Kisah diskusi Imam Syafii dan Sufyan Ats Tsauri

Ulama Saja Tidak Fanatik Pada Pendapatnya.
———-

Dikisahkan, suatu ketika terjadi diskusi antara dua imam agung, yaitu Imam Syafi’i dan Imam Sufyan Ats-Tsauri, diskusi tersebut seputar hukum kulit bangkai dan penyuciannya dengan cara disamak. Imam Syafi’i berpendapat bahwa kulit bangkai selamanya tak bisa disucikan meskipun dengan cara disamak, beliau mendasarkan pendapatnya pada surat yang dikirimkan Nabi kepada Sahabat Juhaimah :

إنِّي كُنْتُ رَخَّصْتُ لَكُمْ فِي جُلُودِ الْمَيْتَةِ فَإِذَا جَاءَكُمْ كِتَابِي هَذَا فَلَا تَنْتَفِعُوا مِنْ الْمَيْتَةِ بِإِهَابٍ وَلَا عَصَبٍ

“Sesunguhnya aku telah memberi kemudahan kepada kamu pada kulit bangkai, maka apabila sampai surat ini kepadamu maka jangan kamu ambil manfaat dari kulit bangkai, baik dengan disamak atau dengan membalut”. (Mu’jam Al-Ausath. No.104)

Sedangkan Imam Sufyan Ats-Tsauri berpendapat bahwa kulit bangkai bisa disucikan dengan cara disamak . Dalil yang beliau gunakan sebagai dasar pendapat tersebut adalah hadits Nabi;

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ وَجَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَاةً مَيِّتَةً أُعْطِيَتْهَا مَوْلَاةٌ لِمَيْمُونَةَ مِنْ الصَّدَقَةِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلَّا انْتَفَعْتُمْ بِجِلْدِهَا قَالُوا إِنَّهَا مَيْتَةٌ قَالَ إِنَّمَا حَرُمَ أَكْلُهَا

Dari Sahabat Ibnu Abbas RA. Ia berkata, “Nabi saw menemukan bangkai domba yang diberikan kepada maulah (bekas budak) Maimunah sebagai shadaqah. Lalu Nabi saw bersabda”: “Kenapa kulitnya tidak engkau manfaatkan?”. Mereka berkata: “Itu bangkai, wahai Rasulullah”. Beliau menjawab: “Sesungguhnya yang haram itu hanya memakannya”. (Shohihul Bukhori, No.1492)

Singkat cerita, diskusi tersebut berakhir dan kedua imam tersebut menarik kembali pendapatnya. Imam Sufyan Ats-Tsauri yang akhirnya mengikuti pendapat Imam Syafi’i yang menyatakan bahwa kulit bangkai selamanya tak bisa disucikan. Sedangkan Imam Syafi’i justru malah mengikuti pendapat Imam Ats-Tsauri bahwa kulit bangkai bisa disucikan dengan cara disamak.

Cerita diatas disebutkan dalam kitab Syarah Al Yaqutun Nafis karya Syeh Muhammad bin Ahmad Asy-Syathiri. Setelah menuturkan kisah tersebut, Syekh Muhammad bin Ahmad As-Syathiri mengatakan;

“Perhatikanlah bagaimana ulama’ tidak fanatik dengan pendapat mereka. Mereka mengikuti pendapat yang terbukti benar, sebab masing-masing mempunyai sudut pandang berbeda, dan hanya mantap dengan adanya dalil”.

(Referensi: Syarah Al-Yaqutun Nafis, Juz: 1 Hal : 90)

مناظرة بين الشافعي وسفيان الثوري
قيل إنه وقعت بين الإمامين الجليلين الشافعي وسفيان الثوري مناطرة حول جلد الميتة وطهارته بالدبغ. وكان الشافعي يرى أن جلد الميتة لا يطهر أبدا, ولو بالدبغ, مستدلا بكتاب النبي-صلى الله عليه وسلم- إلى جهينة : إني كنت رخصت لكم في جلود الميتة, فإذا جاءكم كتابي هذا, فلا تنتفعوا من الميتة بإهاب ولا عصب
وكان سفيان يرى أنه يطهر بالدبغ, مستدلا بما جاء عن النبي-صلى الله عليه وسلم- : هلا انتفعتم بجلدها, قالو : إنها ميتة, قال : إنما حرم أكلها, وفي رواية : ألا أخذوا إهابها فدبغوه, فانتفعوا به
وكانت نتيجة هذه المناظرة, أن سفيان رجع عن قوله إلى قول الشافعي لا يطهر من الميتة شيئ. أما الشافعي فقد رجع إلى قول سفيان, بأن جلد الميتة يطهر بالدبغ
فانظروا إلى عدم التعصب للرأي, وكيف كان العلماء يتبعون الحق متى تبين لهم. ولكل وجهة نظر, وطمأنينة بالدليل

******
Semoga kita bisa meneladaninya. Bersikap dewasa tatkala terjadi Khilaf/perselisihan antara para Ulama. Menjauhkan diri dari saling menghujat. Dan menjadikan Islam Kokoh sepanjang masa. Amiin.

——–
Wallahu A’lam
Alih Bahasa: Akhina Al Kiraam Siroj Munir
Admin Web/Fb Alfattah.pule.com
Semoga Bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.