Jaring laba-Laba

“Bersihkan rumah kalian dari jaring laba-laba, karena meninggalkannya (Tidak membersihkannya) bisa mewariskan kefakiran!” dawuh Sayyidina Ali Karamallahu Wajhah yang disitir Imam Damiri dalam Hayatul Hayawannya Juz 2 Hal 615 cet. Darul Fikr.

Sama dengan yg ada dalam Ta’lim Mutaallimnya Imam Zarnuji kan?!. Yang ada di halaman 44 cet. Daru Ihyaa-il Kutuub Arabiyaah ituuu…

Remang-remang waktu masih ngaji di Desa dulu, Mbah Yai kami mengomentari, “Ini mungkin saja gini, (Sebab dalam Syarah Ta’limnya tidak ada keterangannya); Rumah yg banyak jaring laba-laba, berarti rumah tidak terawat. Lha kalau tidak terawat, berarti tidak ada biaya untuk merawat, makanya faqir! Dan kalau pemilik rumah itu kaya, kok rumahnya kotor penuh dengan jaring laba-laba, bisa saja kan, Gusti Allah menghalang-halangi rizkinya. Persis dengan pemilik toko yg tokonya lusuh, kotor penuh dengan jaring laba-laba, sangat mungkin itu jadi penyebab seretnya rizki. Gimana mau dapat rizki?! Wong pembelinya tidak betah berlama-lama ditoko itu. Tapi untuk keterangan yang ini, ini dan ini saya tidak tahu apa rahasianya (Yakni, salah satu penyebab kefaqiran yg tertutur dalam kitab Ta’lim seperti: makan dalam keadaan junub, membakar kulit bawang merah, orang yg bertelekan pada lambung/leyeh-leyeh dll) yang penting dilakukan, Insya Allah tetep ada hikmahnya”.

Dan Alhamdulillah sampai saat ini, kalau waktu tidak malas dan dalam keadaan sadar, aku senang bersih-bersih jaring laba-laba. “Kalian ingat pelajaran di Ta’lim kan?!” kataku pada anak buwah, dan mereka Alhamdulillah manggut-manggut ikut bantu-bantu membersihkan. Serta Alhamdulillahnya, setelah bersih-bersih, toko lancar jaya! Hehe…

Apakah ada alasan selain itu?! Wallahu a’lam. Mungkin saja. Ini mungkin saja lho… Kan jenis laba-laba itu banyak! Iya kalau yg mengentub itu laba-labanya mas Spiderman?! Bisa loncat-loncat kita! Tapi, kalau yg ngentub itu sejenis Black widow?! Bisa habis duwit banyak itu berobat itu! Jadinya apa kalau tidak ke faqir?!
Kalau punya uang banyak, kan gak jadi faqir?!. Iya kalau ngentubnya cuma di jempol dan langsung ditangani. Kalau ngentubnya di dekat hati?! Ba ha ya… Apalagi kalau masih jones! Hahaha.

Terus gini. Berarti laba-laba itu makhluk berbahaya dan harus disingkirkan?! Apalagi secara hadist, walaupun di statuskan dlaif sih. Bahwa Baginda Nabi Shalallahu Alayhi Wasallama pernah bersabda:

ان العنكبوت شيطان فاقتلوه
“Sungguh, laba-laba adalah Setan, maka bunuhlah!”.

Ya nggak sadis-sadis amat gitulah!.

Ingat manusiapun fitrahnya baik, tapi ada satu, dua, tiga, empat lima bahkan ribuan yg dalam kondisi tertentu bisa di perangi. Apa bedanya dengan laba-laba?!.

Terlebih, laba-laba pun tercatat dalam sejarah menolong dua Nabi yg terdesak, Yakni Kanjeng Nabi Muhammad Shalallahu Alayhi dengan kisah gua Tsur yang Mashur itu, dan Nabi Dawud waktu di kejar-kejar Jalut!. Ples menolong dua orang manusia terkasih kanjeng Nabi dengan cara yg sama, yakni membentangkan jaringnya untuk tempat bersembunyi dan menyembunyikan aibnya: Pertama Sahabat Abdullah bin Anis Radliyallalu Anhu yg diutus Baginda Nabi sebagai Assasin!. Dan kedua kejadian memilukan yg menimpa cicit Baginda Nabi Sayyid Zaid bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhum, ketika Beliau dibunuh, disalib sadis dan ditelanjangi dimuka umum pada tahun 121 H. Dan dengan izin Allah ada laba-laba mulia yg menutupi auratnya dengan jaringnya!

Jadi, gimana?! Entahlah! Sebab Seperti halnya dua sisi mata uang. Hampir semua hal dan makhluk hidup punya dua sisi! Baik-buruk, positif-negatif, kalah-menang. Tinggal kita menimbangnya yg terbaik. Kalau saya dengan Syariat dari pengejawantahan para Ulama yg menjadi penyambung Baginda Nabi Shalallahu Alayhi Wasallama. Kok masih gak bener?! Ya biasaaa,,,, secara manusia gitu loh! Tempat salah dan lupa, wong Ijtihad sekaliber Imam Malik saja bisa di counter Imam Syafi’i?! Dan Beliau Imam Syafi’i juga sering nggak sama dengan Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin Hambal, padahal semuanya mencari apa?! Kebenaran yg sesuai dengan apa yg di kehendaki Gusti Allah Ta’ala kan?!.
Dan kalau sudah gini?! Apalagi yg bisa dilakukan kecuali meminta ampun pada-Nya seraya berharap mendapatkan kerelaan-Nya!.

Terakhir, yg jelas status ini bukan masalah pilkada. Sebab saya sudah biasa kalah. Milih pak prabowo karena manut guru, kalah!. Milih gus Ipul karena manut guru, juga kalah! Tapi inilah kami! Santri bersarung hehe. Yg penting tempur! Urusan menang kalah yang penting sudah melegakan hati guru, itu harga mati. Dan kemudian tetep cincing-cincing untuk membantu pemerintahan yg sah! Bahkan kalau perlu dengan tampang garang! Sebab tiada yg lebih indah daripada damai! Itulah saya, dan mungkin kebanyakan dari kami…

Salut untuk para pemenang, semoga panjenengan semua diridloi Gusti Allah Ta’ala Amiiinnn….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.