Ilmu Tauhid Madzhab Asya’iroh Maturidiyyah Bagian 7

KAJIAN YAUMUL ISTNAIN
ILMU TAUHID MADZHAD ASYA’IROH MATURIDIYYAH
AL JAWAAHIR AL KALAMIYYAH
KARYA: SYAIKH THOHIR BIN SHOLIH AL JAZAAIRIY

Penterjemah: Sholihah, Asal: Masnawi. Argonauli RT. 8 RW. II SP.I. Sirandorung. Tapanuli Tengah.
Sumatra Utara. Siswi Kelas VI Ibtidaiyyah Madrasah Salafiyyah Al Fattah Pule

Soal : Apakah yang di kehendaki dengan lafad اليد?

Jawab : Yang dikehendaki dengan lafad اليد adalah sifat keagungan yang patut / layak dengan Allah SWT.. Begitu juga lafad الاُعين, maka sesungguhnya semua perkara yang di sandarkan kepada Allah SWT. tidak menyamai pada perkara yang di sandarkan makhlukNya. Bagi siapa saja yang mempunyai keyakinan bahwa Allah mempunyai tangan sebagaimana tanganya makhluknya, dan mempunyi mata sebagaimana makhlukNya, maka sesungguhnya dia termasuk dari golongan orang yang terjebak dalam kerancuan berfikir, karena dia telah menyerupakan Allah dengan makhlukNya, sedangkan tidak ada apapun yang menyerupai Allah SWT.

Soal: digolongkan kepada madzhab siapakah, pendapat diatas?

Jawab: Pendapat diatas adalah pendapat dari mayoritas ulama’ salaf, sedangkan mayoritas dari ulama’ kholaf mentafsiri lafad Istiwa’ dengan Istila’ (menguasai), mentafsiri lafadz yad dengan nikmat/kekuasaan dan mentafsiri ‘Ain dengan penjagaan dan pengawasan, karena sebagian besar dari mereka memperkirakan andaikan semua itu tidak dita’wil dan dihindarkan dari makna dhohirnya, maka akan berimbas pada kerancuan.

Namun kedua kelompok ini (ulama’ salaf dan kholaf), sepakat bahwa musyabih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhlukNya) adalah sesat.

Sedangkan kelompok selain mereka (ulama’ salaf dan kholaf) berpendapat, bahwa tasybih bisa saja terjadi dengan catatan adanya dalil Aqli dan Naqli yang tidak menunjukkan kesucian Allah SWT. Jadi, apabila yang ada orang yang mentasyabihkan Allah SWT maka hal tersebut adalah kesalahannya sendiri.

Soal: Bagaimana kita bisa menetapkan sesuatu, akan tetapi kita juga mengatakan الكيف فيه مجهول (praktek hakikinya tidak diketahui)?

Jawab: Hal seperti itu tidaklah mengherankan, kita mengetahui dan menyakini, bahwa dalam diri kita terdapat sifat Ilmu (mengetahui), Qudroh (mampu) dan Irodah (berkehendak). Namun kenyataanya, kita tidak mengetahui cara melekatnya sifat-sifat tersebut pada diri kita sendiri. Kita memang bisa melihat dan mendengar, tapi kita tidak tahu cara yang dihasilkannya pendengaran dan penglihatan itu. Kita bisa berbicara, tapi kita juga tidak mengetahui bagaimana pembicaraan tersebut bisa keluar dari mulut. Andai kita tahu satu hal saja, niscaya masih banyak hal yang tidak kita ketahui. Jika seperti itu keadaannya, kita banyak tidak mengetahui banyak hal, kemudian bagaimana kita berani menyandarkan hal-hal tersebut kepada Allah SWT.

Wallohua’lam bisshowab.

Administrator PP. Al Fattah Pule

Pondok Pule, Selasa. 10 Juni  2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *