HUKUM MENCIUM TANGAN ULAMA, ZAHID/SHUFI, SAYYID, ORANG YANG LEBIH TUA, ANAK KECIL DAN LAINNYA

Di Kutip dari Khatimah/hal 296-297 kitab Bughyatul Musytarsyidin. Cet: Al Hidayah Surabaya. Karya Syaikh Sayyid Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin Umar:

 

(Mas’alah) Apakah hukum mencium tangan Sayyid-sayyid yang mulia adalah sunnah, mubah ataukah makruh? Padahal Imam Zainuddin Al Malibari dalam kitab Fathul Muin berkomentar: Imam Nawawi setuju menghukumi makruh pada orang yang membungkuk dan mencium tangan lelaki, terlebih orang kaya. Karena Hadist, “Barangsiapa yang bertawadlu’ pada orang kaya. Maka, akan hilang sepertiga agamanya”.

 

(Jawab) MENCIUM TANGAN DI SUNNAHKAN, kepada orang shalih, orang alim ataupun orang mulia. karena Sahabat Aba Ubaidah mencium tangan Sahabat Umar Radliyallahu ‘anhuma. Dan contoh-contoh yang lain dalam kitab Fatawa Imam Ibnu Hajar.

 

Pengarang Kitab AL Masra’ Al Marwiy Fi Manaqibi Bani ‘Alawi berkata: Menurut Imam Syafi’I; DI SUNNAHKAN mencium tangan semisal; orang zuhud, orang mulia, orang alim, orang yang lebih tua umurnya, anak kecil yang tidak di syahwati walaupun tiada rasa belas kasihan dan sunnah mencium wajah orang yang baru datang dari bepergian. Karena dengan dasar:

1. Hadist yang di riwayatkan Imam Turmudzi, “Sungguh (suatu waktu) ada dua orang Yahudi yang mencium kedua kaki dan tangan Baginda Nabi. Dan Nabi SAW tidak mengingkarinya”.

2. Imam Ibnu Hibban meriwayatkan hadist, “Sungguh waktu Sahabat Ka’b bertaubat (Masuk Islam), beliau mencium kedua tangan dan kedua lutut Baginda Nabi ‘AlaihisShalaatu WasSalaam”.

3. Dalam Hadist utusan Kabilah Abdil Qays, “Sungguh mereka (utusan kabilah Abdil Qays) mencium tangan beliau Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallama.

4. Hadist a’rabiy (penduduk desa yang mencium tangan Nabi SAW) karena meminta beliau Nabi SAW mendoakan pohon-pohon/tanaman mereka”.

5. Dan cerita-cerita lain (dari para sahabat adalah): “Sungguh Sahabat Zaid bin Tsabit mencium tangan sahabat Ibnu Abbas. Dan beliau berkata: Beginilah kami di perintah untuk memperlakukan ahlul bait kami (keluarga Nabi)”.

 

Imam Al Hafidz Al Iraqi berkata: “Mencium tempat-tempat yang mulya bertujuan untuk tabarruk (ngalap berkah: jawa)  dan mencium tangan-tangan dan kaki orang-orang shalih adalah perbuatan baik dan di puji, TERGANTUNG NIAT DAN TUJUAN”.

 

Maka, bisa di ketahui dari penjelasan diatas; Bahwa termasuk hal yang di lakukan SalafusSaalih (orang kuno Shalih) yang terdiri dari:  para guru-guru ulama yang ilmunya mencakup Dlahir dan Bathin, Para Waliyullah, para orang-orang Shalih. Seluruhnya (tanpa terkecuali) mencium tangan-tangan mulia Bani Alawi. Terlebih waktu berada diantara manusia. Walaupun orang bodoh, anak kecil dan orang yang berpakaian tidak sesuai pendahulunya. Hal ini adalah sesuatu yang benar, jelas dan jalan yang lurus. Karena setiap seseorang dari keluarga Sayyidatina Fatimah azZahraa Radliyallahu anha adalah bagian dari potongan daging Nabi SAW (darah daging Nabi SAW) walaupun dengan banyak perantara. Seperti yang ulama jelaskan. Dan karena menurut Qiil (pendapa lemah): Apabila seseorang mencium bau keturunan keluarga Nabi SAW. Maka, hal itu bisa menghilangkan penyakit Judzam (lepra). (1)

 

(1) (مسألة): هل تقبيل أيدي السادة الأشراف سنة أو مباح أو مكروه؟ وقال في فتح العين: وافق النووي بكراهة الانحناء وتقبيل نحو يد أو رجل لا سيما لنحو غني لحديث: “من تواضع لغني ذهب ثلثا دينه” . ويندب ذلك لنحو صلاح أو علم أو شرف، لأن أبا عبيدة قبل يد عمر رضي الله عنهما اهـ، ونحوه في فتاوى ابن حجر. وقال في المشرع المرويّ في مناقب بني علوي: يسن عند الشافعي تقبيل نحو يد الزاهد والشريف والعالم والكبير في السنّ والطفل الذي لا يشتهي ولو لغير شفقة ورحمة، ووجه صاحب قدم من سفر لما روى الترمذي أن يهوديين قبلا يد النبي ورجله ولم ينكر عليهما. وروى ابن حبان أن كعباً قبل يديه وركبتيه عليه الصلاة والسلام لما نزلت توبته. وفي حديث وفد عبد القيس أنهم قبلوا يده، والأعرابي الذي أمره أن يدعو الشجرة، وغير ذلك من الطرق وأن زيد بن ثابت قبل يد ابن عباس وقال: هكذا أمرنا أن نفعل بأهل بيت نبينا. وقال الحافظ العراقي: وتقبيل الأماكن الشريفة على قصد التبرك وأيدي الصالحين وأرجلهم حسن محمود باعتبار القصد والنية اهـ. فعلم بذلك أن ما اندرج عليه السلف الصالح من المشايخ العلماء الجامعين بين علمي الظاهر والباطن والأولياء والصلحاء قاطبة من تقبيلهم أيدي الأشراف بني علوي، خصوصاً من بين سائر الناس ولو لجاهل وطفل ومتزيّ بغير سلفه هو الحق الواضح والطريق المستقيم لما في كل واحد من ذرية سيدتنا فاطمة الزهراء رضي الله عنها جزء من بضعة النبي ، وإن كثرت الوسائط كما نص عليه العلماء، ولما قيل: إن شم عرفهم يذهَب بالجذام.

 

——

Admin FB/Web Alfattahpule.com

Inilah yang kami yakini sampai Raga meregang nyawa, Wallahu al musta’an wa a’lam.

Jum’ah Al Mubaarakah…..

Semoga Bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *