Ketika Sahabat Usman Radliyallahu Anhu Terbunuh

Islam masa dulu, masa khulafaurRaasyidin pernah terjadi fitnah yang berkepanjangan. Yang fitnah tersebut bagi Ulama Ahlusunnah wal jamaah sangat dianjurkan untuk tidak diungkit-ungkit lagi kecuali hikmah-hikmah terselubung yang bisa mengantarkan Husnudzan pada para Sahabat nabi yang mulia. Karena ulama ahlusunnah waljamaah berpedoman asSukuutu Assalaamah/diam itu selamat, dalam hal ini (Lihat Tuhfatul Murid)

 

Sahabat Anas RA mengisahkan, Waktu Sahabat Usman RA terbunuh, karena Fitnah para pembencinya, bahwa beliau korupsi, memperkaya diri dan keluarganya. Para pembunuh memasuki gudang penyimpanan harta Sahabat Usman RA yang kala sebelum menjadi khalifah terkenal dengan kekayaannya. Mereka menemukan sebuah peti yang besar. Dengan gembiranya mereka berkata, “Lha ini yang kita cari. Ini pastilah harta simpanan kaum muslim yang di korupsi”. Langsung mereka membuka paksa, menghancurkannya. Setelah hancur terbuka, ternyata tiada harta apapun. Yang ada hanyalah kertas yang bertuliskan, “Usman bersaksi bahwa Sungguh tiada Tuhan yang wajib di sembah kecuali Allah Dzat yang satu tiada yang menyekutuiNya. Sungguh Muhammad adalah Hamba dan UtusanNya. Sungguh hari Qiyamat tanpa keraguan pasti datang. Sungguh Allah adalah Dzat yang membangunkan orang mati dari kuburnya. Dengan Sahadat ini aku hidup dan dengan sahadat ini aku Mati”. Sedangkan disampul kertas itu bertuliskan bait Syair:

“Kaya hati, bisa mencukupi keinginan diri # Walaupun faqir menghampiri dan menyiksa diri”

“Bersabarlah, karena sebenarnya menghadapi kefaqiran adalah mudah # Sebab setelah bersabar engkau akan mendapat mudah”.

Setelah membaca itu, para pembunuh sahabat Usman RA. Gemetar, dan tanpa terasa kertas itu terjatuh dari tangan mereka.

 

Sahabat Abdullah bin Salaam bertanya pada orang yang hadir waktu pembunuhan Sahabat Usman RA.

“Apa yang di ucapkan sahabat Usman Sebelum bersimbah darah?”

 

Mereka berkata: “Tiga kali Kami mendengar Beliau berkata: Yaa Allah… Satukanlah Umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallama”.

 

——

Wallahu a’lam

Admin web/Fb Alfattah Pule. Di kutip dari kitab Da’watuttaammah Hal: 60. Karya Syaikh Al Kabiir Al Quthb Al Aarif billah Al Habiib Abdullah bin ‘Alawiy Al Haddaad. Dengan sedikit penyesuaian bahasa.

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *