Kisah Nabi Musa Alayhis-Salaam dan Iblis.

Kisah Nabi Musa Alayhis-Salaam dan Iblis.
(Kebandelan dan Nasehat Iblis)
Oleh: Laila Fitriyyah (Masnauli, Sirandorung, SUMUT)

Dikatakan sesungguhnya Iblis datang kepada Nabi Musa AS. Kemudian Iblis berkata: “Engkau adalah seorang yang dipilih oleh Allah dengan membawa risalah dan Allah benar-benar telah berbicara denganmu. Sesungguhnya aku (Iblis) adalah makhluk Allah. Aku ingin bertaubat kepada Tuhanmu, maka mintakanlah kepada Allah; agar Allah menerima taubatku”.

Bahagialah Nabi musa dengan ucapan Iblis. Maka Nabi Musa-pun mengambil air wudhu dan sholat seraya berdoa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya Iblis itu makhluk-Mu (Ciptaanmu). Iblis meminta taubat kepadamu, maka terimalah taubatnya”.

Kemudian Allah berfirman: “Hai Musa, sesungguhnya Iblis tidak akan pernah taubat”.

Nabi Musa meminta lagi: “Ya Tuhanku, sesungguhnya Iblis memohon taubat kepadamu”.

Maka Allah memberi wahyu: “Sesungguhnya Aku mengabulkan doamu wahai Musa. Perintahkanlah Iblis sujud kepada makam Nabi Adam As. Maka Aku akan menerima taubatnya”.

Nabi Musa kembali dengan hati yang berbunga-bunga, kemudian menceritakannya kepada Iblis. Tapi Iblis marah mendengar apa yang dikatakan Nabi Musa. Dan malah berkata sombong: “Aku (iblis) tidak akan pernah sujud kepada Adam sewaktu ia hidup. Apakah aku harus sujud kepadanya waktu ia mati?!”.

Kemudian Iblis berkata kepada Nabi Musa Alayhis-Salaam: “Hai Musa, karena kau telah menolongku, kamu punya hak terhadapku, maka aku akan memberikan tiga wasiat kepadamu: “Ingatlah padaku ketika tiga hal ini terjadi:
(1) Ingatlah padaku ketika kamu marah! Karena sesungguhnya aku berjalan didalam hatimu seperti jalannya darah.
(2) Ingatlah kepadaku ketika kamu bertemu dengan musuh dalam peperangan. Karena sesungguhnya aku mendatagi anak Adam dan aku mengingatkannya akan istrinya, keluarganya, harta bendanya serta anaknya. Hingga ia menoleh kebelakang!.
(3) Takutlah kamu kepada perempuan yang bukan mahrammu. Sesungguhnya, perempuan itu utusanku kepadamu. Dan utusanmu kepadanya (Maksudnya: Selain perempuan sebagai salah satu godaan yang diutus Iblis. Juga merupakan lahan dakwah untuk meluruskan mereka)”.

Tanbihul Ghofilin Syaikh Abu Laist as-Samarqandy halaman 74-75

Wallahu A’lam bis-Shawaab
Admin Web/FB AlFattah.
Semoga Bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.