Majlis Dzikir TAHLIL bagian Empat (Tamat)

Lanjutan Bagian Tiga

(-) kalau dalam tahlil di selipi Bacaan Al Barzanzi, mereka mengatakan bahwa kitab barzanji adalah karangan orang syiah, padahal kitab barzanji adalah karangan Ulama Ahlussunnah waljamaah dengan dasar sbb:

(+) Ulasan Al Barzanji Bukan Karangan Ulama Syiah: Al-Barzanji sebagaimana diungkapkan oleh Habib Sholeh bin Idrus al Habsyi serta oleh Syekh Abdul Hayyi al-Kattani ditulis oleh Sayyid Ja’far bin AbdulKarim: “Syaikh al-Barzanji al-Husaini al-Madany, beliau adalah seorang ulama besar Syafiiyyah, bertarekat Qodiriyyah dan pernah menjadi mufti di Madinah pada zaman Bani Usmaniyyah berkuasa”, dalam hal ini Habib Sholeh  mengatakan:

لأن مؤلفه (أي البرزنجي) السيد جعفر البرزنجي أكبر شخصيات ذلك العصر في التشريع الشيعي وهذا خطاء مبين لأنه من أهل السنة والجماعة مفتي الشافعية, ولد بالمدينة المنورة وأخذ عن والده والشيخ محمد حياة السندي وأجازه السيد مصطفى البكري….

Artinya: “(menurut mereka) sesungguhnya pengarang al Barzanji, Sayyid Ja’far al Barzanji termasuk ulama besar pada waktu itu yang mengikuti faham Syiah, Ini adalah kesalahan yang sangat jelas, karena beliau adalah termasuk ulama ahlu sunnah waljama’ah dan merupakan mufti Syafi’iyyah, lahir di Madinah Al Munawwaroh berguru kepada orang tua beliau sendiri, Syaikh Hayat al Sindi dan mendapat Ijazah dari Sayyid Musthofa al-Bakri”

Beliau Sayyid Ja’far wafat pada tahun 1177 H, beliau adalah termasuk ulama yang kreatif menulis diantaranya adalah “al-Barr al’Ajil” yang mendapat persetujuan dari Syekh Muhammad Ghofil, “Fath al-Rahman” yang mendapat persetujuan Sayyid Ramadhan, terkhusus masalah Maulid karya beliau adalah “’Aqd al-Jauhar fii Maulid al-Naby al-Azhar”, sejarah kitab kemudian diberikan syarah oleh beberapa ulama setelahnya dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa,diantaranya oleh Sayyid Ja’far bin Ismail al-Barzanji al-Madany berupa “al-Kaukab al-Anwar ‘Alaa ‘Aqd al-Jauhar fii Maulid al-Naby al-Azhar”, yang ditulis 1279 H, kemudian seorang ulama Malikiyyah dari Mesir yaitu Syekh Mohammad bin Ahmad ‘Alisy al-Maliki al-Azhary dengan judul kitab “Al Qoul al-Munjy ‘Alaa Maulid al-Barzanjy”, kitab yang disusun oleh Sayyid Ja’far yang awal kemudian di jadikan dalam bentuk susunan nadzam oleh salah seorang keturunanya yaitu Sayyid Zainal Abidin bin Mohammad al-Hadi bin Zainal Abidin bin Ja’far al-Barzanjiy.

Kitab terakhir tersebut akhirnya ditulis dan di beri syarakh oleh ulama Nusantara (Indonesia, Malaysia, Pattani, Tumasik) yaitu Syekh Mohammad Nury al-Jawy (dalam literatur arab pengarang di daerah Nusantara sering disebut al-Jawy), dalam hal ini Syekh Mohammad Nury al-Jawy mengungkapkannya dalam sebuat tulisan berikut:

 ولنا سند عجيب متصل بمولد البرزنجي من داعي سليل شيخنا عالم المدينة المنورة الشهاب احمد بن اسماعيل ابن زين العابدين بن محمد الهادي بن زين العابدين ابن السيد الجعفر البرزنجي مسلسلا بالأباء عن ابيه زين العابدين عن ابيه محمد الهادي عن ابيه زين العابدين عن ابيه مؤلفه وبهذا السند اروي نظمة المذكور السيد زين العابدين و اروي شرحه الكوكب الأنوار عن شيخنا بدر الحجاز السيد حسين بن محمد بن حسين الحبشي الباعلوي المكي عن مؤلفه السيد جعفر البرزنجي المتوفى بالمدينة المنورة.

Artinya: “Dan kami mempunyai sanad menakjubkan yang bersambung dengan (pengarang) Maulid al Barzanji, dari orang-orang yang mengajak (mengetahui) silsilah guru kita yang menjadi orang Alimnya Madinah Al Munawwaroh yakni (Syaikh) Syihab Ahmad bin Ismail bin Zainal Abidin bin Muhammad Al Hadi bin Zainal Abidin bin Sayyid Ja’far Al Barzanji yang di sambungkan dengan para orang tua dari ayahnya yakni Zainal Abidin dari ayahnya ykni Muhammad Al Hadi dari ayahnya yakni Zainal Abidin dari ayahnya yakni pengarang al Barzanji, dan dengan sanad ini saya meriwayatkan nadzoman yang telah disebut (dari) Sayid Zainal Abidin, dan saya meriwayatkan Sarah Barzanji, Al Kaukabul Anwar dari guru kami yang menjadi rembulan tanah Hijaz Sayid Husain bin Muhammad bin Husain Al Habasyi Al Ba’alawi Al Makkiy dari pengarang al Barzanji Sayid Ja’far al Barzanji yang meninggal di Madinah Munawwaroh.”

Berdasarkan hal tersebut sungguh salah apabila tuduhan selama ini bahwa kitab al-Barzanji merupakan kitab dari faham Syi’ah:

Lihat keterangan komplit dalam:

Al- Maraqi, Abi Luthf al-Hakim Muslih bin Abdur Rahman, Nur al-Burhany , Graha Toha Putera, Semarang, 1383 H. (lebih di kenal dengan kitab Manaqib syaikh Abdul Qodir Al Jailany)

Al-Kattany, Abdul Hayyi, al-Syekh ,al-Ta’lif al-Maulidiyyah, Maktabah al-Kattani, Iskandariyah, Mesit, tt.

 

(-) Tahlilan bertentangan dengan Atsar (pendapat) Sahabat.

Sebagian golongan ada yang mengatakan tahlilan bertentangan dengan Atsar Sahabat

سنن الدارمى الجزء الأول ص: 234

أَخْبَرَنَا الْحَكَمُ بْنُ الْمُبَارَكِ أَنْبَأَنَا عَمْرُو بْنُ يَحْيَى قَالَ سَمِعْتُ أَبِى يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: كُنَّا نَجْلِسُ عَلَى بَابِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَبْلَ صَلاَةِ الْغَدَاةِ, فَإِذَا خَرَجَ مَشَيْنَا مَعَهُ إِلَى الْمَسْجِدِ, فَجَاءَنَا أَبُو مُوسَى الأَشْعَرِىُّ فَقَالَ: أَخَرَجَ إِلَيْكُمْ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ بَعْدُ؟ قُلْنَا: لاَ, فَجَلَسَ مَعَنَا حَتَّى خَرَجَ, فَلَمَّا خَرَجَ قُمْنَا إِلَيْهِ جَمِيعاً, فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنِّى رَأَيْتُ فِى الْمَسْجِدِ آنِفاً أَمْراً أَنْكَرْتُهُ, وَلَمْ أَرَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ إِلاَّ خَيْراً. قَالَ: فَمَا هُوَ؟ فَقَالَ: إِنْ عِشْتَ فَسَتَرَاهُ – قَالَ – رَأَيْتُ فِى الْمَسْجِدِ قَوْماً حِلَقاً جُلُوساً يَنْتَظِرُونَ الصَّلاَةَ, فِى كُلِّ حَلْقَةٍ رَجُلٌ, وَفِى أَيْدِيهِمْ حَصًى فَيَقُولُ: كَبِّرُوا مِائَةً, فَيُكَبِّرُونَ مِائَةً, فَيَقُولُ: هَلِّلُوا مِائَةً, فَيُهَلِّلُونَ مِائَةً, وَيَقُولُ: سَبِّحُوا مِائَةً فَيُسَبِّحُونَ مِائَةً. قَالَ: فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ؟ قَالَ: مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئاً انْتِظَارَ رَأْيِكَ أَوِ انْتِظَارَ أَمْرِكَ. قَالَ: أَفَلاَ أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لاَ يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِهِمْ. ثُمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلْقَةً مِنْ تِلْكَ الْحِلَقِ, فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ فَقَالَ: مَا هَذَا الَّذِى أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ؟ قَالُوا: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَصًى نَعُدُّ بِهِ التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيحَ. قَالَ: فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لاَ يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَىْءٌ, وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ, هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ, وَالَّذِى نَفْسِى فِى يَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِىَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ, أَوْ مُفْتَتِحِى بَابِ ضَلاَلَةٍ. قَالُوا: وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ. قَالَ: وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ, إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حَدَّثَنَا أَنَّ قَوْماً يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ, وَايْمُ اللَّهِ مَا أَدْرِى لَعَلَّ أَكْثَرَهُمْ مِنْكُمْ. ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ, فَقَالَ عَمْرُو بْنُ سَلِمَةَ: رَأَيْنَا عَامَّةَ أُولَئِكَ الْحِلَقِ يُطَاعِنُونَا يَوْمَ النَّهْرَوَانِ مَعَ الْخَوَارِجِ. إتحاف 13026

Artinya: Mengkhabarkan kepadaku Hakam bin Mubarrok, menceritakan kepadaku Amrun bin Yahya, beliau berkata: Aku mendengar Ayahku berbicara dari Ayahnya, beliau berkata: Kami duduk di depan pintu Sahabat Abdillah bin Mas’ud sebelum sholat pagi, pada waktu beliau keluar rumah kami berjalan bersamaan ke masjid, kemudian Imam Abu Musa Al Asy’ari mendatangi kami, beliau berkata: “Apakah Abu Abdirrohman (Nama lain Sahabat Abdillah bin Mas’ud) keluar bersama kalian?”, Kami menjawab: “Tidak”,  kemudian beliau duduk bersama kita sampai Sahabat Abu Abdurrohman datang, waktu Sahabat Abu Abdurrohman datang kami berdiri menyambutnya, kemudian Imam Abu Musa berkata pada beliau: “Wahai Abu Abdurrohman, tadi aku melihat di masjid sesuatu yang aku inkari, dan aku tidak tahu -segala puji bagi Alloh- kecuali kebaikan”, Sahabat Abu Abdurrohman berkata: “Apa itu?”, Imam Abu Musa berkata: “Apabila engkau hidup, maka engkau akan mengetahuinya” -Imam Abu Musa berkata- “Aku melihat di dalam masjid ada kaum duduk berhalaqoh (duduk memutar) menanti sholat, setiap halaqoh ada seorang laki-laki, dan disetiap tangan mereka ada kerikil, kemudian (pemimpin mereka) mengatakan: bertakbirlah seratus kali”, maka mereka bertakbir seratus kali, kemudian (pemimpin mereka) mengatakan: “Bertahlillah seratus kali”, maka mereka bertahlil seratus kali, kemudian (pemimpin mereka) mengatakan: “Bertasbihlah seratus kali”, maka mereka bertasbih seratus kali. Sahabat Abdillah bin Mas’ud berkata (kepada Imam Abu Musa): “Apa yang engkau katakan pada mereka?”, Imam Abu Musa berkata: “Aku tidak mengatakan apa-apa, menanti pendapatmu atau menunggu perimtahmu” Sahabat Abdillah bin Mas’ud berkata: “Apakah engkau tidak meminta mereka untuk menghitung kejelekan mereka? Dan menyuruh mereka agar tidak menyia-nyiakan amal kebaikan mereka?”, kemudian Sahabat Abdillah bin Mas’ud dan kami pergi mendatangi orang-orang yang mengadakan halaqoh tersebut. Sahabat Abdillah bin Mas’ud berhenti dan berkata: “Apa yang kalian lakukan ini?”, mereka berkata: “Wahai Aba Abdirrohman (dengan) kerikil (ini) kami menghitung takbir, tahlil dan tasbih (yang kami lakukan)”, kemudian Sahabat Abdillah bin Mas’ud berkata: “Hitunglah kejelekan kalian semua maka aku akan menjamin amal kebaikan kalian semua tidak akan sia-sia, celakalah kalian umat Muhammad apakah kalian menginginkan cepat binasa? (padahal) sahabat nabi SAW. kalian semua masih banyak yang hidup, dan ini pakaiannya belum rusak sama sekali, dan ini bejananya belum pecah, demi dzat yang memilikiku ataukah kalian ingin berada diatas agama yang lebih mendapat petunjuk dari agama Muhammad? ataukah kalian telah membuka pintu kesesatan?” Mereka pun menjawab: “Wahai Abu Abdurrahman, demi Allah tidaklah kami menginginkan melainkan kebaikan”. Sahabat Abdillah bin Mas’ud pun berkata: “Banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi tidak mengenai jalan yang benar, sesungguhnya Rosululloh SAW bersabda kepadaku: Sesungguhnya ada satu kaum mereka membaca Al Quran tapi tidak melewati tenggorokan mereka. Demi Alloh aku tidak tahu apakah kalian semua termasuk kaum itu?” kemudian Amru bin Salamah berkata: “Aku melihat umumnya mereka yang mengadakan halaqoh itu memerangi kita pada hari perang An Nahrawan bersama kaum Khawarij”.

ALANGKAH FAIR-NYA KALAU KITA LIHAT HADIST DAN FATWA ULAMA DIBAWAH INI:

رياض الصالحين – (ج 2 / ص 139)

وعن سعد بن أَبي وقاص – رضي الله عنه -, أنَّه دخل مَعَ رسُولِ الله – صلى الله عليه وسلم -, عَلَى امْرأةٍ وَبَيْنَ يَدَيْها نَوىً – أَوْ حَصَىً – تُسَبِّحُ بِهِ فَقَالَ: ((أُخْبِرُكِ بما هُوَ أيْسَرُ عَلَيْكِ مِنْ هَذَا – أَوْ أفْضَلُ -)) فَقَالَ: ((سُبْحَانَ الله عَدَدَ مَا خَلَقَ في السَّمَاءِ, وسُبْحَانَ الله عَدَدَ مَا خَلَقَ في الأرْضِ, وسُبْحَانَ الله عَدَدَ مَا بَيْنَ ذَلِكَ, وسُبحَانَ الله عَدَدَ مَا هز خَالِقٌ, واللهُ أكْبَرُ مِثْلَ ذَلِكَ, والحَمْدُ للهِ مِثْلَ ذَلِكَ ؛ وَلاَ إلَهَ إِلاَّ اللهُ مِثْلَ ذَلِكَ, وَلاَ حَولَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ مِثْلَ ذَلِكَ)). رواه الترمذي, وقال: ((حديث حسن)).

Artinya: Dari Sahabat Said bin Abi Waqqosh RA.. Beliau bersama Rosululloh SAW memasuki (rumah) seorang perempuan yang didepannya (ditangannya) ada biji kurma atau kerikil, perempuan itu bertasbih dengan menggunakan biji kurma atau kerikil tersebut, kemudian Nabi SAW bersabda: “Apakah engkau mau Aku beritahu cara yang lebih mudah atau lebih utama dari pada ini?”, kemudian beliau Nabi bersabda: “(ucapkanlah) SubhanAlloh ‘adada Maa Kholaqo Fissama’, SubhanAlloh ‘Adada Maa Kholaqo Fil Ardli, dst…”, HR. Imam Turmudzi, dan beliau berkata: “Hadist Hasan”.

سنن الترمذى الجزء الخامس ص: 213-214 طه فوتر سماراع

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ عَبْدِ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا هَاشِمٌ هُوَ ابْنُ سَعِيدٍ الْكُوفِىُّ حَدَّثَنا كِنَانَةُ مَوْلَى صَفِيَّةَ قَالَ سَمِعْتُ صَفِيَّةَ تَقُولُ دَخَلَ عَلَىَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَبَيْنَ يَدَىَّ أَرْبَعَةُ آلاَفِ نَوَاةٍ أُسَبِّحُ بِهَا قال لَقَدْ سَبَّحْت بِهَذِهِ أَلاَ أُعَلِّمُكِ بِأَكْثَرَ مِمَّا سَبَّحْتِ بِهِ. فَقُلْتُ بَلَى عَلِّمْنِى. فَقَالَ « قُولِى سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ خَلْقِهِ ». قَالَ هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لاَ نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ صَفِيَّةَ إِلاَّ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ مِنْ حَدِيثِ هَاشِمِ بْنِ سَعِيدٍ الْكُوفِىِّ وَلَيْسَ إِسْنَادُهُ بِمَعْرُوفٍ. وَفِى الْبَابِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ.

Artinya: Aku (Sahabat Kinanah) mendengar Sayyidatina Shofiyyah berkata: “Rosululloh SAW., datang kepadaku (masuk ke rumahku), dan didepanku ada empat ribu biji kurma yang aku gunakan untuk bertasbih”, kemudian Nabi bersabda: “Engkau benar-benar menggunakan biji kurma ini untuk bertasbih? Apakah engkau mau aku ajari sesuatu yang lebih banyak daripada apa yang engkau tasbihkan ini?”, Aku menjawab: “Iya, Ajarilah aku”, Nabi bersabda: “Ucapkanlah SubhanAlloh ‘Adada Kholqihi (subhanAlloh sebanyak makhluk Alloh)”. Ini adalah hadist yang langka, aku tidak mengetahui dari hadist sayidatina Shofiyyah kecuali dari jalan ini, dari hadist Hasyim bin Sa’id Al Kuufii dan penyandarannya tidaklah terkenal, dan di dalam bab dari (Imam) Ibnu Abbas.

تحفة الأحوذي – (ج 8 / ص 386)

وَيَدُلُّ عَلَى جَوَازِ عَدِّ التَّسْبِيحِ بِالنَّوَى وَالْحَصَى حَدِيثُ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى اِمْرَأَةٍ وَبَيْنَ يَدَيْهَا نَوًى أَوْ حَصًى تُسَبِّحُ بِهِ الْحَدِيثَ, وَحَدِيثُ صَفِيَّةَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَيْنَ يَدَيَّ أَرْبَعَةُ آلَافِ نَوَاةٍ أُسَبِّحُ بِهَا الْحَدِيثَ. أَخْرَجَهُمَا التِّرْمِذِيُّ فِيمَا بَعْدُ. قَالَ الشَّوْكَانِيُّ فِي النَّيْلِ ص 211 ج 2 هَذَانِ الْحَدِيثَانِ يَدُلَّانِ عَلَى جَوَازِ عَدِّ التَّسْبِيحِ بِالنَّوَى: وَالْحَصَى وَكَذَا بِالسُّبْحَةِ لِعَدَمِ الْفَارِقِ لِتَقْرِيرِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْمَرْأَتَيْنِ عَلَى ذَلِكَ وَعَدَمِ إِنْكَارِهِ وَالْإِرْشَادُ إِلَى مَا هُوَ أَفْضَلُ لَا يُنَافِي الْجَوَازَ وَقَدْ وَرَدَتْ بِذَلِكَ آثَارٌ فَفِي جُزْءِ هِلَالٍ الْحَفَّارِ مِنْ طَرِيقِ مُعْتَمِرِ بْنِ سُلَيْمَانَ عَنْ أَبِي صَفِيَّةَ مَوْلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يُوضَعُ لَهُ نِطْعٌ وَيُجَاءُ بِزِنْبِيلٍ فِيهِ حَصًى فَيُسَبِّحُ بِهِ إِلَى نِصْفِ النَّهَارِ ثُمَّ يُرْفَعُ فَإِذَا صَلَّى أَتَى بِهِ فَيُسَبِّحُ حَتَّى يُمْسِي. وَأَخْرَجَهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ فِي الزُّهْدِ. وَأَخْرَجَ اِبْنُ سَعْدٍ عَنْ حَكِيمِ بْنِ الدَّيْلَمِيِّ أَنَّ سَعْدَ بْنَ أَبِي وَقَّاصٍ كَانَ يُسَبِّحُ بِالْحَصَى. وَقَالَ اِبْنُ سَعْدٍ فِي الطَّبَقَاتِ: أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيلُ عَنْ جَابِرٍ عَنْ اِمْرَأَةٍ خَدَمَتْهُ عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ أَنَّهَا كَانَتْ تُسَبِّحُ بِخَيْطٍ مَعْقُودٍ فِيهَا. وَأَخْرَجَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْإِمَامِ أَحْمَدَ فِي زَوَائِدِ الزُّهْدِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ كَانَ لَهُ خَيْطٌ فِيهِ أَلْفُ عُقْدَةٍ فَلَا يَنَامُ حَتَّى يُسَبِّحَ. وَأَخْرَجَ أَحْمَدُ فِي الزُّهْدِ عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ كَانَ لِأَبِي الدَّرْدَاءِ نَوًى مِنْ الْعَجْوَةِ فِي كَيس فَكَانَ إِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ أَخْرَجَهَا وَاحِدَةً يُسَبِّحُ بِهِنَّ حَتَّى يُنْفِدَهُنَّ. وَأَخْرَجَ اِبْنُ سَعْدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ كَانَ يُسَبِّحُ بِالنَّوَى الْمَجْمُوعِ. وَأَخْرَجَ الدَّيْلَمِيُّ فِي مُسْنَدِ الْفِرْدَوْسِ مِنْ طَرِيقِ زَيْنَبَ بِنْتِ سُلَيْمَانَ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ أُمِّ الْحَسَنِ بِنْتِ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِيهَا عَنْ جَدِّهَا عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَرْفُوعًا: ” نِعْمَ الْمُذَكِّرُ السُّبْحَةُ “. وَقَدْ سَاقَ السُّيُوطِيُّ آثَارًا فِي الْجُزْءِ الَّذِي سَمَّاهُ الْمِنْحَةُ فِي السُّبْحَةِ وَهُوَ مِنْ جُمْلَةِ كِتَابِهِ الْمَجْمُوعِ فِي الْفَتَاوَى وَقَالَ فِي آخِرِهِ وَلَمْ يُنْقَلْ عَنْ أَحَدٍ مِنْ السَّلَفِ وَلَا مِنْ الْخَلَفِ الْمَنْعُ مِنْ جَوَازِ عَدِّ الذِّكْرِ بِالسُّبْحَةِ بَلْ كَانَ أَكْثَرُهُمْ يَعُدُّونَهُ بِهَا وَلَا يَرَوْنَ ذَلِكَ مَكْرُوهًا اِنْتَهَى.

Artinya: Yang menunjukkan bolehnya tasbih dengan menggunakan biji kurma dan kerikil adalah hadist Sahabat Sa’du bin Abi Waqqosh, “Beliau masuk bersama Nabi SAW,. Di rumah seorang perempuan yang di tangannya memegang biji kurma atau kerikil, perempuan itu bertasbih dengan menggunakan biji kurma atau kerikil tersebut”, Al Hadist, dan hadist Sayidatina Shofiyyah, beliau berkata: “Rosululloh SAW., datang kepadaku (masuk ke rumahku), dan didepanku ada empat ribu biji kurma yang aku gunakan untuk bertasbih”, Al Hadist, Imam Turmudzi mengeluarkan (meriwayatkan) kelanjutan kedua hadist tersebut. Imam Syaukani dalam kitab An Nail hal 211 juz II berkata: ”Kedua hadist ini menunjukkan hukum boleh menghitung tasbih dengan biji kurma, kerikil begitu pula menggunakan biji tasbih karena tidak ada perbedaan, serta karena adanya penetapan (pembenaran) dari Rosululloh SAW., pada kedua wanita diatas, dan tidak adanya pengingkaran dari Nabi, sedangkan adanya petunjuk ke sesuatu yang lebih utama tidak menghilangkan hukum boleh”. Banyak atsar yang menceritakan penggunaan biji kurma, kerikil dan biji tasbih (dilakukan oleh para sahabat) seperti: Sahabat Abu Shfiyyah… Sahabat Sa’du bin Abi Waqqosh… Sayyidatina Fatimah binti Husein… Sahabat Abu Huroiroh… Sahabat Abi Dardak… Imam Suyuthi berkata: “Tidak pernah dinukil dari seorang-pun, dari ulama Salaf dan ulama Khalaf yang melarang menghitung dzikir dengan tasbih. Melainkan kebanyakan ulama justru menghitung dzikir dengan menggunakan tasbih, dan mereka tidak mengganggap hal itu sebagai perkara makruh”.

فيض القدير – (ج 4 / ص 355)

(عليكن) أيتها النسوة (بالتسبيح) أي بقول سبحان الله (والتهليل) أي التوحيد (والتقديس) أي قول سبوح قدوس رب الملائكة والروح قالوا: والفرق بين التسبيح والتقديس أن التسبيح للأسماء والتقديس للآلاء وكلاهما يؤدي إلى العظمة (واعقدن بالأنامل) أي اعددن عدد مرات التسبيح بها وهذا ظاهر في عقد كل أصبع على حدته لا ما يعتاده كثير من العد بعقد الأصابع (فإنهن مسؤولات) عن عمل صاحبها (مستنطقات) للشهادة عليه فأما المؤمن فتنطق عليه بخيره وتسكت عن شره سترا من الله والكافر بالعكس فإن خيره لغير الله فهو هباء (ولا تغفلن) بضم الفاء بضبط المؤلف (فتنسين) بضم المثناة الفوقية وسكون النون وفتح السين بخطه (الرحمة) أي لا تتركن الذكر فتنسين منها وهذا أصل في ندب السبحة المعروفة وكان ذلك معروفا بين الصحابة فقد أخرج عبد الله بن أحمد أن أبا هريرة كان له خيط فيه ألفا عقدة فلا ينام حتى يسبح به وفي حديث رواه الديلمي نعم المذكر السبحة لكن نقل المؤلف عن بعض معاصري الجلال البلقيني أنه نقل عن بعضهم أن عقد التسبيح بالأنامل أفضل لظاهر هذا الحديث لكن محله إن أمن الغلظ وإلا فالسبحة أولى وقد اتخذ السبحة أولياء كثيرون ورؤي بيد الجنيد سبحة فقيل له: مثلك يمسك بيده سبحة فقال: طريق وصلت به إلى ربي لا أفارقه وفي رواية عنه شيء استعملناه في البدايات لا نتركه في النهايات أحب أن أذكر الله بقلبي ويدي ولساني ولم ينقل عن أحد من السلف ولا الخلف كراهتها نعم محل ندب اتخاذها فيمن يعدها للذكر بالجمعية والحضور ومشاركة القلب للسان في الذكر والمبالغة في إخفاء ذلك أما ما ألفه الغفلة البطلة من إمساك سبحة يغلب على حباتها الزينة وغلو الثمن ويمسكها من غير حضور في ذلك ولا فكر ويتحدث ويسمع الأخبار ويحكيها وهو يحرك حباتها بيده مع اشتغال قلبه ولسانه بالأمور الدنيوية فهو مذموم مكروه من أقبح القبائح (ت ك عن يسيرة) بمثناة تحتية مضمومة وسين وراء مهملتين بينهما مثناة تحتية وهي بنت ياسر أو أم ياسر صحابية من الأنصاريات وقيل من المهاجرات وظاهر اقتصار المصنف على الترمذي أنه تفرد به من بين الستة وليس كذلك فقد رواه أبو داود في الصلاة ولم يضعفه.

جامع العلوم والحكم محقق – (ج 52 / ص 9) تأليف الإمام الحافظ الفقيه زين الدين أبي الفرج عبد الرحمن بن شهاب الدين البغدادي ثم الدمشقي الشهير بابن رجب المتوفى سنة (795) ه‍

وكان لأبي هريرة خيطٌ فيه ألفا عُقدة ، فلا يُنام حتّى يُسبِّحَ به. وكان خالد بنُ معدان يُسبِّحُ كلَّ يوم أربعين ألف تسبيحة سوى ما يقرأ من القرآن.

Artinya: Sahabat Abi Huroiroh mempunyai tali yang ada seribu bundalan, beliau tidak akan tidur kecuali (terlebih dahulu) membaca tasbih dengan tali tersebut”. Dan “Sahabat Kholid bin Ma’dan bertasbih (dengan memakai tasbih) setiap hari empat puluh ribu tasbihan selain membaca al Qur’an”.

صحيح مسلم – (ج 8 / ص 69)

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ سُمَىٍّ عَنْ أَبِى صَالِحٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ. فِى يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ. كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِىَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلاَّ أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ. وَمَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِى يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ ».

Artinya: Dari Sahabat Abi Huroiroh sesungguhnya Rosululloh SAW., bersabda:“Barangsiapa membaca Laa Ilaaha Illallahu Wahdahu La Syarika Lahu, Lahu al-Mulku Wa Lahu al-Hamdu Wa Huwa ‘Ala Kulli Syai’in Qadir sebanyak seratus kali setiap hari, maka dia seperti memerdekakan sepuluh budak, di tulis seratus kebaikan baginya, di lenyapkan seratus kejelekan darinya, pada hari itu sampai sore dia meperoleh penjagaan dari (godaan) Setan dan tidak ada seorangpun yang bisa mengunggulinya, kecuali orang yang beramal (membaca) lebih banyak dari itu. Dan Barangsiapa membaca SubhanAlloh Wa Bihamdihi setiap hari seratus kali maka kesalahannya akan di hapus walaupun (banyaknya) seperti busa lautan”.

مسند أحمد – (ج 58 / ص 293)

 قَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَجَدْتُ فِى كِتَابِ أَبِى بَخَطِّ يَدِهِ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ خَلَفٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ بَهْدَلَةَ عَنْ أَبِى صَالِحٍ عَنْ أُمِّ هَانِئٍ بِنْتِ أَبِى طَالِبٍ قَالَ قَالَتْ مَرَّ بِى ذَاتَ يَوْمٍ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى قَدْ كَبِرْتُ وَضَعُفْتُ – أَوْ كَمَا قَالَتْ – فَمُرْنِى بِعَمَلٍ أَعْمَلُهُ وَأَنَا جَالِسَةٌ. قَالَ « سَبِّحِى اللَّهَ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ فَإِنَّهَا تَعْدِلُ لَكِ مِائَةَ رَقَبَةٍ تُعْتِقِينَهَا مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ وَاحْمَدِى اللَّهَ مِائَةَ تَحْمِيدَةٍ فَإِنَّهَا تَعْدِلُ لَكِ مِائَةَ فَرَسٍ مُسْرَجَةٍ مُلْجَمَةٍ تَحْمِلِينَ عَلَيْهَا فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَكَبِّرِى اللَّهَ مِائَةَ تَكْبِيرَةٍ فَإِنَّهَا تَعْدِلُ لَكِ مِائَةَ بَدَنَةٍ مُقَلَّدَةٍ مُتَقَبَّلَةٍ وَهَلِّلِى اللَّهَ مِائَةَ تَهْلِيلَةٍ – قَالَ ابْنُ خَلَفٍ أَحْسِبُهُ قَالَ – تَمْلأُ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلاَ يُرْفَعُ يَوْمَئِذٍ لأَحَدٍ عَمَلٌ إِلاَّ أَنْ يَأْتِىَ بِمِثْلِ مَا أَتَيْتِ بِهِ ». حسّن إسنادَه الحافظ الهيثميّ والحافظ المنذريّ في الترغيب الترهيب.

Artinya: Dari Ummu Hani’ binti Abu Thalib, bahwa ia (Ummu Hani’) berkata: “Suatu ketika aku bertemu dengan Rasulullah. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, aku ini sudah tua dan mulai lemah, karenanya perintahkan aku dengan suatu amalan yang bisa aku kerjakan sambil duduk”. Kemudian Rasulullah bersabda:  “Bacalah tasbih seratus kali, sungguh itu sebanding dengan seratus budak yang engkau merdekakan dari anak keturunan Nabi Isma’il. Bacalah hamdalah seratus kali, sungguh itu sebanding dengan seratus ekor kuda berpelana dan dikekang yang membawa perbekalan perang di jalan Allah. Bacalah takbir seratus kali, sungguh itu sebanding dengan seratus unta yang engkau sedekahkan dan diterima oleh Allah. Dan bacalah tahlil seratus kali, maka ia akan memenuhi antara langit dan bumi. Dan pada hari itu tidak ada amal seorang-pun yang diunggulkan atas kamu kecuali orang yang melakukan seperti yang engkau lakukan”. (Hadits ini dihasankan oleh al-Hafizh al-Haitsami dan al-Hafizh al-Mundziri dalam kitabnya at-Targhib Wa at-Tarhib).

المجموع شرخ المهذب الجزء الأول ص: 47

فَصْلٌ فِي ذَمِّ مَنْ أَرَادَ بِفِعْلِهِ غَيْرَ اللَّهِ تَعَالَى. إلى أن قال… وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: {أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَالِمٌ لَا يُنْتَفَعُ بِهِ}, وَعَنْهُ صلى الله عليه وسلم: {شِرَارُ النَّاسِ شِرَارُ الْعُلَمَاءِ.} وَرَوَيْنَا فِي مُسْنَدِ الدَّارِمِيِّ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رضي الله عنه قَالَ: ” يَا حَمَلَةَ الْعِلْمِ اعْمَلُوا بِهِ فَإِنَّمَا الْعَالِمُ مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ, وَوَافَقَ عِلْمَهُ عَمَلُهُ, وَسَيَكُونُ أَقْوَامٌ يَحْمِلُونَ الْعِلْمَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ, يُخَالِفُ عَمَلُهُمْ عِلْمَهُمْ, وَيُخَالِفُ سَرِيرَتُهُمْ عَلَانِيَتَهُمْ, يَجْلِسُونَ حِلَقًا يُبَاهِي بَعْضُهُمْ بَعْضًا حَتَّى إنَّ الرَّجُلَ لَيَغْضَبُ عَلَى جَلِيسِهِ أَنْ يَجْلِسَ إلَى غَيْرِهِ, وَيَدَعَهُ, أُولَئِكَ لَا تَصْعَدُ أَعْمَالُهُمْ فِي مَجَالِسِهِمْ تِلْكَ إلَى اللَّهِ تَعَالَى “, وَعَنْ سُفْيَانَ: ” مَا ازْدَادَ عَبْدٌ عِلْمًا فَازْدَادَ فِي الدُّنْيَا رَغْبَةً إلَّا ازْدَادَ مِنْ اللَّهِ بُعْدًا “, وَعَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ: (مَنْ طَلَبَ الْحَدِيثَ لِغَيْرِ اللَّهِ مَكَرَ بِهِ).

Artinya: Fashlun: Cacian orang yang mengharapkan perbuatannya selain untuk Alloh…. Sayidina Ali bin Abi Tholib RA., berkata: “Wahai orang yang berilmu, amalkanlah ilmumu, karena orang yang (disebut) alim adalah orang yang mengamalkan apa yang diketahuinya, dan amalnya cocok dengan ilmunya, akan ada suatu masa dimana ada beberapa kaum mereka membaca Al Quran tapi tidak melewati tenggorokan mereka, Amalnya bertentangan dengan ilmunya, rahasia dalam hati mereka bertentangan dengan kelihatannya, mereka duduk berhalaqoh (duduk memutar) saling memamerkan keahlian mereka kepada lainnya, sampai (apabila) ada lelaki yang duduk (di dekat mereka) akan meninggalkan tempat duduknya (karena kesal mendengarkan mereka), Amal mereka tidak akan sampai pada Alloh Ta’ala”.

 

(+) Ulasan Tahlilan Sangat tidak bertentangan dengan Atsar (pendapat) Sahabat, diatas dengan perincian sebagai berikut:

1. Atsar diatas dalam kitab sunan Ad Darimi dan Kitab Tafsir Al Qurthubi tanpa di dukung dengan status yang jelas (hasankah? Shohihkan? Dloifkah? Atau bahkan Maudlu’kah? Kecuali dalam kitab-kitab yang dikeluarkan faham wahabiyah/salafi, mereka mengatakan status atsar ini adalah jayyid/shohih) sehingga tidak bisa DIJADIKAN DASAR HUKUM, apalagi sampai dibuat memvonis sesat pada golongan lain.

2. Ternyata dari hadist yang ada dalam kitab Riyadlussholihin dan Tuhfatul Ahwadzi, sangat jelas keterangan yang memperbolehkan dzikir pakai kerikil, biji kurma dan Tasbih. Dan yang paling penting beliau Nabi SAW., tidak melarang namun memberikan Dzikir yang lebih baik. Yang paling Aneh hadist dalam Sunan Tirmidzi dikatakan Munkar (di inkari) Oleh Nashiruddin Al Albani (Lihat Assamilah Tahrij wahabi/Al Albani) padahal mungkinkan orang zaman sekarang men-dloifkan hadist malah sampai me-munkarkan hadist tanpa melewati kitab-kitab dari ulama terdahulu? Padahal ulama terdahulu sekelas Imam Turmudzi mengatakan hadist ini ghorib (langka) dan cuma ditemukan dalam riwayat ini, Tidak berani mengatakan Dlo’if (lemah), Maudlu’ (palsu) apalagi munkar? Pertanyaanya adalah: Apa dasar Nashiruddin Al Albani mengatakan Hadist ini munkar? Fa taammal…

3. Dalam Kitab Tuhfatul Ahwadzi, Faidlul Qodir dan Jami’ul Ulum, diterangkan bahwa Sahabat Abi Hurairoh, Sahabat Sa’du bin Abi Waqqosh, Sahabat Kholid bin Ma’dan, Istri Nabi Sayyidatina Shofiyyah, Sahabat Abu Darda’, Sayyidatina Fatimah binti Husain dan Sulthonul Auliya’ Syaikh Junaid Al Baghdadi berdzikir memakai Biji kurma, kerikil atau Tasbih, dan ketika Syaikh Junaid Al Baghdadi ditanyai tentang hal tersebut beliau berkata: Tasbih ini adalah cara agar aku wushul (sampai) ke tuhanku, dan aku tidak akan pisah darinya(lihat Faidlul Qodir). Apakah kita akan mengatakan mereka para Sahabat dan Ulama melakukan Bid’ah yang sesat? Menyimpang dari ajaran nabi? Beranikah kita? Robbi Fanfa’na Bi Barkatihim, Wahdinal Khusna Bikhurmatihim….

4. Dan apabila ada yang mengatakan titik tekan pada Atsar Sahabat Abdillah bin Mas’ud adalah penjumlahan dzikir seperti yang tercantum: kemudian (pemimpin mereka) mengatakan: bertakbirlah seratus kali”, maka mereka bertakbir seratus kali dst…”. Maka perlu diketahui hitungan yang dilakukan dalam tahlil yang terlaku di masyarakat dengan menggunakan dasar hadist shohih (lihat Kitab Shohih Muslim dan Musnad Ahmad diatas). Sebenarnya yang dimaksud oleh hadits-hadits tersebut adalah untuk menunjukkan keutamaan tertentu, bagi dzikir tertentu, dengan jumlah tertentu tersebut. Sementara itu di sisi lain banyak sekali ayat-ayat dan hadits-hadits yang secara mutlak menganjurkan untuk berdzikir tanpa menyebutkan jumlah atau bilangan tertentu. Bahkan banyak ayat-ayat dan hadits-hadits yang menunjukkan anjuran untuk berdzikir sebanyak-banyaknya”. Dengan demikian berdzikir dengan jumlah berapapun adalah hal yang diperbolehkan, karena anjuran untuk memperbanyak dzikir bersifat umum tanpa dibatasi dengan bilangan tertentu. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا، وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (الأحزاب: 41-42)

Artinya: “Wahai orang-orang beriman, berdzikirlah kalian (menyebut nama Allah), dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang”. (QS. al-Ahzab: 41-42)

5. Apabila terjadi pertentangan antara Atsar dan hadist Maka yang dimenangkan adalah Hadist, apalagi Atsar tersebut belum jelas statusnya.

6. dalam kitab Al Majmu Juz I hal: 47 Hadist yang diucapkan shahabat Abdillah bin Mas’ud Sesungguhnya ada satu kaum mereka membaca Al Quran tapi tidak melewati tenggorokan mereka” ternyata oleh sayyidina Ali diarahkan pada cacian orang yang melaksanakan ibadah bukan demi Alloh, tapi mencari ilmu karena ingin dipuji, ingin mengalahkan ulama lainnya dsb., Naudzu billahi Min Dzalik.

JADI MELIHAT SEMUA ULASAN DIATAS, LEBIH TEPAT APABILA TAHLIL DINAMAKAN MAJLIS DZIKIR SEPERTI DALAM HADIST NABI SOLLALLOHU ALAIHI WASALLAM…

”Tiadalah dari sekumpulan manusia yang melakukan dzikir kepada Alloh, kecuali malaikat mengelilingi mereka, memberikan rahmat, ketenangan hati menyelimuti mereka dan Alloh menuturkan (keberadaan) mereka ke mahluk yang di sampingNYA”

WAllohu A’lam Bissowab.

DIAMBILKAN DARI KITAB ARBAIN AL FATTAH

Sie Pendidikan PP. AL FATTAH

Rabu. 6 Maret 2013

 

6 thoughts on “Majlis Dzikir TAHLIL bagian Empat (Tamat)

    alfeyd

    (March 6, 2013 - 22:06)

    mantap ulasanya om……

    azmi

    (March 6, 2013 - 22:33)

    Xixi….

    azmi

    (March 6, 2013 - 22:34)

    Om akim… potonya kok blum nungul2?

    hollow

    (March 7, 2013 - 08:37)

    SAmpuunnn

    lasykar

    (March 7, 2013 - 08:47)

    سيييييييف ه ه ه ه

    alfeyd

    (March 8, 2013 - 09:46)

    absen om akim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *