ILMU YANG HANYA SETITIK DEBU.

Imam Ibnu Malik dan Imam Ibnu Mu’thi
——–

Sudah hal yang lumrah. Apabila penerbit sebuah buku mempromosikan keunggulan buku terbitannya. Begitupula seorang pengarang kitabpun kadangkala mempermanis mukaddimah kitabnya dengan menyebutkan keunggulan-keunggulan isi kitabnya. Agar pembaca tertarik dan penasaran.

Tersebutlah seorang tokoh kenamaan ahli Bahasa asal Andalusia Spanyol Imam Ibnu Malik. Beliau memiliki satu kitab yang sangat masyhur dalam ilmu nahwu. Kalangan pesantren biasa menyebutnya dengan “Alfiyah Ibnu Malik”.

Konon, waktu beliau mulai menuangkan isi fikirannya di atas kertas dan ingin sedikit “Promosi” tiba-tiba apa yang telah menggumpal di otaknya seakan hilang tak berbekas. Karena, dalam promosi beliau memang “agak sedikit” berlebihan. Bunyinya:

“Fa’iqotan alfiyatabna Mu’thi”
“(Kitab Alfiyah yang aku tulis ini) mengungguli kitab Alfiyah karya Ibnu Mu’thi”.

Setelah menulis penggalan Syair Nadlam tersebut. beliau tak bisa lagi melanjutkan Syair Alfiyahnya. Padahal sebelumnya. Semuanya bait. Awal sampai Akhir telah terekam di kepalanya.

Hingga pada suatu malam beliau mimpi bertemu dengan seseorang.
Orang itu bertanya pada beliau;

“Aku dengar kamu mengarang kitab Alfiyah dalam ilmu nahwu”

“Iya benar” Jawab Imam Ibnu Malik.

“Sampai mana engkau menulis?”

“Sampai pada lafadz fa’iqotan alfiyatabna Mu’thi”.

“Apa yang menyebabkanmu tidak menyempurnakannya?”

“Entah mengapa beberapa hari ini aku tidak bisa melanjutkan Syair itu”.

“Apa kamu ingin menyempurnakannya?”.

“Tentu”. Jawab Imam Ibnu Malik dengan semangat. Namun, orang itu melanjutkan perkataannya
Yang bernada menyindir:

“Orang yang masih hidup, bisa saja mengalahkan seribu orang yang sudah mati”.

Terperangah dengan perkataan itu. Dengan tergagap Imam Ibnu Malik bertanya: “Apakah anda Syekh Ibnu Mu’thi?”

“Betul”, jawab orang itu.

Mendengar itu, Imam Ibnu Malik merasa malu kepada beliau. Langsung setelah terbangun di Pagi harinya, beliau menambahkan kalimat pujian pada Imam Ibnu Mu’thi dalam nadlam Syairnya. Sebagai rasa penyesalan dan penghormatan pada beliau:

“Wahuwa Bisabqin Ha’izun Tafdhila # Mustaujibun Tsanaiyal Jamila”
“Beliau (Syekh Ibnu Mu’thi) sebagai seorang pendahulu, layak untuk diagungkan, dan sudah sepatutnya dipuji dengan pujian yang indah”.

Ajaib. Setelah menambahkan Nadham tersebut. Semua ingatan dalam angan beliau A sampai Z kembali seperti semula. Sehingga jadilah sebuah karya fenomenal yang dipelajari di seantero dunia.

*****

Begitu pentingnya kita menghormati pendahulu kita. Terkhusus Ulama. Jangan sampai ilmu kita yang hanya ibarat debu diantara kilauan mutiara membutakan mata hati kita. Dan membuat kita merasa berbangga. Wallahu a’lam.

———-
Di kutip dari Hasyiyah Ibnu Hamdun, Juz: 1 Hal: 16 Dengan sedikit penambahan dan penyesuaian bahasa
Admin Web/Fb Alfattah.pule.com
Semoga Bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.