Indahnya Akhlaq PENGAJAR-Mu’allim-Ustadz-Masyayikh

(Di sari kan dari kitab al mausuah al fiqhiyyah)

Dan telah di tuturkan dalam kitab Arbain Al Fattah. Mata pelajaran kelas IV Ibtidaiyyah Madrasah Al Fattah

Dalam Kitab Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Akhlaq Mu’allim (Pengajar) terbagi sebagai berikut:

BUDI PEKERTI MU’ALLIM  UNTUK DIRI SENDIRI:

  1. Senantiasa takut kepada Alloh dalam keadaan rahasia maupun kelihatan, dan menjaga rasa takut kepada Alloh disegala tindak-tanduknya.
  2. Menjaga Ilmu dengan menjaga kemuliaan Ilmu, maka tidak boleh merendahkan ilmu (semisal) dengan mendatangi orang kaya selain keadaan darurat.
  3. Berakhlaq Zuhud (tidak menggantungkan hati dan niat pada) materi atau dunia.
  4. Membersihkan ilmu, dengan cara tidak menjadikan ilmu sebagai perantara mencari tujuan dunia.
  5. Menjauhi pekerjaan yang dianggap rendah secara adat atau syara’ dan menjauhi tempat-tempat yang bisa menimbulkan prasangka.
  6. Senantiasa melakukan syiar Islam, dengan menampakkan perbuatan sunnah, memadamkan (menghilangkan) bid’ah dlolalah serta berusaha menegakkan agama sesuai syariat.
  7. Menjaga (senantiasa melakukan) hal-hal sunat, baik perbuatan ataupun ucapan seperti membaca Al Qur’an, Sholat sunnat dsb.
  8. Senantiasa punya keinginan kuat untuk menambah ilmu, dan tidak malu mempelajari ilmu dari orang sebawahnya.

 

BUDI PEKERTI MU’ALLIM WAKTU BELAJAR:

  1. Senantiasa menjauhi hadast, bersih, memakai wewangian dan memakai pakaian yang baik waktu mengajar.
  2. Mengambil tempat duduk yang bisa dilihat semua murid.
  3. Berwibawa pada murid yang unggul dan lemah-lembut pada murid lainnya
  4. Memuliakan murid dengan mengucapkan salam.
  5. Wajahnya berseri-seri.
  6. Memulai pelajaran dengan membaca sebagian Al Qur’an, semisal Al Fatihah.
  7. Apabila pelajarannya banyak, mendahulukan pelajaran yang paling mulia dan paling penting.
  8. Tidak menutur hal syubhat (hal yang tidak jelas halal-haramnya) agama, dan apabila (ditanyai) perkara subhat menjawab pada pelajaran setelahnya, dengan jawaban yang sempurna atau sama sekali tidak menjawab.
  9. Tidak memperpanjang bahasan sampai taraf membosankan.
  10. Tidak memperpendek bahasan sampai taraf merusak pemahaman.
  11. Menjaga kelas agar tidak ramai.
  12. Tidak membiasakan pembahasan yang setengah-setengah (setiap memberi keterangan dan mengulas pembahasan diusahakan sampai tuntas).
  13. Tidak memegang pelajaran yang bukan ahlinya (mengajarkan sesuatu yang tidak di fahaminya).

 

BUDI PEKERTI MU’ALLIM KEPADA PELAJAR:

  1. (Berusaha mempunyai) Tujuan mengajar hanya ingin mencari ridlo Alloh, menyebarkan Ilmu dan menghidupkan syariat.
  2. Tidak berhenti mengajar karena (merasa) tidak ikhlas, karena niat yang baik akan menjadi sebab barokahnya ilmu (yang menghantar ke ikhlas). Sebagian ulama salaf berkata: “Kami belajar ilmu (pertama kali) karena selain Alloh, kemudia kami di bisa melakukan hanya untuk Alloh. Karena ikhlasnya niat, andai saja ikhlas disyaratkan pada belajar para pemula -dengan kesulitan ikhlas pada para pemula- maka akan banyak manusia yang tidak mau mempelajari ilmu, akan tetapi seorang guru senantiasa mendorong muridnya untuk mempunyai niat yang baik secara bertahap”
  3. Berusaha memberikan dorongan agar pelajar senang mencari ilmu di kebanyakan waktunya.
  4. Lemah-lembut dalam usaha memahamkan murid, dan mendorong murid untuk mencari faidah-faidah.
  5. Tidak menyimpan ilmu yang di ketahuinya (Ustadz/Sayaikh/guru), waktu ada yang bertanya. Begitu pula tidak memberi penjelasan suatu yang bukan keahliannya (yang tidak faham), karena bisa mencerai-beraikan hatinya dan memecah pemahamannya.
  6. Punya keinginan kuat untuk memahamkan murid, dengan segala daya upaya, dan apabila murid punya keinginan ilmu diatas kewajaran yang tidak sesuai dengan tingkatan murid maka guru harus menasehatinya dengan pelan.
  7. Tidak membedakan murid satu dengan lainnya.
  8. Senantiasa berpegangan atas hal-hal yang merupakan kebaikan murid, merangkul hati murid dan menolong murid dengan sesuatu yang bisa memudahkan.
  9. Menanyakan murid yang lama tidak masuk, apabila tidak ada khabar sebaiknya mengirim utusan, namun lebih baik menengok sendiri (memberikan perhatian penuh).
  10. Senantiasa bertawadlu’ pada murid.

 

الموسوعة الفقهية الجزء التاسع والعشرون ص: 85

وَآدَابُ الْمُعَلِّمِ فِي دَرْسِهِ هِيَ: 13 – أَنْ يَتَطَهَّرَ مِنْ الْحَدَثِ وَالْخَبَثِ وَيَتَنَظَّفَ وَيَتَطَيَّبَ وَيَلْبَسَ مِنْ أَحْسَنِ ثِيَابِهِ إذَا جَلَسَ لِلتَّدْرِيسِ, وَأَنْ يَجْلِسَ بَارِزًا لِجَمِيعِ الْحَاضِرِينَ, وَيُوَقِّرَ فَاضِلَهُمْ, وَيَتَلَطَّفَ بِالْبَاقِينَ, وَيُكْرِمَهُمْ بِحُسْنِ السَّلَامِ, وَطَلَاقَةِ الْوَجْهِ. وَأَنْ يَقْدَمَ عَلَى الشُّرُوعِ فِي الْبَحْثِ وَالتَّدْرِيسِ قِرَاءَةَ شَيْءٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى تَبَرُّكًا وَتَيَمُّنًا. وَإِذَا تَعَدَّدَتْ الدُّرُوسُ قَدَّمَ الْأَشْرَفَ فَالْأَشْرَفَ, وَالْأَهَمَّ فَالْأَهَمَّ, وَلَا يَذْكُرُ شُبْهَةً فِي الدِّينِ فِي دَرْسٍ وَيُؤَخِّرُ الْجَوَابَ عَنْهَا إلَى دَرْسٍ آخَرَ ; بَلْ يَذْكُرُهُمَا جَمِيعًا أَوْ يَدَعُهُمَا جَمِيعًا, وَيَنْبَغِي أَنْ لَا يُطِيلَ الدَّرْسَ تَطْوِيلًا يُمَلُّ, وَلَا يُقَصِّرَهُ تَقْصِيرًا يُخِلُّ. وَأَنْ يَصُونَ مَجْلِسَهُ عَنْ اللَّغَطِ وَعَنْ رَفْعِ الْأَصْوَاتِ. وَأَنْ يُلَازِمَ الْإِنْصَافَ فِي بَحْثِهِ وَخِطَابِهِ.  وَأَنْ لَا يَنْتَصِبَ لِلتَّدْرِيسِ إذَا لَمْ يَكُنْ أَهْلًا لَهُ.

وَآدَابُ الْمُعَلِّمِ مَعَ طَلَبَتِهِ هِيَ: 14 – أَنْ يَقْصِدَ بِتَعْلِيمِهِمْ وَتَهْذِيبِهِمْ وَجْهَ اللَّهِ تَعَالَى, وَنَشْرَ الْعِلْمِ, وَإِحْيَاءَ الشَّرْعِ. وَأَنْ لَا يَمْتَنِعَ مِنْ تَعْلِيمِ الطَّالِبِ, لِعَدَمِ خُلُوصِ نِيَّتِهِ, فَإِنَّ حُسْنَ النِّيَّةِ مَرْجُوٌّ لَهُ بِبَرَكَةِ الْعِلْمِ, قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: طَلَبْنَا الْعِلْمَ لِغَيْرِ اللَّهِ, فَأَبَى أَنْ يَكُونَ إلَّا لِلَّهِ, وَلِأَنَّ إخْلَاصَ النِّيَّةِ لَوْ شُرِطَ فِي تَعْلِيمِ الْمُبْتَدَئِينَ فِيهِ مَعَ عُسْرِهِ عَلَى كَثِيرٍ مِنْهُمْ لَأَدَّى ذَلِكَ إلَى تَفْوِيتِ الْعِلْمِ عَلَى كَثِيرٍ مِنْ النَّاسِ, لَكِنَّ الشَّيْخَ يُحَرِّضُ الْمُبْتَدِئَ عَلَى حُسْنِ النِّيَّةِ بِالتَّدْرِيجِ. وَأَنْ يُرَغِّبَ الطَّالِبَ فِي الْعِلْمِ وَطَلَبِهِ فِي أَكْثَرِ الْأَوْقَاتِ. وَأَنْ يَتَلَطَّفَ فِي تَفْهِيمِهِ, لَا سِيَّمَا إذَا كَانَ أَهْلًا لِذَلِكَ, وَيُحَرِّضَهُ عَلَى طَلَبِ الْفَوَائِدِ, وَحِفْظِ الْفَرَائِدِ وَلَا يَدَّخِرُ عَنْهُ مِنْ أَنْوَاعِ الْعُلُومِ مَا يَسْأَلُهُ عَنْهُ وَهُوَ أَهْلٌ لَهُ, وَكَذَلِكَ لَا يُلْقِي إلَيْهِ مِنْ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَتَأَهَّلْ لَهُ, لِأَنَّ ذَلِكَ يُبَدِّدُ ذِهْنَهُ وَيُفَرِّقُ فَهْمَهُ. وَأَنْ يَحْرِصَ عَلَى تَعْلِيمِ الطَّالِبِ وَتَفْهِيمِهِ بِبَذْلِ جَهْدِهِ, وَتَقْرِيبِ الْمَعْنَى لَهُ. وَإِذَا سَلَكَ الطَّالِبُ فِي التَّحْصِيلِ فَوْقَ مَا يَقْتَضِيهِ حَالُهُ وَخَافَ الْمُعَلِّمُ ضَجَرَهُ أَوْصَاهُ بِالرِّفْقِ بِنَفْسِهِ, وَالْأَنَاةِ, وَالِاقْتِصَادِ فِي الِاجْتِهَادِ, وَكَذَلِكَ إذَا ظَهَرَ لَهُ مِنْهُ نَوْعُ سَآمَةٍ أَوْ ضَجَرٍ أَمَرَهُ بِالرَّاحَةِ وَتَخْفِيفِ الِاشْتِغَالِ. وَأَنْ لَا يُظْهِرَ لِلطَّلَبَةِ تَفْضِيلَ بَعْضِهِمْ عَلَى بَعْضٍ مَعَ تَسَاوِيهِمْ فِي الصِّفَاتِ, فَإِنَّ ذَلِكَ رُبَّمَا يُوحِشُ صُدُورَهُمْ وَيُنَفِّرُ قُلُوبَهُمْ. وَأَنْ يَسْعَى فِي مَصَالِحِ الطَّلَبَةِ وَجَمْعِ قُلُوبِهِمْ وَمُسَاعَدَتِهِمْ بِمَا يَتَيَسَّرُ عَلَيْهِ, وَإِذَا غَابَ بَعْضُ الطَّلَبَةِ زَائِدًا عَنْ الْعَادَةِ سَأَلَ عَنْهُ, فَإِنْ لَمْ يُخْبَرْ عَنْهُ بِشَيْءٍ أَرْسَلَ إلَيْهِ, أَوْ قَصَدَ مَنْزِلَهُ بِنَفْسِهِ, وَهُوَ أَفْضَلُ. وَأَنْ يَتَوَاضَعَ مَعَ الطَّالِبِ وَكُلُّ مُسْتَرْشِدٍ سَائِلٍ فَفِي الْحَدِيثِ: { لِينُوا لِمَنْ تُعَلِّمُونَ وَلِمَنْ تَتَعَلَّمُونَ مِنْهُ }.

 

Wallohu a’lam

Administrator PP. Al Fattah Pule

Pondok Pule, Juma’at. 25 April 2013

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *