Kita seperti monyet

Kita seperti monyet
Oleh: Chusnul Chotimah (PO)

Kita itu seperti monyet… hehehe.
Eiittttz,,, Jangan salah faham dulu, masih teringat dawuh Beliau pas menceritakan tentang kisah monyet.

Singkat cerita:

Sekapur sirih…..

Semakin besar pohon menjulang tinggi, maka akan semakin kuat pula angin yang menerpa. begitu semakin kuat iman seseorang, maka akan semakin besar pula cobaan yang menimpa.

Lanjut hehehe ..

Panggil saja Si-mon alias monyet. Simon sedang memanjat sebuah pohon besar yang berbuah, mungkin Simon lapar. Tiba-tiba, tepat Simon sampai di tengah-tengah pohon, ada angin yang sangat kencang dari arah barat. Simon sangat ketakutan. Tanpa pikir panjang, Simon langsung berpindah posisi ke arah barat pohon mengikuti dari mana angin meniupnya dan memeluk erat pohon itu.

Dengan kecerdikannya, akhirnya Simon berhasil sampai di atas, walau tadinya harus mengalami ujian angin yang kencang dari berbagai arah. Sampai diatas, tidak ada lagi angin kencang, hanya ada angin sepoi-sepoi dan buah-buah yang masak, manis dan lezat siap untuk disantap Simon.

Simon pun menyantap buah-buah itu sampai ludes. Karena saking kenyangnya Simon ketiduran. Terlebih angin sepoi-sepoi itu menambah nyenyak tidurnya. Akibat Simon lupa diri bahwa ia sedang berada di atas pohon besar dan tinggi itu, Simon harus berakhir hidupnya. Ia terjatuh dan akhirnya mati.

selesai…..

Dua hal yang Beliau sampaikan dalam kisah ini:

“Kesusahan sebab angin kencang dan kenikmatan angin sepoi-sepoi keduanya itu adalah ujian (cobaan)”

-Seorang yang diuji dengan kesusahan, mereka malah berpegang teguh dengan iman dan menambah taqwa mereka dan seakan-akan selalu ingat bahwa itu hanyalah ujian semata.
-Tapi terkadang, seseorang yang di uji dengan keni’matan. Mereka malah terbuai dan terlena oleh indahnya fatamorgana Dunia. Mereka lupa dan tidak menyadari bahwa itu semua juga ujian yang lebih berat. Akibatnya banyak sekali di antara mereka yang tergelincir oleh tipu dayanya hingga mereka buta dengan iman dan taqwanya sendiri.

Ngaji ihya’ ulumiddin bersama abah syamsuddin.

Wallahu A’lam bis-Shawaab
Admin Web/FB AlFattah Pule
Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.