Maqolah 'Ulama' Susu Beruang

Published on March 9th, 2013 | by Administrator Al-Fattah

0

Hukum mengkonsumsi susu beruang

Bismillahirrohmanirrohiiem…..

Pertanyaan ini timbul dari seorang teman yang kebetulan menemukan minumam kalengan dengan tulisan “bear brand” dengan gambar putih. Tanpa memikirkan apakah susu itu dari beruang beneran atau hanya cap beruang, beliau teman kami langsung menanyakan hukum susu beruang asli. Walaupun setelah kami cek, sebenarnya itu Cuma nama merk saja, sedang susu yang berada di dalamnya adalah susu sapi. Terlepas dari itu, kami merasa tertarik untuk mencoba mencari referensi tentang “hukum susu beruang Asli”, sebagai berikut:

Hukum mengkonsumsi air susu beruang asli terjadi perbedaan Antara para Ulama Madzhab Syafi’iyyah:

Karena beruang termasuk dari hewan yang tidak bisa dimakan.

  1. Maka air susunya Najis menurut qoul shohih (haram/tidak bisa di konsumsi).
  2. Tapi Imam Ustukhri menghukumi suci (Halal/bisa di konsumsi).

Dengan uraian penjelasan sebagai berikut:

روضة الطالبين وعمدة المفتين – (ج 1 / ص 377)

ويحرم أكل كل ذي ناب من السبا وذي مخلب من الطائر والمراد ما يعدو على الحيوان ويتقوى بنابه فيحرم الكلب والأسد والذئب والنمر والدب والفهد والقرد والفيل والببر.

Imam Nawawi berkata: “Haram hukumnya mengkonsumsi setiap hewan yang mempunyai taring, dari hewan buas, dan setiap hewan yang mempunyai cakar. Yakni setiap hewan yang buas/menyerang dan mencari makanan dengan taringnya maka Anjing, Harimau, Serigala, Macan Tutul, Beruang, Macan Kumbang, Kera, Gajah dan Macan Loreng hukumnya haram (untuk di konsumsi).”.

روضة الطالبين وعمدة المفتين – (ج 1 / ص 5) للإمام يحيى بن شرف النووي محي الدين أبو زكريا

وأما اللبن فطاهر من مأكول بالإجماع ونجس من الحيوان النجس وطاهر من الآدمي على الصحيح وقيل نجس ولكن يربى به الصبي للضرورة .وأما غير الآدمي مما لا يؤكل فلبنه نجس على الصحيح وقال الأصطخري طاهر

selanjutnya Imam Nawawi Dalam karyanya, Roudlotut Thoolibiin memaparkan: “Adapun air susu dari hewan yang bisa dimakan, hukumnya Suci menurut kesepakatan ulama. Sedangkan hewan najis maka najis pula air susunya. Menurut qoul shohih,air susu manusia Suci dan menurut Qiil Najis akan tetapi tetap di minumkan pada anak kecil karena dlorurot. Adapun air Susu selain manusia yakni hewan yang tidak bisa dimakan, menurut Qoul Shohih Najis, Namun Imam Ustukhri menghukumi suci.”

Keterangan ini di perkuat oleh perkataan Imam Sulaiman Al Bujairimi dalam karyanya:

حاشية البجيرمي على الخطيب – (ج 3 / ص 124)الإمام سليمان بن محمد بن عمر البُجَيْرَمِيّ المصري الشافعي (المتوفى: 1221هـ)

وَأَمَّا اللَّبَنُ فَطَاهِرٌ مُطْلَقًا ، سَوَاءٌ كَانَ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى

“Adapun air susu (manusia) secara mutlak Suci, baik susu dari lelaki maupun perempuan”.

Kemudian Imam Abi Ishaq as Syairozi mempertajam masalah, pada air susu dan telor yang berada pada rahim hewan yang telah mati:

المهذب – (ج 1 / ص 26) للإمام أبي اسحق الشيرازي (476هـ)

فصل: وأما اللبن في ضرع الشاة الميتة فهو نجس لأنه ملاق للنجاسة فهو كاللبن في إناء نجس وأما البيض في جوف الدجاجة الميتة فإن لم يتصلب قشره فهو كاللبن وإن تصلب قشرة لم ينجس كما لو وقعت بيضة في شيء نجس

“Fashlun: Adapun air susu yang masih berada dalam kantong susu kambing yang mati hukumnya Najis, karena bertemu dengan Najis (bangkai kambing tersebut), seperti Najisnya air susu di dalam bejana yang najis. Adapun telor yang berada di perut ayam yang mati: apabila kulitnya belum mengeras maka hukumnya seperti susu (najis), namun apabila kulitnya sudah mengeras maka tidak najis, seperti hukum telor yang terjatuh pada sesuatu yang najis”.

Wallohu a’lam

M. ROBERT AZMI AL ADZIM

Ndalem Pule, Sabtu 9 MARET 2013



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑