HUKUM BERTANYA

PERTANYAAN

Sebuah Benang Merah,,,

Muqoddimah mutarjim….

Bismillah…Walkhamdulillah… WasSolaatu Was Salamu ‘ala Rosulillah Amma ba’dah…

Subhanalloh…. Begitu telitinya Sulthonul Ulama Syaikh Abi Muhammad Izzuddin Abdul Azis Ibn Abdussalam As Salmii, tentang menyikapi pertanyaan dan perniknya yang terjadi di masyarakat, semoga menjadi inspirasi bagi kita, sebagai pemimpi insan kamil, amiinn…..

(1) FASAL MENJELASKAN TENTANG PERTANYAAN

Kemuliaan pertanyaan tergantung dengan apa yang di tanyakan!:

  1. – Pertanyaan tentang Alloh dan sifat-sifatnya lebih utama di banding segala pertanyaan, karena pertanyaan tersebut adalah perantara untuk mengetahui dzat dan sifat Alloh. Alloh ta’ala berfirman: {Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, (Dialah) yang Maha pemurah, Maka Tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia. QS. Al Furqon 59}.
  2. – Kemudian pertanyaan yang menyentuh pada hal yang pasti dilakukan (dloruri) atau hukum-hukum primer (hajat), begitu pula pertanyaan tentang sesuatu yang mukallaf lakukan (manusia yang terkena kewajiban syariat:pent), tentang pendapat-pendapat dan amal-amal yang belum diketahui penanya.
  3. – Kemudian pertanyaan untuk mengetahui masholih (kebaikan) yang menjadi tujuan penanya, apabila masholih tersebut hal yang perlu di dahulukan, maka penanya mendahulukannya, dan apabila masholih tersebut hal yang perlu di akhirkan, maka penanya mengakhirkannya, sedangkan apabila  penanya  belum tahu, apakan pertanyaan tersebut merupakan masholih yang perlu di dahulukan atau di akhirkan, maka penanya tidak boleh mengajukan pertanyaan tersebut, sampai dia mengetahui yang lebih baik untuk di dahulukan atau di akhirkan.

Adapun (hukum:pent) bertanya sesuatu dan mencarinya:

  1. – Apabila yang dicari adalah hal yang di haramkan, maka pertanyaannya menjadi haram.
  2. – Apabila yang dicari adalah hal yang makruh, maka pertanyaanya menjadi makruh.
  3. – Apabila yang dicari adalah hal yang wajib, maka pertanyaanya menjadi wajib.
  4. – apabila yang dicari adalah hal yang sunnah, maka pertanyaanya menjadi sunnah,

Adapun (hukum:pent) mencari/meminta hal yang mubah (boleh):

  • – Apabila yang dicari bukan sesuatu yang menyakiti penanya, dengan adanya jawaban/respon atau tidak adanya jawaban, maka tidak apa-apa, seperti pertanyaan tentang jalan dan nama teman.
  • – Apabila yang dicari adalah hal yang menyakiti penanya dan membuat malu dengan tidak adanya jawaban, maka hal ini makruh.
  • – Apabila penanya mampu mengurai jawaban tanpa pertanyaan yang membuat malu dirinya sendiri, Maka (apabila penanya tetap memaksa bertanya:pent), itu termasuk menyakiti diri sendiri, sebab menanggung malu karena tidak adanya jawaban: dengan alasan orang yang ditanya kikir atau memang enggan memberikan jawaban karena suatu hal. (dan mempunyai konsekwensi hukum makruh:pent).
  • – Apabila penanya/peminta tidak mampu mengurai jawaban, sedangkan dia butuh jawaban, maka tidak apa-apa, seperti pertanyaan/permintaan Nabi Musa AS. dan Nabi Khidlir AS. Atas hidangan dari penduduk desa yang kurang ajar, kemudian mereka tidak memberikan hidangan pada kedua Nabi tersebut.

Apabila di katakan: Nabi Muhammad ‘Alaihi Salam benar-benar bersabda dalam hadist sahabat Qobisyoh: {Sesungguhnya meminta-minta (atau pertanyaan) tidak halal, kecuali satu diantara tiga hal: (pertama) Bagi seseorang yang mengangkut muatan, halal baginya untuk meminta tolong sampai mendapat pertolongan, kemudian meneruskan pekerjaannya. (kedua) seseorang yang terkena musibah yang memusnahkan harta bendanya, maka halal meminta-minta, sampai mendapatkan beberapa keping uang untuk hidupnya -atau periwayat berkata:yang menyelamatkan hidupnya-. (ketiga) seseorang yang miskin sampai tiga orang yang mempunyai akal dari kaumnya mengatakan: “si fulan benar-benar miskin”, maka halal baginya untuk meminta-minta, sampai mendapatkan beberapa keping uang untuk hidupnya -atau periwayat berkata:yang menyelamatkan hidupnya-. Maka selain tiga hal di atas wahai Qobisyoh, termasuk dari meminta-minta yang menimbulkan kebencian yang akan kembali ke peminta}. Maka meminta selain tiga hal diatas bisa menimbulkan kebencian.

Aku (Imam Izzuddin) menjawab: Hal diatas diarahkan pada permintaan zakat ke orang yang tidak mampu mengeluarkan zakat, jadilah permintaan tersebut termasuk hal yang di haramkan, (seperti yg banyak di ketahui:pent) segolongan manusia benar-benar telah meminta pada Rosululloh SAW., para sahabat dan tabi’in, dan tiada satupun dari Rosul, sahabat dan tabi’in yang mengingkarinya, akan tetapi hal inipun di jawab dengan: sesungguhnya hal tersebut adalah kasuistik (sebagian kejadian saja:pent), mungkin saja Rosul dan sahabat mengetahui lemahnya peminta dan adanya bukti-bukti kondisi yang menyebabkan mereka meminta-minta. Sedangkan apabila mereka yang meminta-minta adalah orang yang jelas mampu bekerja karena badannya yang sehat dan kuat, sekaligus tidak ada pengingkaran dari Rosul dan sahabat, maka berhasillah tujuan (yakni: bertentangan dengan hadist Nabi SAW. yang melarang meminta-minta:pent).

Al Kariim Al Aryakhiy benar-benar meminta-minta untuk kebutuhan beliau, kemudian tersakiti sebab penolakan dan penerimaan, hal ini telah diketahui orang-orang mulia dan bermartabat, lalu bagaimana orang yang selalu menggantungkan hidupnya dengan meminta-minta bisa selamat? Padahal telah ada ancaman (dari hadist) dan pengingkaran (dari pemberi)?.

Termasuk yang di makruhkan, meminta/bertanya hal yang tidak penting (bukan kebutuhan pokok).

Adapun bertanya aib manusia tanpa adanya maslahat syar’iyyah (kebaikan menurut agama:pent), maka di haramkan dan masuk dalam sabda Nabi SAW. {Janganlah kalian memata-matai…}. Sesungguhnya banyak sekali orang-orang bermartabat enggan bertanya tentang jalan, padahal hal tersebut tidaklah mendatangkan dampak negatif pada beliau-beliau.

Wallohu a’lam

Penterjemah: Aula Rismadona

Villa pelem, Nganjuk 26 Februari 2013

(1) قواعد الأحكام في مصالح الأنام للإمام المحدث سلطان العلماء الشيخ أبي محمد عز الدين عبد العزيز ابن عبد السلام السلمي الجزء الثاني ص: 132-133 دار الكتب العلمية

فَصْلٌ فِي السُّؤَالِ يَشْرُفُ السُّؤَالُ بِشَرَفِ الْمَسْئُولِ عَنْهُ: فَالسُّؤَالُ عَنْ اللَّهِ وَصِفَاتِهِ أَفْضَلُ مِنْ كُلِّ سُؤَالٍ لِأَنَّهُ وَسِيلَةٌ إلَى مَعْرِفَةِ ذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيرًا} ثُمَّ السُّؤَالُ عَمَّا تَمَسُّ لِضَرُورَةٍ أَوْ الْحَاجَةِ إلَيْهِ مِنْ أَحْكَامِهِ, وَكَذَلِكَ السُّؤَالُ عَمَّا يُلَابِسُهُ الْمُكَلَّفُ مِنْ مَجْهُولِ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ, ثُمَّ السُّؤَالُ عَنْ مَعْرِفَةِ مَصَالِحِ مَا يَعْزِمُ عَلَيْهِ, فَإِنْ كَانَ مِنْ الْمَصَالِحِ الْمُقَدَّمَةِ قَدَّمَ, وَإِنْ كَانَ مِنْ الْمَصَالِحِ الْمُؤَخَّرَةِ أَخَّرَ, وَإِنْ جَهِلَ أَهُوَ مِنْ الْمَصَالِحِ الْمُقَدَّمَةِ أَمْ الْمُؤَخَّرَةِ فَلَا يُقَدِّمُ حَتَّى يَعْلَمَ الْأَصْلَحَ مِنْ تَقْدِيمِهِ وَتَأْخِيرِهِ. وَأَمَّا سُؤَالُ الشَّيْءِ وَطَلَبُهُ: فَإِنْ كَانَ الْمَطْلُوبُ مُحَرَّمًا فَسُؤَالُهُ حَرَامٌ, وَإِنْ كَانَ مَكْرُوهًا فَسُؤَالُهُ مَكْرُوهٌ, وَإِنْ كَانَ وَاجِبًا فَسُؤَالُهُ وَاجِبٌ, وَإِنْ كَانَ مَنْدُوبًا فَسُؤَالُهُ نَدْبٌ, وَأَمَّا طَلَبُ الْمُبَاحِ: فَإِنْ كَانَ مِمَّا لَا يَتَأَذَّى الْمَطْلُوبُ مِنْهُ بِبَذْلِهِ وَلَا رَدِّهِ فَلَا بَأْسَ بِهِ كَالسُّؤَالِ عَنْ الطَّرِيقِ وَعَنْ اسْمِ الرَّفِيقِ, وَإِنْ كَانَ مِمَّا يَتَأَذَّى بِبَذْلِهِ الْمَسْئُولُ مِنْهُ وَيَخْجَلُ إذَا رَدَّهُ فَهَذَا مَكْرُوهٌ, وَإِنْ كَانَ السَّائِلُ قَادِرًا عَلَى تَحْصِيلِهِ بِغَيْرِ مَسْأَلَةٍ مِنْ جِهَةِ أَنْ يَخْجَلَ الْمَسْئُولُ أَنْ يَرُدَّهُ فَيَتَأَذَّى بِمَشَقَّةِ الْخَجَلِ وَيَسْتَحِي إذَا مَنَعَهُ: إمَّا لِبُخْلِهِ, وَإِمَّا لِحَاجَتِهِ,  وَإِنْ كَانَ عَاجِزًا عَنْ تَحْصِيلِهِ مَعَ مَسِيسِ الْحَاجَةِ إلَيْهِ فَلَا بَأْسَ بِسُؤَالِهِ, كَمَا سَأَلَ مُوسَى وَالْخَضِرُ عليهما السلام الضِّيَافَةَ مِنْ أَهْلِ قَرْيَةٍ لِئَامٍ فَلَمْ يُضَيِّفُوهُمَا. فَإِنْ قِيلَ قَدْ قَالَ عليه السلام فِي حَدِيثِ قَبِيصَةَ: {إنَّ الْمَسْأَلَةَ لَا تَحِلُّ إلَّا لِأَحَدِ ثَلَاثَةٍ, رَجُلٌ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يَقْضِيَهَا ثُمَّ يَمْسِكَ, وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سَدَادًا مِنْ عَيْشٍ – وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُولَ ثَلَاثَةٌ مِنْ ذَوِي الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ: لَقَدْ أَصَابَتْ فُلَانًا فَاقَةٌ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سَدَادًا مِنْ عَيْشٍ – فَمَا سِوَاهُنَّ يَا قَبِيصَةُ مِنْ الْمَسْأَلَةِ سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا} فَجَعَلَ مَا عَدَا ذَلِكَ سُحْتًا. قُلْنَا ذَلِكَ مَحْمُولٌ عَلَى أَنْ يَسْأَلَ الزَّكَاةَ مَنْ لَيْسَ أَهْلًا لَهَا, وَذَلِكَ مِنْ الطَّلَبِ الْمُحَرَّمِ, وَقَدْ سَأَلَ جَمَاعَةٌ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ فَلَمْ يُنْكِرْ عَلَيْهِمْ الرَّسُولُ وَلَا أَحَدٌ مِنْ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ, وَلَكِنْ يُجَابُ عَنْ ذَلِكَ بِأَنَّهَا وَقَائِعُ أَحْوَالٍ, وَلَعَلَّ الرَّسُولُ وَالصَّحَابَةُ شَاهَدُوا مِنْ ضَعْفِ السُّؤَالِ وَقَرَائِنِ الْأَحْوَالِ مَا يُجَوِّزُ لَهُمْ السُّؤَالَ, فَلَوْ كَانُوا مِمَّنْ تَظْهَرُ مِنْهُمْ الْقُدْرَةُ عَلَى كَسْبِ الْكِفَايَةِ لِصِحَّةِ أَجْسَامِهِمْ وَقُوَّةِ أَبْدَانِهِمْ وَلَمْ يُنْكِرُوا عَلَيْهِ لَحَصَلَ الْغَرَضُ, وَقَدْ يَسْأَلُ الْكَرِيمُ الْأَرْيَحِيُّ مَا هُوَ مُحْتَاجٌ إلَيْهِ فَيَتَأَذَّى بِمَنْعِهِ وَبَذْلِهِ, وَهَذَا مَعْرُوفٌ عِنْدَ أَهْلِ الْكَرْمِ وَالْمُرُوآتِ, وَكَيْفَ يُفْلِحُ مَنْ عَوَّدَ نَفْسَهُ السُّؤَالَ مَعَ مَا جَاءَ فِيهِ مِنْ الْوَعِيدِ وَالْإِنْكَارِ, وَمِمَّا يُكْرَهُ السُّؤَالُ عَنْهُ سُؤَالُ مَا لَا حَاجَةَ إلَيْهِ مِنْ الْفُضُولِ. وَأَمَّا السُّؤَالُ عَنْ عَوْرَاتِ النَّاسِ لِغَيْرِ مَصْلَحَةٍ شَرْعِيَّةٍ فَمُحَرَّمٌ دَاخِلٌ فِي قَوْلِهِ: {وَلَا تَجَسَّسُوا}. وَإِنَّ كَثِيرًا مِنْ أَهْلِ الْمُرُوآت لَيَعِزُّ عَلَيْهِمْ أَنْ يَسْأَلُوا عَنْ الطُّرُقَاتِ مَعَ أَنَّهُ لَا يَضُرُّ.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *