Imam Syafii dan Imam Ahmad bin Hanbal

Tatkala sang Guru “Ngalap berkah” dari Sang Murid
——–

Waktu Aliran Mu’tazilah menguasai pemerintah, Ulama-ulama agung tertimpa Fitnah yang berat. “Hanya” gara-gara memaksakan pemahaman mereka yang mengatakan, “Al qur’an adalah Makhluq (Hudust/baru datang), bukan bagian sifat Allah Ta’ala dan bukan Al Qadim/Dahulu tanpa permulaan karena Al Qur,an adalah Firman Allah Ta’ala”.
Sedangkan mayoritas pendapat Ulama AhlusSunnah Wal Jamaah mengatakan, “Karena Al Qur’an adalah Firman Allah. Maka, Sifat Al Qadim yang ada PadaNya, di sematkan pula pada Al Qur’an”. Banyak Ulama yang Harum Namanya Sampai sekarang yang terfitnah. Mulai Imam Syafi’I, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Bukhari, Imam Isa bin Dinar dan lain-lain. Karena perselisihan faham ini, Kaum Mu’tazilah yang kala itu menguasai pemerintahan, “menyatroni” ulama-ulama agung tersebut dan menanyakan pemahamana mereka. Kalau setuju mereka melepasnya, kalau tidak setuju mereka “menciduknya”, di masukkan ke hotel “prodeo” ples siksaan yang pedih.

Imam Syafi’I dan Imam Isa bin Dinar waktu ditanya Aparat berwajib Mu’tazilah tentang Apakah Qur’an itu Makhluq, beliau berkelit dengan mengatakan, “Benar, Al Qur’an ini adalah Makhluq” dengan memberi Isarah pada Al Qur’an yang ada di genggaman beliau berdua. Berbeda dengan Imam Ahmad bin Hanbal yang bersikukuh mengatakan Al Qur’an bukan Makhluq. Akibatnya beliau di tangkap, di penjara, di siksa sampai pingsan berkali-kali, bahkan dalam sebagian riwayat, beliau meninggal di dalam penjara tersebut.

Mendengar murid terkasihnya, Imam Ahmad di penjara. Imam Syafi’i di rundung kesusahan yang mendalam. Waktu malam menjelang, beliau tidur dan bermimpi bertemu dengan Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa sallama, Beliau bersabda, “Berilah khabar bahagia pada Ahmad. Ia akan Masuk Syurga karena musibah yang menimpanya sebab bersikukuh mengatakan Al Qur’an bukan Makhluq”. Langsung setelah bangun tidur Imam Syafi’i mengutus kurir untuk menyampaikan surat yang berisi khabar bahagia itu ke Baghdad, tempat Imam Ahmad di penjara.

Tatkala surat itu sampai di tangan Imam Ahmad, beliau menangis sesenggukan dan langsung memberikan baju yang di pakainya, yakni salah satu dari dua baju yang hanya beliau miliki untuk guru tercintanya, Imam Syafi’i.
Setelah Baju itu sampai ketangan Imam Syafi’I, beliau Langsung membasahi baju tersebut dan menggunakan air bekas basuhan baju itu untuk di usap-usap dan di oles-oleskan di badan beliau laksana minyak wangi!!!.

———
Wallahu A’lam
Admin Web/Fb AlFattah.Pule. Di Kutip Dari Kitab Tuhfatul Muriid Hal: 55. Karya Syaikh Al Alim Al Allamah Ibrahim Al Baijuri dengan Sedikit penambahan dan penyesuaian bahasa.
Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *