Kajian seputar Qunut Forum Kajian Santri Lirboyo

Kajian FKSL (Forum kajian santri lirboyo)
Fksl adalah kajian fiqh online dalam grup WA yang sebagian besar membernya adalah alumni MHM (madrasah hidayatul mubtadiin) 2001 PP. lirboyo Kediri
Kajian pertama masalah qunut

Sail: K. Fathunnuha Grobogan. Soal… Kepareng tangklet Yi..
a. Ketika Tsana ‘ dalam do’a Qunut bagi imam yang sunnah Jahr atau Sirri?
b. Jika disunnahkan Jahr, lalu imam membaca Sirri apakah makruh?
c. Makruh min haitsul Jama’ah atau tidak, lalu dampaknya bagaimana?
d. Menurut imam An Nawawi dlm kitab FATAWI AN-NAWAWI : Makruh bisa mengurangi pahala. apakah memasukkan Khilaful Aula dan Khilaful Afdhol?
e. Apakah setiap sesuatu yang sunnah jika di tinggalkan pasti makruh ? Dhobitnya bagaimana ?.
Matur Suwun sak derenge & ngapunten.
” JAZAKUMULLOH KHOIRON KATSIRO “.

URAIAN JAWABAN

Permasalahan qunut merupakan salah satu topik dari sekian banyak topik yang menjadi perdebatan panjang diantara ulama’. Hal ini tidak terlepas dari ta’arud atau kontradiksi dari dalil-dalil yang berhasil dikumpulkan oleh para ulama’. Karena Tulisan ini hanya dimaksudkan untuk menjawab kemusykilan (kejanggalan) penanya yang notabene perpegang pada madzhab syafi’i. Maka kajian ini dibatasi pada pendapat dari kalangan madzhab syafi’i. Dan juga agar pembahasan tidak melebar serta lebih mudah dipahami oleh masyarakat umum, maka penulis sengaja hanya menampilkan pendapat yang lebih kuat dari berbagai pendapat dari kalangan madzhab syafi’i. Bagi pembaca yang ingin lebih mendalami perbedaan tersebut silahkan baca sendiri literatur-literatur yang ada. Atau silahkan lihat pada beberapa postingan kami yang akan datang. INSYA ALLAH.

Pengertian dan Hukum Qunut
Qunut secara bahasa mempunyai arti memuji atau doa (al-majmu’; Juz III, hal. 483). Dalam pengertian syari’at qunut adalah dzikir tertentu yang memuat pujian dan doa. (Hasyiyah as-Syarqow; juz I, hal. 214). Qunut dalam madzhab Syafi’i hukumnya adalah sunnah pada waktu i’tidal rokaat kedua sholat subuh dan roka’at terakhir sholat witir pada separuh kedua bulan ramadlan.
Hukum sunnah tersebut didasarkan pada beberapa hadits Nabi e di antaranya adalah riwayat Ahmad dari Anas t
عن انس t قال : “ما زال رسول الله e يقنت فى الصبح حتى فارق الدنيا”

“Rosululloh e selalu melakukan qunut pada sholat subuh hingga beliau meninggal dunia”

Demikian pula imam Bukhori dan imam Muslim juga meriwayatkan dari Anas ra.

عن انس t وقد سئل : أقنت النبي e الصبح ؟ قال : نعم , فقيل له : أوقنت قبل الركوع ؟ قال : بعد الركوع يسيرا.

Dari Anas RA beliau ditanya: “apakah Rosulullah e qunut pada waktu subuh?”. Beliau menjawab: “benar” kemudian Anas ditanya: “apakah sebelum ruku’?”. Anas menjawab: “setelah ruku’ sebentar”.

Dan masih ada beberapa hadits yang dijadikan dasar madzhab syafi’i dalam menetapkan hukum kesunnahan qunut ini. (Lebih lanjut silahkan lihat pada al-majmu’ juz III, halaman 484-485, attalkhishul khobir; Juz I, hal 448-450 dan yang lain)

Lafadh Qunut
Tidak ada keharusan melafalkan qunut dengan kalimat tertentu karena tujuan utama qunut adalah do’a. Karena itu qunut bisa dilakukan dengan mengucapkan kalimat-kalimat yang mengandung pujian dan dan do’a kepada Allah U dengan lafadh apapun. Akan tetapi lebih sempurna apabila menggunakan do’a yang diriwayatkan dari Rosulullah e . (al-Fiqhul Manhaj; juz I, hal. 147).
Abu Dawud meriwayatkan
عن الحسن بن علي t قال : علمنى رسول الله e كلمات اقولهن فى الوتر : “اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ , وَعَافِنِي  فِيمَنْ عَافَيْتَ , وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ , وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ , وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ , إِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ , وَاِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ, ولَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ, تَبَارَكَتْ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ”
Dari al-Hasan bin Ali t beliau berkata: “Aku diajari Rosulullah e beberapa kalimat yang aku ucapkan dalam witir, yaitu: Allohumahdini fii manhaadayta … (hadits nomer 1425)

Pada praktek sholat subuh al-Hakim meriwayatkan:
عن أبي هريرة – رضي الله عنه – أن النبي – صلى الله عليه وسلم – كان إذا رفع رأسه من الركوع من صلاة الصبح في الركعة الثانية، رفع يديه يدعو بهذا الدعاء: ” اللهم أهدني فيمن هديت …”
“Dari Abi Hurayrah t; sesungguhnya Nabi e ketika mengangkat kepalanya dari ruku’ sholat subuh pada roka’at kedua , beliau mengangkat kedua tangannya seraya berdoa dengan do’a ini ” Allohummahdini fii man hadayta ….”

Disunnahkan pula setelah do’a qunut membaca sholawat atas Nabi Muhammad e hal ini didasarkan pada riwayat shohih imam An-Nasai dari hadits al-Hasan bin Ali di atas dengan tambahan
عَلَّمَنِي رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ فِي الْوِتْرِ قَالَ : اللَّهُمَّ اهْدِنِي فَذَكَرَ الْأَلْفَاظَ الثَّمَانِيَةَ وَقَالَ فِي آخِرِهَا : تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ
“Aku diajari Rosulullah e beberapa kalimat yang aku ucapkan dalam witir, yaitu: Allohumahdini fii manhaadayta … kemudian al-Hasan menyebutkan delapan kalimat dan pada akhir kalimat beliau berkata tabaarokta wa ta ‘alayta wa sholla Allahu ‘alan Nabi”

Berdasar pada kalimat terakhir yang menyebutkan sholawat itulah para ulama menetapkan hukum sunnah membaca sholawat di akhir qunut. (majmu’; juz III, hal. 479).
Dengan demikian, dalam qunut itu terdapat do’a, pujian atau tsana’ dan sholawat. kalimat اللهم اهدنى  hingga kalimat وقنى شر ما قضيت  , berisi permohonan atau doa. Kalimat فانك تقضى  sampai تباركت وتعاليت  adalah pujian atau tsana’. Setelah itu adalah sholawat.

Dibaca keras atau lirih
Ada banyak pendapat di kalangan madzhab Syafi’i tentang cara membaca do’a qunut, apakah dibaca keras (jahr) atau dibaca lirih (sirri). Diantara pendapat-pendapat tersebut, pendapat yang lebih kuat dapat disimpulkan sebagai berikut (al-majmu’; juz III, hal. 482)
Orang yang sholat sendirian (munfarid) sunnah melirihkan suaranya
Imam sunnah mengeraskan suara termasuk ketika membaca puji-pujian dan sholawat
Makmum sunnah mengamini imam pada lafadh-lafadh do’a dan sholawat
Pada waktu imam membaca puji-pujian makmum disunnahkan ikut membaca dengan suara lirih

Sunnahnya mengeraskan suara bagi imam ini didasarkan pada hadits shohih tentang qunut nazilah (shohih al-bukhori; Juz III, hal. 113-114. Al-haromain)

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان إذا أراد أن يدعو على أحد أو يدعو لأحد قنت بعد الركوع فربما قال إذا قال ( سمع الله لمن حمده ) ( اللهم ربنا لك الحمد اللهم أنج الوليد بن الوليد وسلمة بن هشام وعياش ابن أبي ربيعة اللهم اشدد وطأتك على مضر واجعلها سنين كسني يوسف ) . يجهر بذلك وكان يقول في بعض صلاته في صلاة الفجر ( اللهم العن فلانا وفلانا ) . لأحياء من العرب حتى أنزل الله { ليس لك من الأمر شيء } . الآية

“Sesungguhnya Rosulullah saw ketika hendak mendoakan keburukan atas seseorang atau mendoakan kebaikan beliau berdoa setelah ruku’. Terkadang ketika beliau mengucapkan sami’allah liman hamidah beliau berdoa {Ya Allah Tuhan kami, bagiMu segala puji. Ya Allah selamatkanlah al-Walid ibnu al-Walid, salamah bin hisyam, ‘iyasy bin abi robi’ah. Ya Allah kuatkanlah siksaanMu atas Mudlor. Jadikanlah balasanMu itu bertahun-tahun seperti tahun-tahun Yusuf}. Rosululloh saw mengeraskan bacaan tersebut ….. “

Sedangkan diantara dasar kesunnahan membaca amin bagi makmum, Al-imam Ahmad bin Ali al-Kannani mengetengahkan sebuah hadits dari riwayat ibn Abbas (Attalkhishul Khobir; Juz I, hal. 451)

{ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَقْنُتُ وَنَحْنُ نُؤَمِّنُ خَلْفَهُ } , تَقَدَّمَ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ بِلَفْظِ : { يُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ } .

“{Nabi saw membaca qunut dan kami mengamini dibelakangnya}, dari hadits ibnu Abbas yang telah lalu dengan menggunakan lafadh {orang yang ada dibelakangnya mengamini}”

Kata amin berarti “kabulkanlah doa kami”. Karena itu ketika imam mengucapkan tsana’ kata amin menjadi kurang sesuai. Lebih sesuai bila makmum juga ikut mengucapkan tsana seperti halnya imam. (lihat hasyiyah al-jamal alal manhaj; Juz II, hal.294)

Sunnah vs makruh
Semua hukum syari’at pada dasarnya bersumber pada perintah dan larangan Sang pembuat syari’at itu sendiri. Tak terkecuali hukum sunnah dan makruh. Suatu perbuatan dihukumi sunnah apabila terdapat perintah yang bersifat ghoiru jazim atau tidak mantap dalam arti perintah tersebut masih boleh untuk ditinggalkan. Sebaliknya, suatu perbuatan dihukumi makruh apabila terdapatkan larangan yang bersifat ghoiru jazim atau larangan yang punya indikasi boleh ditinggalkan (ghoyatul wushul syarh lubbul ushul; Juz I, hal: 10-11). Jadi makruh atau tidaknya sesuatu itu tergantung ada atau tidaknya dalil yang secara khusus melarang mengerjakan atau meninggalkan sesuatu.(Jam’ul Jawami’; Juz I, hal: 82)

Pekerjaan yang mempunyai hukum sunnah bila ditinggalkan tidak akan berakibat makruh selagi tidak ada larangan untuk meninggalkannya. Sebaliknya, akan menjadi makruh bila ada dalil larangan meninggalkannya, Contoh kasus ini adalah sholat tahiyyatal masjid hukumnya sunnah. Meninggalkannya makruh karena ada larangan duduk di dalam masjid sebelum melakukan sholat dua roka’at. Bila tidak ada larangan meninggalkan maka hukum meninggalkannya menjadi khilaful awla. Contohnya adalah sholat dluha, melakukannya hukumnya sunnah, meninggalkannya khilaful awla.

Dalam kaitannya dengan permasalahan qunut, berdasar pada hadits tentang qunut nazilah yang dibaca keras oleh Rosululloh saw. Maka ulama menyatakan bahwa hukum mengeraskan suara qunut adalah sunnah karena mengikuti Rosululloh saw. Para ulama’ tidak mendapati adanya larangan membaca lirih. Karena itu hukum melirihkan qunut adalah khilaful awla. Dalam arti orang yang membaca qunut dengan lirih berarti telah meninggalkan hal yang utama yang karenanya ia tidak mendapat pahala sesempurna orang yang membaca keras.

Melihat pemaparan di atas dapat dipahami bahwa pada intinya makruh dan khilaful awla itu adalah istilah yang mengacu pada tinjauan dalil. Adakah dalil yang secara khusus melarang meninggalkan ataukah larangan itu hanya dipaham dari perintah mengerjakan yang logikanya adalah larangan meninggalkan. Namun demikian, implikasi hukum keduanya relatif sama, yakni adanya pahala dalam meninggalkan dan tidak ada dosa dalam mengerjakannya.  Berdasar pada ada atau tidaknya larangan tersebut ulama’ mutaakkhirin membedakan antara makruh dan khilaful awla. Jika diketemukan dalil yang melarang maka hukumnya makruh dan bila tidak maka hukumnya khilaful awla. Sedangkan ulama’ mutaqoddimin tidak membedakan antara makruh dan khilaful awla. Jadi

Kesimpulan jawaban
a. Do’a qunut termasuk pujian (tsana’)sunnah dibaca jahr (keras) oleh imam.
b. Imam yang membaca pujian (tsana’) dengan cara sirri (lirih) tidak dihukumi makruh.
c. Membaca sirri bacaan qunut bukan termasuk makruh min haytsul jama’ah
d. Fatwa imam An-Nawawi tentang kurangnya pahala karena mengerjakan makruh itu juga memasukkan khilaful awla. Karena kwalitas ibadah yang sempurna (awla/afdlol) jelas berbeda dengan ibadah yang tidak sempurna (khilaful awla/khilaful afdlol)
e. Meninggalkan sesuatu yang sunnah tidak secara otomatis berdampak makruh. Makruh atau tidak, didasarkan pada ada atau tidaknya dalil khusus yang melarang untuk meninggalkan.

Referensi :

المجموع شرح المهذب الجزء الثالث ص : 483
الْقُنُوتُ فِي اللُّغَةِ لَهُ مَعَانٍ , مِنْهَا الدُّعَاءُ , وَلِهَذَا سُمِّيَ هَذَا الدُّعَاءُ قُنُوتًا , وَيُطْلَقُ عَلَى الدُّعَاءِ بِخَيْرٍ وَشَرٍّ , يُقَالُ : قَنَتَ لَهُ وَقَنَتَ عَلَيْهِ
حاشية الجمل على المنهج لشيخ الإسلام زكريا الأنصاري (2/ 294(
قوله وأن يجهر به أي بما ذكر من القنوت والصلاة والسلام سواء كان للصبح أو للوتر أو للنازلة في السرية كالصبح إذا فعلت بعد الشمس والوتر كذلك ويسن أن يجهر الإمام أيضا إذا سأل الله الرحمة أو استعاذ به من النار وهي مسألة مهمة يغفل عنها أئمة الزمن كذا بخط شيخنا وكتب أيضا قوله وأن يجهر به إمام أي وإن كان المأمومون لا يسمعون لصمم كما أفتى به والد شيخنا ا ه شوبري وعبارة شرح م ر وإذا سأل الرحمة أو استعاذ من النار ونحوها فإن الإمام يجهر به ويوافقه فيه المأموم ولا يؤمن كما قاله في المجموع قال في الإحياء وتبعه القمولي وغيره انتهت قوله أيضا وأن يجهر به إمام أي حتى في الثناء ولو قلنا إن المأموم يوافقه فيه هذا قضية إطلاقه قال الإسنوي يحتمل أن يسر ويحتمل أن يجهر كما لو سأل الإمام الرحمة أو استعاذ من النار فإنه يجهر
مغنى المحتاج الجزء ص : 167
(و) الصحيح (أن الإمام يجهر به) للاتباع رواه البخاري وغيره قال الماوردي: وليكن جهره به دون جهره بالقراءة، والثاني لا كسائر الأدعية المشروعة في الصلاة. أما المنفرد فيسر قطعا (و) الصحيح (أنه يؤمن المأموم للدعاء) للاتباع رواه أبو داود بإسناد حسن أو صحيح، ويجهر به كما في تأمين القراءة (ويقول الثناء) سرا وهو فإنك تقضي إلى آخره؛ لأنه ثناء وذكر فكانت الموافقة فيه أليق، وفي الروضة وأصلها أنه يقول الثناء أو يسكت، وقال المتولي: أو يقول أشهد، وقال الغزالي: أو صدقت وبررت،
المجموع شرح المهذب الجزء الثالث ص : 482 مكتبة الالكترونى جامع الفقه الاسلامى اصدار 1,03
( السادسة ) إذا قنت الإمام في الصبح هل يجهر بالقنوت ؟ فيه وجهان مشهوران عند الخراسانيين , وحكاهما جماعة من العراقيين ومنهم صاحب الحاوي ( أحدهما ) لا يجهر كالتشهد وكسائر الدعوات ( وأصحهما ) يستحب الجهر , وبه قطع أكثر العراقيين , ويحتج له بالحديث الذي سنذكره إن شاء الله قريبا عن صحيح البخاري في قنوت النازلة , وبالقياس على ما لو سأل الرحمة أو استعاذ من العذاب في أثناء القراءة , فإن المأموم يوافقه في السؤال , ولا يؤمن , وبهذا استدل المتولي وأما المنفرد فيسر به بلا خلاف , صرح به الماوردي والبغوي وغيرهما . وأما المأموم – فإن قلنا : لا يجهر الإمام – قنت وأسر . وإن قلنا : يجهر الإمام فإن كان يسمع الإمام فوجهان مشهوران للخراسانيين ( أصحهما ) يؤمن على دعاء الإمام ولا يقنت وبهذا قطع المصنف والأكثرون ( والثاني ) يتخير بين التأمين والقنوت فإن قلنا يؤمن في ( أحدهما ) يؤمن في الجميع ( وأصحهما ) وبه قطع الأكثرون : يؤمن في الكلمات الخمس التي هي دعاء . وأما الثناء وهو قوله : فإنك تقضي ولا يقضى عليك إلى آخره فيشاركه في قوله أو يسكت , والمشاركة أولى ; لأنه ثناء وذكر لا يليق فيه التأمين , وإن كان لا يسمع الإمام لبعد أو غيره وقلنا لو سمع لأمن فههنا وجهان ( أصحهما ) يقنت ( والثاني ) يؤمن , وهما كالوجهين في استحباب قراءة السورة إذا لم يسمع قراءة الإمام . هذا كله في الصبح وفيما إذا قنت في الوتر في النصف الأخير من شهر رمضان . وأما إذا قنت في باقي المكتوبات حيث قلنا به فقال الرافعي كلام الغزالي يقتضي أنه يسر به في السريات , وفي جهره به في الجهريات الوجهان , قال  وإطلاق غيره يقتضي طرد الخلاف في الجميع . قال وحديث قنوت النبي صلى الله عليه وسلم حين قتل القراء رضي الله عنهم يقتضي أنه كان يجهر به في جميع الصلوات , هذا كلام الرافعي والصحيح أو الصواب استحباب الجهر , ففي البخاري في تفسير قول الله تعالى { ليس لك من الأمر شيء } عن أبي هريرة رضي الله عنه { أن النبي صلى الله عليه وسلم جهر بالقنوت في قنوت النازلة } وفي الجهر بالقنوت أحاديث كثيرة صحيحة سنذكرها إن شاء الله تعالى قريبا في فرع مذاهب العلماء في القنوت . واحتج المصنف والأصحاب في استحباب تأمين المأموم على قنوت الإمام بحديث ابن عباس رضي الله عنهما قال : { قنت رسول الله صلى الله عليه وسلم شهرا متتابعا في الظهر والعصر والمغرب والعشاء والصبح في دبر كل صلاة , إذا قال سمع الله لمن حمده في الركعة الآخرة يدعو على أحياء من بني سليم على رعل وذكوان وعصية ويؤمن من خلفه } رواه أبو داود بإسناد حسن أو صحيح .
السراج الوهاج – (ج 1 / ص 46)
و الصحيح أن الإمام يجهر به أي القنوت ومقابله لا يجهر و الصحيح أنه يؤمن المأموم للدعاء ويجهر بالتأمين ويقول الثناء سرا وهو فانك تقضي إلى آخره أو يسكت أو يقول أشهد والصلاة على النبي دعاء فيؤمن لهل ومقابل الصحيح أنه يؤمن في الكل وقيل يوافقه في الكل فإن لم يسمعه المأموم بعد أو صمم قنت سرا .
فتاوى النووي (ص: 237)
مسألة: إِذا علم الِإنسان شيئًا هو حرام أو مكروه ففعله، هل يفسق ويعاقب عليه في الآخرة أم لا؟.
أجاب رضي الله عنه: أما المكروه: فلا يعاقب عليه: لكن ينقص أجره بالنسبة إِلى من لا يفعله
البحر المحيط فى الاصول بدر الدين الزركاشى الشافعى الجزء الاول ص : 400 جامع الفقه الاسلامى
فَصْلٌ فِي خِلَافِ الْأَوْلَى هَذَا النَّوْعُ أَهْمَلَهُ الْأُصُولِيُّونَ , وَإِنَّمَا ذَكَرَهُ الْفُقَهَاءُ وَهُوَ وَاسِطَةٌ بَيْنَ الْكَرَاهَةِ وَالْإِبَاحَةِ , وَاخْتَلَفُوا فِي أَشْيَاءَ كَثِيرَةٍ هَلْ هُوَ مَكْرُوهٌ , أَوْ خِلَافُ الْأَوْلَى ؟ كَالنَّفْضِ وَالتَّنْشِيفِ فِي الْوُضُوءِ وَغَيْرِهِمَا . قَالَ إمَامُ الْحَرَمَيْنِ فِي كِتَابِ الشَّهَادَاتِ مِنْ ” النِّهَايَةِ ” : التَّعَرُّضُ لِلْفَصْلِ بَيْنَهُمَا مِمَّا أَحْدَثَهُ الْمُتَأَخِّرُونَ , وَفَرَّقُوا بَيْنَهُمَا بِأَنَّ مَا وَرَدَ فِيهِ نَهْيٌ مَقْصُودٌ يُقَالُ فِيهِ : مَكْرُوهٌ وَمَا لَا فَهُوَ خِلَافُ الْأَوْلَى , وَلَا يُقَالُ : مَكْرُوهٌ , وَقَالَ : الْمُرَادُ بِالنَّهْيِ الْمَقْصُودِ أَنْ يَكُونَ مُصَرَّحًا بِهِ كَقَوْلِهِ : لَا تَفْعَلُوا كَذَا , أَوْ نَهَيْتُكُمْ عَنْ كَذَا , بِخِلَافِ مَا إذَا أَمَرَ بِمُسْتَحَبٍّ فَإِنَّ تَرْكَهُ لَا يَكُونُ مَكْرُوهًا , وَإِنْ كَانَ الْأَمْرُ بِالشَّيْءِ نَهْيًا عَنْ ضِدِّهِ ; لِأَنَّا اسْتَفَدْنَاهُ بِاللَّازِمِ وَلَيْسَ بِمَقْصُودٍ . وَحَكَى الرَّافِعِيُّ عَنْهُ فِي كِتَابِ الزَّكَاةِ فِي كَرَاهَةِ الصَّلَاةِ عَلَى غَيْرِ الْأَنْبِيَاءِ مَا يُبَيِّنُ أَنَّ الْمُرَادَ بِالنَّهْيِ الْمَقْصُودِ تَعْمِيمُ النَّهْيِ لَا خُصُوصُهُ , إذْ قَالَ : وَوَجَّهَهُ إمَامُ الْحَرَمَيْنِ بِأَنْ قَالَ : الْمَكْرُوهُ يَتَمَيَّزُ عَنْ خِلَافِ الْأَوْلَى بِأَنْ يُفْرَضَ فِيهِ نَهْيٌ مَقْصُودٌ , وَقَدْ ثَبَتَ نَهْيٌ مَقْصُودٌ عَنْ التَّشَبُّهِ بِأَهْلِ الْبِدَعِ , وَإِظْهَارُ شِعَارِهِمْ , وَالصَّلَاةُ عَلَى غَيْرِ الْأَنْبِيَاءِ مِمَّا اُشْتُهِرَ بِالْفِئَةِ الْمُلَقَّبَةِ بِالرَّفْضِ . ا هـ . وَكَلَامُ الْإِمَامِ فِي كِتَابِ الْجُمُعَةِ يَقْتَضِي أَنَّهُ لَا فَرْقَ بَيْنَهُمَا , فَإِنَّهُ قَالَ : كُلُّ فِعْلٍ مَسْنُونٍ صَحَّ الْأَمْرُ بِهِ مَقْصُودًا فَتَرْكُهُ مَكْرُوهٌ . وَقَالَ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ : إنَّمَا يُقَالُ : تَرْكُ الْأَوْلَى إذَا كَانَ مُنْضَبِطًا كَالضُّحَى وَقِيَامِ اللَّيْلِ , وَمَا لَا تَحْدِيدَ لَهُ وَلَا ضَابِطَ مِنْ الْمَنْدُوبَاتِ لَا يُسَمَّى تَرْكُهُ مَكْرُوهًا , وَإِلَّا لَكَانَ الْإِنْسَانُ فِي كُلِّ وَقْتٍ مُلَابِسًا لِلْمَكْرُوهَاتِ الْكَثِيرَةِ مِنْ حَيْثُ إنَّهُ لَمْ يَقُمْ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ , أَوْ يَعُودُ مَرِيضًا وَنَحْوَهُ . ا هـ . وَالتَّحْقِيقُ : أَنَّ خِلَافَ الْأَوْلَى قِسْمٌ مِنْ الْمَكْرُوهِ , وَدَرَجَاتُ الْمَكْرُوهِ تَتَفَاوَتُ كَمَا فِي السُّنَّةِ , وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُعَدَّ قِسْمًا آخَرَ , وَإِلَّا لَكَانَتْ الْأَحْكَامُ سِتَّةً , وَهُوَ خِلَافُ الْمَعْرُوفِ , أَوْ كَانَ خِلَافُ الْأَوْلَى خَارِجًا عَنْ الشَّرِيعَةِ وَلَيْسَ كَذَلِكَ .

1 thought on “Kajian seputar Qunut Forum Kajian Santri Lirboyo

    Robert Azmi

    (October 22, 2017 - 14:02)

    Alhamdulillaaahhhh,,,,, Semakin ngganteng Webnya,,,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *