Ilmu Tauhid Madzhab Asya’iroh Maturidiyyah Bagian 8

KAJIAN YAUMUL ISTNAIN

ILMU TAUHID MADZHAD ASYA’IROH MATURIDIYYAH

 

AL JAWAAHIR AL KALAMIYYAH

KARYA: SYAIKH THOHIR BIN SHOLIH AL JAZAAIRIY

 

Penterjemah: Sholihah, Asal: Masnawi. Argonauli RT. 8 RW. II SP.I. Sirandorung. Tapanuli Tengah. Sumatra Utara. Siswi Kelas VI Ibtidaiyyah Madrasah Salafiyyah Al Fattah Pule

 

PEMBAHASAN YANG KE DUA

TENTANG IMAN DENGAN ADANYA MALAIKAT

PEMBAHASAN KE DUA INI MENCAKUP TIGA MASALAH

 

Soal : Siapakah Malaikat itu?

Jawab : Malaikat adalah jisim yang lembut yang terbuat dari cahaya, tidak makan dan minum. Mereka adalah hamba Allah yang dimuliakan, yang tidak mendurhakai pada Allah dengan apa yang diperintahkan-Nya, dan melaksanakan atas perkara yang diperintahkan oleh Allah SWT.

 

Soal : Apakah manusia bisa melihat malaikat ?

Jawab : Manusia tidak dapat melihat malaikat, kecuali para nabi ketika malaikat sesuai dengan wujud aslinya. Karena sesungguhnya malaikat itu adalah jisim ( bentuk ) yang lembut. Seperti halnya Manusia tidak dapat melihat udara, padahal udara adalah jisim ( bentuk ) yang memenuhi ruangan, karena udara adalah jisim yang lembut. Namun apabila malaikat berubah wujud dan menyerupai jisim ( bentuk ) yang kasar seperti manusia, maka manusia biasa bisa melihat malaikat. Adapun para nabi dapat melihat malaikat sesuai wujud asli malaikat, karena hal itu adalah sifat khususiyyah (keistimewaan) yang hanya dikhususkan untuk nabi agar Malaikat dapat bertatap muka secara langsung dalam menyampaikan beberapa permasalahan agama dan hukum-hukum syari’at. Dan tidak mengherankan, kalau sebenarnya diantara kita banyak sekali jism-jism yang kasat mata. Namun biasanya bisa dilihat dengan mata hati dan tanpa penghalang.

 

Karena sesungguhnya, disekitar kita banyak sekali jism yang tidak bisa ditemukan oleh indera penglihatan. Dan kita biasa beranggapan, bahwa sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata, maka hal tersebut tidaklah nyata. Sebagaimana tidaklah aneh bagi orang yang mempunyai keistimewaan bisa melihat jism-jism tersebut, sedangkan kebanyakan dari manusia tidak bisa melihatnya. Karena dalam kekuatan dan kelemahan daya penglihatan manusia, terdapat suri tauladan penting bagi mereka yang memiliki mata hati.

 

Wallohua’lam bisshowab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *