Hakikat Tawassul Bag. 2

Perspektif Ahli Sunah.

 

Secara lughot memang tidak ditemukan perbedaan diantara masing-masing ahlinya dalam menyikapi pendefinisian tawassul secara verbal. Ibnul Muqri misalnya, dalam kamus al-Misbah mengartikan :

 

االوسيلة وهى ما يتقرب الى الشيئ. وتوسل الى ربه بوسيلة تقرب اليه بعمل

 

Demikian pula al-Syairozi dan al-Munjid di dalam kamus masing-masing.

 

Namun apakah kata “ amal “ itu berhenti hanya sampai pada bentuk amaliyah pribadi dan sejenisnya seperti yang disepakati golongan Wahabi ? ataukah juga mengafirmasi segala macam bentuk amal, sehingga wasilah dengan dzawat termasuk di dalamnya ?. Hal ini tentu saja tidak bisa diselesaikan secara tuntas kecuali melibatkan pendekatan Nash. Bagi kalangan Suni yang memang mengakui validitas hadits-hadits tawassul, tentu saja tidak ragu mengakui pelaksanaan tawassul dengan dzawat, adalah termasuk bagian dari arti “ al-Wasiilah “ yang di sebutkan al-Qur’an dan hukumnya sunah, persis seperti tawassul dengan amal perbuatan.

Alloh berfirman :

 

وما كان الله ليعذبهم وأنت فيهم

وما كان الله معذبهم وهم يستغفرون

Jika dicermati, dua ayat ini cukuplah jelas bila dijadikan sebagai dasar outentik kesimpulan di atas. Sebab secara tegas Alloh tidak akan menurunkan adzab-Nya  kepada umat ini karena dua hal :

  1. keberadaan Rasululloh (dzat).
  2. Istighfar mereka. (amal).

 

Imam Turmudzi di dalam kitab Sunannya, bab tafsir hal. 439. lebih gamblang mengupasnya melalui riwayat sebuah Hadits :

 

أنزل الله على أمانين لأمتى وما كان الله ليعذبهم وأنت فيهم وما كان الله معذبهم وهم يستغفرون

 

Karenanya kalangan Suni lalu berkesimpulan, bahwa tawassul secara Syar’i adalah menjadikan sesuatu, baik yang berupa dzat maupun amaliyah yang memiliki derajat dan nilai luhur di sisi Alloh sebagai “ wasilah “ dikabulkan suatu doa. Sejalan dengan keterangan ini, al-Zamakhsyari (538 H.) dalam tafsir Kassyafnya secara tegas menyatakan :

 

وابتغوا اليه الوسيلة. وهى شاملة للذوات والأعمال لأن الوسيلة كل ما يثوسل به اى يتقرب به الى الله من قرابة أو صنيعة أوغير ذلك

 

Dan kalangan Suni tidak saja melihat persoalan ini melalui pendekatan Nash, namun juga melibatkan sentuhan Ijma’, Atsar Sahabat dan pendapat Ulama’ Salaf. Diantara sejumlah ayat dan hadits yang dijadikan istinadnya adalah :

 

  1. 1.      يأيها الذين أمنوا اتقوا الله وابتغوا اليه الوسيلة
  2. 2.      ولو أنهم إذ ظلموا أنفسهم جآءوك فاستغفروا الله واستغفر لهم الرسول لوجدوا الله توابا رحيما

 

 

Dalam kitab Syamilnya, Syeikh Ibnu Shobagh mempunyai cerita unik mengenai ayat yang kedua ini. Suatu hari ketika Syeikh ‘Utbah sedang berada di makam Rosululloh, tiba-tiba datanglah seorang A’robi sambil berucap : Assalamu ‘Alaika ya Rasulalloh, aku dengar Alloh berfirman :

ولو أنهم إذ ظلموا أنفسهم جآءوك الخ………

Maka aku datang kepadamu, meminta ampun atas segala dosaku dengan melalui syafaatmu kepada Tuhanku. Setelah itu A’robi tersebut bersenandung :

 

ياخير من دفنت بالقاع أعظمه     فطاب من طيبهن القاع والأكم

نفسى الفداء لقبر أنت ساكنة      فيه العفاف وفيه الجود والكرم

 

tak lama kemudian ia berjalan pergi. Dan sejurus kemudian sejenak aku tertidur dan bermimpi berjumpa Rasululloh. Beliau bersabda kepadaku : Hai ‘Utbah kejarlah A’robi tadi dan beri kabar gembira bahwa Alloh telah mengampuni segala dosanya.

 

Adapun dalil Haditsnya antara lain :

 

  1. من خرج من بيته إلى الصلاة فقال اللهم إنى أسألك بحق السائلين عليك وأسألك بحق ممشاى هذا إليك فإنى لم أخرج أشرا ولا بطرا ولا رياء ولا سمعة خرجت اتقاء سخطك وابتغاء مرضاتك فأسألك أن تعيذنى من النار وأن تغفر لى ذنوبى فإنه لا يغفر الذنوب إلا أنت أقبل الله عليه بوجهه واستغفر له سبعون ألف ملك. رواه ابن ماجه بسناد صحيح
  2. أن رجلا ضرير البصر جاء إلى النى e فقال ادع الله أن يعافينى قال إن شئت دعوت وإن شئت صبرت فهو خير لك قال ادعه قال فأمره أن يتوضأ فيحسن وضؤه ويدعو بهذا اللهم إنى أسألك وأتوجه إليك بنبيك نبى الرحمة يا محمد إنى أتوجهت بك إلى ربى فى حاجتى لتقض لى حاجتى. رواه الترمذى وابن ماجه والبخارى والحاكم وأحمد
  3. اغفر لأمى فاطمة بنت أسد ووسع عليها مدخلها بحق نبيك والأنبياء الذين من قبلى. رواه الطبرانى فى الكبير والأوسط وابن حبان والحاكم وصححوه عن أنس بن مالك t

 

Adapun Atsar Sahabatnya antara lain :

 

  1. أن الناس أصابهم قحط فى خلافة عمر t فجاء بلال بن حارث t إلى قبر النبى e وقال يا رسول الله استسق لأمتك فإنهم هلكوا. فأتاه رسول الله e فى المنام وأخبره أنهم يسقون. رواه البيهقى وابن أبى شيبة بإسناد صحيح
  2. أن عمر t لما استسقى بالعباس t قال يا أيها الناس إن رسول الله e كان يرى للعباس ما يرى الولد للوالد فاقتدوا به فى عمه العباس واتخذوه وسيلة إلى الله. (المواهب اللدنية للعلامة القسطلانى)
  3. أن رجلا كان يتخلف إلى عثمان بن عفان t فى حاجة له وكان عثمان لا يلتفت إليه ولا ينظر فى حاجته فلقى عثمان بن حنيف فشكى ذلك إليه فقال له عثمان بن حنيف ائت المضأة فتوضأ ثم ائت المسجد فصل ركعتين ثم قل اللهم إنى أسألك وأتوجه إليه بنبينا محمد e نبى الرحمة يا محمد إنى توجهت بك إلى ربى. رواه الطبرانى فى المعجم الصغير

 

Mengenai dalil Ijma’nya, dapat disimpulkan dari berbagai cerita yang terjadi di masa para Sahabat Nabi. Dimana tak ada seorang pun diantara mereka yang mengingkari komentar Umar bin Khottob yang menganjurkan untuk menjadikan Abbas paman Nabi, sebagai Wasilah di dalam Istisqo’. Demikian pula pada masa Kekhilafahan Utsman bin Affan, tak seorang sahabat pun mengingkari tindakan Sahabat Bilal bin Haris al-Muzani saat datang kemakam Rasululloh dan berkata : Ya Rosulalloh berilah Hujan Umatmu. Juga tidak ada seorang pun, baik sahabat atau pun Tabiin yang hadir, ketika Sahabat Muawiyah pada saat Istisqo’ bertawassul dengan Yazid bin Aswad.

 

Dengan dalil-dalil di atas, tentunya kita bisa mempertimbangkan klaim golongan Wahabi tentang kualitas hadits-hadits yang dijadikan rujukan ulama’ Suni dalam merumuskan hukum tawassul ini. Adapun tudingan Musyrik, Kafir dan semacamnya dengan argumentasi beberapa ayat, oleh kalangan Suni hal tersebut dianggap sebagai kesalahan yang amat fatal. Karena jelas motif kaum Jahiliyah adalah menjadikan berhala sebagai sesuatu yang juga memiliki hak untuk disembah. Berbeda dengan mereka yang bertawassul, mereka semata-mata hanyalah bertabarruk dan tidak pernah terlintas sedikit pun di hati mereka menjadikan orang –orang yang di tawassuli sebagai sesembahan layaknya berhala di mata orang-orang Jahiliyah.

 

Peristiwa tawassul Umar bin Khottob kepada Abas, sama sekali tidak menunjukkan bahwa Rasululloh yang kala itu sudah meninggal sudah tidak lagi bisa dijadikan sebagai media tawassul, namun justru itu sebagai dalil bahwa selain Rsululloh dan orang yang masih hidup bisa pula dijadikan sebagai media bertawassul pula untuk menghindari hal-hal yang bisa mempengaruhi I’tiqod Dlu’afaul muslimin. Sebab jika Umar bertawawssul kepada Nabi lalu Tuhan tidak segera mengabulkan, bukankah hal ini akan bisa menimbulkan sedikit keraguan di hati kaum muslimin yang masih lemah imam terhadap kedudukan Rosululloh sebagai Utusan Alloh.

 

Banyak kita jumpai sejumlah ayat yang membicarakan mengenai keunggulan manusia dibanding makhluk lain, baik segi keanggunan fisik maupun potensi yang dimilikinya. Namun juga tak kalah hitungannya ayat-ayat al-Qur’an yang secara konstruktif menyorot kepribadian manusia sebagai satu-satunya ciptaan yang sanggup mengemban “ Amanah “ kala makhluk lain menyerah tidak siap menerimanya.

 

Ya… ! dengan akal pikirnya martabat manusia memang berada di atas yang lain. Tetapi dengan kemampuan berfikirnya itu pula ia menjadi penghuni jagad paling lata, tidak mudah menyerah dan percaya bila mendengar petunjuk yang terlebih jika arealnya berkisar di luar kapasitas nalar. Alloh berfirman :

 

اولم ير الانسان أنا خلقناه من نطفة فاذا هو خصيم مبين

 

Dalam perjalanan para Nabi dikisahkan pula, komunitas ini ternyata tidak saja cerdik melontarkan gugatan, namun juga acapkali sesumbar menuntut pembuktian terjadinya bencana yang dijanjikan sebagai konsekuensi dari tindakan yang telah mereka lakukan. Padahal di dalam dirinya tersimpan watak :

 

واذا مسه الشر جزوعا

والله اعلم ….

Post Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *