Kultur Islam Di Tanah Jawa

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق والصلاة والسلام على سيدنا محمد الذي بعث ليتمم مكارم الأخلاق وعلى وآله وصحبه والتابعين لههم بالأخلاقز أما بعد:

 

Segala puji bagi Allah yang telah mengutus utusanNya memberi petunjuk dan agama yang haq. Rahmat dan keselamatan terlimpahkan kepada baginda Muhammad yang di utus untuk menyempurnakan ahlaq, semoga pula kepada keluarga dan sahabat juga pengikut mereka yang penuh dengan ahlaq. Sebagaimana hadits yang sering kita dengar, Rosulullah bersabda:

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق

“Saya di utus hanya untuk menyempurnakan ahlaq”

Dari hadits ini berasumsi bahwa sebelum Nabi Muhammad sudah ada ahlaq walau tidak sempurna, yaitu, budaya dan tradisi orang arab. Jadi, agama haq yang dibawa Muhammad bukan merubah budaya dan tradisi. Tapi, menyempurnakan budaya dan tradisi yang belum sempurna. Hal ini nampak sekali dari sabda beliau:

اتق الله حيثما كنت واتبع السنة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن

“Taqwalah kepada Allah dan tutuplah perbuatan yang jelek dengan perbuatan yang baik maka akan menghilangkan kejelekan tersebut dan berperilakulah pada manusia dengan perlakuan yang baik”.

 

Baginda Ali bin Abi Thalib seorang sahabat Nabi yang pernah ditanya tentang pengertian prilaku yang baik dalam hadits :  وخالق الناس بخلق حسنbeliau menjawab :

موافقة للناس ما عدا المعاصى

“Selalu adaptasi dengan budaya dan tradisi dimana kita berdomisili selama tidak bertentangan dengan syar’i atau maksiat”

 

Sebagaimana keterangan dalam Syarh Sulam Taufiq. Dari sini jelas bahwa agama datang bukan merubah budaya dan tradisi melainkan selalu menjaga budaya dan tradisi selama tidak bertentangan nilai-nilai agama. Hal ini nampak sekali kalau kita melihat dalam asbabun nuzul ayat-ayat al-Qur’an dan al-Hadits yang menjelaskan hukum dengan mempertimbangkan budaya dan tradisi di antaranya adalah:

 

Diturunkannya ayat dalam Surat al-Baqarah :

فإذا قضيتم مناسككم فاذكروا الله كذكركم آباءكم أو أشد ذكرا فمن الناس من يقول ربنا آتنا في الدنيا وما له في الآخرة من خلاق (200) ومنهم من يقول ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار (201) أولئك لهم نصيب مما كسبواوالله سريع الحساب (202)

Artinya; apabila kamu telah menyelesaaikan hajimu maka berdzikirlah dengan menyebut Allah. Sebagaimana kamu menyebut nenek-nenek moyangmu atau berdzikirlah lebih banyak dari itu, maka di antara manusia ada yang berdo’a ya tuhan kami berilah kebaikan di dunia dan tidak ada kebaikan yang menyenangkan di akhirat. (200) dan di antara mereka ada yang berdo’a ya tuhan kami berikanlah kami kebaikan di dunia dan akhirat dan jauhkan kami dari siksaan api neraka (201) mereka itulah orang yang mendapatkan kebahagian di akhirat dan Allah sangat cepat menghitungnya (202).

Dalam ayat di atas terdapat perintah Allah untuk memperbanyak dzikir di tanah Mina ketika pari purna melaksanakan ibadah haji dan sekaligus Allah menyebutkan tradisi manusia yang berbeda-beda ada yang hanya ingin berbahagia di dunia, hal ini disempurnakan Allah dengan firman-Nya;

وما له في الآخرة من خلاق

Mereka di akhirat tidak mendapatkan kebahagiaan

 

Dan ada yang tradisi mereka menginginkan kebahagiaan di dunia dan akhirat dan dijelaskan Allah dengan أولئك لهم نصيب مما كسبوا

Sebab diturunkannya ayat ini sebagai berikut;

قال مجاهد كان أهل الجاهلية إذا اجتمعوا في الموسم ذكروا فعل آبائهم في الجاهلية و أيامهم و أنسابهم و تفاخروا فأنزل الله تعالى فاذكروا الله كذكركم آباءكم أو أشد ذكرا قال وقال الحسن يعني البصريكانت العرب إذا حدثوا أو تكلموا يقولون وأبيك أنهم ليفعلون كذا فأنزل الله تعالى هذه الآيةاسباب النزول للإمام ابن الحسن من أحمد الواحدى النيسابوري المتوفى سنة 468

 

Dari asbab nuzul ini sangat jelas sekali bahwa tradisi orang jahiliyah telah berkumpul di Muassim (Mina) dengan menyebut perbuatan ayahnya (nenek moyangnya) kemudian perkumpulan yang sudah menjadi tradisi tersebut tidaklah dirubah oleh agama islam, artinya masih telah diabadikan hanya nuansanya yang tidak islami tersebut yakni menyebut nenek moyang di ganti dengan nuansa islami yaitu dzikir kepada Allah.

 

Kedua; sa’i yang pada awalnya merupakan tradisi jahiliyah dimana kala itu gunung shofa dan mina ada berhala yang namanya asaf (أساف) dan nailah (نائلة). Jahiliyyah ketika sa’i menyentuh kedua berhala tersebut. Ketika islam datang dan berhala tersebut dihancurkan maka orang-orang islam enggan sa’i di antara gunung tersebut. Tapi, justru Allah melegalkan hal ini nampak pada asbab nuzul dalam firman Allah;

إن الصفا والمروة من شعائر الله فمن حج البيت أو اعتمر فلا جناح عليه أن يطوف بهما ومن تطوع خيرا فإن الله شاكر عليم (البقرة: 158)

 

قال أنس بن مالك كنا نكره الطواف بين الصفا و المروة لأنهما كانا من مشعار قريش في الجاهلية فتركناه في الإسلام فأنزل الله تعالى هذه الآية.

وقال عمر بن الحسين سألت ابن عمر عن هذه الأية فقال انطلق الى ابن عباس فسله فإنه أعلم من بقى بما أنزل على محمدصلى الله عليه وسلم فأتيته فسألت فقال كان على الصفا صنم على صورة رجل يقال له أساف وعلى المرأة على صورة امرأة تدعى نائلة زعم أهل الكتاب انهما رنيا في الكعبة فمسخهما الله تعالى حجر ين ووضعهما على الصفا والمروة ليعتبر بهما فلما طالت المدة عبدا من دون الله تعالى فكان أهل الجاهلية إذا طافوا بينهما مسحوا الوثنين فلما جاء الإسلام وكسرت الأصنام كره المسلمون الطواف بينهما لأجل الصنمين فأنزل الله هذه الآية

وقال السدى كان فى الجاهلية تعرف الشياطين بالليل بين الصفا والمروة وكانت بينهما آلهة فلما ظهر الإسلام قال المسلمون يا رسول الله ل نطوف بين الصفا والمروة فإنه شرك نصنعه فى الجاهلية فأنزل الله هذه الآية

Dan masih banyak lagi riwayat-riwayat yang memperkuat keterangan ini, wallohu a’lam bisshowab.

 

Ketiga, ketika Rasululloh duduk bersama Abu Bakar dan tiba-tiba datang seorang sahabat dan diperintahkan oleh rosul duduk bersamanya, namun ia menolak perintah rosul karena menurut adat istiadat orang Arab, tidak sopan orang kecil (rendah) berdampingan duduk dengan orang mulia. Maka dengan mengakomodir budaya tersebut, seorang sahabat yang merasa rendah tersebut menolak perintah Rosululloh, dan Rosul pun menyetujui atas perilaku sahabat tersebut, sehingga menjadi Qoidah ‘Ammah, مراعاة الآدب مقدم على الطاعة (menjaga adab atau budaya didahulukan daripada taat yang tidak wajib). Demikian pula ukuran muru’ah yang dikembalikan pada budaya dan tradisi karena berdasar hadits Rosul.

وما رأه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن

 

Dan masih banyak keterangan yang dijadikan dasar atas pentingnya mempertahankan budaya dan tradisi dan telah diakomodir oleh syar’i.

 

Dari latar belakang di atas para pejuang Islam dan para wali songo telah berhasil menghantarkan orang-orang Indonesia dari agama Hindu dan Budha menjadi mayoritas Islam.

 

Islam dan Budaya Di Indonesia

Islam datang di bumi nusantara bukan sebagai penakluk, sebagaimana penjajah, melainkan datang dengan jalan damai dan dapat dirasakan masyarakat sebagai agama yang mengayomi masyarakat dan sebagai solusi pemecah problem yang menghantui di masyarakat. Sehingga tidak ada yang merasa mendapat tekanan atau paksaan, melainkan merasa sebagai kebutuhan. Hal ini karena agama bukan merubah budaya dan tradisi yang digemari masyarakat. Hal ini dapat diketahui dengan bebagai pendekatan.

 

Islamisasi kultur jawa baik dengan formal atau substansial. Hal ini dapat kita lihat dengan penggunaan istilah Islam di bumi jawa, seperti adil, rakyat, musyawarah, kehakimam, pengadilan dan lain-lain. Kedua, Penjawaan istilah-istilah Islam seperti paijo, bejo, gang sekaten, asal dari faiza, gang syahadatai. Dan seperti gak ilok asal dari ga’ laiq.

 

Islamisasi budaya dan tradisi, hal ini nampak sekali bahwa ritual-ritual dalam agama Hindu dan Budha, seperti pesta kematian samapai tiga hari,tuju hari, seratus hari dan lain-lain di isi dengan ritual-ritual Islam sebagaimana tahlil qiroatul qur’an, demikian pula wayang kulit jaran kepang di isi dengan nuansa-nuansa Islam.

 

Dalam memberikan ajaran dengan diungkapkan melalui simbul seperti orang mati dikasih ikat tiga dengan di sertai bunga kenangan yang aslinya dari istilah qonaah, apem yang isyaroh kirim do’a yang asalnya afwun yang artinya nyuwun ngapuro, ketika hari raya pakai ketupat dengan lontong memberi isyaroh, kupat yang berarti ngaku lepat sehingga menjadi bersatu seperti  lontong dan di isyarohi dengan lepet dibuat dari ketan dengan di ikat tiga artinya, rukunlah sampai mati. Dengan demikian, makan kupat dilarang di lepas dan tapi harus di sigar dengan pisau. Ketika ada kemanten dikasih janur kuning yang isyarah datangnya nur di isyarahi dengan pisang dan gambar burung yang memberi isyarah jangan putus asa seperti pisang dan bertyawakallah seperti burung. Ketika bulan Asyura membuat jenang bubur untuk mengingatkan peristiwa Nabi Nuh dan lain-lain masih banyak lagi seperti buang beras kuning yang melambangkan bahwa, orang yang meninggal sudah tidak butuh beras, maka jangan sampai hidup sibuk dengan urusan beras. Perlunya mengabadikan tradisi ini karena rata-rata manusia lebih takut jika diberi tahukan bahwa orang tuanya telah melakukannya  dari pada  diberitahu bahwa hal itu tuntunan yang benar. Hal ini juga dilegalkan dan dianjurkan dalam menyampaikan ajaran Islam, seperti, pakaian ihram, lambang kita semua dari jenis manusia yang beragam keistimewaan apapun akhirnya hanya di bungkus kain kafan tidak ada apapun yang di bawa melainkan yang ada pada pribadi masing-masing. Sa’i sebagai tilas dewi hajar kumpul di Arafah. Berpakaian dengan ihram lambang yang mengisyaratkan kita akan kumpul di akhirat. Qurban sebagai lambang membunuh sifat kebinatangan, shalat lambang kematian, pakai surban hijau lambang habaib, baju putih lambang kesucian dan masih banyak lagi dan bahkan Al-Qur’an sering menyebutkan lafadz-lafadz yang dituturkan hanya موافقة للواقع  (menyesuaikan dengan tradisi yang ada)

 

Contoh;

وربائبكم اللاتي في حجوركم Menyebutkan في حجوركم karena menyesuaikan dengan budaya

ولا تأكلوا الربا اضعافا مضاعفا Menyebutkan اضعافا مضاعفا karena menyesuaikan budaya.

الخبيثات للخبيثين والخبيثون للخبيثات والطيبات للطيبين والطيبون للطيباتdisebutkan Karena menyesuaikan dengan budaya.

الزانية لا ينكحها إلا زان أو مشرك وحرم ذلك على المؤمنين dan lain-lainnya.

 

Islamisasi perilaku dengan cara instant hal ini di pengaruhi dengan adanya budaya masyarakat berkeinginan hal yang instant dengan demikian para ulama’ menterjemahkan ajaran Islam dengan pengamalan yang kadang-kadang kita tidak mampu menyimak seperti diadakan berdzikir dengan berjama’ah, berjanjen yang di istilahkan dengan dibaan, dengan berjam’iyah, memisah di antara tarawih dengan shalawat tarodli pada shahabat dan lain-lain.

 

Dengan demikian budaya islam di jawa tidak dapat disamakan dengan budaya Arab dan apa saja yang datang dari Arab. Bukan berarti menunjukkan ajaran Islam tapi kita harus dapat menyeleksi dengan arif dan bijaksana apa hal yang datang dari Arab atas dasar agama atau hanya dilatar belakangi dengan budaya. Hal ini banyak orang-orang yang terjebak sebagaimana tradisi berjubah dan menyentuh jenggot kawanya dan lain-lain.

 

Penutup

Dalam mengislamisasi masyarakat jawa agar betul-betul mengakar, sedapat mungkin kita harus mengetahui dan memahami budaya dan tradisi masyarakat jawa.Demikian pula masyarakat lain .

 

Budaya orang jawa yang harus kita fahami saat ini di antaranya adalah;

  • Rata-rata masyarakat masih mempercayai mitos-mitos sehingga mudah terpikat dengan seseorang yang punya keahlian mitos.
  • Masyarakat menyukai hal-hal yang instant dan dapat dibuktikan dengan hal yang nyata.
  • Masyarakat suka dengan hal-hal yang bergebyar ramai yang dapat menghibur mereka atau bikin tertawa mereka.
  • Masyarakat kita suka diunggul-unggulkan dan di puja dan tidak suka dengan hal-hal yang bersifat kritik.
  • Masyarakat masih suka disumbang atau diberi jasa dan masih belum menyadari pentingnya berjasa.
  • Masyarakat menginginkan hal yang mudah di paham dan di mengerti secara rasional karnanya sulit diajak bicara ilmiah.
  • Masyarakat lebih suka dengan ajaran baru dan tokoh baru sehingga mudah terpengaruh dengan hal yang baru.
  • Masyarakat lebih suka berpenampilan beda dengan yang lain.
  • Masyarakat mudah terpengaruh dengan budaya asing walau tidak pantas bahkan tidak sah seperti pakaian tata cara ibadah dan lain-lain. Jika mengetahui orang lain berhasil maka mudah terpengaruh tanpa melihat latar belakang orang tersebut dan dirinya, sehingga ketika melihat orang berdo’a di suatu tempat dan berhasil maka yang dilihat tempat tersebut bukan di lihat kenapa dikabulkan

1 thought on “Kultur Islam Di Tanah Jawa

    azmi

    (Februari 1, 2013 - 18:52)

    Cuma bisa berkata: MANTAB, MENGENA DAN TOLERAN. barokallohu fik yaa katibul makalah…. jazakallohu khoirol jazaa….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *