DUNIA FANA

Kisah Seorang Raja Yang Insaf

———
Ada seorang Raja yang membangun sebuah istana yang sangat indah, isinya serba mewah dan lux serta amat megah. Selesai pembangunannya, Raja pun meresmikan bangunan indah itu dengan mengatur berbagai acara kebesaran, dan tak ketinggalan dengan mengundang semua rakyatnya, dari para pejabat kerajaan hingga kepada orang biasa seperti para fakir miskin, buruh, petani dan sebagainya.

Mereka kemudian dijamu dengan beraneka macam makanan dan minuman, yang bukan main nikmat dan lezatnya. Untuk mendapatkan informasi mengenai fisik dan keistimewaan istananya, Sang Raja telah menempatkan beberapa penjaga di setiap pintu istana yang sangat indah itu untuk bertanya kepada setiap para undangan yang memasuki istananya perihal kemegahan, keindahan serta kekukuhan bangunan istana tersebut. Apa fisik istana tersebut ditemukan kekurangan maupun cacat walaupun sekecil apapun jua?!
Beribu-ribu undangan yang datang mengunjungi istana itu ditanya, dan semua jawaban yang diberikan adalah sama halnya, istana Sang Raja adalah sebuah istana yang paling hebat, indah, megah dan kukuh serta tidak ditemukan cacat sekecil apapun jua.

Tak lama kemudian, tibalah serombongan orang tua yang sangat miskin dengan mengenakan pakaian bertambal-tambal, memasuki istana. Para penjaga menjamu mereka dengan sempurna disusul dengan pertanyaan untuk mengetahui pendapat para orang tua tersebut perihal istana yang indah tersebut.

‘Terdapat dua cacat yang besar pada istana yang indah ini!’, Salah seorang diantara para orang tua itu berkata.
‘Apa kata engkau? Ada dua cacat besar pada istana yang indah ini?!!’ tanya penjaga istana itu dengan keheranan.
‘Benar, terdapat dua cacat di dalamnya.’ Jawabnya ringan.

Penjaga istana itu lalu menahan sebagian rombongan para orang tua tersebut, lalu membawa mereka menghadap Sang Raja seraya berkata kepadanya:
‘Wahai Paduka Raja! Hamba telah bertanya kepada ribuan orang akan kemegahan, keindahan dan kehebatan istana Paduka. Semua orang mengatakan bahwa istana Paduka sungguh indah bangunannya dan sempurna tanpa cacat sedikitpun padanya. Bahkan mereka memuji setinggi langit akan keelokan istana Paduka. Tetapi para orang tua ini justru mengatakan sebaliknya, bahwa istana ini terdapat dua cacat yang besar?!’

Raja pun menganggukkan kepalanya, kemudian bertanya:
‘Wahai tuan-tuan sekalian yang mulia! Saya tak rela dengan cacat yang terdapat pada istana ini walaupun sekecil apapun. Sedangkan tuan-tuan telah mengatakan ada dua cacat yang besar. Tolong kiranya disebutkan apa kedua cacat dimaksud itu?’ Pinta raja kepada para orang tua tersebut.

Seorang dari para orang tua tersebut lalu menjawab:
‘Bukankah istana indah ini pada akhirnya akan mengalami kerusakan, takkan kekal selamanya?!’ Tanya seorang dari orang tua tersebut.
‘Ya, memang benar apa katamu itu!’ Jawab Sang Raja.
‘Itulah cacatnya yang pertama!’
‘Lalu, apalagi cacatnya yang kedua?’ Pinta Sang Raja.
‘Pemiliknya akan menemui ajalnya, meninggal dunia, itulah cacatnya yang kedua.’ Jawab orang tua yang lainnya.

Raja tercengang mendengar semua jawaban itu, kemudian mengakui akan kebenaran kata-kata bijak para orang tua tersebut. Dia termenung sejenak, lalu berkata kepada mereka:
‘Benar, dan sungguh demikian adanya wahai tuan-tuan sekalian, namun apakah ada disuatu tempat dimana terdapat istana yang kekal takkan rusak dan lapuk selamanya. Begitu pula pemiliknya takkan mati seterusnya?’ Tanya Sang Raja pula.

Para orang tua tersebut hampir serentak tersenyum dan tertawa, mendengar pertanyaan Sang Raja. Seolah-olah mereka telah menunggu pertanyaan itu dari Sang Raja, dan juga mereka telah menyiapkan jawabannya.
‘Ada, wahai Paduka Raja, ada.’ Jawab mereka serentak.
‘Di manakah dia?’
‘Di Syurga! Syurga dan kenikmatannya tidak akan lapuk dan lekang untuk selamanya, dan pemiliknya juga tidak akan mati seterusnya!’ jawab mereka lagi. Raja mengangguk-anggukkan kepalanya kembali.
‘Alangkah bahagianya sekiranya Paduka dapat memperolehnya, sebab jalan untuk memperolehnya terbuka luas, dan tidak sukar.’ Tambah para orang tua tersebut.
‘Coba terangkan, bagaimanakah cara memperolehnya!’ tanya Sang Raja kembali.
‘Mudah sekali! Paduka akan memperolehnya dengan cara beriman kepada ALLAH SWT dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebaliknya jika Paduka tidak mengerjakan semua itu, maka Paduka akan menghadapi kecelakaan dan siksaan yang sangat pedih, yaitu berupa siksa api neraka, kekal didalamnya yang perih tidak terperi.’ Jelas mereka kembali.
‘Baiklah, jikalau begitu, aku akan turuti segala nasihat tuan-tuan sekalian, dan akan aku tinggalkan segala kemewahan yang selama ini aku geluti. Aku akan beriman kepada-Nya, dan aku akan tinggalkan kemaksiatan untuk bertobat kepada-Nya.’ Balas Sang Raja.

Raja itu benar-benar melaksanakan segala apa yang diucapkannya. Akhirnya jadilah ia sebagai hamba ALLAH yang shalih, taat beribadat hingga akhir hayatnya, dengan berkat nasihat hamba-Nya yang shalih.

——-

Di kutip Dari Mukhtashar Raudhurrayahain (untaian kisah para Wali Allah hal: 15) dan juga di sitir Imam Al Munawi dalam Kitab Faidl Al Qodir Juz 6 Hal: 40. Serta juga telah di posting di FB VEGEFRUIT

Admin FB Al Fattah Pule

Semoga bermanfaat

 

فيض القدير – (ج 6 / ص 40)

بنى ملك مدينة وتأنق فيها ثم صنع طعاما ونصب ببابها من يسأل عنها فلم يعبها إلا ثلاثة فسألهم فقالوا : رأينا عيبين ، قال : وما هما ؟ قالوا : تخرب ويموت صاحبها قال : فهل ثم دار تسلم منهما ؟ قالوا : نعم الآخرة ، فتخلى عن الملك وتعبد معهم ثم ودعهم فقالوا : هل رأيت منا ما تكره ؟ قال : لا لكن عرفتموني فأكر متموني فأصحب من لا يعرفوني.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *