Hakikat Tawassul Bagian I

Pendahuluan.

Sesuai dengan tema di atas, dalam makalah ini kami mencoba menguak apa sebenarnya yang dimaksud dengan tawassul dan bagaimana pula hukum serta keberadaan ritualiatas ini diantara pandangan sekte-sekte yang berkembang di dalam Islam.

Persoalan Tawassul erat kaitannya dengan persoalan Ziarah (kubur) dan Istighosah. Sebab hampir setiap orang yang berziarah baik ke makam Anbiya’, Aulia’ dan Solihin pastilah menyempatkan diri berdo’a dengan bertawassul kepadaShohibul maqbarah. Demikian pula para Mustagitsin dalam memanjatkan do’anya senantiasa menyebut dan memanggil nama Rsululloh dan beberapa nama orang yang kondang kewaliannya.

 

Ketiga hal ini merupakan sebagaian dari sekian tema keagamaan yang pernah merebut opini dan menguras banyak energi masyarakat Islam secara luas. Masing-masing juga ikut menjadi bagian dari sederet kasus keagamaan yang sempat merekam beragam peristiwa yang mengiringi proses perjalanan panjang sejarah pergulatan pemikiran yang berkembang di seputar ajaran-ajaran Islam. Detak gejolaknya mulai terasa, setelah firqoh-firqoh yang sudah sekian lama menempatkan ritualitas Tawassul, Ziarah dan Istighosah sebagai bagaian dari aktifitas mapanUbudiyahnya, merasa gerah atas tudingan Kafir, Murtad, keluar dari rel agama dan semacamnya, yang dilontarkan secara lantang oleh firqoh lain yang anti pati terhadap keberadaan ritus-ritus ini. Bahkan lebih jauh, firqoh ini sampai hati menghalalkan darah, harta dan wanita firqoh lain yang tidak sejalan dengan faham yang dianutnya.

Jika ditelusuri dari awal – kata Syeikh Yusuf bin Isma’il al-Nabhany di dalam kitab Syawahidul Haqnya – sejujurnya ajaran-ajaran ini sudah tumbuh subur dan bersemai menjadi semacam tradisi dari sebuah rutinitas spiritual yang terwaris secara turun temurun sejak Rosululloh SA.W. masih hidup. Fenomena Tawassul, Ziarah dan Istighosah ini mencuat menjadi perbincangan hangat khalayak dan diperdebatkan secara serius oleh banyak kalangan, setelah Ibnu Taymiyyah (th. 727 H.) dan dua orang muridnya yang bernama Ibnul Qoyyim dan Ibnul Hadi kemudian dibelakang hari dilanjutkan oleh orang-orang Wahabi, menggugat validitas (kesahihan)nya sebagai bagaian dari ajaran agama Islam. Alasan yang dikemukakan antara lain adalah hadits-hadits yang menjelaskan tentang anjuran dari semua ini adalah Maudlu’ dan Ziarah kemakam Rosululloh tidaklah Masyru’ (karena tidak ada satu hadits pun yang secara tegas menganjurkan umat untuk pergi ziarah kemakam beliau). Ibnu Taymiyyah lebih jauh menuduh, bahwa siapa saja yang melaksanakan aktifitas semacam ini berarti secara sadar telah menghantarkan dirinya kesuatu perbuatan Syirik layaknya kaum Jahiliyah yang menyembah berhala dengan anggapan mendekatkan diri kepada Alloh.

Gugatan kontroversial Ibnu Taymiyyah ini kontan mendapat reaksi yang luar bisa dari para ulama’, baik yang hidup di masa itu seperti Ibnu Wakil, Abul Hayyan, al-Zamlakani, al-Subuki dan masih banyak lagi, maupun dari Ulama’-ulama’ yang hidup setelahnya seperti Ibnu Hajar al-‘Asqolani, Al-Suyuthi, Syeikh Zakaria al-Anshori, Ibnu Hajar al-Haitami dan seterusnya. Bahkan al-Subuki sampai meluangkan waktu guna menyusun sebuah kitab yang diberi nama Syifa’us-saqom yang secara khusus mengulas seputar persoalan-peroalan ini. Dalam kitab tersebut al-Subuki juga mengkritik pola pikir Ibnu Taymiyyah sebagai salah seorang tokoh agama terkemuka dari madzhab Hanbali. Dengan kapasitas keilmuan seperti itu, harusnya Ibnu Taimiyyah berusaha menguraikan makna-makna Nash secara gamblang hingga mudah dicernah oleh pikiran orang awam sekalipun. Tidak malah mengaburkan pemikiran mereka melalui justifikasi teks-teks ayat ataupun hadits. Semacam itu adalah virus bukan penawar kesamaran makna sebuah Nash – sindir al-Subki. Al-Syaukani juga tidak kalah herannya dengan gugatan Ibnu Taimiyyah ini. Hadits-haditsnya terekam jelas diberbagai literatur kitab hadits seperti Soheh Bukhori, Muslim, Sunan Baihaki, Turmudzi dan sebaginya, bagaimana mungkin dianggap Maudlu’. Keabsahan ritualitas ini juga telah di Ijma’i oleh para Sahabat, Tabi’in dan Tabi’it-tabi’in, lalu bagimana ia diotak-atik kembali dengan hanya memakai argumen yang tidak begitu berarti ?

TA’RIF DAN HUKUM TAWSSUL

Perspektif Wahabiyah

Sebagaimana yang telah diungkap di atas, problema tawassul pasca periode Ibnu Taymiyyah diusung oleh golongan Wahabi (1143 H.) dengan tokoh penggeraknya Muhammad bin Abdul Wahab. Golongan ini, seperti halnya Ibnu Taymiyyah sebenarnya tidak secara mutlak menegasikan segala macam bentuk tawassul. Mereka juga mengakui eksistensi ritual ini asalkan di dalam pelaksanaannya tidak dengan menggunakan Syakhshiyah (dzat) seperti :

يا محمد إنى أتوسل بك إلى ربي ……………

Atau dengan Aqsam (sumpah) seperti :

يا ربي إنى أسألك بحق نبيك ……………..

Atau dengan derajat (jah) seseorang seperti :

يا ربى إنى أسألك بجاه نبيك …………….

Tetapi dengan amaliah-amaliah pribadi yang memiliki nilai ibadah, atau setidaknya memohon kepada seseorang  untuk mendo’akannya.

Asumsi ini didasarkan atas arti tawassul secara lughot, kemudian diartikulasikannya secara Syar’i dengan dukungan referensi penafsiran beberapa Mufassir mengenai kata al-wasilah yang ada di dalam surat al-Maidah ayat 35. Menurut Syaikh Ainul Haq al-Salafy – seorang tokoh dari golongan ini – tawassul secara lughot sebagimana yang diterangkan dalam kamus Shihahnya Imam Jauhari, adalah upaya pendekatan diri seorang hamba kepada Tuhanya dengan/melalui amal perbuatan. Dan secara Syar’i – lanjut al-Salafy – adalah upaya pendekatan diri kepada Alloh melalui pengabdian ibadah, mengikuti sunah Rasul-Nya atau perbuatan-perbuatan lain yang diridloi. al-Salafy lalu menyitir pendapat sahabat Qotadah yang menafsirkan ayat :

وابتغوا إليه الوسيلة. اى تقربوا إلى الله بطاعته والعمل بما يرضيه

Melalui elaborasi semacam ini al-salafy kemudian menolak bentuk pelaksanaan tawassul dengan memaki dzawat, aqsam maupun jah. Bahkan hal tersebut beliau anggap sebagai wujud prosesi yang sebentuk dengan amaliyah kaum Jahiliyah yang dijelaskan surat al-A’rof ayat 194 :

إن الذين تدعون من دون الله عباد أمثالكم

Beliau juga mengklaim bahwa hadits-hadits yang menjustifikasi keabsahan amalan seperti ini kualitasnya sangatlaf dla’if dan tidak layak dijadikan dasar oleh siapa pun. Maka barang siapa ingin melakukan tawassul hendaklah bertawassul dengan dzat Alloh, Asma’ul Husna, mengikuti sunah Rasul atau dengan amaliah sholihah lainnya.

Syeikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baz – rois Am lembaga kajian ilmiah dan ifta’pemerintah Arab Saudi – dalam keputusan resmi lembaga yang dipimpinnya tertanggal 20/12/1400 H. dengan nomor surat 1335, lebih jauh menjelaskan :

Tawassul bisa dilakukan dengan beragam cara, namun ada yang diperbolehkan dan ada yang tidak diperbolehkan :

  1. meminta orang lain untuk mendo’akan agar rizkinya dimudahkan, sembuh dari sakitnya, mendapatkan hidayah, taufiq dan sebaginya.
  2. tawassul dengan dengan rasa cintanya kepada Nabi atau dengan kedisiplinannya mengikuti sunah, semisal dengan mengucapkan :

اللهم إنى أسألك بحبى لنبيك واتباعى له أن تعطينى ………..

Dua macam tawassul seperti di atas ini hukumnya boleh dikerjakan.

  1. bertawassul dengan derajat para Anbiya’atau Auliya’ seperti :

اللهم إنى أسإلك بجاه نبيك/أوليائك أن تعطينى …………..

Hukum twassul seperti ini jelas tidak diperbolehkan. Sebab meskipun derajat para Anbiya’ maupun Auliya’ sangatlah tinggi di sisi Alloh namun hal tersebut bukanlah termasuk sabab Syar’i dikabulkannya sebuah doa. Karenanya pula sabahat Umar bin Khotob ketika melaksanakan Istisqo’ pada masa kekhilafahannya tidak melakuakn tawassul kepada Nabi, tetapi mempersilahkan sahabat Abbas sebagai paman Nabi untuk memanjatkan doa agar Alloh segera menurunkan hujan.

  1. bertawassul dengan memakai sighot sumpah (qosam). Hal ini juga tidak diperkenankan karena jika meminta kepada sesama saja tidak boleh dengan menggunakan sighot semacam ini apalagi terhadap Tuhan.

Alasan lain yang juga menjadi keberatan golongan Wahabi untuk menerima tawassul dengan Syakhshiyah seseorang, ialah adanya pemanggilan terhadap mereka yang telah meninggal.Bisakah dalam keadaan seperti itu mereka mendengar panggilan kita yang masih hidup di alam dunia ini ? (bersambung)

Post Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *