KAROMAH

“Karomah Kyai Dulu memang keluar dengan sendirinya sebab ke ikhlasan beliau” KH. Baghowi Syuriah PCNU Nganjuk membuka percakapan di sela-sela Istirahat MUSYKERWIL NU Jawa Timur kemarin di Tambakberas Jombang.

Kemudian beliau mengisahkan, “Dulu waktu tahun 80 an, PCNU Nganjuk akan menghadiri Musyawarah kerja wilayah NU (MUSYKERWIL NU) di Surabaya.
Setelah melakukan musyawarah. Akhirnya di sepakati yang menjadi utusan adalah empat orang, Almarhum Al Maghfurlah KH. Hayat sebagai Syuriah Nganjuk, Kakak beliau, perwakilan pengurus cabang dan saya sebagai orang termuda. Dengan menggunakan Jeep milik kakak KH. Hayat sekaligus sebagai “Driver”nya”.

Pergilah rombongan empat orang itu. Setelah acara MUSKERWIL selesai. Rombongan ingin bergegas pulang karena banyak yang punya acara di rumah. Namun, Mbah Yai Hayat ingin mampir ke sahabat karibnya yang sudah bertahun-tahun tidak beliau Jumpai yang kebetulan rumahnya tidak begitu jauh dari tempat MUSKERWIL. Setelah sampai di depan rumah, begitu tahu yang datang adalah Mbah Hayat. Tuan rumah gembira bukan main. Beliau menawarkan agar mbah Hayat sudi menginap di rumahnya. Bahkan menjanjikan akan menyembelih kambing kesayangannya yang paling besar. Namun, karena acara di rumah tidak bisa di tinggalkan, setelah merasa cukup beramah tamah, Mbah Hayat berkata pada Tuan Rumah:

“Maaf, kami serombongan tidak bisa menginap disini. Karena ada acara yang tidak bisa di tinggalkan”.

“Lha kambingnya gimana?” Tanya Tuan Rumah dengan mimik serius.

“Kamu benar-benar ingin memberikan kambing ini ya?”.

“Iya, kapan lagi saya bisa menghormati panjenengan di rumah saya?”.

Alih-alih meng iyakan, malah mbah Hayat bertanya seputar kambing.

“Berapa harga pasaran kambing bagus seperti milikmu itu?”

“Satu Jutaan”.

“Kira-kira, bumbu, beras dan lainnnya habis berapa?”.

“Seratus lima puluh ribuan lah…”.

“Ongkos menyembelih, menguliti dan yang memasak?”.

“Seratus Ribuan”.

“Minuman, rokok dan lainnya?”

“Lima puluh ribuan”.

“Berarti kalau di total menjadi satu juta tiga ratus ribu bukan?”.

“Iya”.

“Dari pada repot-repot, mending kamu kasih saja satu juta tiga ratus itu padaku”. Kata mbah Hayat sambil tersenyum.

Merasa sudah tidak mampu menahan kepergian orang yang di hormatinya. Beliau Tuan rumah meng-Iyakan permintaan Mbah Hayat dengan senang hati.

Kemudian perjalanan di lanjutkan walaupun malam sudah menjelang. Memasuki kawasan Nganjuk, tepatnya di kecamatan Sukomoro, tiba-tiba mesin mobil Jeep yang di tumpangi rombongan macet. Selidik punya selidik ternyata bensin-nya habis!!. Padahal, waktu itu daerah Sukomoro adalah daerah yang jarang berpenghuni (Bulak:Jawa). Jam satu malam pula. Di tengah kebingungan itu, tiba-tiba Mbah Hayat “menjawil” saya (KH. Baghowi) dan berkata:

“Lha bensin karo banyu kali kan podho tho? Podo-podo banyune. Njajal di isi wae karo banyu kali. Insya Allah nek murub” (Bukankah bensin dan air sungai sama kan? Sama-sama airnya. Coba di isi saja sama air sungai. Insya Allah mobilnya menyala).

Di tengah kebingungan dan keputus-asaan, saya mengambil air sungai dan memasukkanya ke tangki bensin. Setelah itu meminta agar mobil di stater. Dan ternyata, Jreenggg….!! Mobilnya menyala!!.

Setelah sampai di tujuan. Sebelum berpisah, beliau Mbah Hayat berpesan pada seluruh rombongan yang hanya tiga orang itu, “Kedadian iku maeng. Ojo sampek mbok critak-critaake sakdurunge aku mati”. (Kejadian tadi, jangan sampai kalian ceritakan sebelum aku mati).

***

Lahumul Faatihah…..

——-
Wallahu a’lam
Admin Web/Fb Alfattah. Di Kisahkan KH. Baghowi ke Admin AlFattah Pule dan sesepuh lainnya. Kami tuturkan dengan sedikit penyesuaian “Translate” bahasa Jawa ke Indonesia.
Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *