lain-lain. Semua perbuatan itu bisa dianalogikan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW dengan syarat semua perbuatan itu tidak diboncengi perbuatan-perbuatan yang diharamkan atau pun dilarang oleh agama. Sebaliknya, perbuatan itu harus mengandung perkara-perkara baik seperti mengingat Allah dan hal-hal mubah.

    Jika kita menerima pendapat orang-orang yang menganggap semua bid’ah adalah sesat, seharusnya kita juga konsekuen dengan tidak menerima pembukuan Al-Qur’an dalam satu mushaf, tidak melaksanakan shalat tarawih berjamaah dan mengharamkan adzan dua kali pada hari Jumat serta menganggap semua sahabat tersebut sebagai orang-orang yang berbuat bid’ah dan sesat.

    Dr. Oemar Abdallah Kemel

    Ulama Mesir kelahiran Makkah al-Mukarromah

    Dari karyanya “Kalimatun Hadiah fil Bidah” yang diterjemahkan oleh PP Lakpesdam NU dengan “Kenapa Takut Bidah?”
    Semoga ASWAJA semakin Istiqomah dan mantab ditengah badai fitnah amin amin amin….

    Rekza

    (Maret 6, 2013 - 14:44)

    alhamdllh., yg di tggu2 d psting jg. Tq

    azmi

    (Maret 6, 2013 - 16:51)

    alhamdulillah…. semoga jam-iyyah nahdlotul ulama tambah kokoh. Al hamdulillah di desa pelem warujayeng tanjunganom sekitarnya tahlil sangat semarak. On time. Jam 6 tet. Semoga mudawamah….. amin amin amin….

    zulfa

    (Maret 6, 2013 - 18:49)

    Saat ini kelompok2 yg “suka” membid’ahkan segala sesuatu yg tdk dicontohkan oleh kanjeng nabi sangat buanyak. Terkadang gerakan mereka jauh lbh cepat daripada gerakan kita. mereka masuk ke kelompok2 pengajian, ke kampus2 dsb. Mereka cukup cerdas menyampaikan argumen2 ketika menuduh org lain melakukan hal yg tdk sesuai dg sunah nabi, hingga yg mendengarkan pun percaya dan trbujuk dg argumen mereka.
    Kita perlu membuat lbh buuuanyak pos2 aktifitas utk membentengi masyarakat saat ini yg trlalu gampang menuduh org lain. Asal ada perbuatan yg tdk dicontohkan kanjeng nabi..langsung di Cap Bid’ah..

    Menawi dipun angen2, jaman kanjeng nabi mboten wonten pesawat, mboten wonten laptop, mboten wonten internet…lha jaman sak niki semua org online..lak bid’ah sedanten..
    berarti menawi ingkang mboten bid’ah..tindak dateng Al Fattah saking Jakarta numpak unto..amergi kanjeng nabi tindakan nitih unto..

    zuhal adenine

    (Maret 6, 2013 - 19:52)

    betul mbak zulfa setujuuuuuu…… walaopun terlambat lebih baek dr pd tidak.

    azmi

    (Maret 6, 2013 - 21:31)

    Pesawat dan lainnya menurut yg tdk stuju dgn bid-ah hasanah, dikatakan bid’ah dun-yawi dan hal yg terkait dgn agama dikatakan maslahah mursalah. TP YG MENJADI PERTANYAAN YG MENDASAR ADALAH APAKAH NABI PERNAH MEMBAGI BIDAH DUNYAWI DAN ADAKAH HADIST LETTERLUX TENTANG MASLAHAH MURSALAH SERTA SIAPA YG MENENTUKAN MASLAHAH MURSALAH? belum lg kejanggalan yg seabreg tentang konsep mereka. Mestinya kalau kita mendalami eksistensi hadist ikhtilafu ummati secara mendalam. Insya alloh ini tdk terjadi. Wallohu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.